
- Jumlah kata
- 95.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 9
Sinopsis
Sebagai pewaris klan bangsawan sihir terkuat, Kaelen justru membangkitkan kekuatan Anomali berupa energi penelan magis. Dianggap sebagai aib dan dikhianati keluarganya sendiri, ia dilucuti dari gelarnya dan dibuang ke distrik kumuh tanpa hukum. Saat berjuang bertahan hidup dari kejaran pembunuh bayaran, Kaelen menemukan fakta bahwa "kutukannya" adalah satu-satunya senjata rahasia untuk melawan ancaman kuno yang mengintai kekaisaran. Kini, Kaelen harus memilih: membiarkan kekaisaran hancur demi balas dendam, atau menggunakan kutukannya untuk merebut kembali takhtanya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Padamnya Api Suci
Bagi Klan Adiwangsa, api bukanlah sekadar elemen alam yang tak bernyawa. Di dataran utara yang berselimut salju abadi dan angin beku, api adalah napas kehidupan itu sendiri. Api adalah takhta, agama, dan hukum mutlak. Selama lebih dari empat ratus tahun, garis keturunan Adiwangsa memerintah wilayah utara Kekaisaran menggunakan tangan besi yang diselimuti kobaran Api Suci, bentuk sihir tingkat tinggi yang murni. Sihir ini mampu melelehkan zirah baja terbaik hanya dengan satu hembusan napas penggunanya. Di bawah panji naga merah menyala, tidak ada klan yang berani menantang hegemoni kekuasaan absolut keluarga besar adidaya tersebut. Malam ini, tradisi kembali disahkan di altar.
Bangunan raksasa Aula Kebangkitan yang seluruhnya dipahat dari batu obsidian merah dipenuhi oleh lautan manusia. Ribuan lilin gemuk berbahan dasar lemak paus berjejer di sepanjang pilar raksasa yang menyangga langit berkubah. Lilin itu menerangi ukiran naga yang merambat di dinding. Di tengah semua kemegahan yang mencekik itu, Kaelen Adiwangsa berdiri sangat tenang dengan punggung tegap bagai sebatang tombak. Mengenakan jubah sutra merah darah dengan sulaman benang emas murni pembentuk lambang naga melingkar, pemuda delapan belas tahun itu tampak bagai perwujudan sempurna pangeran penguasa. Ia putra tunggal mendiang Kepala Klan terdahulu, sosok jenderal tangguh yang gugur misterius tiga tahun silam itu.
Sejak kematian ayahnya, Kaelen ditempa baja. Ia dididik brutal untuk menjadi senjata mematikan tak kenal ampun. Tidak ada setitik pun kelemahan yang diizinkan hidup dalam dirinya. Malam sakral ini akan membuktikan segalanya melalui perantara Batu Suar. "Kaelen," panggil sebuah suara bariton yang bergema kuat memantul di seluruh aula. Kaelen menoleh perlahan. Di kursi kehormatan tertinggi berukir kepala naga emas, duduklah sosok Paman Varian yang mengenakan zirah elegan. Di kulit rahang kirinya, terdapat bekas luka bakar mengerikan. Selama tiga tahun terakhir, pria itulah yang mutlak memegang kendali penuh atas segala urusan wilayah utara. Pria licik itu kini tersenyum hangat penuh kepalsuan.
"Waktumu tiba," ucap Varian bernada dramatis. "Buktikan darah murni Adiwangsa mengalir deras. Bangkitkan Api Suci malam ini, dan pimpinlah klan menuju kejayaan mutlak!" Gemuruh tepuk tangan riuh memenuhi seluruh aula seperti suara badai. Tamu bangsawan terus berteriak kencang memanggil namanya. Kaelen menatap lautan manusia tersebut lalu membalas sandiwara pamannya dengan sebuah anggukan tipis yang tenang. Ia sungguh tidak butuh validasi atau suara pujian palsu mereka. Dengan langkah begitu mantap, pemuda itu mulai berjalan menaiki tangga pualam putih. Setiap langkah kakinya menggema berat membawa beban sejarah masa lalu. Di puncak bangunan altar, Batu Suar tergeletak diam menunggunya dengan pancaran energi misterius.
Artefak seukuran kepala manusia itu memiliki permukaan luar tidak rata. Ia berdenyut sangat pelan dengan seberkas cahaya merah redup dari bagian dalam, seolah batu itu memiliki detak jantung. Aturannya sederhana. Sang pewaris meletakkan kedua telapak tangannya di atas batu ajaib, memusatkan pikiran, lalu mengalirkan energi kehidupan spiritual. Batu pusaka seharusnya menyerap energi tersebut dan meledak hebat menjadi sebuah pilar api emas yang menjulang tinggi untuk menerangi aula. Kaelen berdiri tegak tepat di hadapan altar suci. Ia langsung menarik napas panjang secara perlahan, menutup kedua matanya, lalu menempelkan telapak tangannya di atas permukaan dingin sang batu. Ia mulai mengalirkan energi murni.
