
Aku Menyelamatkan Dunia, Tapi Dunia Mengubahku Menjadi Raja Iblis
makanbang4|Bersambung
- Jumlah kata
- 126.8K
- Popular
- 125
- Subscribe
- 5
- Jumlah kata
- 126.8K
- Popular
- 125
- Subscribe
- 5

makanbang4|Bersambung
Tanpa sihir. Tanpa sistem. Tanpa berkah dari para dewa. Aku hanyalah budak tanpa nama yang menempa tubuhnya menembus batas fana. Tangankulah yang memenggal kepala Raja Iblis, mengakhiri teror kelam yang bahkan membuat langit gemetar. Kupikir darah dan keringatku akan membelikan kebebasan untuk keluargaku. Namun, dunia ini terlalu busuk untuk menerima pahlawan dari kalangan budak. Bukannya disambut dengan perayaan kemenangan, aku justru dirantai dan difitnah sebagai pengkhianat. Kerajaan Arcapada yang munafik memenggal kedua orang tuaku tepat di depan mataku, diiringi sorak-sorai rakyat jelata yang baru saja kuselamatkan nyawanya. Seakan itu belum cukup, raja keparat itu berencana menjual adik perempuan satu-satunya yang kumiliki ke pasar budak pemuas nafsu. Di atas panggung eksekusi yang bersimbah darah keluargaku, sisa-sisa kemanusiaanku hancur. Kalian menyebutku pengkhianat? Kalian takut pada kegelapan? Baik. Akan kutunjukkan wujud neraka yang sebenarnya. Dengan tenaga murni yang mampu menghancurkan artefak dewa, aku mematahkan rantai yang mengikatku, meremukkan tulang sang raja, dan membuang gelar pahlawanku ke dalam lumpur. Jika keadilan dan cahaya hanya milik mereka yang bertakhta, maka aku akan menjadi Raja Iblis sejati. Aku akan membangun pasukan dari dasar neraka, memburu para dewa palsu, dan membakar dunia yang munafik ini menjadi lautan abu kosmik.
Hari ketika aku membunuh Raja Iblis seharusnya menjadi hari paling bahagia dalam hidupku.
Ternyata, hari itu juga merupakan awal dari kehancuranku.
Angin berembus membawa aroma tembaga dan daging yang terbakar. Di bawah langit yang memerah layaknya darah kering, daratan terbelah menjadi jurang-jurang tak berdasar.
Kawah kematian ini dulunya adalah Lembah Suci. Sekarang, tempat ini hanyalah kuburan massal.
Di sekelilingku, mayat-mayat bergelimpangan. Mereka bukan sembarang mayat. Di sebelah kiriku, terbaring kaku Penyihir Agung dari Menara Bintang, tubuhnya terpotong menjadi dua. Di sebelah kananku, Ksatria Suci utusan Kuil Cahaya tewas dengan dada berlubang, pedang sucinya hancur berkeping-keping.
Semua pahlawan yang dipilih oleh para dewa, semua orang yang diberkati dengan sistem, garis keturunan emas, atau artefak legendaris… mereka semua mati. Gagal.
Hanya aku yang tersisa.
Fauzan. Seorang budak tanpa nama belakang. Tanpa sihir. Tanpa sistem yang tiba-tiba muncul di kepala.
Napas kutarik dalam-dalam. Udara beracun yang dipenuhi abu iblis masuk ke paru-paruku. Demon Breathing—Pernapasan Iblis. Otot-otot di dadaku berkontraksi dengan ritme tidak wajar, memompa oksigen secara paksa ke setiap sel darah merahku. Jantungku berdetak sangat lambat, hanya satu ketukan setiap sepuluh detik, menghemat energi hingga tetes terakhir.
Di hadapanku, berlutut dengan satu kaki, adalah sosok yang telah menghancurkan tujuh kerajaan.
Raja Iblis, Azrakh.
Tingginya hampir tiga meter, dengan sayap hitam yang kini robek dan tanduk mahkota yang telah patah sebelah. Darah hitam pekat menetes dari mulutnya, melelehkan batu yang ditetesinya.
"Kau… manusia tanpa berkah…" Suara Azrakh bergetar, berat dan parau, bergema langsung ke dalam tengkorakku. "Bagaimana mungkin… tubuh fana sepertimu… bisa menghancurkan sisik dewaku?"
Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Tanganku yang penuh luka bakar mencengkeram erat gagang pedang baja biasa yang ujungnya sudah retak.
Tiga tahun. Aku menghabiskan tiga tahun hidup di batas kematian. Menempa tulangku dengan memukul batu karang hingga hancur, merobek ototku sendiri setiap hari agar tumbuh lebih keras dari baja. Aku mempelajari Absolute Motion—Membaca pergerakan bahu, arah mata, hingga aliran napas lawan sebelum mereka menyerang.
