
Sistem Pemikat Dukun Matbeken
Adilia|Bersambung
- Jumlah kata
- 31.4K
- Popular
- 560
- Subscribe
- 199
- Jumlah kata
- 31.4K
- Popular
- 560
- Subscribe
- 199
Sinopsis
Terus-terusan dimusuhi tetangga dan ditolak lamarannya karena miskin, Memet memutuskan pergi ke hutan untuk memenangkan diri. Siapa sangka di tengah jalan, dia bertemu dengan seorang kakek tua dan memberinya lemari kuno yang membawanya pada perubahan. Dia bertemu dengan beberapa wanita cantik lewat pintu lemari jati tersebut. Apakah Memet bisa kembali pulang ke dunianya lagi? Atau selamanya menjadi dukun tersohor di dunia lain tersebut? "Mbah Dukun, saya pengen punya bayi!"
Ulasan
2 ulasan
sastro jony
22/9/26 08:07
ceritanya seru oee, lanjutin sehari 3 bab atau lebih dong. Tolong segera update ya thor, sudah ingin baca selanjutnya
erlanggaku Erlangga
20/9/26 00:49
Lanjut terus ceritanya seru. apalagi ada gokilnya, ada tegangnya, ada merakyat.yuk update yang rutin,bagus
Lamaran ditolak
"Aduh, Met... ini sudah delapan kalinya lamaran kita ditolak." keluh Juminten, sambil duduk meringkuk menatap seserahan yang berserakan di atas lantai rumah gubuk miliknya.
"Yah... mau gimana lagi, Buk. Udah nasib kali, Memet jadi bujang lapuk karena miskin," sahut Memet sambil mengusap lembut pundak ibunya.
"Tapi, Met... semua seserahan ini Ibu hutang pada Bu Rodiyah. Bagaimana ngembaliinnya," imbuh Juminten, dengan tangis pilu.
Memet duduk di samping ibunya, menatap beberapa seserahan yang sudah rusak karena dibuang oleh keluarga Santi, yang menolak lamaran Memet karena menganggap pemuda itu tak layak untuk anaknya.
Tak lama Bu Rodiyah yang mendengar lamaran tetangganya itu di tolak, langsung datang ke gubuk Juminten, dia memaki Memet dengan kata-kata yang menyakitkan.
"Gagal lagi? Terus, siapa yang akan melunasi hutang-hutang ibumu, Met? Makanya jadi orang itu yang giat, biar nggak jadi bujang lapuk karena kere."
"Udah, Bu Rodiyah! Besok akan Memet lunasin semuanya!" tegas Memet yang langsung berdiri menatap tetangganya itu.
Juminten yang melihat perdebatan itu langsung berdiri dan mengusap lembut dada putranya. "Sabar, Met. Jangan emosi. Memang kita yang salah," bisik Juminten.
"Mau bayar pakai apa kamu? Mau maling? Kerja aja serabutan gitu, sok-sokan hutang seserahan banyak," balas Rodiyah. "Ingat, besok sore aku tunggu pelunasannya. Kalau tidak, rumah ini tak robohin!" bentak Rodiyah yang kemudian berlalu dari sana meninggalkan gubuk apek milik Memet.
Juminten menangis sesenggukan dipelukan Memet. Selama ini mereka memang hidup pas-pasan dengan pekerjaan serabutan yang tak menentu. Memet menutup pintu gubuk dan membawa sang ibu pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
Dengan suara lembut, pemuda itu menenangkan sang ibu, agar tidak terlalu sedih. Dengan pikiran yang carut marut tak karuan, Memet pun pamit pada Juminten untuk pergi ke hutan. Dia ingin mencari kayu bakar dan menjualnya ke pasar dipinggiran kota.
Dengan wajah sedih dan kecewa, Juminten hanya bisa mengangguk, membiarkan putranya itu pergi mengumpulkan kayu bakar.
Bermodal golok peninggalan almarhum bapaknya, Memet pergi menuju hutan di ujung desa. Siapa sangka baru ditengah jalan, pemuda itu bertemu dengan seorang pria sepuh duduk bersandar di samping pohon beringin. Dia memanggil Memet dan meminta pemuda itu untuk mengangkat lemari kayu kuno dari rumahnya untuk dibuang.
"Dibuang, Mbah? Lemari sebagus ini mau dibuang?" tanya Memet dengan kedua mata membelalak.
"Iya, Le. Buat apa? Lawong sudah kuno dan bau. Daripada memenuhi gubukku, lebih baik dibuang saja," sahut pria sepuh itu.
"Jangan, Mbah! Bagaimana kalau Memet bawa pulang saja? Kebetulan, Memet dan Ibu tidak punya lemari untuk menyimpan baju-baju kita berdua."
Kakek tua itu pun mengangguk ramah. Dia sangat senang, karena lemari kuno yang menurutnya sudah tak berguna itu masih bisa dimanfaatkan oleh orang lain. Dengan wajah senang, Memet menggendong lemari kayu yang berukuran sedang itu kembali pulang ke rumahnya. "Kalau Ibu nggak mau, kan masih bisa dijual," gumam Memet dengan wajah ceria.
