
"Gairah Sang Surya: Mahkota & Sihir Api Majapahit"
FAVEL|Bersambung
- Jumlah kata
- 65.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 15
- Jumlah kata
- 65.0K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 15
Sinopsis
Ketika Kerajaan Singasari runtuh akibat pengkhianatan dan gempuran sihir hitam Kediri, Raden Wijaya seorang pangeran sakti pemilik legendaris Sihir Api Merah Delima kehilangan segalanya dalam satu malam. Di tengah puing-puing istana yang membara, ia melarikan diri bersama Gayatri, putri raja yang menguasai sihir penyembuhan murni sekaligus wanita yang membakar gairah hidupnya. Dalam pembuangan di Hutan Tarik yang terkutuk, Wijaya menempa sihir liar tanah menjadi kekuatan baru yang mematikan. Di sana pula, di antara gubuk sempit dan ancaman maut, cinta dan gairah sensual di antara Wijaya dan Gayatri memuncak, menjadi sumber energi sihir yang menyatukan jiwa dan raga mereka. Namun, ancaman tak hanya datang dari Kediri. Ratusan kapal berisi ribuan Penyihir Es Mongol utusan Kubilai Khan berlabuh untuk membumihanguskan Jawa. Berbekal sihir, paras tampan, pesona memikat, dan taktik licik, Wijaya harus menenun benang politik, memanfaatkan musuh untuk menghancurkan musuh lainnya, hingga akhirnya membakar mereka semua demi mendirikan kekaisaran teragung di Nusantara yaitu Majapahit.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
BAB 1: MALAM BERDARAH DI SINGASARI
Lautan obor dan kobaran sihir hitam membakar langit Singasari. Bau kayu cendana yang terbakar beradu menyengat dengan aroma amis darah kering dan uap belerang. Dari kejauhan, jerit histeris para dayang, denting benturan pedang, serta dentuman mantra perang terdengar bagaikan simfoni kematian yang tak kunjung usai di atas tanah istana.
Di tengah balairung utama yang telah hancur separuh, Raden Wijaya berdiri tegak dengan kedua kaki merenggang di atas ubin pualam yang retak-retak. Napasnya memburu, mengembunkan uap tipis di udara malam yang mendadak panas secara tak wajar. Zirah tembaga berukir naga yang melingkupi dadanya terkoyak di beberapa bagian, memperlihatkan kulit dadanya yang tegap dan padat, basah oleh peluh serta cipratan darah musuh.
Di sekelilingnya, puluhan prajurit bayangan Kediri mereka yang mengenakan jubah hitam berajah mantra kelam mulai mengepung. Mata para penyerang itu menyala merah samar, dirasuki oleh sihir Giri Sakti yang dihadiahkan oleh Raja Jayakatwang. Senjata-senjata di tangan mereka dipenuhi pendar hijau beracun yang berdesir pelan, siap merobek daging siapa pun yang menghalangi jalan mereka.
"Serahkan kepalamu, Pangeran! Atau kami akan mencincang tubuhmu hingga tak lagi dikenali oleh para leluhurmu!" teriak seorang komandan prajurit Kediri dengan suara serak bergema di antara pilar-pilar batu.
Wijaya tidak menjawab dengan kata-kata. Lelaki muda berdarah bangsawan Singasari itu hanya memiringkan kepalanya sedikit. Matanya yang tajam bagai elang pemangsa memancarkan pendar keemasan yang kian pekat. Dari dalam dada Wijaya, sebuah kekuatan purba bergolak. Sihir Api Merah Delima adalah warisan takhta dan darah para raja besar Singasari mulai merambat dari jantung menuju lengan kanannya. Urat-urat di tangannya bertransformasi menjadi garis-garis menyala, seolah-olah lava cair sedang mengalir cepat di balik kulit cokelatnya.
"Kau menuntut kepala Rajaku?" bisik Wijaya. Suaranya bergema di dalam kepala setiap orang di ruangan itu, membawa wibawa magis yang menakutkan. "Coba ambil jika kau sanggup menahan panasnya neraka ini."
Tanpa peringatan, Wijaya menghentakkan kaki kirinya ke lantai. Ubin pualam pecah berkeping-keping, dan dari celah retakannya, semburan api berwarna merah pekat menyembur keluar bak naga yang terbangun dari tidur panjangnya. Tiga prajurit Kediri yang berdiri paling depan bahkan tidak sempat berteriak ketika lidah-lidah api itu melilit tubuh mereka, membakar zirah besi mereka hingga meleleh menyatu dengan daging, lalu mengubah mereka menjadi tumpukan abu hitam dalam hitungan detik.
Langkah Wijaya bergerak secepat kilat. Pedang panjang di tangan kanannya terbalut api merah yang meliuk-liuk liar. Setiap kali pedang itu diayunkan, gelombang panas memotong udara, menembus perisai kayu, memutus rantai sihir pelindung, dan membelah dada para prajurit Kediri. Bau daging terbakar kian menyengat, namun Wijaya terus menerjang tanpa belas kasihan.
