Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
GAIRAH PARMAN Pesona Dukun Muda

GAIRAH PARMAN Pesona Dukun Muda

NamNamjoo | Bersambung
Jumlah kata
128.6K
Popular
5.7K
Subscribe
864
Novel / GAIRAH PARMAN Pesona Dukun Muda
GAIRAH PARMAN Pesona Dukun Muda

GAIRAH PARMAN Pesona Dukun Muda

NamNamjoo| Bersambung
Jumlah Kata
128.6K
Popular
5.7K
Subscribe
864
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalDukunHarem21+
Lelah dihina, Parman bertapa di hutan larangan hingga disunting Tuan Putri Wulan, Ratu gaib penunggu air terjun. Berbekal Keris Naga Sasra Sabuk Intan dan ilmu penakluk, Parman kembali ke dunia nyata bergelimang harta serta kesaktian. Kini, tak ada satu pun wanita yang sanggup menolak pesona Dukun Parman!
Bab 1

Parman membuka mata perlahan. Hantaman air terjun yang semula menghujani tubuhnya mendadak terasa sirna, tergantikan kelembutan aura magis yang memancar dari sosok di hadapannya.

Rambut sosok itu hitam legam terurai hingga sepinggang, dihiasi mahkota kecil yang berkilauan. Pakaiannya terbuat dari kain sutra halus berwarna keemasan, dihiasi permata yang memancarkan pendar cahaya redup nan anggun.

Wajahnya elok bagaikan rembulan purnama, senyumnya selembut embun pagi, dan sepasang matanya memancarkan kehangatan yang belum pernah Parman rasakan seumur hidupnya.

"Parman, aku telah mengamati pertapaanmu," suaranya terdengar lembut bagai lantunan melodi, menembus gemuruh air terjun. "Banyak godaan berat yang berhasil kau lalui. Kau sangat pantas mendapatkan imbalan atas keteguhan hatimu."

Parman, yang selama ini memusatkan seluruh pikiran dan raganya demi menjadi sakti mandraguna, merasa dadanya bergetar hebat. Wanita di hadapannya ini adalah godaan terindah yang pernah ia temui.

Namun, ikrar pada dirinya sendiri untuk tidak tergoda oleh apa pun masih terpatri kuat. "Hamba hanya pemuda desa yang tidak punya apa-apa, Tuan Putri," jawab Parman merendah, menahan getar di suaranya. "Hamba sungguh tidak pantas menerima imbalan apa pun dari Anda."

Wanita itu tersenyum, dan senyuman itu cukup untuk melelehkan keraguan di hati Parman. "Aku bukan putri dari kerajaan manusia, Parman," tuturnya halus. "Aku adalah penguasa dan penjaga air terjun ini. Namaku Tuan Putri Wulan."

Parman mendadak teringat pada legenda tua yang kerap diceritakan tetua kampungnya. Konon, ada seorang bidadari yang dihukum turun ke Bumi dan menetap di balik air terjun tengah hutan larangan ini.

Ternyata, kisah itu bukan sekadar isapan jempol belaka. Parman makin menundukkan kepala, merasa bagai debu yang tak pantas berhadapan langsung dengan makhluk seindah itu. "Tuan Putri... ampuni atas segala kelancangan hamba," bisiknya bergetar.

"Angkat kepalamu, Parman," sahut Tuan Putri Wulan lembut. "Kau tidak melancangi siapa pun. Justru kau telah membuktikan keteguhan hati yang amat langka dimiliki manusia. Kau bahkan tak sedikit pun tergoda oleh wanita-wanita jelmaan yang kukirim untuk menguji ketahananmu."

"Hamba hanya berpegang teguh pada niat awal hamba, Tuan Putri," sahut Parman jujur.

"Lalu, apa sebenarnya tujuan utamamu, Parman?" tanya Tuan Putri Wulan sembari melangkah perlahan mendekatinya. "Katakan padaku, apa yang membuatmu sanggup bertahan di sini menahan lapar, haus, dan dingin yang menggigit?"

"Saya ingin menjadi orang sakti dan kaya raya," tegas Parman dengan suara yang kini jauh lebih mantap. "Saya ingin mengubah nasib hidup saya. Saya sudah lelah terus-menerus dihina dan diremehkan oleh orang lain!"

"Jika itu keinginanmu, aku bisa mewujudkannya, Parman," ujar Tuan Putri Wulan. "Namun, tentu ada satu syarat."

Parman mendongak, menatap paras Tuan Putri Wulan dengan binar harap yang membuncah. "Syarat apa pun itu, Tuan Putri... hamba bersedia memenuhinya!"

Tuan Putri Wulan menatap Parman dengan ukiran senyum misterius namun begitu manis. "Menikahlah denganku, maka seluruh kesaktian, kekayaan, dan apa pun yang kau impikan akan jadi milikmu," bisiknya pelan.