Tubuhku adalah senjataku. Dan hari ini, senjata ini telah membuktikan bahwa dewa pun bisa berdarah.
Aku melangkah maju. Suara pecahan batu di bawah sepatu botku memecah kesunyian yang mencekam.
Azrakh mengangkat wajahnya. Mata merah menyalanya yang biasanya penuh dengan arogansi, kini menatapku dengan sebuah ekspresi yang tidak kumengerti. Bukan ketakutan. Melainkan… rasa kasihan.
"Kau pikir kau telah menyelamatkan mereka, Manusia?" Azrakh terbatuk, memuntahkan gumpalan darah hitam. "Kau tidak menyelamatkan siapa pun. Kau hanya menghancurkan satu-satunya perisai yang menahan kehancuran yang sebenarnya."
Alisku berkerut tipis. Omong kosong macam apa ini?
"Para Dewa di atas sana…" Azrakh tersenyum sinis, menatap langit yang merah. "Mereka tidak sedang memberkatimu. Mereka sedang menertawakanmu. Saat aku mati… mereka akan turun. Dan dunia yang kau lindungi ini… akan disapu bersih."
Aku tidak peduli dengan teka-teki makhluk yang telah membunuh jutaan orang. Pikiranku saat ini hanya tertuju pada satu hal.
Keluargaku.
Ayah yang punggungnya bengkok karena dipaksa menambang batu. Ibu yang matanya mulai rabun karena menenun di tempat gelap. Dan adik perempuanku, Elara… yang berjanji akan menungguku pulang. Aku berjanji pada diriku sendiri, uang hadiah dari sayembara membunuh Raja Iblis ini akan kubelikan kebebasan untuk mereka. Aku akan membelikan Elara gaun berwarna biru muda yang selalu ia lihat dari balik jendela toko.
Demon Breathing—Fase Akselerasi.
Jantungku tiba-tiba berdetak sangat cepat. Panas luar biasa mengalir dari dadaku ke lengan kananku. Pembuluh darah di lenganku menonjol keluar, terlihat seakan mau pecah.
Absolute Motion. Titik buta di leher Azrakh terlihat jelas.
Aku melesat. Kecepatanku merobek udara, menciptakan suara ledakan kecil di belakangku. Dalam satu ayunan yang membawa seluruh kekuatan fisik murni tanpa setitik pun sihir, pedangku menebas leher raksasa itu.
CRASS!
Kepala Raja Iblis terlepas dari tubuhnya. Darah hitam menyembur ke udara bagai air mancur kelam, membasahi wajah dan zirah kulitku.
Tubuh raksasa itu ambruk ke tanah. Bumi bergetar pelan.
Selesai.
Mimpi buruk dunia selama satu dekade terakhir ini telah berakhir. Dan yang mengakhirinya adalah tangan kotor seorang budak.
Aku membiarkan pedangku jatuh ke tanah. Tubuhku terasa sangat berat, seolah setiap tulangku diisi dengan timah panas. Aku menjatuhkan diri dengan posisi duduk di samping mayat Azrakh.
Kutatap kedua tanganku yang gemetar hebat. Darahku sendiri bercampur dengan darah iblis. Aku tertawa pelan. Tawaku serak, kering, tapi dipenuhi kelegaan yang luar biasa.
"Aku berhasil, Ayah… Ibu…" gumamku dengan suara bergetar. Udara dingin mulai masuk ke paru-paruku secara normal. "Kita bebas. Kita tidak akan pernah menjadi budak lagi."
Aku mengambil salah satu tanduk Azrakh yang patah sebagai bukti, memasukkannya ke dalam karung kulitku, dan membalikkan badan. Langkahku terseok-seok, menahan rasa sakit dari tiga tulang rusuk yang patah. Tapi hatiku tidak pernah seringan ini.
Aku pulang.
Perjalanan kembali ke Kerajaan Arcapada memakan waktu empat hari berjalan kaki. Aku tidak tidur. Setiap kali mataku terpejam, aku melihat senyum Elara. Senyum itu adalah bahan bakar yang memaksaku untuk terus melangkah melintasi padang pasir dan hutan mati.
Di hari kelima, gerbang raksasa Kerajaan Arcapada akhirnya terlihat di kejauhan. Dinding batu putih yang menjulang tinggi, dengan bendera singa emas yang berkibar ditiup angin.
Aku tersenyum tipis. Bibirku yang pecah-pecah terasa perih.
Seharusnya, berita kematian Raja Iblis sudah sampai ke telinga mereka melalui batu komunikasi sihir milik para pahlawan yang tewas. Seharusnya, saat aku melewati gerbang itu, akan ada sorak-sorai. Akan ada bunga yang dilemparkan. Akan ada Ayah, Ibu, dan Elara yang berlari memelukku.
Aku mempercepat langkahku.
Namun, saat aku semakin dekat dengan gerbang utama, sesuatu terasa salah.