Namun, kekuatan besar selalu menuntut bayaran yang setimpal. Di balik kehebatannya, dada Wijaya terasa berdenyut nyeri. Sihir Api Merah Delima membutuhkan pasokan tenaga dalam yang luar biasa besar, dan ia telah bertarung tanpa henti sejak garis matahari tenggalam di ufuk barat.
Tiba-tiba, suara retakan besar terdengar dari arah langit-langit balairung. Tiang penyangga utama tak lagi sanggup menahan gempuran sihir ledakan dari luar. Atap balairung roboh, membawa serta hujan pecahan genteng dan kayu membara. Di tengah kebulan asap tebal dan percikan api yang membumbung tinggi, sebuah bayangan melompat dari balik dinding yang hancur.
"Wijaya!"
Suara itu bening, puitis, namun sarat akan rasa takut yang mendalam. Wijaya menghentikan tebasan pedangnya seketika. Melalui kepulan asap hitam, muncul Gayatri. Putri bungsu Raja Kertanagara itu berlari menuju arahnya dengan langkah terhuyung. Gaun kemben sutra berwarna ungu keemasan yang biasa membalut tubuh indahnya kini terkoyak di beberapa bagian. Bagian bahunya yang mulus terdedah, memperlihatkan kulit seputih kuning langsat yang dinodai garis-garis jelaga hitam.
Gayatri adalah pemilik sihir penyembuh Purnama Suci, sekaligus wanita yang diam-diam telah menguasai seluruh sudut hati sang pangeran sejak mereka tumbuh bersama di lingkungan istana Singasari.
"Gayatri! Kenapa kau tidak bersama rombongan dayang melarikan diri ke gerbang belakang?!" bentak Wijaya, setengah berteriak. Tangannya dengan cepat mengayunkan pedang, menangkis panah beracun yang melayang ke arah dada Gayatri hingga hancur menjadi abu di udara.
Gayatri mendekat, napasnya memburu cepat. Tanpa memedulikan kilatan api dan bau amis darah yang mengelilingi mereka, Gayatri langsung menerobos masuk ke dalam pelukan Wijaya. Kedua tangannya yang mungil melingkari pinggang tegap sang pangeran, menyandarkan wajahnya di dada telanjang Wijaya yang berpeluh.
"Ayahanda... Ayahanda telah gugur, Wijaya," bisik Gayatri dengan suara yang pecah oleh sedu sedan. "Jayakatwang... sihir hitamnya merobek kediaman utama. Ayahanda menolak tunduk, dan mereka membunuhnya di depan altar..."
Kabar gugurnya Raja Kertanagara menghantam dada Wijaya seperti hantaman godam besi. Singasari benar-benar telah runtuh dari dalam. Namun, tidak ada waktu untuk meratapi nasib. Dari kejauhan, suara derap langkah ratusan sepatu boot besi semakin mendekat, diiringi teriakan sorak-sorai kemenangan dari pasukan Kediri yang berhasil menembus pertahanan luar.
Wijaya menunduk, menatap Gayatri yang berada di pelukannya. Sang putri mendongak dengan sepasang mata bulatnya yang berkaca-kaca, memancarkan ketakutan akan maut sekaligus kepatuhan dan gairah kepercayaan yang sepenuhnya diserahkan kepada lelaki di depannya.
Wijaya menarik tengkuk Gayatri dengan tangan kirinya. Jemarinya yang kasar menyusup ke balik rambut tebal sang putri, menyatukan wajah mereka tanpa jarak. Wijaya mendaratkan bibirnya di atas bibir Gayatri yang gemetar dan agak kering. Ciuman itu panas, dalam, dan sarat akan keputusasaan serta janji perlindungan yang membara. Sihir Api Merah Delima dan sihir Purnama Suci berbenturan pelan di antara pertemuan bibir mereka, menciptakan luapan energi tak terlihat yang seketika menghilangkan rasa lelah di tubuh Wijaya.
Ketika Wijaya melepaskan pagutan itu, napas Gayatri memburu, bibirnya kini nampak lebih basah dan memerah di bawah pendar api pertarungan yang merona.
"Dengarkan aku, Gayatri," bisik Wijaya di depan wajah sang putri, matanya menyala tajam penuh takdir raja. "Selama darah di dalam dadaku belum membeku, tidak ada satu pun manusia di tanah Jawa ini yang boleh menyentuhmu. Aku akan merebut kembali kerajaan ini untukmu."
Gayatri mengangguk perlahan, meremas lengan berotot Wijaya yang kokoh dan hangat. "Bawa aku pergi, Wijaya... aku milikmu."
Tepat saat itu, pilar utama balairung akhirnya rubuh sepenuhnya. Wijaya merengkuh tubuh Gayatri ke dalam pelukannya, memutar posisi mereka agar jubah apinya melindungi tubuh sang putri dari jatuhan puing-puing batu membara. Dengan raungan api yang berkobar di sekeliling mereka, Wijaya siap menerjang kegelapan malam demi merebut kembali apa yang telah dihancurkan.
Langkah awal pelarian berdarah mereka baru saja dimulai di atas tanah Singasari yang mulai hancur.
Daftar bab
56 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








