
Pembalasan Arvano Sang Raja Neraka
Kurniawan123|Bersambung
- Jumlah kata
- 51.4K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 163
- Jumlah kata
- 51.4K
- Popular
- 1.7K
- Subscribe
- 163
Sinopsis
Lima tahun lalu, Arvano Ogara dikhianati oleh istrinya, menyaksikan keluarganya dibantai, dan dibuang ke dasar sungai hingga sekarat. Beruntung, dia diselamatkan oleh sosok misterius yang melatihnya hingga ia bangkit sebagai Raja Neraka yang ditakuti sekaligus ahli medis tiada tanding. Begitu keluar dari penjara, Arvano langsung kembali ke Kota Laxana dengan kekuatan ranah Grandmaster untuk membalaskan dendamnya secara brutal. Di tengah aksi pembalasan darahnya, takdir mempertemukannya kembali dengan Clara Wijaya, presiden wanita berkuasa yang terpikat oleh kekuatan serta kemampuan medisnya.
Ulasan
1 ulasan
Chiluk-Ba
2 hari yang lalu
cerita yang sangat bagus... ceritanya tersusun dengan baik, tidak banyak bertele bertele.. semangat terus Thor, bab perhari nya perbanyak..
Bab 1
Di kedalaman Gunung Lionara berdiri Penjara Superalloy, tempat pembuangan bagi manusia-manusia yang dunia luar sudah menyerah mengadili. Pembunuh yang mengincar nyawa presiden. Algojo yang membantai puluhan ribu warga sipil. Pedagang yang memperjualbelikan bom nuklir di pasar gelap internasional. Semua dikurung di balik tembok baja setebal lima meter.
Hari ini, lapangan penjara tampak sunyi.
Arvano Ogara berdiri di tengah, jas laboratorium putihnya masih terpasang rapi. Gelar dokter penjara hanyalah identitas paling tidak penting yang dia sandang, di balik jas itu, dialah Raja Neraka yang Hidup, penguasa sesungguhnya Penjara Superalloy selama lima tahun terakhir.
Matanya terpejam. Paru-parunya berhenti memompa udara.
Sesaat sebelum kesadarannya lenyap, sesuatu menariknya melintasi waktu ke sebuah ruangan asing. Seorang wanita ramping memeluknya erat, tubuhnya gemetar hebat.
"Arvano." Bisikannya patah-patah. "Kalau kau masih menganggapku penting, bunuh aku. Kumohon, bunuh aku sekarang."
Dia ingin bertanya siapa wanita itu, tapi dunia di sekelilingnya keburu retak dan runtuh. Semuanya berubah gelap.
Arvano roboh ke tanah.
"Dia mati!" Raja Teror, algojo gila yang membantai puluhan ribu warga sipil dua puluh tahun lalu, tertawa lebar dan menepuk dadanya sendiri. "Lima tahun aku ditindas bocah ini! Sekarang Tuhan masih adil, latihan gilamu akhirnya membunuh dirimu sendiri!"
Banyak narapidana ikut bersorak. Lima tahun mereka ditekan tanpa ampun oleh satu orang, kalau dia mati, kenapa mereka harus bersedih?
Tapi tidak semua berpikir begitu.
Raja Perang Ganas, dulu Dewa Perang Pelindung Negara di perbatasan utara sebelum tuduhan palsu menjebloskannya ke sini, mengepalkan tinjunya.
"Raja Teror," katanya, "tutup mulutmu."
"Kenapa? Doktermu mati, kau mau menangis?" ejek Raja Teror.
"Lima tahun lalu aku sekarat di medan perang. Seluruh tubuhku hancur, semua dokter menyerah. Arvano yang menjahit lukaku sendiri di tengah hujan peluru." Raja Perang Ganas melangkah maju satu langkah. "Coba kau hina dia sekali lagi, akan kucabik-cabik kau hidup-hidup."
Puluhan narapidana mulai bergerak, sebagian di belakang Raja Teror, sebagian di belakang Raja Perang Ganas. Kalau dua kelompok ini bentrok, seluruh Superalloy akan jadi medan perang.
Di ruang monitor, kepala penjara meremas map di tangannya sampai kertasnya kusut. Lima tahun lalu, kedatangan Arvano menundukkan seluruh narapidana paling brutal di negeri ini, sesuatu yang gagal dilakukan ribuan sipir bersenjata lengkap. Kalau kematiannya sekarang memicu kerusuhan dua kubu ini, maka penjara akan rata dalam hitungan jam.
"Kakek tua sialan," gumamnya, "kalau muridmu benar-benar mati, aku juga tamat."
Tepat ketika Raja Teror dan Raja Perang Ganas sudah saling melangkah mendekat, sesosok tubuh di tengah lapangan bergerak.
"Berisik."
Seluruh lapangan membeku.
Arvano membuka mata, bangkit berdiri dengan cepat. Raja Teror langsung berlutut, suaranya yang tadi paling keras kini nyaris tak terdengar.
"A-Arvano, aku cuma bercanda tadi..."
"Leluconmu tidak lucu."
Krak.
Tangan Arvano sudah mencengkeram lehernya sebelum kalimat itu selesai. Tubuh raksasa itu terbang beberapa meter, jatuh ke tanah seperti karung goni tua.
Arvano mengibaskan tangan. "Yang lain, bubar."
Satu kata saja, dan ratusan narapidana paling berbahaya di dunia berhamburan menuju gerbang lapangan, saling dorong tanpa berani menoleh ke belakang. Raja Perang Ganas sendiri tidak berani menunda satu langkah pun, sebelum pergi, dia hanya menundukkan kepala.
"Terima kasih karena masih hidup," katanya, lalu berbalik.
