
- Jumlah kata
- 40.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Dunia berada di ambang kepunahan sejak datangnya Zeamust—makhluk anomali mengerikan dari celah dimensi yang meruntuhkan peradaban demi merebut energi kehidupan Bumi. Di tengah kehancuran mutlak ini, organisasi ksatria bayangan bernama Wildnite berdiri sebagai garis pertahanan terakhir umat manusia. Bagi Narza Sarieus, hidupnya adalah rangkaian perlawanan tanpa henti. Sejak desanya dihancurkan dan perempuan yang dicintainya, Kiara, direnggut oleh kasta tertinggi monster bernama Zeagod, Narza mengabdikan dari seluruh hidupnya untuk memburu mereka. Sebagai penyerang di bagian faksi Wildnite, Narza nekat menerobos celah dimensi bersama rekan-rekannya. Berbekal pedang pusaka yang memancarkan fusi sihir api murni, ia siap mengobarkan Bara Api Abadi miliknya—menghancurkan segalanya demi menyelamatkan umat manusia, dan merebut kembali Kiara dari cengkeraman sang Zeagod.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Awal Dari Segalanya Dimulai
Sinar matahari pagi perlahan menyusup membelah kabut tipis yang menyelimuti sebuah desa terpencil di perbatasan. Suasana di pemukiman itu tampak begitu tenang dan damai, jauh dari keramaian kota besar maupun gaung pertempuran yang sering terdengar di kabar berita. Di sudut desa yang dinaungi pepohonan rindang, berdiri sebuah rumah kayu sederhana milik keluarga Sarieus. Rumah itulah tempat Narza Sarieus tumbuh besar, diliputi kehangatan serta kasih sayang yang tak pernah padam dari kedua orang tuanya.
Sejak menginjak usia delapan tahun, Narza sudah menunjukkan ketertarikan serta bakat berpedang yang tidak biasa bagi anak seumurnya. Ketika anak-anak lain seusianya lebih suka menghabiskan waktu bertualang di sungai atau bermain di lapangan, Narza justru lebih sering memegang sebilah kayu panjang, menirukan gaya bertarung ayahnya yang sering ia lihat.
Kini, di usianya yang telah menginjak enam belas tahun, bakat tersebut makin terasah tajam. Jemari tangannya yang mulai berbalut kapalan tipis akibat gesekan kayu mampu mengayunkan bilah pedang latihan dengan sangat terampil, melampaui kemampuan rata-rata remaja seusianya. Menyadari potensi besar yang tersimpan di dalam diri sang putra, Narza tak pernah bosan mengajak ayahnya pergi ke lapangan rumput luas di belakang rumah. Ia selalu memanfaatkan setiap menit waktu luang yang dimiliki hanya demi mengasah ilmu berpedangnya.
"Ayah, ayo kita latihan seperti biasa!" seru Narza penuh semangat pagi itu. Wajah mudanya tampak berseri-seri, memancarkan binar antusiasme yang tak pernah padam setiap kali topik tentang pedang dan pertarungan dibahas. Ia berdiri di ambang pintu kamar ayahnya sembari memegang pedang kayunya.
Arthur Sarieus, sang ayah, menghela napas panjang. Pria bertubuh tegap itu mengusap wajahnya perlahan, mencoba mengusir sisa-sisa kantuk yang masih menyelimuti matanya. Ia menatap putra tunggalnya dengan menggelengkan kepala pelan.
"Huh... kamu tahu tidak ini jam berapa, Narza?" gumam Arthur dengan suara berat khas bangun tidur. "Matahari bahkan belum sepenuhnya naik. Sejak kamu pertama kali bisa memegang pedang kayu itu, rasanya seluruh isi kepalamu cuma terpusat pada benda itu saja."
Narza mengerutkan keningnya, menatap sang ayah dengan tatapan polosnya. "Memangnya salah, ya, Yah?"
