
Mata Sakti Penembus Gairah
vibekata|Bersambung
- Jumlah kata
- 54.1K
- Popular
- 645
- Subscribe
- 224
- Jumlah kata
- 54.1K
- Popular
- 645
- Subscribe
- 224
Sinopsis
Rian, pemuda berusia 20 tahun itu tidak menyangka, jika kekuatan tembus pandang yang ia dapat setelah kecelakaan besar, membuatnya terjebak pada hasrat liar Kirana, pemilik klub tempatnya bekerja. Kekuatan tak nalar itu membuat hidup Riyan berubah drastis, dari yang hanya karyawan klub biasa menjadi pria paling mendominasi. Dan setiap penyatuannya dengan beberapa wanita, membuka skandal panas yang membawanya pada kekayaan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: MATA HASRAT
Malam di klab malam itu berdenyut dengan dentum bass yang menggetarkan dada, tetapi bagi Rian, riuh di sekelilingnya kalah bising oleh penglihatan yang berkecamuk di matanya. Ia tidak hanya melihat wajah atau busana para wanita yang lalu-lalang di lantai dansa. Sejak kecelakaan hebat tiga bulan lalu, mata Rian memiliki kemampuan aneh. Ia mampu membedah bayangan gairah paling liar yang tersembunyi rapat di balik tatapan mata wanita mana pun.
Seorang wanita bergaun merah mengerdipkan mata padanya dari balik meja bar. Di mata orang biasa, wanita itu hanya tampak seperti sosok anggun yang menikmati gelas minumannya. Namun bagi Rian, imaji yang berkelebat di benak wanita itu bergerak sangat nyata. Wanita itu sedang membayangkan tubuh Rian menindihnya di atas meja marmer, membuang gelas kristal ke lantai hingga hancur, dan merobek gaun merahnya tanpa ampun.
Napas Rian tercekat seketika. Tenggorokannya mendadak kering, dan darahnya terasa mendidih membakar hingga ke ujung jari.
Awalnya, kemampuan ini terasa seperti anugerah tanpa tanding. Rian bisa mendekati wanita mana pun yang ia inginkan dan mengucapkan kalimat yang paling ingin mereka dengar. Namun, belakangan ini ia sadar bahwa pengetahuan ini adalah kutukan yang amat menyiksa. Semakin ia tahu rahasia tergelap dan gairah paling dalam dari para wanita di sekitarnya, semakin mustahil baginya untuk menahan gairah yang terus dipancing setiap detik.
"Lagi melamunkan apa, Rian?"
Suara lembut namun sarat akan keanggunan menginterupsi lamunannya. Rian menoleh ke samping. Kirana, bos besarnya sekaligus pemilik jaringan klab malam paling eksklusif di kota ini, sudah berdiri tepat di sebelahnya. Wanita berusia tiga puluh dua tahun itu tampil sangat memikat dengan gaun hitam ketat yang memeluk sempurna lekuk tubuhnya yang matang.
Rian memberanikan diri menatap mata Kirana. Seketika itu pula, visi liar menghantam benak Rian dengan kekuatan penuh.
Gambarannya begitu jelas, vulgar, dan sama sekali tanpa kompromi. Kirana tidak menginginkan obrolan seputar pekerjaan. Di dalam pikirannya yang paling dalam, Kirana sedang mencengkeram rambut Rian, menarik dasi pria itu hingga terlepas, lalu memaksa Rian berlutut di dalam ruang kerja pribadinya yang terkunci rapat. Kirana ingin menguasai Rian sepenuhnya malam ini, mencakar punggung pria itu hingga berbekas di atas sofa kulit hitamnya.
Hasrat mentah yang sangat pekat memancar kuat dari tatapan Kirana. Sensasi panas langsung membakar area sensitif di balik celana Rian. Logikanya berteriak agar ia tetap profesional dan menjaga jarak, tetapi gairah alami dalam dirinya berontak hebat menuntut pemenuhan.
"Kau belum menjawab pertanyaanku," bisik Kirana. Jari lentiknya yang mulus merambat perlahan dari dada tegap Rian, turun melewati perutnya, lalu berhenti tepat di atas gesper sabuk kulit Rian. Tatapan Kirana semakin menggebu, dipenuhi nafsu yang tak lagi ditutupi.
"Saya... hanya sedang menikmati suasana tempat ini, Bu Kirana," jawab Rian dengan suara serak. Ia berusaha keras menahan getaran di tubuhnya yang kian memuncak.
Kirana tersenyum tipis, lalu mendekatkan bibir berlisptik merah matangnya ke telinga Rian. Napas hangat wanita itu menerpa kulit leher Rian, mengirimkan sengatan listrik yang membuat bulu kuduknya berdiri. "Ruang kerjaku kosong di lantai atas. Dan aku butuh laporanmu secara langsung sekarang juga."
Kirana berbalik dan melangkah anggun menuju koridor VIP, sengaja meliukkan pinggulnya penuh pesona. Rian mengepalkan tangan erat-erat, menatap punggung wanita itu dengan napas yang makin memburu. Ia tahu, jika melangkahkan kaki mengikutinya ke dalam ruang tertutup itu, tidak akan ada jalan untuk kembali.
Langkah kaki Rian terasa berat namun pasti saat menaiki tangga melingkar menuju lantai VIP. Setiap pijakan seolah menambah ketegangan yang merambat di seluruh tubuhnya. Di lantai ini, dentum musik klab malam terdengar lebih samar, berganti dengan kesunyian yang justru membuat degup jantungnya semakin berpacu kencang.
