Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Sistem Kekayaan Sang Konglomerat

Sistem Kekayaan Sang Konglomerat

aren vely | Bersambung
Jumlah kata
72.5K
Popular
286
Subscribe
34
Novel / Sistem Kekayaan Sang Konglomerat
Sistem Kekayaan Sang Konglomerat

Sistem Kekayaan Sang Konglomerat

aren vely| Bersambung
Jumlah Kata
72.5K
Popular
286
Subscribe
34
Sinopsis
PerkotaanSlice of lifeKonglomeratSistemHarem
SISTEM KEKAYAAN SANG KONGLOMERAT Bagaimana jika suatu hari seorang pemuda biasa mendapatkan sebuah sistem yang mampu mengubah hidupnya? Raka Aditya Pratama hanyalah pemuda Indonesia biasa. Tidak punya keluarga kaya, tidak punya koneksi, dan bahkan harus berpikir berkali-kali sebelum mengeluarkan uang. Sampai sebuah suara misterius muncul di kepalanya. «[SISTEM KEKAYAAN TELAH AKTIF.]» Awalnya Raka mengira semua ini hanyalah keberuntungan. Namun sistem memberinya satu aturan: Semakin besar kekayaan yang ia bangun, semakin besar pula dunia yang akan terbuka untuknya. Dari bisnis kecil, investasi, properti, perusahaan teknologi, restoran, hingga perusahaan multinasional—Raka perlahan membangun kerajaan bisnisnya sendiri. Uang membuatnya memiliki kesempatan. Kesempatan membawanya kepada koneksi. Dan koneksi membawanya ke dunia yang sebelumnya tidak pernah bisa ia bayangkan. Para pengusaha besar mulai mengenalnya. Pewaris keluarga kaya mulai mendekatinya. Dunia hiburan, bisnis, teknologi, investasi, hingga kalangan elite internasional mulai masuk ke dalam kehidupannya. Termasuk para wanita luar biasa yang satu demi satu menjadi bagian dari dunianya. Namun ketika kekayaannya terus meningkat, misi sistem justru semakin tidak masuk akal. «[MISI BARU TERSEDIA.] Membangun perusahaan dengan nilai Rp1 triliun. [MISI BERIKUTNYA TERBUKA.] Masuki pasar internasional. [MISI KHUSUS.] Bangun jaringan bisnis di lima negara. [PERINGATAN.] Seseorang sedang mengincar perusahaan Anda.» Apa sebenarnya tujuan sistem tersebut? Seberapa jauh Raka bisa berkembang? Dan ketika seorang pemuda biasa mulai memiliki kekayaan, kekuasaan, koneksi, serta orang-orang yang bersedia berdiri di sisinya... Apakah dia masih mampu menjalani kehidupan normal? Dari nol. Menuju miliarder. Menuju konglomerat. Hingga akhirnya... seluruh dunia mengenal namanya.
Sistem Aktif

Hujan turun rintik ketika Raka Aditya Pratama keluar dari gerbang pabrik untuk terakhir kalinya. Di tangannya cuma ada satu kardus kecil berisi sepatu safety, jaket kerja, dan sebuah surat yang baru dua jam lalu diserahkan HRD kepadanya.

"Efisiensi, Mas Raka. Bukan karena kinerja Mas jelek," kata Pak Slamet, kepala gudang, waktu itu. Suaranya pelan, seperti orang yang sudah terbiasa mengucapkan kalimat itu ke banyak orang sebelumnya.

Raka cuma mengangguk. Apa lagi yang bisa dikatakan. Tiga tahun bekerja sebagai staf gudang, gaji pas-pasan, tapi setidaknya cukup untuk bayar kos dan kirim sedikit uang ke ibunya di rumah. Sekarang semua itu hilang dalam satu kalimat singkat.

Dia berjalan menuju halte, menunggu angkot sambil menghitung sisa saldo di dompetnya. Rp340 ribu. Itu saja. Belum lagi utang ke Dimas, sahabatnya sejak SMA, sebesar tiga koma dua juta yang dipakai untuk bayar rumah sakit adiknya bulan lalu.

Ponselnya bergetar. Pesan dari ibunya.

"Nak, kapan pulang? Ibu kangen."

