

Hujan gerimis malam itu turun tanpa ampun, menyapu jalanan aspal kota metropolitan yang basah dan memantulkan neon-neon lampu reklame warna-warni. Di sudut sebuah emperan toko yang sudah tutup, Feri merapatkan jaket usangnya yang sudah mulai tipis. Udara dingin seakan menembus pori-pori kulitnya, tetapi itu tidak sebanding dengan rasa dingin yang mencengkeram dadanya.
Hari ini adalah hari paling sial dalam hidupnya. Pagi tadi, ia baru saja diusir dari tempat kerjanya sebagai buruh harian lepas karena dianggap tidak becus padahal ia pingsan akibat kelaparan. Sore harinya, lamaran kerjanya sebagai kurir ditolak mentah-mentah hanya karena penampilannya yang dinilai tidak layak. Dan puncak dari segala kehancuran itu terjadi beberapa jam yang lalu.
Di seberang jalan, di bawah payung hitam yang elegan, ia melihat Nadia wanita yang diam-diam ia cintai dan dukung setengah mati selama lima tahun terakhir tertawa manja di dalam dekapan Dirga. Dirga adalah pewaris tunggal korporasi properti raksasa, seorang pria arogan yang pernah dengan sengaja menumpahkan kopi panas ke wajah Feri hanya untuk bersenang-senang di depan rekan bisnisnya. Nadia, yang dulu berjanji akan menemani Feri dalam keadaan susah maupun senang, kini memilih berjalan di sisi kemewahan, meninggalkan Feri dalam kubangan lumpur keputusasaan.
Feri menunduk. Di genangan air keruh di hadapannya, ia melihat pantulan wajahnya sendiri: kulit kusam yang dipenuhi bekas jerawat batu, rambut berantakan, mata sayu yang kehilangan harapan, dan bayangan seorang pecundang sejati.
“Kenapa dunia begitu tidak adil? Kenapa orang sepertiku ditakdirkan untuk diinjak-injak selamanya?” batin Feri, mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih dan darah segar menetes dari telapak tangannya yang tertusuk kuku sendiri.
Ding!
Suara logam berdenting nyaring bergemerincing di dalam kepalanya, memecah keheningan malam dan deru air hujan. Suara itu begitu jernih, seolah langsung bergema di dalam saraf otaknya.
【Peringatan: Emosi negatif inang telah mencapai ambang batas maksimum 100%.】
【Kondisi terpenuhi. Sistem Penakluk Dunia Versi Mutlak sedang diinisialisasi...】
【Sinkronisasi dengan jiwa inang: 1%... 50%... 100%. Berhasil!】
Feri terperanjat. Ia mendongak, mencoba mencari asal suara tersebut, namun yang ia temukan justru sebuah layar holografik transparan berwarna keemasan yang melayang anggun tepat di depan retinanya. Layar itu memancarkan pendar cahaya hangat yang kontras dengan dinginnya malam.
【Selamat, Feri. Anda telah terpilih sebagai Inang tunggal dari Sistem Penakluk Dunia. Mulai detik ini, roda takdir Anda berada di tangan Anda sendiri.】
【Misi Pemula: Keluar dari zona hina dalam waktu 24 jam.】
【Hadiah Penyelesaian Instan: Pembersihan Genetik Total (Transformasi Fisik Sempurna) dan Suntikan Dana Tanpa Batas Tahap Pertama senilai Rp10.000.000.000 (Sepuluh Miliar Rupiah).】
Sebelum Feri sempat mencerna apakah ia sedang berhalusinasi karena terlalu lapar, sebuah sensasi panas yang luar biasa mendadak meledak dari dalam dadanya. Panas itu menjalar dengan cepat, membakar setiap pembuluh darah, meresap ke dalam tulang sumsum, dan merombak struktur tubuhnya dari tingkat sel.
Feri merasakan tulangnya bergeser dan berderak pelan, rasa sakit yang luar biasa tertutupi oleh gelombang energi kebas yang menyegarkan. Kulitnya yang kusam dan kasar terkelupas secara tak kasat mata, digantikan oleh kulit baru yang mulus, kenyal, dan memancarkan kilau sehat luar biasa. Otot-otot di tubuhnya mengembang dan memadat, membentuk postur tubuh atletis setinggi 185 sentimeter dengan proporsi sempurna layaknya pahatan dewa Yunani. Tinggi badannya bahkan bertambah beberapa sentimeter, dan wajahnya bermetamorfosis rahang yang tegas, hidung mancung, serta sepasang mata tajam yang memancarkan pesona magnetis tingkat tinggi.
