
Sistem Kebangkitan Sang Polisi Tidur
safrinafebrianti|Bersambung
- Jumlah kata
- 86.7K
- Popular
- 279
- Subscribe
- 48
- Jumlah kata
- 86.7K
- Popular
- 279
- Subscribe
- 48
Sinopsis
Jendral Reksa, seorang intel polisi yang menyamar, tewas dibunuh oleh Keisha kekasihnya sendiri di malam pertunangan mereka tanpa alasan jelas. Namun, sebuah Sistem misterius membangkitkannya kembali. Berbekal ingatan masa depan dan Sistem yang memberi imbalan absurd setiap kali kasus terpecahkan, Jendral kembali menjalani hidup gandanya. Kali ini, ia tidak hanya menumpas kejahatan di jalanan, tetapi juga menginvestigasi Keisha dengan insting intelijennya. Di tengah bahaya penyamaran dan misteri dalang tersembunyi, Jendral harus membongkar rahasia kelam di balik pengkhianatan wanita yang paling dicintainya sebelum takdir berdarah itu terulang kembali.
Ulasan
1 ulasan
Ayambakar Goreng
21/9/26 04:13
secara keseluruhan ceritanya bagus walaupun sedikit membingungkan tapi paham juga kalau dibacanya pelan". penulisannya enak dibacanya, gak terlalu berat bikin penasaran terus sama motif Keisha.
Bab 1 - Jejak Intel Berjaket Hijau
Jendral Reksa, tetapi hampir tidak ada orang di sekitar sini yang tahu nama itu. Yang mereka kenal cuma "Bang Jen", tukang ojol yang katanya baru pindah dari luar kota, yang tiap hari mangkal di ujung gang sambil pura-pura menunggu orderan.
Jaket hijaunya sudah kusam di bagian siku, bau keringat bercampur asap knalpot, persis seperti jaket ojol kebanyakan yang dipakai bertahun-tahun. Padahal baru tiga minggu ia memakainya. Kusamnya disengaja, supaya tidak mencolok.
Motor matic hitamnya diparkir persis di seberang sebuah rumah kos dua lantai, catnya udah pudar, temboknya penuh lumut di bagian bawah. Dari posisi itu, Jendral bisa melihat jelas jendela kamar nomor 7 di lantai dua. kamar milik orang yang selama tiga minggu terakhir jadi pusat perhatiannya.
Ponselnya menyala, seolah-olah sedang menunggu notifikasi orderan makanan. Padahal aplikasi itu sudah sengaja ia nonaktifkan sejak pagi.
Sudah tiga minggu Jendral menjalani rutinitas ini. Bangun jam empat pagi di kamar kontrakan sempit, memakai seragam ojol yang sengaja dibuat lusuh, lalu berangkat ke titik yang sama, di jam yang sama, seolah-olah hidupnya memang benar-benar berputar di sekitar aplikasi ojek online.
Tidak ada yang tahu bahwa di balik helm murahan dan jaket bau keringat itu, ada seorang intel muda Satintelkam yang sedang menjalankan salah satu misi paling penting dalam kariernya sejauh ini.
Pukul 10.04, lampu kamar nomor 7 menyala.
Jendral mengeluarkan buku kecil dari bawah jok dan mencatat tanpa menunduk terlalu lama.
10.04. Lampu nyala. Menyimpang dari pola.
Pola itu sudah ia hafal di luar kepala. Jam lima sore, lampu menyala. Jam sembilan malam, satu atau dua motor berhenti di depan gerbang, tidak sampai lima menit, lalu pergi. Jam sebelas, lampu mati. Rapi, seperti jadwal kereta. Di jam segini, kamar itu seharusnya gelap dan penghuninya sudah keluar.
Tapi pagi ini beda. Dan Jendral tahu, di dunia intelijen, hal yang beda dari biasanya itu biasanya berarti sesuatu.
Belum sempat ia menulis lagi, ponselnya bergetar. Bukan notifikasi ojol abal-abal yang ia pura-purakan, tapi pesan asli dari grup kecil berisi empat orang.
Rizky: Ada pergerakan. Orang baru masuk gerbang, bawa tas ransel gede. Lo lihat?
Rizky mengawasi dari lantai dua rumah warga di sebelah kos, yang disewa tim sebagai pos pantau. Dari jendela itu, ia punya sudut pandang yang tidak dimiliki Jendral.
Jendral menoleh sedikit, cukup untuk melihat sesosok pria berjaket kulit berjalan cepat masuk ke halaman kos, tanpa menyapa siapa pun, langsung naik tangga ke lantai dua.
Jendral: Lihat. Itu bukan wajah yang biasa keluar masuk situ.
Mira: Serius nih hari ini? Gue udah gak sabar, tiga minggu duduk di warkop pura-pura ngopi doang bikin gue mual liat kopi sasetan.
Doni: Fokus, Mir. Bang Jen, gimana kelanjutannya?
