
- Jumlah kata
- 59.2K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 7
Sinopsis
Arka, mahasiswa biasa yang meninggal karena kecelakaan, terbangun di dunia baru penuh ras—manusia, elf, naga, dan iblis—yang sedang di ambang perang besar. Seorang malaikat memberinya "Mata Takdir", berkah langka yang bisa melihat kelemahan musuh dan mempercepat penguasaan sihir. Tapi berkah ini punya harga: setiap kali dipakai, sebagian ingatan kehidupan lamanya menghilang.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Reinkarnasi Dadakan
Hal terakhir yang Arka ingat adalah lampu motor yang menyorot ke matanya, disusul suara klakson yang datang terlalu telat untuk berguna.
Lalu gelap.
Lalu—
"Woy. Woy, bangun."
Arka membuka mata. Yang pertama ia lihat bukan cahaya surga, bukan pula lorong panjang berujung terang seperti di film-film. Yang ia lihat adalah sepasang sandal jepit dan seseorang yang sedang duduk bersila di depannya, mengunyah sesuatu seperti keripik.
"Akhirnya,"
kata sosok itu, sambil mengibas-ngibaskan tangan seolah mengusir lalat.
"Kukira kau bakal pingsan seharian. Jiwa manusia tuh macam-macam reaksinya kalau baru mati."
Arka mengerjap. Tempat ini putih, kosong, tanpa batas jelas—seperti ruang tunggu yang lupa dipasang dinding.
"Saya... mati?"
"Yap. Kecelakaan motor. Cukup nanggung sih, harusnya kau selamat kalau nggak lembur sampai jam segitu."
Sosok itu—yang punya sayap kecil di punggung, tapi entah kenapa lebih mirip anak magang daripada malaikat—menepuk-nepuk debu imajiner dari jubahnya.
"Aku Iel. Petugas reinkarnasi sektor tiga. Kau dapat aku karena divisi satu dan dua lagi penuh. Banyak banget yang mati minggu ini, entah kenapa."
"...Oke," Arka menjawab pelan, mencoba mencerna. Anehnya, ia tidak terlalu panik. Mungkin karena dulu, hidupnya juga tidak terlalu ia perjuangkan mati-matian.
"Terus? Saya bakal ke surga, neraka, atau—"
"Reinkarnasi," potong Iel, cepat, seperti sudah hafal skripnya.
"Standar prosedur buat jiwa yang meninggal sebelum waktunya secara nggak wajar. Kau bakal dikirim ke dunia lain, hidup baru, dan—ini bagian yang bikin kerjaanku lebih ribet—dikasih semacam 'berkah'."
"Berkah?"
"Semacam bonus. Biar nggak langsung mati lagi di sana, soalnya dunia tujuanmu ini lumayan keras."
Iel mengeluarkan sesuatu yang mirip tablet bercahaya dari udara kosong, menggeser-geser layarnya dengan wajah bosan.
"Namanya Aldrenia. Lima ras besar, sering perang, sihir di mana-mana. Standar dunia fantasi lah."
Arka mengangkat alis. "Anda... ngomongnya kayak ini bukan pertama kali."
"Sudah entah keberapa ratus." Iel menguap. "Oke, sekarang bagian penting. Berkahmu namanya Mata Takdir. Bisa lihat kelemahan lawan, mempercepat belajar sihir, macam-macam. Keren, kan?"
"Kedengarannya bagus. Ada syaratnya?"
Iel diam sebentar. Terlalu lama untuk terasa nyaman.
"...Ada, tapi kecil kok," katanya, menghindari kontak mata. "Setiap kau pakai, ada... efek samping. Ringan. Nggak usah dipikirin."
"Efek samping apa?"
"Lupa-lupa dikit. Hal remeh doang. Nama orang, cara pakai sesuatu, hal-hal receh gitu." Iel buru-buru mengetik sesuatu di tabletnya, seperti berusaha mengalihkan topik.
"Oke! Sudah kuurus administrasinya. Kau bakal terlahir di Kerajaan Velmora, ras manusia, umur delapan belas tahun, keluarga baik-baik. Nama tetap Arka soalnya aku males ganti-ganti berkas."
"Tunggu, soal efek samping tadi—"
"Selamat datang di kehidupan baru!" Iel menjentikkan jari"
Dunia putih itu retak seperti kaca, dan Arka merasa dirinya ditarik dengan kecepatan yang seharusnya bikin mual, tapi anehnya terasa seperti naik lift yang agak kasar.
Ia membuka mata lagi—kali ini benar-benar membuka mata, dengan tubuh yang terasa asing, lebih ringan, lebih muda.
Langit-langit kayu di atasnya bukan langit-langit kamar kosnya.
"Arka? Kau sudah bangun?"
