
Tante Rena ku yang Seksi
Kartikaputri|Bersambung
- Jumlah kata
- 45.8K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 211
- Jumlah kata
- 45.8K
- Popular
- 1.4K
- Subscribe
- 211
Sinopsis
Harap Bijak Membaca Alvin adalah pemuda sederhana dari desa yang dikenal tampan, pekerja keras, dan polos. Demi melanjutkan kuliah, ia mengikuti pamannya ke Bandung tanpa mengetahui bahwa kehidupan barunya akan jauh berbeda dari yang ia bayangkan. Sesampainya di Bandung, Alvin baru mengetahui bahwa sang paman tinggal bersama Rena, istri keduanya yang anggun, percaya diri, dan penuh misteri. Kehadiran Rena membuat Alvin merasa canggung karena ia belum pernah benar-benar memahami dunia percintaan dan hubungan orang dewasa. Namun, Rena justru menjadi sosok yang banyak membimbing Alvin menghadapi kehidupan barunya di kota. Dari Rena, Alvin belajar tentang arti menghargai perempuan, menjaga batasan, memahami perasaan, dan menjadi pria yang lebih dewasa. Di tengah kedekatan mereka, Alvin mulai menyadari bahwa rasa kagumnya kepada Rena harus ditempatkan pada batas yang tepat. Sementara itu, kehidupan rumah tangga pamannya ternyata menyimpan masalah yang perlahan mulai terungkap. Akankah Alvin mampu melewati masa kuliahnya tanpa terseret ke dalam konflik rumah tangga sang paman? Dan siapa sebenarnya Tante Rena yang selama ini menyimpan begitu banyak rahasia?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1 Bisikan Rumah Mewah
Suara itu terdengar lagi. Sebuah suara lenguhan nikmat dari seorang perempuan yang begitu halus, namun sanggup memecah kesunyian lorong lantai dua rumah mewah berlantai dua tersebut. Suaranya samar-samar, tetapi cukup jelas untuk membuat siapa pun yang mendengarnya tertegun di tempat.
Alvin berdiri mematung di ambang pintu kamar istri muda Om Indra. Langkah kakinya yang semula hendak menuju ke dapur terhenti sepenuhnya. Pintu kamar berukir indah itu ternyata tidak tertutup sempurna, menyisakan celah beberapa sentimeter yang membiarkan cahaya kuning temaram dari dalam kamar menerobos keluar. Celah kecil itu cukup lebar untuk membuat Alvin melihat dengan leluasa aktivitas yang sedang terjadi di dalam sana.
Alvin adalah seorang pemuda tampan dan berbadan gagah yang baru saja tiba dari kampung halamannya. Wajahnya tegas dengan garis rahang yang kuat, dipadukan dengan postur tubuh tinggi tegap hasil dari kebiasaannya membantu pekerjaan berat di desa. Kehadirannya di kota ini bukanlah tanpa alasan. Dia dibawa oleh Indra Setiawan, adik kandung dari sang ibu yang selama ini sukses berbisnis di kota besar.
Alvin sengaja datang ke kota Bandung untuk melanjutkan pendidikan kuliahnya yang sempat tertunda selama dua tahun karena kendala biaya. Sang paman yang mengetahui potensi keponakannya itu dengan senang hati menawarkan bantuan, memboyong Alvin ke Kota Kembang agar bisa fokus menata masa depannya kembali.
Namun, alih-alih menempatkan Alvin di rumah utamanya, sang paman justru mengajaknya tinggal di rumah istri mudanya. Om Indra berdalih bahwa rumah ini lebih dekat dengan kampus tempat Alvin akan mendaftar. Selain itu, ada tugas khusus yang diberikan kepadanya: Alvin ditugaskan untuk menjaga dan menemani istri muda paman yang bernama Rena, mengingat Om Indra sering kali harus pergi keluar kota untuk mengurus bisnis atau kembali ke rumah istri pertamanya.
Tapi, baru saja tadi siang Alvin menginjakkan kakinya di rumah mewah bernuansa modern minimalis ini, sore harinya dia sudah disuguhkan pemandangan yang membuat darah muda dalam tubuhnya berdesir hebat.
"Ahhh... Mas, jangan digigit..." terdengar suara sang tante dari dalam kamar. Nada suaranya terdengar begitu manja, berpadu antara rintihan kecil dan kepasrahan yang mendalam.
Alvin menelan ludahnya yang terasa kering. Jantungnya berdegup kencang, menepuk dada kirinya dengan ritme yang tak beraturan. Logikanya menyuruh untuk segera berbalik dan melangkah pergi, tetapi rasa ingin tahu yang membuncah menahan kedua kakinya seolah tertancap di atas lantai granit yang dingin.