Raka menatap layar lama sekali sebelum akhirnya mengetik balasan singkat. "Bentar lagi, Bu. Raka lagi cari peluang baru."

Peluang baru. Kata-kata itu terasa kosong begitu diketik.

Malam itu, di kamar kos yang sempit, Raka duduk di lantai sambil menyandarkan punggung ke dipan. Lampu neon di atas kepalanya berkedip lemah, seperti ikut merasakan suasana hatinya. Dia membuka laptop tua, mencoba melamar kerja ke beberapa perusahaan sambil sesekali memandangi langit langit kamar yang penuh bercak air.

Dia hampir tertidur ketika sesuatu terjadi.

Sebuah cahaya biru tipis muncul di depan matanya, melayang di udara seperti layar kaca yang transparan. Raka mengucek mata, yakin dia sedang berhalusinasi karena kelelahan. Tapi cahaya itu tidak hilang. Justru semakin jelas, membentuk huruf huruf yang tersusun rapi.

```

╔══════════════════════════════════╗

SISTEM KEKAYAAN TELAH AKTIF

╚══════════════════════════════════╝

Selamat.

Anda telah dipilih sebagai

pengguna Sistem Kekayaan.

```

Raka melompat dari duduknya, punggung membentur dipan. "Anjir," gumamnya, setengah kaget setengah tidak percaya. Dia menatap sekeliling kamar, memastikan tidak ada orang lain, memastikan ini bukan mimpi atau efek samping dari terlalu banyak minum kopi murahan.

Layar biru itu masih ada di sana, sabar menunggu, seolah tahu dia butuh waktu untuk mencerna.

Dengan tangan gemetar, Raka mencoba menyentuhnya. Jarinya menembus tanpa hambatan, tapi begitu dia menyentuh, panel baru muncul, memperlihatkan detail dirinya sendiri seperti sebuah kartu status dalam permainan.

```

╔══════════════════════════════════╗

PANEL STATUS

╚══════════════════════════════════╝

Nama Pengguna : Raka Aditya Pratama

Level Sistem : 1

Saldo : Rp0

Aset : Rp0

Utang : Rp3,2 juta

Kekayaan Bersih : Rp0

```

Dia menatap angka nol itu lama sekali. Dalam kepalanya sempat terbayang skenario paling indah, sistem ajaib yang tiba tiba memberinya uang miliaran, seperti cerita cerita yang pernah dia baca di aplikasi baca novel gratisan waktu masih kerja dulu, dibaca diam diam saat istirahat makan siang.

Tapi kenyataannya jauh berbeda.

Muncul notifikasi baru, kali ini lebih tegas.

```

╔══════════════════════════════════╗

MISI PERTAMA TELAH DIBUKA

╚══════════════════════════════════╝

Habiskan Rp10 juta dalam 24 jam

untuk meningkatkan kualitas hidup

Anda sendiri.

Sumber Dana : Milik Anda sendiri

Kegagalan : Akses sistem terkunci

selama 30 hari

```

Raka tertawa, bukan karena lucu, tapi karena saking absurdnya situasi ini. Sepuluh juta rupiah. Uang yang bahkan tidak dia miliki seperseratusnya. Di rekeningnya sekarang cuma ada tiga ratus empat puluh ribu rupiah, dan sebagian besar dari itu sudah dia rencanakan untuk bayar kos bulan depan.

"Sistem macam apa ini," gumamnya sambil mengusap wajah. "Ngasih misi tapi nggak ngasih modal."

Dia mencoba mengetuk ngetuk panel, berharap ada tombol tersembunyi, semacam opsi untuk menolak misi atau meminta bantuan modal. Tidak ada. Panel itu hanya menampilkan hitungan mundur yang mulai berjalan di pojok kanan atas penglihatannya.

```

[ SISA WAKTU MISI ]

23 : 58 : 00

```

Raka menghela napas panjang. Kalau ini semua nyata, dan sejauh ini terasa terlalu detail untuk sekadar halusinasi, maka dia sedang berhadapan dengan sesuatu yang bisa mengubah hidupnya, atau justru menghancurkannya lebih dalam lagi.

