
Suami Miskin yang Kau Buang Adalah CEO Penguasa Dunia
makanbang4|Bersambung
- Jumlah kata
- 149.5K
- Popular
- 335
- Subscribe
- 101
- Jumlah kata
- 149.5K
- Popular
- 335
- Subscribe
- 101
Sinopsis
Selama tiga tahun menyamar sebagai suami miskin pencuci piring demi menguji kesetiaan, Fauzan justru dihina dan dibuang oleh istrinya demi seorang manajer rendahan. Sang mantan istri tidak pernah menyadari bahwa pria yang ia ceraikan itu sebenarnya adalah CEO Penguasa Dunia, pemilik mutlak dari perusahaan tempat selingkuhannya bekerja. Kini sang kaisar telah terbangun untuk merebut kembali takhtanya, bersiap menjatuhkan karma paling memuaskan yang akan membuat para pengkhianat menangis mengemis di bawah kakinya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Akhir dari Ujian Kesetiaan
Air dingin mengalir membasahi telapak tangan Fauzan yang memerah akibat pekerjaan rumah tangga. Pria itu menatap pantulan dirinya di atas piring keramik basah yang baru saja ia bilas.
Selama tiga tahun terakhir, ia mengunci rapat identitas aslinya sebagai penguasa bayangan bursa saham global. Ia menelan harga dirinya dalam-dalam hanya demi sebuah janji konyol kepada mendiang kakeknya.
"Ujilah wanita yang akan mendampingimu seumur hidup, Fauzan," begitu pesan terakhir sang kakek. Ujian itu mensyaratkan Fauzan untuk hidup tanpa akses kekayaan, tanpa nama besar keluarga Mahendra, dan menjadi pria biasa.
Hari ini tepat adalah hari terakhir dari masa ujian tiga tahun tersebut. Besok, segel pada rekening tanpa batas miliknya akan terbuka kembali.
"Heh, sampah tidak berguna! Sampai kapan kau mau mencuci piring itu?" Sebuah suara melengking menghancurkan ketenangan di dapur sempit tersebut.
Fauzan menoleh perlahan dan melihat Rina. Ibu mertuanya itu berdiri dengan daster sutra murahan sambil berkacak pinggang menatapnya jijik.
"Kau pikir rumah ini panti asuhan tempat penampungan gembel?" Rina meludah tepat di dekat kaki Fauzan. "Sudah tiga tahun anakku Siska menanggung malu punya suami benalu sepertimu!"
Fauzan hanya diam sambil mengambil handuk kecil untuk mengeringkan tangannya. Dadanya terasa datar, tidak ada amarah yang meledak karena ia sudah terlalu kebal dengan hinaan murahan ini.
Di dalam kepalanya, Fauzan hanya menghitung jam. Ia menantikan senyum Siska saat besok ia memberikan kejutan berupa sertifikat pulau pribadi sebagai hadiah ulang tahun pernikahan mereka.
Namun, suara langkah kaki berat dari arah ruang tamu tiba-tiba menghentikan lamunannya. Pintu depan terbuka lebar, menampilkan sosok Siska yang masuk dengan gaun merah ketat membalut tubuh indahnya.
Siska tidak datang sendirian. Seorang pria berjas rapi dengan rambut klimis merangkul pinggang ramping Siska dengan sangat santai.
Jantung Fauzan terasa berhenti berdetak selama satu detik. Tatapan matanya menajam melihat tangan asing yang berani menyentuh istrinya.
"Siska, apa maksudnya ini?" tanya Fauzan dengan nada suara yang anehnya terdengar sangat tenang. Ia melangkah keluar dari dapur.
Siska menatap Fauzan dari atas sampai bawah dengan ekspresi merendahkan. Wanita yang selama tiga tahun ini ia jaga dengan sepenuh hati itu kini menatapnya seperti menatap kotoran.
"Baguslah kau ada di rumah, Fauzan," ucap Siska sambil melepaskan hak tingginya. "Aku tidak perlu repot-repot mencarimu ke tempat pembuangan sampah."
Pria berjas di sebelah Siska terkekeh pelan. Ia menatap Fauzan dengan senyum mengejek yang membuat sudut bibirnya tertarik ke atas.
"Jadi ini suami pecundang yang selalu kau ceritakan, Sayang?" Pria itu mencium pipi Siska tepat di depan mata Fauzan.
