
The Billionaire Contract Husband
safrinafebrianti|Bersambung
- Jumlah kata
- 29.4K
- Popular
- 114
- Subscribe
- 30
- Jumlah kata
- 29.4K
- Popular
- 114
- Subscribe
- 30
Sinopsis
Reynaldi kehilangan segalanya setelah dikhianati keluarga dan mantan tunangannya, lalu disiksa hingga hampir mati di gudang tua. Di ambang kematian, ia mendapatkan The Marriage Contract System yang memberinya misi menjadi suami kontrak bagi wanita-wanita elit. Setiap misi sukses memberinya imbalan uang tunai 50 juta rupiah dan peningkatan fisik, dengan risiko pinalti 25 juta rupiah jika gagal. Berbekal kekayaan, koneksi, dan pesona baru dari berbagai kontrak mulai dari artis hingga putri konglomerat. Reynaldi bersiap kembali untuk menuntut balas kepada mereka yang telah membuangnya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 - Akhir dari Kenaifan
Reynaldi tidak pernah membayangkan dirinya akan duduk di kursi direktur utama secepat ini.
Umurnya baru dua puluh empat tahun waktu itu. Masih segar dari bangku kuliah, masih punya rencana keliling Eropa sebelum benar-benar terjun ke perusahaan keluarga. Tapi rencana itu hancur berkeping-keping dalam semalam, ketika mobil yang membawa kedua orang tuanya jatuh dari tebing jalan tol antarprovinsi. Polisi bilang rem blong. Investigasi internal bilang ada kemungkinan sabotase. Tidak ada yang bilang apa-apa lagi setelah itu, karena kasusnya keburu ditutup dengan alasan "kurang bukti".
Reynaldi tidak sempat berduka lama-lama. Perusahaan logistik keluarga PT Aditama Cipta Logistik, dengan puluhan gudang dan armada truk yang tersebar dari Sumatra sampai Sulawesi. butuh nakhoda baru, dan dia satu-satunya pewaris sah.
Jadilah dia direktur utama di usia yang orang lain masih sibuk mikirin gaji pertama.
Untungnya, dia tidak sendirian. Setidaknya begitu yang dia kira.
Ferdinand, sepupu sekaligus tangan kanan mendiang ayahnya selama belasan tahun selalu ada di sisi Reynaldi sejak hari pemakaman. Dialah yang mengurus semua administrasi rumit yang bikin kepala pusing. Dialah yang menenangkan Reynaldi tengah malam waktu insomnia menyerang karena kangen suara ibunya. Dialah yang bilang, "Kamu nggak sendirian, Rey. Ada aku."
Reynaldi percaya penuh. Bagaimana tidak? Di tengah dunia yang tiba-tiba terasa asing dan penuh pengacara yang bicara pakai istilah yang tidak dia mengerti, Ferdinand adalah satu-satunya wajah yang familiar.
Dia tidak curiga sama sekali waktu Ferdinand mulai "membantu" mengatur ulang struktur kepemilikan saham. Toh katanya demi efisiensi pajak. Dia juga tidak curiga waktu tanda tangannya diminta untuk "sekadar formalitas" di dokumen-dokumen yang tebalnya bisa dipakai buat ganjal pintu.
Kenaifan itu bukan karena Reynaldi bodoh. Dia justru pintar, lulusan terbaik jurusan manajemen bisnis. Masalahnya cuma satu dia terlalu lelah berduka sendirian, dan terlalu ingin percaya bahwa masih ada orang yang tulus menyayanginya.
Ferdinand memperkenalkan Vanessa tiga bulan setelah pemakaman, di sebuah restoran mewah berlantai kaca yang menghadap langsung ke skyline Jakarta.
"Nal, kenalin. Ini Vanessa. Anak kolega bisnis Om, kebetulan baru pulang dari London," kata Ferdinand, santai, seolah dia baru saja mengenalkan tetangga baru.
Vanessa tersenyum. Senyum yang Reynaldi akui dalam hati sangat rapi. Terlalu rapi, kalau dipikir-pikir belakangan. Tapi malam itu, yang dia lihat cuma sepasang mata yang menatapnya seolah dia satu-satunya orang di ruangan.
"Aku dengar banyak soal kamu," kata Vanessa, sambil menyodorkan tangan. "Turut berduka soal orang tuamu. Pasti berat."
Kalimat sesederhana itu berhasil menembus pertahanan Reynaldi yang sudah rapuh dari awal. Bukan karena kalimatnya luar biasa jujur saja, kalimat itu klise, basa-basi standar acara duka cita mana pun. tapi karena sudah lama tidak ada yang menanyakan kabarnya dengan nada seolah benar-benar peduli.
Ironisnya, orang yang paling tidak peduli malam itu justru yang paling pandai berpura-pura peduli.