Arthur bangkit dari tepi tempat tidurnya, lalu berjalan mendekati Narza. "Punya bakat dan semangat berpedang itu bagus, Narza," ujar Arthur seraya memijat pelipisnya perlahan, mencoba meredakan pusing di kepalanya. "Tapi otak dan pengetahuanmu juga harus dilatih. Coba kamu ingat-ingat kembali nilai-nilai ujian sekolahmu minggu lalu! Semuanya hancur berantakan karena kamu cuma fokus pada satu hal!"
"Padahal aku hanya ingin menjadi kuat supaya bisa diakui dan dibanggakan oleh Ayah dan Ibu," gumam Narza pelan. Pemuda itu menunduk sedikit, masih mencoba membujuk ayahnya dengan sisa-sisa pengharapan yang terpancar dari raut wajah mudanya.
Melihat kekecewaan di wajah putranya, raut ketegasan di wajah Arthur perlahan melunak. Sebuah tangan besar dan kasar mendarat di bahu Narza, meremasnya dengan kokoh namun penuh dengan kehangatan kasih sayang.
"Menjadi kuat tidak hanya soal seberapa tangguh tanganmu menebas musuh atau seberapa lincah kakimu bergerak di lapangan, Narza," ujar Arthur, suaranya kini terdengar begitu dalam dan meneduhkan. "Seorang pahlawan sejati butuh pikiran yang tajam untuk mengambil keputusan di tengah situasi sulit. Jika otakmu kosong dan hatimu dangkal, pedang di tanganmu hanya akan menjadi alat perusak yang berbahaya, bukan pelindung bagi orang-orang yang kamu cintai."
Narza mendongak kembali, sepasang mata cokelatnya berbinar penuh harapan baru. "Jadi... kita tetap latihan sore hari ini, kan, Ayah?"
Arthur mengulas senyum tipis di bibirnya, lalu menepuk punggung Narza agak keras hingga pemuda itu sedikit terdorong ke depan. "Latihan sore nanti. Sekarang, bersiaplah berangkat ke sekolah dan perbaiki catatan nilai-nilaimu yang hancur itu terlebih dahulu."
Kata-kata sang ayah rupanya menjadi pemantik semangat tersendiri yang membakar dada Narza. Tanpa perlu diperintah dua kali, pemuda itu melesat kembali ke kamarnya. Dengan cekatan, ia merapikan tempat tidur, meletakkan pedang kayunya di sudut ruangan, dan langsung mengenakan seragam sekolah kainnya yang sudah terlipat rapi.
Tidak lama kemudian, Narza melangkah keluar dari dalam kamar dengan sebuah tas kain sederhana tersampir di punggungnya. Ia berjalan cepat menuju pintu depan, berniat untuk langsung berpamitan agar tidak terlambat.
"Ibu, Ayah, aku pergi sekolah dulu ya!" seru Narza dengan nada memburu.
"Tunggu dulu, Narza," panggil sebuah suara lembut yang bernada menenangkan dari arah meja makan.
Arianna melangkah keluar dari area dapur sembari membawa sepiring besar nasi goreng hangat yang aromanya sangat menggugah selera. Di atas meja kayu yang sederhana namun tertata rapi, beberapa mangkuk kecil berisi lauk pauk tambahan dan dua cangkir teh hangat sudah disiapkan. Arianna menyunggingkan senyuman teduh khas seorang ibu, menatap putra tunggalnya yang tampak terburu-buru hendak menerobos pintu.
"Jangan pernah pergi ke sekolah dengan perut kosong, Nak. Ibu sudah menyiapkan sarapan kesukaanmu sejak subuh tadi," ucap Arianna seraya menarikkan satu kursi kayu di samping meja untuk Narza.
Arthur yang baru saja membasuh wajahnya melangkah menghampiri meja makan. Pria itu duduk santai di kursinya, menyeruput teh hangat sedikit, lalu melirik Narza dari balik cangkir keramiknya.
