
AETHERIA: TIGA PANJI DI BUMI NUSANTARA
pratamaRp|Bersambung
- Jumlah kata
- 135.8K
- Popular
- 136
- Subscribe
- 5
- Jumlah kata
- 135.8K
- Popular
- 136
- Subscribe
- 5
Sinopsis
Di negeri kepulauan Aetheria, kematian sang Kaisar memecah sebuah negeri yang selama ratusan tahun berdiri dalam satu kesatuan. Tiga kekuatan—Imperium Asterra, Kerajaan Valdoria, dan Konfederasi Nerathis—bangkit untuk memperebutkan masa depan negeri, sementara energi misterius bernama Aether mulai membangkitkan kekuatan yang telah lama terkubur. Di tengah kekacauan itu, Kael Arvian, seorang pemuda dari tepian Sungai Arka yang awalnya hanya ingin melindungi keluarganya, tanpa sengaja terlempar ke pusaran perang bersama sahabatnya, Riven, ahli strategi muda Ezran, pemanah Nara, dan Lyra Veyna, gadis bangsawan yang perlahan menjadi orang paling berarti dalam hidupnya. Di antara cinta yang harus dipertahankan, persahabatan yang diuji, dan takhta yang tidak pernah ia inginkan, Kael harus menentukan apakah ia akan menjadi penguasa baru Aetheria—atau orang yang mengakhiri era para raja untuk selamanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
CHAPTER 1 ANAK DI TEPIAN SUNGAI
Pagi datang bersama kabut.
Kabut tipis menggantung di atas Sungai Arka, menyelimuti permukaan air yang tenang seperti kain putih yang dibentangkan dari satu tepi ke tepi lainnya. Cahaya matahari perlahan menembus pepohonan di sepanjang bantaran sungai, memantulkan warna keemasan pada air.
Di kejauhan, suara burung bersahutan.
Perahu-perahu kecil mulai bergerak meninggalkan dermaga. Para pedagang meneriakkan harga barang dagangan mereka. Aroma ikan bakar, rempah, dan kayu yang terbakar bercampur menjadi satu dengan udara pagi.
Kota Arka telah terbangun.
Namun di sebuah rumah kayu sederhana di pinggir sungai, seorang pemuda masih tertidur pulas.
"Kael!" Suara keras menggema dari dalam rumah.
Pemuda itu tidak bergerak.
"KAEL!" Sebuah bantal melayang.
Bruk!
Bantal itu mengenai wajahnya. Kael Arvian akhirnya membuka mata.
Rambut hitamnya berantakan, beberapa helai menutupi dahi. Tubuhnya yang masih ramping namun mulai terbentuk karena latihan sehari-hari terbungkus kemeja linen cokelat kusam dan celana hitam sederhana.
Ia menatap bantal yang jatuh di sampingnya. Kemudian menatap pintu.
"Kalau mau membangunkanku, kenapa harus melempar bantal?" gumamnya.
"Karena kalau dipanggil baik-baik, kau tidak pernah bangun!" Seorang wanita berdiri di ambang pintu.
Namanya Mira Arvian, ibu Kael.
Usianya sekitar empat puluh tahun. Rambut hitamnya disanggul sederhana dan sebagian telah dihiasi uban. Ia mengenakan blus panjang berwarna krem dengan kain panjang bermotif biru tua. Wajahnya lembut, tetapi tatapannya memiliki ketegasan yang membuat Kael tidak pernah berani membantah terlalu lama.
Mira adalah seorang janda. Suaminya, Arvan Arvian, telah meninggal ketika Kael masih kecil. Sejak saat itu, Mira membesarkan Kael seorang diri.
"Pasar sudah ramai," katanya. "Kau berjanji membantu mengangkat karung beras milik Paman Daren."
"Aku ingat." Kael menghela napas.
"Kalau ingat, kenapa masih tidur?"
"Karena mengingat sesuatu tidak otomatis membuat tubuhku bangun."
Mira menyipitkan mata.
"Baik. Aku bangun." Kael langsung berdiri.
"Itu baru anak Ibu." Mira berbalik meninggalkan kamar.
Kael mengambil ikat rambut dari meja dan mengikat rambutnya yang panjang sebahu ke belakang. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak di depan sebuah benda yang tergantung di dinding.
Sebuah pedang tua. Pedang itu milik ayahnya. Tidak indah. Sarungnya sudah tergores dan gagangnya dibungkus kain yang mulai pudar. Namun Kael selalu menyimpannya dengan hati-hati.
Ia menyentuh gagang pedang itu.
"Suatu hari nanti..." bisiknya. Kemudian ia menggeleng. "Sudahlah."
Kael mengambil tas kain dan keluar rumah.
Jalan menuju pasar telah dipenuhi manusia. Kota Arka memang tidak sebesar ibu kota Asterra, tetapi letaknya sangat strategis. Sungai Arka menjadi jalur perdagangan yang menghubungkan wilayah utara dan selatan.
Pedagang dari berbagai daerah datang setiap hari. Ada yang membawa rempah dari wilayah pesisir. Ada yang membawa kain dari pegunungan. Ada pula pedagang asing dari Nerathis yang menjual mutiara, garam laut, dan benda-benda mekanis yang menggunakan kristal Aether.
Kael berjalan melewati kerumunan sambil membawa dua karung kosong.
"Kael!" Seseorang memanggilnya dari belakang.
Kael menoleh. Seorang pemuda berlari ke arahnya. Usianya sebaya dengan Kael, tujuh belas tahun. Tubuhnya lebih tinggi dan berotot, dengan rambut cokelat gelap yang dipotong pendek. Ia mengenakan kemeja tanpa lengan berwarna abu-abu, celana panjang gelap, serta pelindung kulit sederhana di kedua lengannya.