Dari situ semua berjalan cepat. Makan malam berlanjut jadi makan siang. Makan siang berlanjut jadi rapat-rapat "santai" membahas ekspansi bisnis yang katanya bisa dibantu koneksi keluarga Vanessa. Dan tanpa Reynaldi sadari, satu per satu akses ke rekening operasional perusahaan mulai berpindah tangan, disamarkan rapi dalam istilah-istilah seperti "kerja sama strategis" dan "restrukturisasi manajemen".
Dua serigala berbulu domba, berjalan beriringan, mengelilingi satu domba yang terlalu percaya bahwa dunia masih seindah dulu.
Malam pertunangan digelar delapan bulan kemudian, di ballroom hotel bintang lima yang disewa penuh untuk satu malam saja. Lampu kristal bergantung dari langit-langit, tamu-tamu berdatangan dengan gaun dan jas mahal, dan di tengah semua itu, Reynaldi berdiri dengan senyum paling tulus yang pernah dia perlihatkan sejak kematian orang tuanya.
Dia pikir dia sedang merayakan awal baru.
"Selamat, Rey," ucap Ferdinand, menepuk pundaknya sambil menyodorkan segelas sampanye. "Kamu pantas bahagia."
Reynaldi menerimanya tanpa curiga. Kenapa harus curiga? Ini kakaknya sendiri atau setidaknya, orang yang selama ini dia anggap seperti kakak.
Di seberang ruangan, Vanessa berdiri anggun dengan gaun putih gading, tersenyum ke arah para tamu, menerima ucapan selamat satu demi satu seolah dia bintang malam itu yang memang benar, hanya saja bukan dengan cara yang Reynaldi bayangkan.
Reynaldi mengangkat gelasnya. "Untuk keluarga," katanya, tulus, "yang aku pikir sudah hilang, tapi ternyata masih ada."
Dia meneguk sampanye itu sampai habis.
Yang tidak dia lihat karena memang tidak ada alasan untuk melihatnya, adalah lirikan singkat antara Ferdinand dan Vanessa di seberang ruangan. Lirikan dingin, penuh makna, sama sekali tidak mengandung kehangatan yang mereka pertontonkan sepanjang malam.
Senyum Vanessa melebar sedikit. Bukan senyum bahagia calon pengantin. Lebih mirip senyum seseorang yang baru saja memastikan taruhannya menang.
Beberapa menit kemudian, kepala Reynaldi mulai terasa berat. Pandangannya buram di pinggir-pinggir, suara musik dan tawa tamu terdengar seperti datang dari balik kaca tebal.
Hal terakhir yang dia ingat sebelum semuanya gelap adalah wajah Ferdinand yang tersenyum. senyum yang, untuk pertama kalinya malam itu, tidak lagi berusaha terlihat tulus.
Kepala Reynaldi berdenyut seperti dipukul palu dari dalam.
Dia mencoba mengangkat tangan untuk memijat pelipisnya, tapi tangannya tidak bergerak. Butuh beberapa detik untuk otaknya yang masih setengah mati rasa itu mencerna. kenapa pergelangan tangannya terikat tali tambang kasar ke sebuah tiang besi, begitu juga kakinya.
Matanya perlahan terbiasa dengan gelap. Bau amis besi karat bercampur bau laut menyusup ke hidungnya. Suara deburan ombak samar-samar terdengar dari luar, diselingi bunyi atap seng yang tertiup angin malam.
Gudang. Dia ada di dalam gudang tua. Entah di mana.
Terakhir kali dia ingat, dia sedang berdiri di ballroom hotel, mengangkat gelas sampanye, mengucap syukur untuk keluarga yang dia kira sudah kembali utuh.
Ironis sekali, pikirnya getir. Keluarga yang dia syukuri itu sekarang mungkin sedang duduk manis menghitung berapa banyak aset yang berhasil mereka rampas selagi dia pingsan.
Pintu gudang terbuka. Cahaya lampu mobil menyorot masuk, membentuk siluet beberapa orang berjalan santai, seolah mereka baru datang untuk piknik, bukan untuk menyiksa seseorang.
Ferdinand berjalan di depan, tangan di saku celana, wajahnya tenang seperti biasa. Bedanya, sekarang tidak ada lagi topeng "kakak yang perhatian" yang biasa dia pakai.
Di sampingnya, Vanessa melangkah dengan sepatu hak tinggi yang berdentak di lantai beton, gaun pertunangannya sudah diganti dengan setelan hitam yang lebih praktis. seolah dia memang sudah merencanakan malam ini akan berakhir seperti ini.
Di belakang mereka, empat pria berbadan besar berdiri dengan wajah datar. Tipe orang yang dibayar untuk tidak bertanya.
"Bangun juga akhirnya," kata Vanessa, jongkok di depan Reynaldi, memiringkan kepala seolah sedang mengamati binatang peliharaan yang lucu. "Aku kira obatnya kebanyakan. Sayang kalau kamu mati sebelum sempat aku ucapkan terima kasih."
Daftar bab
28 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








