
- Jumlah kata
- 102.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 4
Sinopsis
Bagi anak-anak yatim piatu di Panti Asuhan, "diadopsi" adalah impian tertinggi. Terletak terisolasi di pinggir hutan lebat, panti ini dikelola oleh sepasang suami istri paruh baya yang tampak bersahaja, serta anak gadis mereka yang berusia 18 tahun dengan paras secantik malaikat. Setiap bulan, selalu ada anak baru yang datang, dan selalu ada anak beruntung yang dibawa pergi oleh orang tua angkat mereka Namun, Ardi tahu sebuah rahasia yang mengerikan. Di panti itu, kata "diadopsi" memiliki arti yang jauh berbeda. " Mereka yang pamit untuk pergi ke rumah baru, selalu kembali mengetuk jendela dengan tubuh basah dan tatapan rindu. Berdiri di sana berbisik lirih, bertanya mengapa jalan menuju pelukan keluarga terasa begitu dingin dan tak kunjung sampai."
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Pundak Bocah, Beban Semesta
"Mereka pamit untuk pergi ke rumah yang baru, malamnya selalu kembali mengetuk jendela dengan tubuh basah dan tatapan rindu. Mereka berdiri di sana berbisik lirih, bertanya mengapa jalan menuju pelukan keluarga terasa begitu dingin dan tak kunjung sampai."
Sebuah siklus tanpa akhir terhampar di tepi rimba ini. Yang datang menggantikan yang pergi, mengisi kekosongan ranjang-ranjang tua dengan mimpi yang sama. Mereka menyebutnya adopsi, tetapi aku melihatnya sebagai penggiringan domba-domba ke tempat penjagalan.
Kebenaran di tempat ini terdistorsi. Siapa pun yang melangkah keluar dari gerbang panti, selalu pulang kembali. Bukan dengan raga, melainkan dengan siluet pucat yang menempel di kacaku, bertanya-tanya mengapa jalan menuju kebahagiaan terasa begitu dingin.
Apakah aku gila karena bisa mendengar bisikan tanah yang menimbun mereka? Tidak, aku waras. Aku hanya memiliki sebuah kelebihan yang tak pernah kuinginkan. Sebuah penglihatan yang perlahan bertranformasi menjadi duri di balik daging.
Ribuan pertanyaan terus berdengung di kepalaku, lebih bising dari angin hutan di malam hari. Apakah aku akan terus hidup di bawah atap yang penuh darah ini? Atau, apakah aku hanya seonggok daging yang menunggu giliran untuk diadopsi oleh maut? Aku tidak bisa terus bersembunyi dalam ketakutan. Sebelum fajar terakhirku direnggut, aku harus mencari celah untuk pergi dari tempat terkutuk ini. Aku harus menolong jiwa-jiwa malang yang kini hanya bisa pasrah menunggu akhir hidup mereka di ujung belati.
Bagaimana tangan kecil ini bisa menahan runtuhnya langit?Dua belas tahun bernapas, aku dipaksa menjadi tameng.Mereka sekarat, dan aku menolak diam menunggu giliran mati.Tapi kutukan ini terlalu berat untuk tulang-tulangku yang rapuh.
Aku buta arah, tak punya Tuhan tempat mengadu.Bagiku, dunia hanyalah hukum rimba kosmik yang tak peduli.Hanya ada hitam dan putih yang mengabur dalam abu-abu trauma.Tanggung jawab ini datang tanpa permisi,merenggut paksa sisa masa kecilku yang malang.
Napas ini sesak, tercekat di tenggorokan yang kering.Menolong mereka adalah bunuh diri perlahan,membiarkan mereka mati adalah neraka seumur hidup.Aku tersesat dalam keputusasaan yang tak punya dasar.
🌜Baru Belajar nulis novel..semoga suka...di tunggu, like dan komentar nya yaaa...skalian masukannya.. Terima kasih.
Daftar bab
92 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








