

Hujan turun sejak sore.
Dahlan Suharto berdiri di bawah kanopi sebuah rumah besar yang berada di kawasan perumahan elite. Kemeja hitam yang dikenakannya sedikit lembap di bagian bahu karena tadi ia berlari dari tempat parkir menuju halaman rumah.
Di tangannya terdapat sebuah payung yang sudah tidak lagi berguna.
Dahlan memandang ke arah rumah di hadapannya.
Rumah itu begitu besar.
Dua lantai, halaman luas, garasi yang mampu menampung beberapa mobil, serta taman yang terawat. Rumah tersebut merupakan tempat tinggal terakhir kakeknya, Haji Darmawan Suharto, sebelum meninggal tiga hari lalu.
Dahlan menarik napas panjang.
Sudah lama ia tidak datang ke rumah ini.
Bukan karena tidak ingin.
Keluarganya memang tidak terlalu dekat dengannya.
Sejak kecil, Dahlan terbiasa hidup sederhana bersama ibunya. Ayahnya sudah meninggal ketika ia masih duduk di bangku SMP. Setelah itu, ibunya membesarkannya seorang diri.
Berbeda dengan sebagian besar sepupunya yang tumbuh dalam keluarga berada.
Dahlan tidak pernah mempermasalahkannya.
Ia justru terbiasa bekerja keras.
Saat ini, usianya dua puluh tujuh tahun. Pekerjaannya biasa saja. Ia bekerja sebagai staf pemasaran di sebuah perusahaan distribusi di Jakarta dengan gaji yang cukup untuk membayar kebutuhan sehari-hari, membantu ibunya, dan sedikit menabung.
Tidak ada mobil mewah.
Tidak ada apartemen.
Tidak ada rekening dengan saldo miliaran.
Hidup Dahlan sederhana.
Dan ia sudah terbiasa dengan itu.
"Dahlan."
Suara seorang wanita membuatnya menoleh.
Ibunya berdiri beberapa langkah di belakang.
"Sudah datang?" tanya wanita itu.
Dahlan mengangguk.
"Sudah, Bu."
"Masuklah. Semua orang sudah berkumpul."
Dahlan mengangguk sekali lagi.
Mereka kemudian masuk ke rumah.
Suasana di ruang keluarga terasa berat.
Beberapa anggota keluarga duduk di sofa yang mengelilingi meja besar. Sebagian berbicara pelan, sementara beberapa lainnya hanya memainkan ponsel.
Dahlan mengenali hampir semuanya.
Ada pamannya, Surya.
Ada bibinya, Ratna.
Ada dua sepupunya, Kevin dan Nadia.
Kemudian ada beberapa kerabat lain yang jarang ia temui.
Begitu Dahlan masuk, beberapa pasang mata langsung tertuju kepadanya.
"Baru datang?"
Dahlan menoleh.
Kevin, sepupunya, duduk sambil menyandarkan tubuh di sofa.
"Iya. Tadi agak macet."
Kevin tersenyum tipis.
"Masih kerja di perusahaan itu?"
Dahlan tahu arah pembicaraan.
"Masih."
"Berapa gajimu sekarang?"
Ruangan mendadak lebih sunyi.
Dahlan menatap Kevin.
"Kenapa?"
Kevin tertawa kecil.
"Enggak apa-apa. Cuma penasaran."
Dahlan tidak menjawab.
Ia sudah mengenal sikap sepupunya.
Kevin merupakan anak Surya, salah satu anak kakeknya yang paling sukses. Pria itu memiliki beberapa perusahaan dan dikenal cukup dekat dengan lingkungan bisnis.
Kevin sendiri baru berusia tiga puluh tahun, tetapi sudah menggunakan mobil yang nilainya lebih mahal daripada rumah Dahlan.
"Sudahlah, Kevin," kata Nadia.
"Jangan ganggu Dahlan."
Kevin mengangkat kedua tangannya.
"Aku cuma bertanya."
Dahlan memilih duduk di samping ibunya.
Tidak lama kemudian, seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk ke ruang keluarga.
Namanya Budi Santoso, pengacara yang selama bertahun-tahun menangani urusan hukum keluarga Darmawan.
Ia membawa sebuah tas kerja hitam.
Setelah duduk, Budi membuka tas tersebut.
"Saya akan membacakan surat wasiat almarhum Pak Darmawan."
Tidak ada lagi yang berbicara.
Semua perhatian tertuju kepadanya.
Budi mengeluarkan beberapa lembar dokumen.
"Pembagian harta ini sudah dibuat dan ditandatangani almarhum beberapa bulan sebelum beliau meninggal."
Surya langsung bertanya.
"Semua aset sudah tercatat?"
"Sudah."
Budi mengangguk.
"Tanah, rumah, kendaraan, saham, rekening investasi, serta beberapa aset perusahaan sudah tercantum."
Beberapa anggota keluarga mulai terlihat lebih serius.
Dahlan hanya diam.
Sejujurnya, ia tidak berharap mendapatkan apa pun.
Ia bahkan sudah mengatakan kepada ibunya bahwa mereka tidak perlu datang jika hanya untuk mendengarkan pembagian warisan.
Namun ibunya meminta Dahlan datang.
"Almarhum meninggalkan beberapa aset kepada anak-anak dan cucunya," lanjut Budi.
Satu per satu nama mulai disebut.
Beberapa orang mendapatkan tanah.
Ada yang mendapatkan saham.
Ada pula yang mendapatkan sejumlah uang.
Ketika nama Kevin disebut, pria itu mendapatkan kepemilikan saham di salah satu perusahaan keluarga.
Senyumnya langsung melebar.
Kemudian nama Nadia disebut.