Alvin kembali menajamkan pendengarannya. Dia memiringkan kepalanya sedikit, memberanikan diri untuk kembali melihat ke arah dalam melalui celah pintu yang terbuka. Pandangannya menembus remang-remang ruangan yang dihiasi aroma wewangian terapi lavender.
Di atas ranjang berukuran *king size* dengan sprei sutra putih yang kini kusut, Alvin bisa melihat siluet dua insan yang tengah dimadu asmara. Tante Rena, perempuan berusia akhir dua puluhan yang memiliki paras jelita dan kulit putih bersih, tampak berada di posisi atas. Rambut panjangnya yang hitam bergelombang terurai berantakan, menutupi sebagian punggung mulusnya yang terekspos tanpa sehelai benang pun.
Bagian intim Alvin semakin memegang dan menegang hebat di balik celana jins tebal yang dikenakannya saat melihat sang tante bergoyang santai namun pasti di atas tubuh sang paman. Gerakan tubuh Tante Rena begitu gemulai, mengikuti irama napas mereka yang saling memburu di udara malam yang dingin.
"Mas... enak banget, Mas..." rintih istri muda Om Indra itu dengan napas yang terengah-engah. Kepala perempuannya mendongak ke atas, memperlihatkan jenjang lehernya yang mulus di bawah terpaan lampu tidur.
Om Indra yang terbaring di bawahnya memegang pinggul sang istri dengan erat, membimbing setiap gerakan yang dilakukan oleh wanita muda tersebut. Suara gesekan kain, napas berat, dan desahan manis memenuhi seluruh penjuru kamar utama itu.
"Kamu juga, Sayang... makin sempit. Goyang lagi..." ucap Om Indra dengan suara berat dan napas yang memburu ketakutan kehabisan tenaga.
Setiap kata, desahan, dan gerakan yang ditangkap oleh mata dan telinga Alvin terasa seperti sengatan listrik yang merambat ke seluruh saraf tubuhnya. Pemandangan itu terlalu berlebihan untuk diproses oleh seorang pemuda desa yang selama ini hidup dalam kesederhanaan dan jauh dari atmosfer semacam ini. Darahnya mengalir deras, memompa adrenalin ke tingkat tertinggi. Udara di lorong itu tiba-tiba terasa begitu panas dan menyesakkan.
Alvin tak tahan lagi. Kepalanya terasa pusing dan sekujur tubuhnya bergetar hebat akibat gejolak gairah yang mendadak membakar dirinya. Dia tidak bisa terus-menerus berdiri di sana tanpa kehilangan kendali atas dirinya sendiri.
Dengan langkah berjingkat yang sangat hati-hati agar tidak menimbulkan suara sekecil apa pun, Alvin mundur beberapa langkah. Setelah berada pada jarak yang cukup aman dari pintu kamar tersebut, dia langsung berbalik dan berlari kencang menuju kamarnya yang terletak di ujung lorong lantai dua.
---
*Brak!*
Alvin menutup pintu kamarnya dengan rapat, lalu menyandarkan punggungnya di balik pintu kayu yang tebal itu. Pria muda itu terengah-engah, memegangi dadanya yang naik turun dengan cepat. Keringat dingin mulai membasahi pelipis dan tengkuknya. Bayangan lekuk tubuh Tante Rena dan nada suaranya yang manja masih terekam jelas di dalam ingatannya, seolah-olah adegan itu diputar secara berulang di dalam kepalanya.
"Gila... gila..." bisik Alvin pada dirinya sendiri, mencoba menetralkan napasnya yang tidak beraturan.
Namun, dorongan alami dari dalam tubuhnya terlalu kuat untuk diabaikan. Rasa sesak di bagian bawah tubuhnya semakin tidak tertahankan. Tanpa membuang waktu lebih lama, Alvin melangkah cepat menuju kamar mandi pribadi yang ada di dalam kamarnya.
Dia mengunci pintu kamar mandi dari dalam, lalu melangkah menuju wastafel dan memutar keran air deras-deras, berharap suara gemericik air bisa menyamarkan suara apa pun yang keluar dari mulutnya. Alvin menatap pantulan dirinya di dalam cermin. Wajahnya memerah, matanya menyiratkan kebingungan sekaligus gairah yang liar.
Alvin melepaskan celananya dengan tergesa-gesa. Di bawah remang lampu kamar mandi, dia memejamkan mata rapat-rapat. Bayangan visual yang baru saja dia saksikan beberapa detik lalu kembali muncul dengan begitu nyata. Lenguhan Tante Rena, erangan paman Indra, dan atmosfer panas dari kamar sebelah seakan berpindah ke dalam pikirannya sendiri.
