
Bukan Sekadar Dukun Gen Z
sfieroh|Bersambung
- Jumlah kata
- 67.0K
- Popular
- 514
- Subscribe
- 58
- Jumlah kata
- 67.0K
- Popular
- 514
- Subscribe
- 58
Sinopsis
Max dulu hanyalah pria biasa, bahkan lebih sering di kucilkan oleh teman-teman kuliahnya. Namun, semua itu berubah ketika dia menjalani Kuliah Kerja Nyata (KKN) di salah satu desa terpencil di daerah Jawa. Tanpa sengaja ia membangunkan penguasa wilayah itu yang mana ternyata adalah salah satu leluhurnya. Bagaimana Max mengendalikan diri dengan ilmu barunya itu? Apakah dia akan mempertahankannya atau akan membuangnya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1
"Max, elo yakin mau KKN di desa terpencil itu?" Tanya Laura. Satu-satunya teman perempuan yang dimiliki oleh Max. Pria itu sama sekali tidak punya teman lain selain Laura, meskipun di kampusnya ada 40 ribu mahasiswa, dan ada lebih dari 2000 mahasiswa sefakultas.
"Yakin," jawab Max tanpa berpikir dua kali.
Pria dua puluh satu tahun, tampan sebenarnya. Hanya saja terlalu pendiam, sederhana dan tidak suka bergaul dengan teman-teman sekelasnya yang keren dengan outfit necis dari brand terbaik dunia.
"Nanti kalau elo kenapa-napa gimana?" Gadis itu tampak khawatir. Padahal desa itu hanya terpencil, bukan di luar planet bumi.
"Kalau gue kenapa-napa, paling gue bakal gentayangin elo!" balasnya datar. Tidak ada senyum. Padahal dari ucapannya jelas dia sedang melucu pada temannya itu.
"Awas aja elo sampai gentayangin gue. Kalau elo jadi poci, gue iket atas bawah jadi satu biar badan elo bungkuk." Canda Laura sambil tersenyum manis sekali.
Max hanya tersenyum tipis, bahkan saat Laura sadar akan senyumannya itu. Dia langsung datar kembali. Seolah senyuman itu adalah sesuatu yang harus ia simpan pada siapapun. Bagai harta yang tidak boleh terlihat.
Belum sempat Max menjawab candaan itu, segerombolan mahasiswa laki-laki datang menghampiri mereka. Seperti biasa mereka menatap remeh ke arah Max, bahkan ada yang terang-terangan meludah. Menganggap Max hanyalah sampah jurusan.
"Laura Laura, kamu itu cantik. Harusnya bergaul sama orang yang punya privilage seperti kita-kita ini," ujar Hans, ketua geng itu.
"Betul Laura. Kamu itu harusnya ikut circle kami. Bukan malah sama orang gak jelas. Culun, cupu dan biasa banget kaya Max ini!" tambah Reynard sambil melirik sengit ke arah Max dengan pandangan tidak suka.
"Iya, aneh banget kamu Lau." Yang lain ikut mengiyakan, seolah semua ucapan dua pria paling sok berkuasa itu benar adanya.
Mendengar hal itu, Laura tampak langsung geram. Ia langsung melolot, dan berkacak pinggang.
"Mentang-mentang kalian kaya, terus merendahkan Max." Laura membalas dengan emosi yang mulai mendidih, sedangkan Max yang dihina habis-habisan hanya diam, tenang dan tidak membalas sedikitpun.
"Hahahaha......." Pemuda-pemuda itu langsung tertawa nyaring. Makin menatap Max dengan hinaan.
Hans melangkah lebih dekat dengan Max, lalu dia dorong dada bidang Max dengan tangannya, kemudian dia berucap, "Elo nggak malu dibela sama cewek? Elo cowok atau banci?"
"Jaga ya mulut elo. Pun misal Max ini banci, dia lebih terhormat dari elo yang cuman bisanya jago menindas orang-orang lemah." Laura kembali bersuara, tidak terima teman baiknya semakin di rendahkan oleh Hans dan gengnya.
Kini Reynard yang maju, lebih dekat dari posisi Hans. Bahkan dengan cepat menarik kerah kemeja Max, dan melolot ke arahnya.
"Cupu elo! Si pintar apapun elo, kalau cupu elo bakal jadi sampah masyarakat." Hinanya.
Max yang sedari tadi diam, tampaknya mulai terpancing. Dia kini melawan sampai tangan Reynard akhirnya bisa lepas dari kerah bajunya.
"Sudah puas hina saya?" Tanya Max dengan tatapan mata setajam elang yang mengintai mangsanya. Kedua tangannya sudah mengepal, seolah siap menonjok manusia-manusia paling menyebalkan di jurusannya itu.
