
Godaan Mama Tiri Hot
Pengangguran Bahagia|Bersambung
- Jumlah kata
- 124.0K
- Popular
- 2.1K
- Subscribe
- 349
- Jumlah kata
- 124.0K
- Popular
- 2.1K
- Subscribe
- 349
Sinopsis
Menginjak bangku kuliah, Reza terpaksa menumpang di kediaman mewah ibu tirinya yang memikat, Miranda, setelah ayahnya ditugaskan ke luar negeri selama bertahun-tahun. Rumah megah yang sepi itu berubah menjadi arena uji nyali harian—mulai dari paparan busana minim di dapur tengah malam, gesekan fisik tak sengaja di lorong, hingga tatapan sarat makna yang perlahan meruntuhkan tabu moral mereka. Di saat yang sama, rahasia keuangan keluarga dan perebutan hak waris menambah tensi cerita.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Segelas Air Dingin di Tengah Malam
Rumah megah bergaya modern tropis di kawasan Menteng itu terasa begitu lengang saat jarum jam dinding berdentang dua kali. Lampu utama ruang tamu telah dipadamkan, menyisakan bias pendar temaram dari sudut plafon yang memantul di atas lantai marmer berkilap.
Reza menghentikan ketukan jarinya di atas papan ketik laptop. Mahasiswa baru jurusan arsitektur itu mengembuskan napas panjang, lalu meregangkan otot lehernya yang terasa kaku setelah berkutat berjam-jam dengan materi orientasi kampus.
Tenggorokannya mendadak terasa luar biasa kering. Reza bangkit dari sofa santai di kamarnya, membuka pintu pelan-pelan agar engselnya tidak berderit, lalu melangkah tanpa alas kaki menuruni anak tangga menuju lantai dasar.
Suasana begitu hening, hanya ada suara dengung lembut pendingin udara sentral yang menyejukkan seisi hunian. Ketika Reza sampai di penghujung koridor dapur bersih, langkahnya seketika tertahan di ambang pintu.
Cahaya putih dari pintu kulkas yang terbuka dua pintu membentuk siluet anggun seorang perempuan. Sosok itu berdiri membelakanginya, bertumpu santai pada meja kitchen island berbahan granit hitam.
Itu Miranda.
Ibu tirinya tampak baru saja terbangun dari tidur lelap. Miranda mengenakan gaun tidur satin tipis berwarna merah marun dengan potongan tali spageti yang memperlihatkan lekuk bahunya yang mulus terawat. Panjang gaun itu hanya mencapai pertengahan paha, mengekspos sepasang tungkai jenjang yang putih bersih. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai sedikit berantakan, jatuh menyapu punggungnya yang terbuka.
Reza menelan ludah pelan tanpa sadar. Dadanya berdegup sedikit lebih cepat dari biasanya. Sejak ayahnya berangkat dinas ke Jenewa tiga minggu lalu untuk memimpin proyek infrastruktur jangka panjang, rumah sebesar ini praktis hanya dihuni oleh mereka berdua bersama beberapa asisten rumah tangga yang tinggal di paviliun belakang.
“Mau minum juga, Za?” tanya Miranda tanpa membalikkan badan sepenuhnya, seolah indra pendengarannya amat peka menangkap derap langkah Reza.
Reza tersentak kecil, lalu berdeham pelan untuk merapikan suaranya. “Eh… iya, Tante. Tenggorokan agak kering gara-gara kelamaan baca modul kuliah.”
Miranda berbalik perlahan sambil memegang botol kaca berisi air mineral dingin. Bibirnya yang merah alami tanpa riasan mengulas senyum tipis yang hangat. Di bawah sorot lampu gantung temaram meja dapur, pesona dewasanya memancarkan daya tarik yang sulit diabaikan oleh pria mana pun.
“Kenapa masih panggil Tante, sih?” Miranda meletakkan dua gelas kristal di atas meja konter granit, lalu menuangkan air dingin ke dalamnya dengan gerakan anggun. “Kan tempo hari Mama sudah bilang, panggil Mama saja. Biar lebih akrab.”
Reza melangkah mendekat dengan langkah ragu. Ia berdiri tepat di seberang meja konter, berhadapan langsung dengan ibu sambungnya.
“Belum terbiasa aja, Tan—eh, Ma,” jawab Reza serba salah sambil menggaruk pelipisnya. “Rasanya canggung kalau langsung manggil Mama.”
Miranda terkekeh renyah. Tawa halusnya terdengar merdu di tengah kesunyian dapur malam itu. Ia mendorong salah satu gelas ke arah Reza.
“Masa canggung sama Mama sendiri? Kita bakal tinggal bareng bertahun-tahun di rumah ini selama Papa dinas di Swiss,” ujar Miranda lembut. Jemari lentiknya tanpa sengaja menyentuh punggung tangan Reza saat menyodorkan gelas.