Kring! Kring!
Ponsel murah berlayar retak di saku celananya bergetar hebat. Feri dengan tangan yang sedikit gemetar mengeluarkan benda tersebut. Bukan lagi pesan penagih utang atau pemberitahuan saldo kosong, melainkan sebuahnotifikasi resmi dari aplikasi mobile banking prioritas bank swasta nasional:
“[Pemberitahuan Transaksi] Rekening Anda telah menerima dana masuk sebesar Rp10.000.000.000,00. Saldo tersedia: Rp10.000.015.500,00.”
Feri tertegun. Napasnya memburu. Ia mengangkat tangan kanannya dan melihat kulitnya yang kini bersih tanpa cela, serta pakaian usang yang mendadak terasa begitu longgar di atas tubuh barunya yang kini begitu tegap dan memukau.
Di saat yang bersamaan, sebuah taksi mewah berhawa dingin berhenti tepat di depan emperan tempat ia berdiri. Pintu mobil terbuka secara otomatis, seolah takdir sendiri yang membukakan jalan baginya.
Feri perlahan menegakkan punggungnya. Sisa-sisa keraguan dan air mata di wajahnya telah lenyap, digantikan oleh tatapan dingin, tajam, dan penuh percaya diri. Masa lalunya sebagai pecundang miskin telah mati malam ini. Di bawah rerintisan hujan kota yang kelam, langkah kaki pertamanya menghentak trotoar memulai babak baru di mana dunia, kekayaan, dan kekuasaan bersiap untuk bertekuk lutut di bawah telapak kakinya.
Udara malam yang lembap tiba-tiba terasa berbeda di kulit Feri. Bayangan masa lalu tentang dirinya yang kerap direndahkan, diinjak-injak, dan dipandang sebelah mata kini perlahan-lahan menguap, tergantikan oleh aliran adrenalin murni yang mendominasi setiap jengkal kesadarannya.
Ia melangkah masuk ke dalam taksi mewah tersebut. Aroma khas kulit jok mobil kelas atas menyambut indra penciumannya. Pengemudi taksi sempat melirik ke arah kaca spion tengah, dan dalam sepersekian detik, mata sang pengemudi melebar sempurna. Pria paruh baya itu tampak terpesona dan salah tingkah seketika, seolah-olah ia sedang melihat seorang bintang film internasional kelas dunia yang turun langsung dari layar lebar. Aura ketampanan Feri yang terpancar begitu kuat kini memiliki daya tarik magnetis yang sanggup melumpuhkan akal sehat siapa saja yang menatapnya.
"Mau ke mana, Tuan muda?" tanya sopir itu dengan nada bicara yang berubah drastis menjadi sangat hormat, gemetar, dan penuh kehati-hatian, seolah takut salah ucap di hadapan sosok agung.
"Ke Hotel Grand Metropolitan," jawab Feri singkat. Suaranya kini terdengar begitu bariton, berat, tenang, namun mengandung wibawa mutlak yang membuat siapa pun ingin tunduk patuh.
Sepanjang perjalanan, layar holografik keemasan di depan matanya kembali berpendar pelan, menampilkan deretan data analitik pasar saham, portofolio properti strategis, serta daftar nama tokoh-tokoh penting di kota ini yang bisa ia kendalikan. Sistem ini tidak sekadar memberikan uang tunai; sistem ini adalah skema kalkulasi tingkat tinggi yang membaca celah sekecil apa pun di dunia modern untuk memastikan Feri selalu berada di puncak kemenangan.
Setibanya di lobi Hotel Grand Metropolitan hotel bintang tujuh paling mewah tempat Dirga dan kalangan elit biasa mengadakan pesta eksklusif Feri keluar dari mobil dengan langkah tegap. Penjaga pintu hotel yang biasanya bersikap angkuh kepada orang berpenampilan biasa, langsung membungkuk hormat selebar 90 derajat sambil membukakan pintu kaca besar.
Ia berjalan menyusuri koridor marmer yang berkilau. Di ujung sana, di balik pintu aula utama yang megah, ia bisa mendengar suara tawa riang dan dentingan gelas kristal. Di sanalah Nadia dan Dirga berada, menikmati kemewahan dunia yang mengira Feri sudah tak lagi berdaya. Feri merapikan kerah jasnya, menyunggingkan senyuman tipis penuh misteri di bibirnya. Permainan baru saja dimulai, dan malam ini, sejarah kota ini akan menuliskan nama seorang penguasa baru yang tak akan pernah bisa mereka lupakan.