Namanya Riven. Sahabat Kael sejak mereka masih anak-anak. Jika Kael dikenal sebagai pemuda yang keras kepala dan mudah bertindak sebelum berpikir, Riven justru terkenal karena keberaniannya yang sering kali mendekati kebodohan.
"Aku mencarimu sejak tadi," kata Riven.
"Kenapa?" Kael mengangkat alis.
"Ada keributan." Riven menunjuk ke arah sungai.
"Keributan apa?"
"Orang-orang bilang ada kapal dari utara."
"Terus?" Kael mengerutkan dahi.
"Kael, kapal dari utara tidak datang kemari selama hampir tiga bulan."
"Pedagang?"
"Prajurit." Riven menggeleng.
Kael berhenti. Untuk sesaat, suara pasar terasa menjauh.
"Asterra?" tanyanya.
"Panji hitam." Riven mengangguk pelan.
Keduanya saling memandang.
Imperium Asterra memiliki salah satu pasukan terbesar di seluruh Aetheria. Jika pasukan mereka datang ke kota kecil seperti Arka, hampir tidak pernah membawa kabar baik.
Namun Kael segera mengangkat karung di bahunya.
"Aku harus membantu Paman Daren."
"Serius?" Riven menatapnya tidak percaya.
"Serius."
"Kael, ada pasukan!"
"Dan ada karung beras."
"Mana yang menurutmu lebih penting?"
"Kalau karung beras tidak sampai ke pasar, kita tidak makan." Kael menatapnya.
"Itu... masuk akal." Riven terdiam.
"Aku tahu."
Mereka berjalan menuju gudang Paman Daren.
Menjelang siang, suasana kota berubah. Para pedagang mulai menutup kios. Orang-orang berbisik di sepanjang jalan. Kael berdiri di dekat dermaga bersama Riven.
Di hadapan mereka, tiga kapal besar perlahan mendekati pelabuhan. Layar hitam. Panji merah tua. Lambang serigala besi.
Asterra.
Puluhan prajurit turun dari kapal. Mereka mengenakan zirah hitam dengan garis merah di bagian bahu. Helm mereka menutupi sebagian besar wajah. Di antara mereka berjalan seorang pria tinggi.
Ia jauh lebih tua daripada Kael, mungkin sekitar tiga puluh lima tahun. Rambutnya hitam pendek dengan beberapa helai uban di pelipis. Wajahnya tegas, dengan bekas luka tipis memanjang dari alis kiri menuju pipi.
Ia mengenakan mantel militer hitam dan zirah ringan berwarna gelap. Seorang jenderal. Orang-orang langsung memberi jalan.
"Siapa dia?" Riven berbisik.
"Aku tidak tahu." Kael menggeleng.
Jenderal itu berhenti di tengah dermaga.
"Atas nama Imperium Asterra," suaranya terdengar jelas, "kota ini berada dalam pengawasan militer mulai hari ini."
Kerumunan mulai gaduh.
"Jenderal, atas dasar apa?" Seorang pedagang tua maju.
"Perintah istana." Jenderal itu menatapnya dingin.
Hanya dua kata. Namun cukup membuat semua orang diam. Kael mengepalkan tangan. Ia tidak menyukai cara pria itu berbicara. Bukan karena keras. Justru karena terlalu tenang.
Seolah-olah kehidupan orang-orang di kota ini tidak lebih penting daripada angka di sebuah laporan. Tiba-tiba— Sesuatu bergetar di dalam tubuh Kael. Ia tersentak.
Tangannya mencengkeram dadanya. Panas. Bukan panas biasa. Sesuatu seperti bara menyala di dalam tulang rusuknya.
"Kael?" Riven menatapnya.
Kael tidak menjawab. Matanya tertuju pada salah satu kapal Asterra. Di bagian belakang kapal itu terdapat sebuah peti besar. Peti tersebut terbuat dari logam hitam dan dilapisi rantai.
Dari dalamnya... terdengar suara.
Tok.
Tok.
Tok.
Seperti sesuatu sedang mengetuk dari dalam. Kael menahan napas. Panas di dadanya semakin kuat.
Tok.
Tok.
Tok.
Jantungnya berdegup mengikuti suara itu. Kemudian, untuk sepersekian detik— Kael melihat cahaya merah menyala di sela-sela rantai peti. Matanya melebar.
"Apa itu...?"
"Apa?" tanya Riven.
Kael berkedip. Cahaya itu menghilang. Peti kembali terlihat biasa.
"Kael?"
"Aku tidak apa-apa." Namun jauh di dalam dirinya, Kael tahu sesuatu telah berubah.
Ia belum mengerti apa yang baru saja dilihatnya. Ia belum tahu apa yang ada di dalam peti itu. Ia juga belum tahu bahwa kedatangan kapal-kapal Asterra akan menjadi awal dari kehancuran kehidupan yang selama ini ia kenal.
Di atas salah satu kapal, sebuah batu kecil berwarna merah menyala berada di antara tumpukan peti. Retakan tipis muncul di permukaannya. Lalu— sebuah suara berbisik. Sangat pelan. Hampir seperti suara seseorang yang sedang bermimpi.
["Bangun..."]
Kael tiba-tiba menoleh ke langit. Langit masih biru. Matahari masih bersinar. Sungai Arka masih mengalir seperti biasa. Namun untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Kael merasa bahwa sesuatu sedang mengawasinya.
Dan tanpa ia sadari— sebuah bara telah mulai menyala di dalam dirinya.
Daftar bab
109 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
109 bab