Sebuah kilat kemarahan menyambar di dasar mata Fauzan, namun wajahnya tetap tidak berekspresi. Tiga tahun menjadi orang biasa telah melatih kesabarannya hingga ke tingkat dewa.
"Namaku Dion," pria itu memperkenalkan diri tanpa mengulurkan tangan. "Aku adalah Manajer Senior di Mahendra Group, perusahaan terbesar di negara ini. Siska berhak mendapatkan pria sepertiku, bukan kuli cuci piring."
Rina yang baru keluar dari dapur langsung bertepuk tangan kegirangan. Wanita tua itu berlari memeluk lengan Dion seolah menyambut pahlawan yang baru pulang berperang.
"Ya ampun, Nak Dion akhirnya datang juga!" Rina tertawa lebar. "Siska sudah menceritakan semuanya tentang gajimu yang ratusan juta per bulan itu."
Fauzan menatap tiga orang di depannya secara bergantian. Ilusi tentang kesetiaan Siska yang selama ini ia bangun hancur berkeping-keping menjadi debu.
Rasa sakit di dadanya perlahan memudar, digantikan oleh kekosongan yang sangat dingin. Ujian kesetiaan sang kakek ternyata tidak pernah salah.
Siska merogoh tas Hermes palsu miliknya dan mengeluarkan sebuah map cokelat. Ia melemparkan map itu tepat ke dada Fauzan hingga kertas-kertas di dalamnya berhamburan ke lantai.
"Tanda tangani surat cerai itu sekarang," perintah Siska dengan nada dingin. "Aku sudah muak hidup menderita dengan pria miskin dan tidak punya masa depan sepertimu."
Fauzan menunduk melihat kertas bermaterai yang tergeletak di ujung sepatu kets usangnya. Ia menghela napas panjang, membiarkan udara kotor dari rumah ini keluar dari paru-parunya.
"Hanya karena pria ini?" Fauzan menunjuk Dion dengan dagunya. "Kau membuang pernikahan tiga tahun kita karena seorang manajer tingkat menengah?"
"Jangan berani-berani menghina Dion!" Siska membentak marah. "Dia punya kekuasaan! Dia bisa membelikanku mobil mewah dan perhiasan, tidak sepertimu yang hanya bisa memberiku air putih!"
Dion merapikan kerah jasnya dengan bangga. Ia merasa seperti raja yang sedang menginjak-injak pengemis di pinggir jalan.
"Dengar, Fauzan," ucap Dion dengan nada menguliahi. "Dunia ini digerakkan oleh uang dan kekuasaan. Orang miskin sepertimu tidak berhak memiliki wanita cantik. Sadar dirilah."
Fauzan perlahan membungkuk dan memungut pena yang jatuh di lantai. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun untuk membela diri.
Baginya, menjelaskan identitas aslinya kepada para lintah ini adalah sebuah penghinaan terhadap marga Mahendra. Jika Siska memilih uang receh dan membuang gunung emas, maka itu adalah takdir kebodohannya.
Tanpa ragu sedikit pun, Fauzan menggoreskan tanda tangannya di atas materai. Suara gesekan pena di atas kertas terdengar sangat nyaring di ruang tamu yang mendadak hening.
"Selesai," ucap Fauzan santai. Ia melemparkan kembali surat itu ke meja kaca di depan Siska.
Siska sedikit terkejut. Ia mengira Fauzan akan menangis, berlutut, atau memohon ampun agar tidak diceraikan.
Ketenangan Fauzan justru membuat Siska merasa terhina. Seolah-olah pria miskin di depannya ini baru saja membuang sampah, bukan kehilangan seorang dewi.
"Bagus," dengus Siska menutupi rasa canggungnya. "Sekarang kemasi barang-barang rongsokanmu dan angkat kaki dari rumahku!"
Fauzan tidak menjawab. Ia membalikkan badan dan berjalan keluar melewati pintu utama tanpa menoleh sedikit pun.
Ia bahkan tidak membawa satu pun pakaian dari dalam kamar. Semua barang di rumah ini adalah barang murah yang tidak pantas lagi menyentuh kulitnya.
Udara malam yang dingin langsung menyambut tubuh Fauzan saat ia melangkah ke halaman depan. Rintik hujan mulai turun, membasahi jalanan aspal di kompleks perumahan sederhana tersebut.