Ia berhenti di depan pintu kayu jati berukir yang menjadi akses menuju ruang kerja Kirana. Rian memegang gagang pintu logam yang terasa dingin. Dalam hati, ia mencoba menyusun pertahanan diri. Ia hanya seorang staf operasional, sedangkan Kirana adalah pemilik tempat ini. Menyerah pada godaan hanya akan menghancurkan karirnya. Namun, ketika memikirkan tatapan Kirana di bawah tadi, rasa penasaran dan gairah liarnya mengalahkan seluruh akal sehat.
Rian mendorong pintu pelan. Ruangan itu bernuansa remang dengan pencahayaan hangat dari lampu sudut. Bau aroma terapi cendana melingkupi udara, bercampur harum parfum mahal yang sangat khas dari tubuh Kirana.
Kirana tidak duduk di balik meja kerjanya. Wanita itu sedang berdiri membelakangi pintu, menatap pemandangan kota di malam hari melalui dinding kaca tebal. Ketika mendengar suara pintu ditutup dan dikunci dari dalam, Kirana berbalik perlahan. Ia sudah melepaskan sepatu hak tingginya, membuat tingginya kini sejajar dengan dada Rian.
"Aku senang kau membuat keputusan yang tepat, Rian," ujar Kirana dengan suara rendah yang menggetarkan.
Kirana melangkah mendekati Rian. Setiap langkahnya memancarkan aura dominasi yang kuat. Mata Kirana menatap lurus ke dalam mata Rian, dan bagi Rian, visi gairah itu kembali terbuka lebar. Kali ini, gambaran di benak Kirana jauh lebih intens dari sebelumnya. Kirana membayangkan pakaian mereka berceceran di lantai, rasa manis bibir yang bersatu, dan remasan kuat pada pinggul yang memicu ketegangan hebat.
"Bu Kirana, mengenai laporan operasional minggu ini..." Rian mencoba membuka suara, berusaha mencari jalan untuk mengalihkan situasi.
"Lupakan laporan itu," potong Kirana cepat. Ia berdiri tepat di hadapan Rian, mendongak sedikit untuk menatap wajah pria itu. Tangannya terangkat, mengelus rahang tegap Rian dengan lembut sebelum meremas pelan tengkuknya. "Aku tidak memanggilmu ke sini untuk bicara soal angka atau uang."
Sensasi sentuhan Kirana membuat ketahanan Rian runtuh sepenuhnya. Penglihatan ajaibnya kini bukan lagi sekadar gambaran bayangan, melainkan petunjuk arah. Rian tahu persis titik sensitif di tubuh wanita ini hanya dengan melihat cara mata Kirana meredup dan menggebu secara bergantian.
Rian meraih pinggang Kirana dengan kedua tangannya, menarik tubuh hangat wanita itu hingga menempel rapat pada tubuhnya. Kirana sedikit terperanjat dengan tindakan berani Rian, namun desahan halus serta merta lolos dari bibirnya.
"Kau sangat berani malam ini, Rian," bisik Kirana, matanya berkilat penuh pemuasan.
"Bukankah ini yang sangat Bu Kirana inginkan sejak tadi?" balasan Rian terdengar dalam dan penuh percaya diri.
Rian tidak menunggu jawaban lagi. Ia menundukkan kepala dan mendaratkan bibirnya di atas bibir Kirana. Ciuman itu dimulai dengan tuntutan yang pekat, menumpahkan segala ketegangan dan gairah yang telah mereka tahan sejak di lantai dansa bawah. Kirana membalas ciuman itu dengan tidak kalah agresif, melingkarkan kedua tangannya di leher Rian dan menarik pria itu semakin dekat.
Jari-jari Rian bergerak cepat di punggung Kirana, menjelajahi setiap lekuk tubuh wanita itu yang sangat halus. Penglihatan rahasianya memberi tahu dengan tepat bahwa sentuhan di area pinggang bawah akan membuat Kirana kehilangan seluruh kendali diri. Begitu Rian meremas lembut bagian itu, Kirana mendesah keras di dalam ciuman mereka, tubuhnya gemetar menahan getaran gairah yang memuncak.
Mereka bergerak menuju sofa kulit hitam besar yang terletak di tengah ruangan. Tanpa melepas ciuman mereka, Rian mendoroskan tubuh Kirana secara perlahan hingga wanita itu terbaring di atas permukaan sofa yang empuk. Pakaian mereka mulai terlepas satu per satu, terlempar sembarangan ke atas karpet tebal.
Setiap gerakan yang dilakukan Rian selalu bertepatan dengan apa yang paling didambakan oleh Kirana dalam pikirannya. Rian menjelajahi setiap inci tubuh Kirana dengan sentuhan yang tepat sasaran, membuat wanita dominan itu benar-benar bertekuk lutut di bawah kendalinya. Kirana mencengkeram bahu tegap Rian, meremasnya kuat-kuat seiring dengan ritme gairah yang semakin memuncak dan tak tertahankan.
Di dalam ruangan tertutup itu, di antara bayangan remang malam dan kehangatan tubuh yang menyatu, Rian menyadari satu hal dengan sangat jelas. Kemampuan matanya mungkin memang sebuah kutukan yang sangat berbahaya, tetapi malam ini, di dalam dekapan bos cantiknya, ia memilih untuk menikmati kutukan itu sepenuhnya tanpa ada rasa penyesalan sedikit pun.
Daftar bab
47 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