***
Setengah jam kemudian, Arvano duduk di ruang kepala penjara.
"Kau bebas hari ini," kata kepala penjara. "Mulai sekarang kau bisa meninggalkan Gunung Lionara."
Arvano mendesah pelan, lalu kembali menatap kepala penjara dengan serius. "Dia kembali?"
Kepala penjara mengangguk, dan Arvano langsung tahu siapa yang dimaksud, lelaki tua aneh yang mengubah hidupnya lima tahun lalu.
Dulu, dia bukan Raja Neraka. Dia hanya pria biasa dengan keluarga bahagia, ayah penyayang, ibu lembut, adik perempuan yang penurut, dan Viona Sari, wanita yang dia percaya sebagai cinta sejati. Semua hancur ketika dia pulang lebih awal suatu hari dan mendapati istrinya bercumbu dengan pemuda kaya raya, di rumah mereka.
Dia menghajar pemuda itu habis-habisan. Itulah awal dari bencana yang menimpanya.
Adiknya menghilang tanpa jejak. Orang tuanya dibunuh tepat di depan matanya. Tubuhnya sendiri dihancurkan, tulang-tulangnya remuk, kedua ginjalnya diambil paksa, lalu dia dimasukkan ke keranjang besi dan dibuang ke dasar sungai.
Seharusnya dia mati malam itu. Tapi seorang lelaki tua misterius menariknya keluar, memberinya tulang naga untuk membangun ulang tubuhnya, mewariskan ilmu bela diri tertinggi, lalu melemparkannya ke Superalloy untuk ditempa.
Lima tahun telah berlalu. Kini waktunya kembali.
Kepala penjara mendorong sebuah kotak kayu tua ke meja. "Ini peninggalan gurumu."
Di dalamnya terdapat sepucuk surat usang yang sudah menguning, cincin hitam berukir kepala naga, dan sebuah kantung kecil. Arvano membaca surat itu.
'Turun gunung sekarang, sudah saatnya untuk membalas dendam. Perbatasan utara sedang berperang, pergilah ke sana dalam setengah tahun. Pemusnahan Keluarga Ogara bukan kebetulan, ada tangan yang mengatur semuanya dari balik layar. Jangan buang waktu bertanya-tanya seperti bocah cengeng. Bunuh semua yang menghalangimu, kebenaran akan muncul sendiri di antara mayat-mayat itu. Ginjal Mahkota Langit sudah kutanamkan dalam tubuhmu, jangan sia-siakan, bocah tidak tahu diuntung.'
Tidak ada tanda tangan.
Genggaman Arvano pada kertas itu mengerat, membuat sudut surat sedikit kusut. Lima tahun dia menahan semuanya, wajah ayahnya, jeritan ibunya, adik yang tidak pernah dia temukan lagi. Satu surat pendek ini membuka kembali sesuatu yang selama ini dia kubur paksa.
Sudut bibirnya terangkat sedikit. "Gaya bicara orang tua itu, tidak berubah."
Dia melipat surat itu, memasukkannya ke saku jas bersama cincin hitam. Lima tahun lalu dia masuk ke Gunung Lionara sebagai pecundang. Sekarang dia keluar sebagai algojo, dan siapa pun yang berutang darah padanya akan membayar dengan nyawa.
***
Sore itu, Arvano berdiri di gerbang utama. Ratusan narapidana berkumpul diam-diam dari kejauhan.
"Aku akan pergi untuk urusan penting," katanya, tanpa berbalik. "Kalau ada yang berani membuat masalah selama aku tidak ada, aku akan kembali dan menguburnya hidup-hidup."
Serentak, seluruh narapidana menggeleng. "Kami tidak berani!"
Arvano mengangguk puas, lalu melangkah pergi.
Perjalanan menuruni Gunung Lionara memakan waktu setengah hari.
Di kaki Gunung Arcapura, sebuah telaga jernih muncul di antara pepohonan. Arvano melepas jas labnya, meletakkannya di atas batu, dan melangkah ke tepi air untuk membersihkan diri sebelum melanjutkan perjalanan panjang ke perbatasan utara.
Baru beberapa langkah, dia berhenti. Dia mendengar percikan air dari sisi lain telaga.
Seorang wanita berdiri di sana, separuh badannya sudah terendam, rambut basahnya menempel di punggung. Dia menoleh bersamaan dengan Arvano, dan keduanya sama-sama membeku.
Clara Wijaya. Presiden Direktur sebuah perusahaan di Kota Laxana. Wanita yang wajahnya terpampang di setiap papan reklame kota, terkenal karena kecantikan sekaligus otaknya yang tajam.
Dan sekarang dia berdiri di telaga yang sama, dalam kondisi yang jauh dari kata "presiden yang terhormat."
Mata Clara melebar. Mata Arvano juga melebar, karena melihat sesuatu yang mencolok dari tubuh polos mereka.
Keduanya saling mengomentari dalam hati dengan pendapat yang sama, "besar".
"Kau," kata Arvano, mengangkat satu alis, seringai tipis muncul di ujung bibirnya, "sengaja mengintip, ya?"
"A-apa?!" Wajah Clara langsung memerah. "Kau yang datang ke telagaku! Dasar mesum! Pergi sana!"
"Telagamu? Enak saja." Arvano tidak ingin mengalah.
"Pergi!" bentaknya, suaranya melengking tinggi hingga bergema di antara pepohonan.
Arvano mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah, lalu berbalik badan naik ke daratan tanpa berniat berbuat macam-macam.
Clara mengembuskan napas lega melihat punggungnya menjauh. Lalu dia tiba-tiba menjerit.
Daftar bab
40 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