Dia meraih ponselnya, membuka aplikasi mobile banking, mengecek saldo sekali lagi seolah berharap angka itu berubah dengan sendirinya. Tetap sama. Tiga ratus empat puluh ribu.

Sepuluh juta dalam dua puluh empat jam, dengan modal awal kurang dari setengah juta, jelas mustahil kalau dipikir secara normal. Tapi kalau sistem ini benar benar nyata, mungkin ada cara lain yang belum dia pahami.

Dia bangkit, membuka pintu kamar kosnya pelan pelan, mengintip ke arah dapur bersama di ujung lorong. Sepi. Semua penghuni kos lain sudah tidur atau belum pulang. Raka menutup pintu lagi, duduk di depan laptopnya, mencoba berpikir jernih di tengah kepanikan yang perlahan menjalar.

Pikirannya melompat ke ibunya di Surabaya, perempuan yang setiap pagi berjualan sayur di pasar dengan gerobak dorong yang catnya sudah mengelupas di banyak tempat. Sejak ayahnya meninggal waktu Raka masih SMA, ibunya yang membanting tulang sendirian, menyekolahkan dia sampai kuliah, sambil membesarkan Dinda, adiknya yang sekarang masih SMA kelas tiga dan sebentar lagi butuh biaya kuliah.

Kalau saja dia masih punya pekerjaan tetap, mungkin malam ini terasa berbeda. Tapi sekarang, di tengah status pengangguran baru dan utang yang belum lunas, munculnya sistem aneh ini terasa seperti lelucon kejam dari semesta. Diberi kesempatan tapi tanpa modal untuk memulainya.

Raka menggosok wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba mengusir rasa kantuk sekaligus kepanikan yang bercampur jadi satu. Dia teringat pesan singkat dari Dimas siang tadi, menanyakan kapan utangnya bisa dicicil. Bukan karena Dimas galak soal uang, justru sebaliknya, sahabatnya itu orang paling sabar yang pernah dia kenal. Tapi justru itu yang membuat Raka merasa lebih bersalah setiap kali memikirkannya.

Dia menimbang nimbang untuk menceritakan semua ini ke Dimas besok pagi. Tapi bagaimana caranya menjelaskan sistem yang bahkan dia sendiri tidak sepenuhnya percaya keberadaannya. Orang normal mana pun akan mengira dia sedang stres berat sampai berhalusinasi, atau lebih parah, mengira dia mengonsumsi sesuatu yang aneh aneh.

Untuk sekarang, ini rahasianya sendiri.

Kalau memang sistem ini nyata, berarti ada logika di baliknya. Sistem tidak mungkin memberi misi yang benar benar mustahil dari awal. Pasti ada celah, ada cara, sesuatu yang belum terlihat karena dia masih terlalu kaget untuk berpikir tenang.

Dia menatap layar biru itu sekali lagi, membaca ulang setiap kata dengan lebih hati hati.

```

Habiskan Rp10 juta dalam 24 jam

untuk meningkatkan kualitas hidup

Anda sendiri.

```

Meningkatkan kualitas hidup. Bukan sekadar menghabiskan uang untuk hal sia sia. Ada syarat tersembunyi di sana, sesuatu yang mungkin bisa dia manfaatkan.

Tapi bagaimana caranya menghabiskan sepuluh juta kalau uangnya saja tidak ada.

Raka baru saja hendak mematikan laptop dan mencoba tidur untuk menenangkan pikiran, ketika panel biru itu berkedip sekali lagi, menampilkan satu baris kalimat baru yang membuat jantungnya berdegup lebih cepat.

```

╔══════════════════════════════════╗

PERINGATAN

╚══════════════════════════════════╝

Sistem mendeteksi Anda tidak

memiliki dana yang cukup.

Opsi darurat tersedia. [ Buka ]

```

Raka menatap kalimat itu dengan campuran rasa penasaran dan waswas. Sesuatu di dalam dirinya, entah insting atau sekadar keputusasaan, membuat jarinya bergerak mendekat ke arah kata Buka yang berkedip pelan di udara.

Malam itu, tanpa dia sadari sepenuhnya, hidup Raka Aditya Pratama baru saja mulai berubah untuk selamanya.

Bersambung.

Lanjut membaca
Lanjut membaca