Fauzan merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah ponsel hitam tebal dengan desain militer. Ponsel itu adalah satu-satunya barang bawaan yang selalu ia sembunyikan dari Siska.
Jari jempolnya menekan sebuah tombol merah di layar ponsel. Kurang dari tiga detik, layar ponsel itu menyala dan menampilkan sebuah koordinat satelit.
"Tuan Besar," sebuah suara wanita yang sangat merdu namun tegas terdengar dari seberang telepon.
"Masa penyamaranku sudah selesai," ucap Fauzan memecah rintik hujan. "Jemput aku sekarang."
Fauzan berdiri di tepi jalan raya di bawah guyuran hujan ringan. Kurang dari dua menit kemudian, getaran mesin bertenaga besar membuat genangan air di jalan beriak pelan.
Dari ujung jalan, sebuah iring-iringan mobil mewah berwarna hitam pekat membelah malam. Tiga mobil SUV Mercedes G-Class mengapit sebuah Rolls-Royce Phantom edisi khusus yang harganya cukup untuk membeli seluruh perumahan ini.
Konvoi itu berhenti tepat di depan Fauzan. Lampu-lampu mobil menyala terang, menciptakan bayangan panjang dari tubuh Fauzan yang berdiri tegak.
Pintu penumpang Rolls-Royce terbuka. Sepasang kaki jenjang dengan sepatu hak tinggi merah melangkah keluar terlebih dahulu.
Seorang wanita muda dengan kemeja sutra putih ketat dan rok pensil hitam berdiri di bawah guyuran hujan. Wajahnya sangat cantik bagaikan pahatan dewi es, dengan kacamata berbingkai tipis yang menambah kesan cerdas dan menggoda.
Nadia, Sekretaris Pribadi sekaligus tangan kanan Fauzan di Mahendra Group. Wanita yang selama tiga tahun ini memendam kerinduan mendalam melihat tuannya hidup menderita.
Nadia dengan sigap membuka payung hitam besar dan memayungi tubuh Fauzan. Tubuh wanita itu berdiri sangat dekat, membuat aroma parfum mawar mahal bercampur dengan feromon alaminya tercium jelas oleh indra penciuman Fauzan.
Nadia menatap wajah Fauzan yang sedikit basah. Ada kilatan emosi yang tertahan di balik kacamata tipisnya, perpaduan antara kelegaan, kekaguman, dan hasrat yang tak terucapkan.
"Selamat datang kembali di takhta Anda, Tuan Besar Fauzan Mahendra," bisik Nadia dengan suara serak yang menggetarkan dada. Wanita itu sedikit menunduk, memberikan penghormatan mutlak.
Fauzan menatap mata indah sekretarisnya. Ia bisa melihat pantulan dirinya sendiri di sana, bukan sebagai suami pecundang, melainkan sebagai kaisar yang baru saja terbangun.
"Nadia," panggil Fauzan dengan nada suara yang kini berat dan penuh otoritas.
"Saya mendengarkan setiap perintah Anda, Tuan," jawab Nadia cepat. Wanita itu sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, menanti titah sang penguasa.
Fauzan menoleh sedikit ke arah rumah Siska di belakangnya. Matanya memancarkan aura membunuh yang sangat pekat.
"Besok pagi, aku ingin melihat perusahaan keluarga Siska hancur rata dengan tanah." Fauzan memberi perintah dengan sangat santai, seolah ia baru saja memesan secangkir kopi. "Dan cari tahu siapa manajer rendahan bernama Dion di perusahaanku. Lempar dia ke jalanan tanpa sepeser uang pun."
Nadia tersenyum tipis. Sebuah senyum mematikan yang membuat kecantikannya semakin berbahaya.
"Tentu saja, Tuan. Mereka akan segera memohon kematian di depan kaki Anda," balas Nadia sambil membukakan pintu mobil untuk Fauzan.
Hujan turun semakin deras. Malam ini menjadi saksi bisu kebangkitan kembali sosok pria yang namanya sangat ditakuti di seluruh daratan Eropa dan Asia.
Siska dan keluarganya tidak pernah tahu, bahwa keputusan cerai malam ini adalah tiket VIP mereka menuju neraka yang sesungguhnya.
Daftar bab
123 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
123 bab