Gerbang raksasa itu terbuka lebar, tetapi suasananya sunyi senyap. Tidak ada alunan musik kemenangan. Tidak ada rakyat jelata yang berkumpul. Jalanan batu bata di balik gerbang itu kosong melompong.
Instingku yang terlatih selama bertahun-tahun di medan perang berteriak memberikan peringatan. Absolute Motion secara otomatis aktif di kepalaku.
Mataku menangkap kilauan logam di atas tembok kota.
Pemanah. Ratusan pemanah bersiap di atas benteng, anak panah mereka ditarik penuh, ujung besi yang tajam itu semuanya mengarah tepat kepadaku.
Langkahku terhenti. Angin dingin berembus menyapu rambutku yang kotor oleh darah mengering. Jantungku kembali berdetak lambat.
Dari balik gerbang yang sunyi, terdengar suara langkah kaki yang serempak. Barisan Ksatria Kerajaan dengan zirah perak mengkilap berbaris keluar, membentuk formasi setengah lingkaran yang mengepungku. Ujung tombak mereka diacungkan ke arah dadaku. Wajah mereka tertutup helm, tidak ada keraguan dalam gerakan mereka.
Apa ini? Apakah ini penyambutan untuk seorang pahlawan?
Di belakang barisan ksatria itu, muncul sebuah kereta kuda mewah yang ditarik oleh kuda putih putih. Pintu kereta terbuka, dan seorang pria paruh baya dengan mahkota emas bertahtakan permata rubi melangkah turun. Ia mengenakan jubah beludru merah cerah yang sama sekali tidak tersentuh debu peperangan.
Raja Arcapada. Raja yang memerintahkan sayembara ini.
Aku menatapnya dengan bingung. Tubuhku terlalu lelah untuk melawan, dan pikiranku terlalu lelah untuk berpikir rasional. Aku merogoh karung kulit di pinggangku, berniat mengeluarkan tanduk Azrakh.
"Yang Mulia…" suaraku serak, tenggorokanku kering. "Aku… membawa buktinya. Raja Iblis telah—"
"DIAM!"
Suara bentakan Sang Raja memotong ucapanku layaknya pedang algojo. Wajahnya merah padam, dipenuhi kemarahan yang dipaksakan. Matanya menatapku dengan rasa jijik yang luar biasa, seolah aku adalah tumpukan kotoran di sepatunya.
Raja mengangkat tangan kanannya tinggi-tinggi, memegang sebuah perkamen yang digulung, dan menunjuk tepat ke wajahku.
"Fauzan! Budak rendahan dari Distrik Debu!" Suara Raja menggelegar ke seluruh penjuru gerbang. "Kau berdiri di sini bukan sebagai pahlawan! Kau berdiri di sini sebagai pengkhianat terbesar umat manusia!"
Mataku melebar. Napasku terhenti sejenak.
Pengkhianat?
"Kami telah menemukan bukti yang tidak terbantahkan!" Raja melanjutkan teriakannya, suaranya bergetar dengan keadilan palsu. "Kau telah menjual jiwa pahlawan kita! Kau bekerja sama dengan Raja Iblis untuk menjebak Penyihir Agung dan Ksatria Suci hingga mereka tewas! Kau adalah mata-mata kegelapan!"
Duniaku mendadak sunyi. Telingaku berdenging keras.
Bekerja sama? Aku? Aku yang merobek ototku sendiri demi menebas leher monster itu? Aku yang melihat ksatria arogan mereka lari ketakutan sebelum mati dipotong menjadi dua?
"Borgol dia!" perintah Raja tanpa belas kasihan. "Gunakan Rantai Penekan Jiwa! Jangan biarkan pengkhianat ini melawan!"
Belasan ksatria bergerak serentak. Tombak-tombak mereka didorong mendekat, menempel di kulit leher, dada, dan punggungku. Besi dingin itu terasa membakar di atas lukaku yang belum sembuh.
Aku tidak bergerak. Aku tidak mengangkat tanganku. Otakku menolak memproses kenyataan absurd di depan mataku.
Rantai hitam tebal yang memancarkan aura sihir ungu dilemparkan dan mengikat kedua pergelangan tanganku, mengunci kakiku, melilit leherku. Tubuhku dipaksa berlutut ke tanah yang keras.
Di saat aku dipaksa menunduk, mataku menatap lantai batu di bawah lututku.
Hari ketika aku membunuh Raja Iblis seharusnya menjadi hari paling bahagia.
Tetapi saat rantai dingin itu mengunci leherku, dan wajah penuh kebencian orang-orang yang baru saja kuselamatkan menatapku… aku menyadari satu hal.
Dunia ini tidak pernah berniat membiarkan seorang budak menjadi pahlawan.
END OF CHAPTER.
103 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
103 bab
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.