Parman seketika terpaku. Matanya membulat sempurna, tak percaya dengan apa yang baru saja mendatangi pendengarannya. "Me-menikah... dengan Tuan Putri?" suaranya tercekat.

Tuan Putri Wulan mengangkat satu alisnya, senyum menggoda masih terpatri di bibirnya. "Kenapa? Apakah kau berniat menolakku?" tanyanya lirih, seolah memberi tantangan manis. Ia lalu melangkah satu tapak lebih dekat, "Atau... apakah aku masih kurang cantik di matamu?"

Parman makin gugup setengah mati, cepat-cepat mengalihkan pandangannya. "B-bukan begitu, Tuan Putri... Hamba hanya... hamba merasa terlampau hina untuk menjadi pendamping Anda," jawabnya tergagap-gagap.

Senyum hangat kembali mengembang di wajah sang putri. "Parman, apakah kau percaya pada takdir?"

Parman mengangguk perlahan, meski dadanya masih berdegup kencang. "Tentu, hamba memercayainya."

"Dengarkan aku," Tuan Putri Wulan menghirup napas pelan. "Pertemuan kita di tempat keramat ini pun adalah bagian dari takdir yang sudah tertulis. Jadi, bersediakah kau menjadi suamiku? Tak perlu cemas... aku tidak akan melarangmu jika suatu saat nanti kau ingin menyunting wanita dari bangsamu sendiri," tuturnya penuh kehangatan.

Parman terdiam membisu. Gejolak dahsyat berkecamuk di dalam dadanya mempertimbangkan antara keraguan dan kehausan akan pembalasan nasib. Bayangan wajah Lilis, anak kepala desa yang dulu merendahkan dan meremehkannya tanpa belas kasihan, mendadak melintas di ingatan.

Seketika tatapan Parman berubah tajam, rahangnya mengeras penuh tekad. "Tuan Putri... hamba bersedia menikah dengan Anda," ucapnya tegas tanpa ada lagi keraguan.

Tuan Putri Wulan tersenyum puas. Ia berbalik dan melangkah mantap menuju dinding batu di balik tirai air terjun. "Pilihan yang bijak. Mari, ikut aku ke istanaku," ajaknya.

Seketika itu pula, dinding batu padat itu bergeser perlahan, membuka jalan menuju sebuah taman megah yang memancarkan cahaya keemasan. Parman menghela napas panjang, memantapkan hati, lalu bangkit berdiri untuk melangkah mengikuti Tuan Putri Wulan.

Pesta pernikahan Parman dan Tuan Putri Wulan digelar begitu megah di dalam istana sang putri. Pesta spektakuler itu dihadiri oleh ribuan makhluk gaib penghuni hutan larangan.

Parman sama sekali tidak pernah membayangkan bahwa ia akan menjadi suami dari sang Ratu Penguasa Hutan Larangan. Di tengah kemegahan istana ini, ia merasa seperti sebutir debu jalanan yang mendadak terdampar di atas hamparan permata.

Dinding istana terbuat dari lumut ajaib yang memancarkan pendaran cahaya hijau kebiruan, sementara atapnya terbentuk dari formasi akar pohon raksasa yang saling melilit dan dipenuhi kristal-kristal gemerlap.

Di bawah pijakan kakinya, lantai istana terhampar permadani lumut empuk yang memberikan rasa hangat. Setiap sudut ruangan menyebarkan aroma harum bunga hutan yang menyegarkan, bertaut dengan wangi tanah basah yang menenangkan jiwa.

Kini, di atas singgasana megah dari ukiran batang pohon purba, Parman duduk bersanding dengan canggung di sebelah Tuan Putri Wulan.

Tuan Putri Wulan, yang tampil sangat memikat dalam balutan gaun sutra emas berkilau, menyunggingkan senyuman hangat untuk menenangkan kepanikan Parman.

Di hadapan mereka, jajaran makhluk gaib dengan wujud asing namun berwibawa menunduk memberikan penghormatan tertinggi. Para peri bersayap kupu-kupu menari-nari di udara, menebarkan serbuk cahaya di atas kelopak bunga beraneka warna.

Dari sudut ruangan, rombongan kurcaci bersuara merdu memainkan instrumen musik yang terdengar seperti simfoni gemericik air sungai. Sementara di sudut-sudut yang lebih gelap, para siluman penunggu hutan mengintip dengan mata berkilat, memancarkan aura magis yang amat kuat.

Tuan Putri Wulan menatap lekat-lekat mata Parman. "Kau tak perlu cemas, Kanda," bisiknya sehalus hembusan angin malam, melenyapkan seluruh kekhawatiran yang tersisa. "Mereka menyambutmu dengan sukacita. Kau adalah suamiku sekarang, dan tempat ini adalah rumahmu."