Sepanjang perjalanan, beberapa tetangga termasuk Bu Rodiyah yang melihat Memet menggendong lemari hanya menghina. Mereka saling melempar sindiran hingga cacian menyakitkan.
"Maling darimana, Met?" tanya Bu Rodiyah mendekati pemuda itu.
Memet tak menanggapi semua cemoohan itu, dia terus saja berjalan menuju kediamannya.
"Budek, ya!!!!" teriak Bu Rodiyah lagi, yang merasa kesal karena tak ditanggapi oleh Memet.
Bu Rt yang melihat pun langsung berlari menghampiri Memet. Dia bertanya, tentang dari mana Memet mendapatkan lemari itu. Bu Rt takut, Memet beneran mencuri dan akan berimbas pada kampungnya.
"Maaf, Bu. Memet tidak mencuri. Ini Memet dapatkan dari kakek yang tinggal di sebrang sungai jalan setapak menuju hutan," jawab Memet dengan napas terengah-engah karena beban berat dari lemari yang ada di punggungnya.
"Kakek di seberang sungai? Bukannya di sana nggak ada rumah ataupun gubuk, Met? Kan, kamu juga sering lewat sana kalau pergi mencari kayu bakar?" sahut Bu RT yang membuat pikiran Memet kembali bingung.
"Benar juga kata Bu RT. Di sana kan hanya jalan setapak yang ditumbuhi semak belukar, nggak ada rumah apalagi pemukiman. Lalu, Simbah tadi?" batin Memet sambil mengingat-ingat.
"Ya udah, Met. Hati-hati, ya," ucap Bu RT lagi yang membuyarkan lamunan Memet.
"I—iya, Bu RT."
Memet pun melanjutkan langkahnya menuju rumah yang selama ini menjadi satu-satunya pelindung baginya.
Setelah lebih dari dua puluh menit perjalanan, Memet akhirnya sampai di rumah. Dia membuka pintu depan yang hanya terbuat dari anyaman bambu dengan perlahan. Suaranya pelan memanggil-manggil sang ibu untuk memperlihatkan lemari yang selama ini hanya menjadi angan-angan.
Melihat putranya yang sudah pulang, apalagi membawa lemari kayu, membuat Juminten terkejut. Wanita enam puluh lima tahun itu langsung menghampiri Memet dan memukul keras dada bidangnya. Dia menangis sejadi-jadinya karena merasa gagal mendidik Memet. Ternyata sang ibu mengira Memet mencuri lemari tersebut untuk melunasi hutangnya pada Bu Rodiyah.
"Met! Kenapa kamu bikin Ibu kecewa!" teriak Juminten yang kini tersungkur di atas lantai tanah rumahnya. "Siapa yang menyuruhmu mencuri begini?!"
Memet menghela napas berat kemudian mengusap keringat yang membasahi wajahnya dengan kaos oblong yang dikenakannya. Kemudian dia mendekati sang ibu dan menceritakan semua kejadian yang dialaminya di seberang sungai tadi.
"Kakek tua? Siapa dia, Met?" tanya Ibu dengan wajah sembabnya.
Memet menggelengkan kepalanya. Dia sendiri juga tidak tahu, siapa pria sepuh yang memberinya lemari kuno itu.
Setelah mendengar penjelasan dari Memet, Juminten pun sedikit lebih lega. Ternyata dugaannya salah. Dia mengusap dada Memet dan meminta maaf, karena sudah menuduh putranya mencuri. Memet hanya tersenyum sambil mengangguk pelan.
"Lebih baik, lemari ini ditaruh kamarmu saja, Met." ucap Ibu yang diangguki oleh pemuda itu.
Memet pun menggendong kembali lemari kuno itu masuk ke dalam kamarnya. Dia menaruhnya dengan sangat hati-hati dipojokan. Tapi, sesaat wajahnya nampak bingung dengan beberapa ukiran aneh yang terpahat jelas di pintu lemari. Kedua mata Memet semakin mendekat, mengamati setiap detail relief yang tersambung dari ukiran tersebut.
Sesekali dia mengusap kedua matanya, karena ada beberapa gambar yang merusak pandangannya.
Jemarinya meraba pintu lemari sambil terus menerka-nerka arti dari gambar-gambar tersebut.
"Seorang pria dengan beberapa wanita? Terus, kenapa ada matahari besar di atasnya?" gumam Memet masih dengan wajah penuh kebingungan.
Memet yang semakin penasaran pun, berniat untuk membuka pintu lemari. Dia ingin tahu apa isi dalam lemari tersebut. Tapi, saat ingin dibuka, ternyata pintunya terkunci. Memet tidak bisa membukanya. Dia menggaruk kepalanya yang tak gatal, mulai berpikir mencari cara untuk mendobraknya.
Memet akhirnya mempunyai ide, dia ingin membongkar pintu lemari dengan linggis. Tapi, sekali lagi usahanya itu gagal. Pintu lemari itu terlalu kuat dan kokoh, hingga sulit untuk dirusak.
"Loh, kok ada suara berisik dari dalam lemari?" gumam Memet sambil menempelkan telinganya pada pintu lemari.
"Hah, suara wanita? Kok ada banyak suara wanita?"
Daftar bab
30 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