Satu detik berlalu. Dua detik. Pemuda tangguh itu perlahan mengerutkan kening tanpa membuka matanya sama sekali. Ada sesuatu yang sangat salah. Dari semua literatur kuno yang pernah ia pelajari sebelumnya, sang pewaris pasti akan merasakan sebuah tolakan magis hangat seperti saat sedang memeluk perapian. Namun, Kaelen sama sekali tidak merasakan kehangatan apa pun. Bukannya api yang bergelora hebat, Kaelen justru merasa kedua lengannya baru saja dicelupkan secara paksa ke dalam sebuah sumur gelap berdasar es dan pecahan lumpur beku. Energinya sama sekali tidak mengalir masuk menembus batu tersebut. Sesuatu yang berada jauh di dasar jiwanya mendadak terbangun dengan sangat liar.
Sesuatu purba yang luar biasa lapar kini mulai menelan segalanya. Ritme denyutan cahaya merah perlahan meredup drastis lalu menghilang. Bisik ketegangan merayap dari bangku penonton seiring suasana yang berubah mencekam. Kaelen membuka matanya sambil terkesiap ngeri. Batu suci yang selalu bersinar kini berubah warna menjadi hitam pekat bagai lubang hitam mini yang mematikan. Kaelen panik dan mencoba menarik tangannya namun sebuah cengkeraman magis menahannya kuat. Rasa dingin menyengat menjalar dari dada dan merambat bagai akar es melalui semua urat lengannya. Urat di sekitar leher pemuda malang tersebut menonjol serta menghitam menakutkan. Dan kemudian, mimpi buruk yang akan mengubah sejarah terjadi.
Bukan pilar api emas megah yang meledak memberkati. Melainkan pusaran kabut berwarna ungu kehitaman yang memuntahkan hawa pekat mematikan. Pusaran gelap berputar ganas merobek tatanan udara altar. Seluruh penghuni aula sontak menjerit histeris dalam horor yang melumpuhkan akal sehat. Ribuan lilin raksasa padam secara serentak. Api abadi di empat perapian mati total menyisakan asap kelabu kotor. Sihir perlindungan kasatmata seketika hancur berkeping seperti kaca tipis dipukul godam raksasa. Udara panas anjlok drastis menuju titik beku. Gelap gulita menelan ruangan agung tersebut. Sisa sihir api yang melayang di ruangan disedot paksa tanpa sisa oleh tubuh Kaelen yang menjelma menjadi pusat kehampaan.
Dengan tenaga tersisa, Kaelen terhuyung mundur hingga akhirnya berhasil memutuskan ikatan mematikan dari batu tersebut. Pusaran hitam raksasa itu menyusut kilat lalu meresap kembali masuk ke pori kulit Kaelen. Di atas pualam altar, Batu Suar retak seribu lalu runtuh sepenuhnya menjadi abu. Kesunyian absolut mencekik menguasai ruangan luas itu. Kaelen jatuh berlutut memandang tangannya. Ia sadar ada lubang hitam di dalam jiwanya yang kelaparan meminta asupan sihir. Cahaya obor cadangan kembali dinyalakan dengan susah payah oleh barisan penjaga yang gemetar ketakutan. Ratusan pasang mata bangsawan kini menatap sang pangeran pewaris layaknya iblis yang baru saja merangkak keluar dari kerak neraka.
"Artefak kita hancur!" suara Tetua Agung bergetar marah. "Itu kutukan kuno! Dia Anomali pembawa sial!" Kepanikan meledak kencang menjadi teriakan histeris dari segala penjuru. Kaelen menatap Paman Varian yang masih duduk. Pria itu tampak rileks dan perlahan tersenyum licik. Seringai mematikan itu seolah berbisik bahwa takhta klan kini resmi menjadi miliknya selamanya. Varian lalu melompat berdiri. "Tangkap dia!" suara Varian menggelegar memotong kepanikan dengan otoritas palsu. "Anomali adalah musuh dewa! Demi keselamatan seluruh keluarga Adiwangsa, cepat lumpuhkan monster itu!" Belasan ksatria elit melompat maju mencabut pedang pusaka mereka serentak. Dalam satu malam singkat, sang pangeran pewaris telah kehilangan segala haknya.
Daftar bab
78 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