Dengan tangan yang sedikit bergetar, Alvin mulai memainkan tangannya sendiri untuk meredakan ketegangan yang menyiksa tubuhnya. Dia melakukan aktivitas *solo* tersebut dengan cepat dan intens, berusaha membuang seluruh energi terlarang yang meracuni pikirannya sejak tadi. Napasnya terdengar berat bersahutan dengan suara kucuran air wastafel.
Setiap detik berlalu terasa begitu lambat hingga akhirnya, setelah beberapa saat bertarung dengan gejolak dalam dirinya, pelepasan yang ditunggu-tunggu itu datang juga. Alvin memejamkan mata sejadi-jadinya, menggigit bibir bawahnya erat-erat agar tidak menimbulkan suara, saat ketegangan di tubuhnya perlahan-lahan luruh dan mengendur.
Alvin bersandar pada dinding keramik kamar mandi yang dingin, mencoba mengumpulkan kembali kesadarannya yang sempat melayang. Napasnya slowly kembali teratur, meski jantungnya masih berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Rasa lega terpancar di wajahnya, tetapi diikuti oleh perasaan canggung dan bersalah yang hinggap di dalam dada.
Dia baru saja tiba di rumah ini beberapa jam yang lalu, tetapi batas-batas kepatutan rasanya sudah mulai kabur hanya karena ketidaksengajaan di sore hari ini.
Tak lama setelah selesai dengan aktivitas pribadinya dan menenangkan diri, Alvin segera menyalakan *shower*. Air dingin langsung mengguyur kepala dan seluruh tubuhnya, menyapu bersih keringat dan sisa-sisa ketegangan yang menempel di kulitnya. Minimal air dingin ini bisa membantu mendinginkan kepalanya yang sempat mendidih.
Alvin membiarkan air mengalir membasahi wajahnya. Dalam diam, dia mulai berpikir tentang keputusan yang telah dibuatnya. Kota Bandung yang tenang kini terasa menyajikan dinamika baru yang tidak pernah dia duga sebelumnya. Tinggal satu atap dengan paman dan istri mudanya yang cantik ternyata membawa konsekuensi mental yang jauh lebih berat dari sekadar menjaga rumah.
"Bagaimana aku bisa bertahan di rumah ini kalau setiap hari jalannya begini?" gumam Alvin lirih di bawah pancuran air.
---
Setelah membasuh diri hingga bersih dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk, Alvin keluar dari kamar mandi hanya dengan mengenakan kaus polos hitam dan celana pendek santai. Dia mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk kecil sambil berjalan menuju tepi tempat tidur.
Suasana luar kamar kini sudah jauh lebih hening. Tidak ada lagi suara desahan atau lenguhan yang terdengar dari lorong luar. Waktu sudah menunjukkan pukul enam sore, dan warna jingga di luar jendela perlahan-lahan berganti menjadi kegelapan malam.
Alvin mendudukkan dirinya di tepi ranjang yang empuk. Matanya menatap lurus ke arah pintu kamar yang tertutup rapat. Dia membayangkan bagaimana nanti saat harus berhadapan langsung dengan Om Indra dan Tante Rena di meja makan. Apakah dia bisa bersikap biasa saja seolah-olah tidak ada hal apa pun yang terjadi sebelumnya? Apakah raut wajahnya akan membocorkan rahasia kecil yang baru saja dia simpan rapat-rapat?
Suara ketukan lembut pada pintu kamarnya mendadak memecahkan lamunan Alvin.
*Tok... tok... tok...*
"Alvin? Kamu sudah bangun, Nak? Ayo keluar, kita makan malam sama-sama," suara lembut Tante Rena terdengar dari balik pintu, bernada ramah dan sangat tenang, bertolak belakang dengan suara penuh gairah yang didengarnya beberapa saat yang lalu.
Alvin membeku sejenak, menahan napasnya sebelum akhirnya menjawab dengan nada suara yang berusaha dibuat se-normal mungkin.
"Iya, Tante. Alvin baru selesai mandi. Sebentar lagi Alvin keluar."
"Ya sudah, Tante tunggu di meja makan ya bersama Om-mu," sahut Tante Rena sebelum langkah kakinya terdengar menjauh dari pintu.
Alvin menarik napas dalam-dalam, menghembuskannyaperlahan untuk menenangkan hatinya. Dia menyisir rambutnya dengan jari-jari tangannya, lalu beranjak berdiri. Hari pertamanya di Bandung baru saja dimulai, dan Alvin tahu, kehidupan kuliahnya di kota ini tidak akan pernah berjalan dengan sederhana.
Daftar bab
41 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