Jendral menatap lagi jendela kamar nomor 7. Tirainya bergerak sedikit, lalu tertutup rapat.
Kasus ini bukan kasus kecil. Selama tiga bulan terakhir, laporan warga soal peredaran barang haram di sekitar perumahan ini terus masuk, tapi tidak ada satu pun yang berani buka mulut lebih jauh. takut jadi sasaran balas dendam. Baru setelah Jendral diturunkan menyamar total, pola transaksi mulai terlihat jelas siapa yang datang, jam berapa, dan siapa dalang di balik kamar kos yang tampak biasa saja dari luar itu.
Kalau kasus ini berhasil dituntaskan hari ini, bukan cuma jaringan kecil yang terbongkar, tapi kemungkinan besar jalur pasokan yang lebih besar di baliknya. Dan Jendral tahu betul, atasannya di Satintelkam sudah menunggu hasil ini sejak awal.
Sambil menunggu, Jendral memutar kepala ke arah warkop kecil di sebelah kanannya, tempat Mira "menyamar" sebagai pelanggan setia yang datang tiap hari. Dari kejauhan, Mira melambai pelan. bukan lambaian mencurigakan, cuma gestur kecil seperti menyapa tukang ojol yang kebetulan lewat.
Jendral membalas dengan anggukan tipis, lalu kembali menunduk ke ponselnya.
Baru saja ia mau mengetik pesan lagi, seorang ibu-ibu berdaster bunga tiba-tiba muncul dari balik pagar rumah persis di sebelah tempatnya parkir.
"Dek, ini ojol ya? Bisa anter Ibu ke Pasar nggak? Tukang ayam potongnya nggak bisa nganter."
Jendral nyaris tersedak ludahnya sendiri.
"Eh... maaf, Bu, saya lagi nunggu orderan lain."
"Yah, deket doang loh, Dek. Ibu bayar lebih juga nggak apa-apa."
"Lain kali aja ya, Bu. Beneran lagi nunggu."
Si ibu mendengus lalu pergi sambil menggerutu soal "ojol zaman sekarang pilih-pilih orderan". Jendral menghela napas. Kalau saja ibu itu tahu, yang ia tunggu bukan orderan, tapi momen yang bisa menentukan nasib sebuah jaringan kejahatan yang sudah diintai berminggu-minggu.
Lima belas menit kemudian, ponselnya bergetar lagi.
Rizky: Bang Jen, transaksi. Gue lihat serah terima di balik pintu kamar 7. Ada yang keluar bawa kantong plastik hitam, jalannya buru-buru banget.
Jendral langsung menegakkan badan.
Ia mengintip lewat spion motornya, cara paling aman buat mengamati tanpa harus menoleh langsung. Benar saja, seorang pria dengan topi hitam keluar dari gerbang kos, jalannya cepat, gelagatnya gugup, tangan kanannya mendekap sesuatu di balik jaket.
Ini dia. Puncaknya.
Jendral menekan tombol kecil yang tersembunyi di balik resleting jaketnya, alat komunikasi yang menyerupai kancing biasa.
"Semua siap di posisi. Target keluar sekarang. Eksekusi."
Dalam sekejap, pagi yang tenang itu pecah.
Dua motor tim bantuan Satresnarkoba melesat keluar dari gang samping kos dan memotong jalan si pria bertopi. Dari warkop, Mira berlari sambil melepas kerudung penyamarannya, memperlihatkan rompi bertuliskan INTEL di baliknya. Doni melompat keluar dari angkot yang sejak pagi terparkir di gang belakang, sementara Rizky turun dari pos pantau dan menyerbu masuk ke kos bersamanya, menuju kamar nomor 7.
Jendral meninggalkan motornya dan mengejar pria bertopi yang berbelok ke gang belakang.
"Berhenti! Polisi!"
Suaranya jauh dari nada ramah tukang ojol yang selama ini ia mainkan.
Pria itu sempat memberontak, tapi gerakannya kalah cepat. Jendral menangkap pergelangan tangannya, memutar badannya, lalu menjatuhkannya ke aspal dengan tenaga yang cukup untuk melumpuhkan tanpa melukai.
"Diam! Jangan macem-macem!"
Borgol berbunyi klik. Warga mulai berkerumun, penasaran dengan keributan di pagi yang tadinya sepi. Di antara mereka, ibu berdaster bunga itu berdiri dengan mulut setengah terbuka.
Tak lama Doni dan Rizky keluar dari kos sambil menggiring target utama, pria berjaket kulit tadi. Di tangan mereka ada barang bukti, timbangan kecil dan beberapa bungkusan mencurigakan.
Jendral menyeka debu dari lututnya dan tersenyum tipis. Tiga minggu penyamaran, selesai dalam lima belas menit.
"Lah... Dek ojol tadi... kok jadi polisi?" gumam si ibu, nyaris pada dirinya sendiri.
Daftar bab
82 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








