
SERELYNDOR-Kebohongan Yang Indah
Kojiro Hiro|Bersambung
- Jumlah kata
- 62.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
- Jumlah kata
- 62.6K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
Sinopsis
Semua nampak begitu indah di dunia ini. Pemandangan alam, udara yang bersih, Suara-suara yang tidak menganggu gendang telinga. Sesuatu yang lama tidak kurasakan. Tapi... Semua itu aku anggap hanyalah ilusi. Aku putuskan untuk memusnahkan Manusia, walaupun diriku sendiri adalah manusia juga. Demi membuat ilusi itu, menjadi kenyataan disini.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Memasuki Dunia Yang Indah ?
Aku...
Nama.... Asa Rinandra
Umur... Tidak ingat, aku merasa umurku berhenti di dua puluh tahun mungkin.
Jemariku mengecek hembusan di hidungku..
Apa masih bernafas hari ini ?..
Iya masih rupanya.
Pikirku sambil melihat Langit pagi tak lagi membawa harapan. Warna abu-abu menggantung di balik jendela kamar sempit itu, sama seperti hari-hari sebelumnya.
Langit-langit kamar yang mulai mengelupas, mendengarkan suara tetesan air dari atap yang bocor. Waktu masih menunjukkan pukul 6:13 pagi, tapi aku sudah terjaga sejak pukul tiga. Tidur sudah bukan lagi pelarian yang ampuh.
Bising kendaraan dari jalan raya menyelinap masuk melalui celah jendela. Di lantai, berserakan bungkus mi instan, kaleng kopi bekas, dan buku-buku sekolah yang sudah lama tak dibuka.
Kepala ini tidak ingat kalau punya harapan—Setelah semua kejadian itu terjadi....
Ayah pergi dan memilih menikah dengan perempuan lain, ibu jatuh sakit dan mati akibat depresi serta hutang yang seakaan tak ada habisnya, Bahkan Keluarga besar atau saudara Menganggapku tidak ada.
Jika bukan karena diriku ingin hidup, sudah lama aku bunuh diri dari dulu.
Aku hanya mengisi hari dengan kerja paruh waktu sebagai tukang masak di sebuah kedai, menjoki game, dan kembali ke kamar, tempat di mana pikiranku masih tenggelam dalam pertanyaan yang sama setiap malam.
"Untuk apa aku masih hidup?"
Tak ada jawaban.
Aku bangkit perlahan, menyeret tubuhku yang tidak tahu akan kemana.
Ponselku menyala. Notifikasi pinjaman online yang menagih.
Aku tak membacanya. Mataku hanya menatap kosong, hingga layar kembali gelap.
Lalu melempar pelan ponselku ke tanah.
Tidak kerasa Sinar matahari akhirnya menyusup ke celah tirai, menyinari wajahku yang pucat karena tidak tidur.
Hari sudah menjadi siang, dan lebih bercahaya.
Tapi di mataku, tetap saja gelap seperti langit malam.
Jika memiliki satu keinginan yang bisa dikabulkan...
Aku tidak ingin terlahir ke dunia seperti ini lagi...
.
.
Dunia seakan mendengar isi hatiku sekarang...
Lalu aku merasakan hawa hangat di bawah kakiku.
"Hmm.. sinar matahari sehangat ini ya memangnya ?"
Waktu aku menoleh, sudah terlambat untuk bereaksi.
Cahaya Kuning bercampur putih menelanku masuk ke sebuah Portal, seakan melewati lintas alam semesta.
Terombang ambing tidak jelas, dan sekilas melihat sebuah kehidupan di gelembung - gelembung yang mengambang.
Datanglahh....!!!!
Aku mendengar suara perempuan yang seperti memanggil, namun dengan nada Keras penuh dendam.
Setelah di tarik dan teracak-acak di dimensi itu.
Aku tergeletak Berada di Sebuah Tempat indah namun Aneh, dan tidak pernah kulihat sebelumnya.
Sangat Berwarna...
Tanah rumput yang luas, dengan cahaya langit campuran warna Biru dan ungu.
" Aku memanggilmu Manusia Terkutuk... Selamat datang di Serelyndor "
Sambil tersenyum dan memegang sebuah buku sihir.
Elf rambut putih ini, telah mengaku telah memanggilku..
Eh...???
Serelyndor....??
" Sekarang... "
Dia menggunakan sihir akar pohon dan langsung mengikat dan membungkamku.
" Tidak perlu bicara dan tidak usah banyak tingkah, kau sekarang adalah tawanan desa kami... Kubawa kau sekarang."
Lanjutnya bicara.
Hahh...???
Aku hanya bisa pasrah dan diam saja, walaupun sebenarnya dalam hatiku masih banyak yang ingin kuketahui.