Ia mendapatkan sebuah rumah.
Pembagian berlangsung hampir satu jam.
Dahlan tetap diam.
Sampai akhirnya Budi melihat lembar terakhir.
"Untuk cucu saya, Dahlan Suharto..."
Dahlan mengangkat wajah.
Semua orang ikut menoleh.
Budi berhenti sebentar.
"Almarhum memberikan satu benda pribadi."
Kevin mengerutkan kening.
"Benda pribadi?"
Budi mengangguk.
Ia memasukkan tangan ke dalam tas dan mengeluarkan sebuah kotak kayu kecil.
Kotak itu tidak terlihat mewah.
Warnanya cokelat tua.
Budi meletakkannya di atas meja.
"Dahlan, ini untukmu."
Dahlan menatap kotak tersebut.
"Untuk saya?"
"Iya."
Budi mendorong kotak itu ke arahnya.
Dahlan mengambilnya.
Tidak ada suara.
Ia membuka penutup kotak.
Di dalamnya terdapat sebuah cincin.
Cincin itu terlihat tua.
Batu akik berwarna merah kecokelatan terpasang pada logam yang sudah sedikit kusam. Tidak ada berlian, tidak ada ukiran emas yang mencolok, dan tidak terlihat seperti benda mahal.
Kevin tertawa.
"Cuma cincin?"
Tidak ada yang menjawab.
Kevin kembali tersenyum.
"Berarti itu warisan Dahlan."
Dahlan menutup kotak tersebut.
"Ya."
Kevin bersandar.
"Kasihan juga."
Ibunya langsung menatap Kevin.
"Kevin."
Pria itu mengangkat bahu.
"Aku cuma bilang."
Dahlan tidak marah.
Aneh rasanya.
Ia justru merasa tenang.
Baginya, cincin itu tetap merupakan pemberian terakhir dari kakeknya.
Tidak peduli mahal atau murah.
"Pak Budi," kata Dahlan.
"Kenapa kakek memberikan ini kepada saya?"
Budi terdiam.
Untuk beberapa detik, pengacara itu hanya menatap Dahlan.
"Saya tidak tahu."
"Beliau tidak mengatakan apa-apa?"
"Beliau hanya mengatakan satu hal."
"Apa?"
Budi mengambil dokumen lain.
"Katanya, cincin itu harus diberikan langsung kepadamu."
Dahlan mengerutkan kening.
"Hanya itu?"
"Hanya itu."
Ruangan kembali sunyi.
Dahlan memasukkan cincin tersebut ke dalam kotaknya.
Namun sebelum menutupnya, pandangannya kembali tertuju pada batu akik merah kecokelatan itu.
Entah kenapa, sejak pertama kali melihatnya, ia merasa benda tersebut tidak asing.
Seolah-olah pernah melihatnya.
Tetapi ia tidak bisa mengingat kapan.
Setelah semua urusan selesai, Dahlan dan ibunya meninggalkan rumah.
Hujan masih turun.
Di dalam mobil tua milik Dahlan, ibunya duduk di kursi penumpang sambil memegang tas.
"Jangan dipikirkan ucapan Kevin," katanya.
Dahlan tersenyum.
"Saya enggak masalah, Bu."
"Kamu benar-benar tidak kecewa?"
Dahlan menggeleng.
"Enggak."
Ia melirik kotak kecil yang berada di dashboard.
"Kakek tetap memilih memberikan sesuatu kepada saya."
Ibunya terdiam.
"Jaga baik-baik."
Dahlan mengangguk.
Malam itu, setelah mengantar ibunya pulang, Dahlan kembali ke apartemen kecil yang ia sewa.
Ia meletakkan kotak tersebut di atas meja.
Kemudian membukanya.
Cincin akik itu terlihat berbeda ketika terkena cahaya lampu.
Dahlan mengambilnya.
Permukaan batunya terasa dingin.
Ia memperhatikan bagian dalam cincin.
Ada ukiran kecil yang hampir tidak terlihat.
Dahlan mengambil ponselnya dan menyalakan lampu.
Ia membersihkan permukaannya menggunakan kain.
Perlahan, ukiran itu menjadi lebih jelas.
Hanya ada beberapa huruf.
D.S.
Dahlan terdiam.
Inisial namanya.
Ia membalik cincin tersebut.
Di bagian belakang batu akik terdapat sebuah garis kecil yang membentuk pola seperti retakan.
Dahlan mencoba mengusapnya.
Tiba-tiba tubuhnya merinding.
Bukan karena takut.
Melainkan karena muncul sebuah sensasi aneh yang hanya berlangsung beberapa detik.
Kemudian hilang.
Dahlan mengerutkan kening.
"Apa-apaan?"
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
Mungkin hanya sugesti.
Dahlan akhirnya memasukkan cincin itu ke jarinya.
Ukurannya pas.
Terlalu pas.
Ia memandang tangannya beberapa saat.
Kemudian ponselnya berdering.
Sebuah pesan masuk dari atasannya.
Besok datang lebih pagi. Ada klien besar yang mau bertemu.
Dahlan membalas singkat.
Siap, Pak.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan keesokan harinya akan menjadi awal dari perubahan besar dalam hidupnya.
Dan ia juga belum tahu bahwa cincin akik yang malam itu ia anggap sebagai kenang-kenangan sederhana akan membawanya pada serangkaian kejadian yang tidak dapat dijelaskan hanya dengan kebetulan.
Dahlan mematikan lampu kamar.
Ia berbaring.
Cincin itu masih berada di jarinya.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia merasa seperti ada sesuatu yang sedang menunggu dirinya.
Sesuatu yang berkaitan dengan kakeknya.
Sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar warisan sebuah cincin tua.