Hans, Reynard dan yang lainnya langsung saling pandang. Mereka tertawa kembali menganggap ucapan Max hanyalah lelucon yang tidak perlu mereka perdulikan.
"Elo punya nyali? Ayo sini kalau mau berantem?" Ajak Hans dengan angguh.
"Saya bukan preman!" Tegas Max.
"Takut kan elo sama kita?" Tanya Hans, dan diiyakan oleh teman-teman satu gengnya.
Max hanya tersenyum tipis, dia jelas tidak takut pada Hans, atau teman-teman yang lainnya. Tapi menurutnya meladeni mereka sama saja merendahkan diri, dan menghancurkan reputasinya di kampus elit itu.
"Saya tidak pernah takut pada siapapun kecuali pada Tuhan. Kalau kalian ingin berkelahi, saya tidak ada waktu untuk meladeni kalian."
"Halah takut kan elo?"
Max menggeleng pelan, lalu maju satu langkah. Kemudian berbisik pelan di telinga Reynard.
"Kalian mau berantem? Boleh saja, asal kalian satu lawan satu. Bukan keroyokan seperti orang bodoh!"
Setelah membisikan itu, tanpa menunggu respon dari mereka. Max langsung menarik tangan Laura dan pergi menjauh. Sementara mereka ingin mengejar, tapi ada banyak pasang mata yang menatap ke arah mereka yang baru saja mengintimidasi Max.
"Mereka benar-benar gila!" komentar Laura setelah mereka menjauh.
Max mengangguk, membenarkan ucapan gadis itu. Lalu setelahnya melepaskan tangan Laura.
"Kalau ganti tempat KKN bisa nggak ya? Gue pengen satu lokasi sama elo!" Ucap laura tiba-tiba.
"Elo mau pindah? Barusan sudah upacara pelepasan. Nanti siang kita bakal berangkat ke lokasi masing-masing," balas Max heran.
Laura menggaruk rambutnya yang tidak gatal, kemudian menghentikan langkahnya, yang mana membuat Max ikut berhenti. Mereka kini berhadap.
"Gue mau pindah lokasi, kelompok elo masih kekurangan orang. Gue yakin, pasti gue bisa pindah."
Detik setelahnya, Laura langsung lari ke gedung LPPM (Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat) di kampusnya. Ia benar-benar akan pindah demi satu kelompok dengan Max.
"Lau, nggak usah!" Intrupsi Max tidak setuju dengan rencana dadakan itu.
Tapi Laura tidak peduli, saat ia menyusul. Pihak LPPM bahkan menyetujui begitu saja tanpa syarat apapun.
"Elo gila ya?" Tanya Max sambil menggeleng pelan.
"Nggak, gue cuman pengen aja!"
"Serah elo dah."
Setelahnya mereka pergi dari area itu dan langsung berangkat dengan mobil yang sudah di sewa oleh kelompok Max.
"Kenapa Laura tiba-tiba bisa KKN sama kita?" Tanya Pradipta salah satu anggota tim KKN itu.
"Gue juga nggak tahu." Balas Max tanpa menjelaskan apapun.
"Yaudah sih, lagian malah bagus. Anggota tim kita jadi full 10. Gue malah heran. Kenapa pada takut KKN di desa itu." Komentar yang lainnya.
Max, dan yang lainnya mengangguk setuju. Sepertinya mereka akan lebih solid, meskipun tidak sebanyak tim lainnya.
Semua orang tampak sibuk bercengkrama. Laura bahkan langsung bisa memposisikan diri dengan sangat baik, hingga tidak terasa sudah enam jam, dan mereka masuk ke area perkampungan yang sunyi. Ada listrik, namun rumah masih sangat jarang sekali.
Begitu masuk ke gerbang perkampungan itu Max langsung merasa ada sesuatu yang berbeda. Seperti ada mata yang terus memantaunya.
"Gue halusianasi kayanya," ucapnya pada dirinya sendiri. Sayangnya, semuanya tidak membaik melainkan semakin mendekat. Dan tanpa tahu kelanjutnya, pria itu langsung kabur pandangannya. Gelap dan semakin gelap.
"Max, elo kok tidur sih. Tinggal dua rumah lagi sampai posko!" Ucap Laura sambil menggoyang-goyangkan tubuh Max yang amruk di kursi sampingnya.
"Max, Max, elo bangun deh! Jangan bercanda!" Laura kembali bersuara. Awalnya semuanya tampak tidak peduli, sampai akhirnya mereka semua menatap ke arah pria itu. Lalu menjadi panik serempak.
"Max, bangun Max!"
Daftar bab
58 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