"Ohh iya, dan kau harus tidur..."
Dalam sekejap, dia memukul perutku dan dadaku.
Membuatku pingsan dan mengambang di udara.
.
.
.
Setelah lama sekitar tiga puluh menit atau lebih.
Aku tersadar kembali, namun masih belum bisa melihat apapun, dan tubuhku tiba-tiba merinding. Pupil mataku serasa mengecil ditambah perutku mual.
Hawa serta Bau apa ini...???
Ternyata itu hanya sesaat, dan kembali normal setelah aku merasa di lempar ke sebuah tempat.
" Aku masih berbaik hati menahanmu di tempat ini...."
Katanya masih dengan nada marah.
Mata dibuka kembali, rupanya dia menutup penglihatanku dengan lembaran-lembaran daun.
"Bukan di kuil hukuman."
Lanjutnya.
Aku tidak bisa membalas perkataan atau menjawabnya, mulutku masih disumpal tanah liat basah, kaki serta tanganku terikat.
Walaupun sudah agak dilonggarkan...
Namun masih tetap saja, jika aku berusaha bergerak bebas.
Akar ini malah menguat dan mengikatku dengan keras.
" Di biarkan hidup saja sudah sangat beruntung...."
Dia melemparkan roti bekas gigitan, entah bekasnya siapa.
Dilihat saja sudah hampir beberapa hari dan sudah busuk.
Lalu tempat ini ?
Aku melirik sekitar.
Bahkan cahaya tidak bisa masuk kesini, jika ditutup sepenuhnya oleh batu dibelakangnya.
"Besok kami akan melakukan rencana penukaran sandera... Semoga saja kau masih bisa bernafas."
Tangannya merapalkan mantra dan membuat tanah liat dimulutku menghilang.
Akhirnya bisa merasa lega.
" kau bilang aku adalah sandera..... Jika aku mati bukannya akan jadi sia - sia "
Balasku.
" Masuk akal.... Tapi kita para Elf punya rencana cadangan "
Dia berbalik dan berjalan keluar.
" Kau pergi tanpa menjelaskan apapun ? "
Aku mencoba mengulur waktu agar dia tidak pergi begitu saja.
" Makhluk rendahan sepertimu tidak perlu kejelassan apapun "
Sebuah Batu langsung bergeser dan benar - benar menutup seutuhnya tempat ini.
Kukira akan tanpa cahaya, namun rupanya akar yang mengikatku mengeluarkan cahaya biru sedikit.
" Fiyuh.... Setidaknya ada penerangan dan mulutku tidak tersumbat tanah basah "
Aku mengambil Roti bekas itu, dan memakannya walaupun terpaksa.
Didalam pikiranku, banyak pertanyaan yang ingin aku lontarkan.
Kenapa dia membenci manusia ?
Apa yang telah dilakukan oleh mereka ?
Atau apa yang sebenarnya terjadi ?
Kejadian ini benar-benar terlalu cepat, bahkan mataku belum melihat sepenuhnya dunia ini.
Namun semua itu hanya bisa kusimpan untuk besok hari.
Aku merasakan tetesan air, bahkan tempat ini juga aku belum tahu apa-apa.
Memang seperti penjara, tapi ini lebih gelap serta tersusun dari tanah.
Mata kututup, lalu bersandar ke dinding.
Berharap, kalau ini salah satu mimpi buruk.
.
.
Kasian sekali...
Tapi aku yakin kau bisa bertahan...
Suara ini...
Bukan dari elf tadi.
Aku pinjamkan setengah kekuatanku...
Imbalannya, bebaskan aku. Mudah bukan ?
"Mudah katamu ? Kau bisa melihatnya kan, kalau aku sekarang menjadi tawanan, dan tidak bisa bergerak."
Balasku ke suara itu.
Sekarang sepertinya indra pikiranku terkena ilusi saking shocknya.
Tenang saja...
Malam ini mereka akan menyerang, tapi selamat atau tidaknya...
Tergantung dari dirimu sendiri...
Dadaku menjadi sesak secara tiba-tiba.
Aku menggeliat kesakitan, padahal tidak terkena serangan apapun.
Rupanya tubuhmu juga cukup kuat menahan setengah kekuatan yang aku berikan...
Baguslah...
Sampai jumpa kembali, Manusia...
Aku terus menekan dadaku dengan tangan, namun seluruh tubuhku seakan mendidih.
Tenagaku juga perlahan melemah.
Memang aku berharap untuk mati, tapi bukan cari seperti ini.
Akhirnya aku benar-benar kehilangan kesadaran.
Namun muncul pertanyaan baru dari alam bawah sadarku.
Yaitu... Siapa yang dimaksudnya akan menyerang ?
Daftar bab
48 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