Parman menarik napas dalam-dalam. Ketegangan yang semula menghimpit dadanya perlahan meluruh, berganti rasa hangat akibat ketulusan ucapan sang putri.

Matanya berkaca-kaca, menahan rasa haru luar biasa yang tak lagi sanggup ia bendung. Senyuman Tuan Putri Wulan seakan menjadi penawar atas segala kemalangan hidupnya selama ini. Parman pun membalas senyuman itu dengan tatapan penuh rasa syukur dan kekaguman yang mendalam.

"Terima kasih, Dinda... Aku... aku masih merasa seperti bermimpi," bisik Parman lirih dengan suara bergetar.

Tiba-tiba, langit istana yang terbuka menyajikan pemandangan menakjubkan: seekor elang raksasa berbulu emas hinggap perlahan sembari membawa dua buah cincin pernikahan.

Parman dan Tuan Putri Wulan saling memasangkan cincin itu ke jari manis masing-masing dengan penuh kehati-hatian. Seketika, jutaan bunga ajaib bermekaran serentak di sekeliling istana, memancarkan pendar cahaya yang menawan.

Rombongan kunang-kunang raksasa beterbangan membentuk formasi kembang api cahaya di langit malam, mengabadikan momen sakral tersebut.

Seusai pesta usai, Parman dan Tuan Putri Wulan melangkah menuju peraduan pengantin mereka. Kamar itu sangat luas dan megah, berhiaskan kelopak bunga mawar segar di atas ranjang raksasa.

Lentera-lentera dari kunang-kunang ajaib di dalam botol kaca berukir memberikan pendaran cahaya temaram yang hangat dan romantik.

Harum mawar merebak memenuhi ruangan, berpadu dengan aroma hutan basah yang menenangkan. Di atas peraduan, hamparan kelopak mawar merah dan putih tertata rapi membentuk simbol keabadian.

Tuan Putri Wulan menoleh ke arah Parman dengan senyuman yang sanggup meruntuhkan pertahanan pria mana pun. "Kanda, istirahatlah," tuturnya sehalus sutra. "Mulai malam ini, di sinilah rumahmu."

Parman melangkah mendekati peraduan, memandangi sekelilingnya yang teramat fana. Ia membalikkan badan, menatap Tuan Putri Wulan yang kini tengah melepaskan mahkota dan hiasan rambutnya satu per satu.

"Dinda Wulan..." panggil Parman dengan suara yang masih menyisakan getaran tak percaya. "Apakah semua ini benar-benar nyata?"

Tuan Putri Wulan melangkah mendekat, lalu menyentuh lembut pipi Parman. "Ini nyata, Kanda. Kau tak perlu ragu lagi," bisiknya mesra. "Mulai detik ini, aku adalah istrimu, dan kau adalah pelindungku."

Tatapan Parman terkunci pada paras jelita Tuan Putri Wulan. Jantungnya berdegup kencang tak karuan, seolah waktu berhenti berputar saat matanya menatap lekuk bibir indah di hadapannya.

Didorong gairah yang menggelora, Parman tiba-tiba mendaratkan ciuman hangat di bibir Tuan Putri Wulan, menyerahkan seluruh gelora rasa yang membakar dadanya.

Tangannya bergerak berani, mendarat lembut dan meremas bagian dada Tuan Putri Wulan yang terbungkus gaun pengantin, membangkitkan getaran sensual yang sukar dibendung.

Tuan Putri Wulan sempat terkejut, matanya membelalak sejenak sebelum akhirnya terhanyut dan membalas sentuhan itu dengan gairah yang tak kalah membara.

Jemari sang putri menelusup ke tengkuk Parman, menarik tubuh pria itu kian rapat, membiarkan gejolak rasa meledak tanpa hambatan.

Napas keduanya berpacu cepat, saling bertautan dalam keheningan malam peraduan. Dengan gerakan tiba-tiba, Tuan Putri Wulan mendorong tubuh Parman hingga pria itu terbaring di atas peraduan empuk.

Tatapan sang putri tampak sayu, memancarkan bara gairah nan memikat.

Parman refleks sedikit menunduk, bibirnya gemetar. Rasa canggung dan sedikit penyesalan seketika melingkupinya karena merasa bertindak terlalu terburu-buru.

"Dinda... maafkan aku. Aku terlalu terburu-buru dan lancang," bisik Parman lirih.

Tuan Putri Wulan menghela napas pelan, lalu terkekeh halus. Senyum manja terpancar dari bibirnya, mencairkan suasana canggung itu.

"Kanda ini, sabar sedikit dong... Pintu kamarnya kan belum dikunci. Kalau tiba-tiba ada pelayan atau peri yang masuk, bagaimana?" godanya lembut sambil melangkah tenang menuju pintu untuk menguncinya.

Lanjut membaca
Lanjut membaca