Sentuhan kulit yang hangat dan lembut itu mengalirkan sensasi kejut halus yang membuat Reza menahan napas sejenak. Aroma wangi melati bercampur vanila khas sabun mandi Miranda langsung menyergap penciumannya dari jarak sedekat itu.
Reza segera meraih gelasnya dan meneguk air dingin itu tergesa-gesa untuk mendinginkan rasa hangat yang tiba-tiba menjalar ke wajahnya. Miranda memperhatikannya dengan tatapan terhibur, menyandarkan pinggulnya ke tepi meja konter.
“Pelan-pelan minumnya, Reza. Nanti tersedak,” tegur Miranda dengan nada menggoda.
Reza menyeka sudut bibirnya dengan punggung tangan, lalu tersenyum canggung. “Haus banget, Ma. Dari siang sibuk beresin berkas registrasi kampus.”
“Tadi sore rekening bank kamu sudah masuk transferan uang semesteran dari Mama, kan?” tanya Miranda memastikan, mengubah intonasi suaranya menjadi lebih perhatian selayaknya seorang wali. “Papa titip pesan supaya jangan sampai ada biaya kuliah yang terlambat dibayar.”
“Sudah masuk kok, Ma. Terima kasih banyak ya. Jumlahnya bahkan jauh lebih dari cukup buat beli perlengkapan studio gambar,” balas Reza tulus. Ia merasa sangat bersyukur karena hubungan finansial dan perhatian keluarga baru ini berjalan harmonis tanpa drama apa pun.
“Bagus kalau begitu. Kebutuhan kamu di kampus nomor satu. Kalau butuh tambahan buat beli laptop baru atau alat-alat proyek, langsung bilang ke Mama, ya?” Miranda mengibaskan helai rambut yang jatuh menutupi pipinya ke belakang telinga. Gerakan sederhana itu membuat belahan tulang selangkanya terlihat jelas di bawah gaun tidurnya yang berpotongan rendah.
Pandangan Reza sempat terpaku sepersekian detik pada keindahan kulit bahu Miranda sebelum ia memaksakan matanya beralih menatap lantai marmer.
Miranda yang menyadari kegelisahan pemuda di hadapannya justru melangkah memutar meja konter. Ia kini berdiri tepat di samping Reza, hanya berjarak beberapa jengkal.
“Kamu kelihatan capek banget, Za,” bisik Miranda, suaranya terdengar begitu dekat.
Tangan Miranda yang ramping terangkat, lalu mendarat dengan lembut di bahu kokoh Reza. Ibu tirinya menepuk-nepuk bahunya pelan, meremas ototnya sekilas untuk mengendurkan ketegangan. Sentuhan itu terasa begitu intim dan menenangkan, tetapi di saat yang sama mengirimkan gelombang debaran kuat di dada Reza.
“Tadi agak pusing, tapi sekarang sudah baikan kok, Ma,” sahut Reza dengan suara agak serak. Jantungnya berdentam kencang di balik kaus katun abu-abu tipis yang ia kenakan.
“Anak pintar,” puji Miranda sambil tersenyum manis. Ia menatap lekat-lekat kedua manik mata Reza dengan pandangan yang dalam dan teduh, sebelum tatapannya turun perlahan ke bibir pemuda itu.
Jarak mereka kini begitu tipis. Reza bahkan bisa merasakan embusan napas hangat Miranda yang menyapu rahangnya. Kulit lengan mereka yang bersentuhan membangkitkan panas yang aneh, kontras dengan segelas air es yang masih digenggamnya.
“Mulai besok, kamu nggak boleh tidur lewat tengah malam lagi,” bisik Miranda lembut, jemarinya kini merapikan kerah kaus Reza yang terlipat sedikit berantakan. “Nanti kalau kamu sakit, siapa yang bakal nemenin Mama sarapan pagi di meja ini?”
Reza tertegun kaku di tempatnya, menatap lurus ke dalam bola mata cokelat terang milik Miranda yang berkilat memikat. “Iya, Ma… Reza usahakan tidur lebih awal.”
Miranda menarik tangannya perlahan dari dada Reza, lalu mengambil gelas kristalnya yang sudah kosong. Ia melangkah santai menuju tempat cuci piring, membuat kain gaun tidur satinnya berdesir halus menyapu lekuk pinggulnya yang sintal.
“Tidurlah sekarang, Za. Sudah larut,” kata Miranda sambil mematikan lampu konter utama, membuat ruangan itu kembali temaram.
“Mama juga langsung tidur?” tanya Reza tanpa sadar, masih terpaku menatap punggung anggun wanita itu.
Miranda berhenti di ambang koridor menuju kamarnya, lalu menoleh ke belakang sambil menyunggingkan senyuman paling memikat yang pernah Reza saksikan.
“Mama mau ke kamar sekarang… tapi pintu kamar Mama sengaja nggak pernah dikunci, Za.”
Daftar bab
93 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