"Dengar kata ibumu, Narza. Apa yang dikatakan Aria itu benar. Pergi ke sekolah dengan perut kosong hanya akan membuat otakmu makin sulit berkonsentrasi untuk memperbaiki nilai-nilai merahmu itu. Duduk dan makan sarapanmu dulu di sini bersama Ayah."
Narza menyeringai lebar. Aroma gurih nasi goreng buatan ibunya memang terlalu harum dan menggoda untuk ditolak oleh perut remajanya. Tanpa rasa ragu lagi, ia segera menghampiri meja makan dan mendaratkan dirinya di atas kursi kayu.
"Siap, Bu! Terima kasih banyak sarapannya!" seru Narza ceria.
Arianna menyendokkan porsi nasi goreng yang cukup padat ke dalam piring Narza, lengkap dengan telur di atasnya. Setelah itu, dengan penuh kelembutan ia mengusap pelan rambut putranya yang masih sedikit berantakan.
"Makan yang lahap, Narza. Tapi ingat baik-baik nasihat ayahmu tadi, ya. Jangan sampai di dalam kelas nanti kamu malah melamunkan gerakan pedang di tengah-tengah pelajaran Sejarah dan Pengendalian Mana."
"Iya, Bu, tapi aku kan bukan anak kecil lagi yang harus terus diusap-usap kepalanya," sahut Narza di sela kunyahan pertamanya yang sangat lahap. Pipi pemuda itu menggembung penuh makanan. "Tapi aku janji, setelah nilai sekolahku naik minggu ini, Ayah harus mengajariku teknik tebasan memutar yang waktu itu! Aku ingin mempraktikkannya agar bisa menang dari Kiara! Aku tidak mau terus-menerus memegang rekor kekalahan darinya."
Arthur terkekeh pelan melihat tingkah putranya yang bicara dengan mulut penuh makanan. Pria paruh baya itu menggeleng-gelengkan kepala, namun binar rasa bangga dan kasih sayang yang mendalam tak bisa disembunyikan dari sepasang matanya.
"Bisa diatur," balas Arthur santai. "Tapi syaratnya tetap tidak berubah: rapikan dulu nilai-nilai merah di catatan gurumu itu. Kalau gurumu mengakui kepintaranmu hari ini, sore nanti Ayah sendiri yang akan menambah porsi latihan pedang kayu milikmu di lapangan."
"Setuju! Aturan itu sepakat! Jangan sampai Ayah ingkar janji nanti sore, ya!" seru Narza bersemangat sambil menyipitkan matanya penuh nada menantang ke arah sang ayah.
Kehangatan tawa pun pecah di meja makan kecil tersebut. Arianna hanya bisa tersenyum menggeleng melihat tingkah suami dan putranya yang selalu saja menemukan cara untuk menghubungkan segala hal dalam hidup mereka dengan seni berpedang, meski tangannya sendiri tak pernah berhenti melayani kebutuhan keluarga kecil itu. Suasana hangat dan canda tawa di meja makan pagi itu menyelimuti benak Narza, melapisi jiwanya dengan energi positif yang jauh lebih kuat dari sekadar dorongan stamina fisik untuk menghadapi pelajaran sekolahnya.
Setelah piringnya bersih tanpa menyisakan sebutir nasi pun dan teh hangatnya tandas diminum, Narza bangkit dari kursi dengan senyuman. Dengan penuh rasa hormat dan kasih sayang, ia mencium tangan ibunya dan ayahnya bergantian.
"Aku berangkat sekolah sekarang, Bu, Yah! Lihat saja sore nanti, aku pasti akan membawa kabar baik dan nilai yang bagus!" seru Narza penuh percaya diri sebelum melangkah mantap membelah pintu depan rumahnya, menyongsong pagi yang cerah di desa mereka.
Daftar bab
36 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