Seorang wanita paruh baya masuk ke kamar, wajahnya cemas. Arka—atau tubuh baru yang kini ia tempati—refleks menjawab, "Sudah, Bu," sebelum otaknya sempat berpikir dari mana kata "Bu" itu muncul.
Ternyata tubuh ini datang dengan ingatan bawaan. Praktis. Ia tahu wanita ini ibunya (di kehidupan ini), tahu bahwa ia baru sembuh dari demam tiga hari, dan tahu bahwa keluarga ini tinggal di pinggiran Velmora sebagai pedagang kain kelas menengah.
Yang tidak ia tahu, dan baru sadar setelah mencoba mengingat, adalah nama ibunya sendiri.
Kosong. Blank. Seperti file yang baru saja dihapus.
"...Ibu," panggil Arka, hati-hati, mencoba memancing.
"Ya, Nak?"
"Nggak, cuma... mau manggil aja," jawabnya asal, sambil menelan ludah.
Ternyata "hal remeh" yang dimaksud Iel bukan cuma teori.
Arka menatap langit-langit kamar barunya, dan untuk pertama kalinya sejak terbangun, ia merasa was-was. Bukan soal perang lima ras, bukan soal sihir, bukan soal Mata Takdir yang katanya keren itu.
Tapi soal berapa banyak lagi yang akan ia lupakan, sebelum ia sadar apa yang sebenarnya sedang ia korbankan.
Sarapan pagi itu jadi ujian pertama Arka beradaptasi dengan tubuh barunya.
Ia duduk di meja kayu sederhana, dikelilingi ingatan bawaan yang setengah-setengah—tahu bahwa keluarga ini punya kios kain di pasar utama Velmora, tapi tidak yakin nama adiknya sendiri sampai bocah laki-laki itu berteriak, "Kak Arka, roti aku diambil Molu!"
Molu. Oke, catat. Adiknya bernama Molu.
"Nggak diambil," sahut suara lain dari sudut ruangan—seorang gadis remaja, mungkin sekitar lima belas tahun, mengunyah roti dengan santai.
"Cuma dipinjam permanen."
Arka nyaris tertawa sebelum sadar dirinya belum tahu siapa gadis ini. Ingatan bawaan sedikit membantu: kakak angkat, bukan saudara kandung, tinggal bersama keluarga ini sejak kecil. Namanya... kosong lagi.
Bagus. Dua nama hilang sebelum jam makan pagi selesai.
"Kau kenapa diam terus dari tadi?" tanya sang ayah, seorang pria berbadan tegap dengan bekas luka kecil di dagu—pedagang kain yang, menurut ingatan bawaan, dulunya pernah jadi tentara sebelum pensiun dini. "Masih pusing gara-gara demam?"
"Iya, Pak. Masih agak... pusing," jawab Arka, separuh jujur.
Di dalam hati, ia mulai menghitung. Kalau efek samping Mata Takdir bisa menghapus nama orang sedekat ini hanya dari satu kali "pakai otomatis" saat baru terbangun, bagaimana kalau nanti ia benar-benar menggunakannya dengan sengaja—dalam pertarungan, misalnya?
Iel bilang efeknya "ringan". Tapi Arka mulai curiga jangan-jangan definisi "ringan" versi malaikat itu beda jauh dari definisi manusia.
Sarapan berlanjut dengan obrolan ringan yang sebagian besar tidak ia pahami—nama tetangga, harga kain yang naik gara-gara jalur dagang ke utara diganggu patroli elf, dan rencana ayahnya untuk membawa Arka magang di kios mulai minggu depan. Arka mengangguk-angguk, berpura-pura mengerti, sambil diam-diam mencoba menyusun ulang siapa saja orang di sekelilingnya.
Baru setelah semua orang bubar dari meja makan, dan ia sendirian di kamar, Arka akhirnya berani memejamkan mata dan mencoba merasakan sesuatu yang katanya kini ada dalam dirinya.
Tidak ada cahaya dramatis. Tidak ada suara sistem seperti di novel-novel yang pernah ia baca dulu. Yang muncul hanya sensasi aneh di belakang matanya, seperti ada lensa tak kasat mata yang menunggu untuk dibuka.
"Mata Takdir," gumamnya pelan, mencoba memanggilnya seperti mantra.
Tidak terjadi apa-apa.
Arka menghela napas, lalu tertawa kecil sendiri. "Oke. Bahkan sistem cheat pun butuh manual book."
Ia berbaring, menatap langit-langit kamar barunya, dan mulai berpikir keras: kalau berkah ini tidak datang dengan petunjuk pakai, satu-satunya cara untuk mengerti risikonya adalah dengan mencoba sendiri—pelan-pelan, dan sebisa mungkin, tidak gegabah.
Masalahnya, ia belum tahu bahwa dunia baru ini tidak akan memberinya banyak waktu untuk pelan-pelan.
Daftar bab
53 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








