
Istriku Selingkuh! Mertua dan Ipar Memanjakanku
Duke Utara|Bersambung
- Jumlah kata
- 93.0K
- Popular
- 13.7K
- Subscribe
- 754
- Jumlah kata
- 93.0K
- Popular
- 13.7K
- Subscribe
- 754
Sinopsis
Hasan adalah seorang model pakaian dalam pria yang baru saja dipecat. Sementara itu, sang istri baru saja naik jabatan di kantornya. Jurang perbedaan itu jelas membuat Hasan dihina habis-habisan oleh istrinya. Tak sampai di situ, istrinya selingkuh terang-terangan di depan Hasan. Namun, keadaan berubah. Karir Hasan melonjak dan dia diidam-idamkan wanita di luaran sana, terutama mama mertua dan kedua adik tirinya. Saat itu, sang istri justru memohon untuk kembali padanya.
Ulasan
3 ulasan
Wang hikkla
13/10/26 03:58
janji ya bang si mama mertua nya dan adik ipar nya tetap setia , pokok nya sebisa Abang lah nulis novel nya
Duke Utara
11/10/26 08:25
Terima kasih yang sudah membaca buku pertama Author di sini. Saran dan masukan akan terus diterima ~
Menjemput Ipar dan Mertua
"Cuci yang ini pakai tangan, ya. Jangan dimasukin mesin, harganya lebih mahal dari gaji kamu sebulan. Awas aja kalau rusak!"
Nadia melempar mantel krem dan gaun hitam semalam ke dada Hasan tanpa menoleh. Pagi itu dia sudah rapi dengan blazer abu-abu, rok pensil hitam yang membungkus pinggulnya ketat, dan rambut panjang yang dikuncir kuda tinggi.
Hasan menangkap kedua kain itu sebelum jatuh ke lantai dapur. "Nad, aku udah bikin nasi goreng. Sarapan dulu sebentar, ya?"
Nadia melirik piring di meja makan, lalu mengernyitkan hidung. "Nasi goreng minyak jelantah? Aku sarapan di kantor aja, lebih sehat. Biar sekalian bikin kopi."
Istri Hasan itu membungkuk untuk memasang sepatu hak tinggi. Rok pensilnya tertarik naik, mencetak bagian belakang bulat yang padat dan betis putih yang mengilap oleh losion.
Hasan meremas mantel di tangannya. Celananya terasa sesak hanya karena melihat Nadia membungkuk, padahal dia sendiri sudah lupa kapan terakhir kali tubuh itu mengizinkannya mendekat.
"Sadar, Hasan. Istri sendiri aja ogah disentuh," batinnya. Dia tetap melangkah maju untuk mengecup pipi Nadia sebelum berangkat. Nadia mundur selangkah dan mengangkat telapak tangan tepat di depan wajah suaminya.
"Lipstikku baru, jangan dirusak. Lagian, dicium kamu, bisa jerawatan aku!" ucap Nadia datar.
Dia menyambar tas desainernya dari kursi makan, lalu menambahkan, "Siang nanti, Mama sama adik tiriku landing di Terminal 3. Kamu yang jemput. Jangan sampai telat!"
"Nad, hari ini aku ada jadwal di agensi," jawab Hasan hati-hati.
"Izin aja. Agensi kecil kayak gitu, kamu nggak datang juga nggak ada yang nyariin. Beda sama aku, manajer divisi nggak bisa cabut seenaknya."
Nadia menaruh kunci SUV di meja dengan bunyi keras. "Aku naik taksi online. Mobilku kamu bawa. Awas aja kalau lecet!"
"Iya. Hati-hati di jalan," balas Hasan pelan.
Tidak ada jawaban dari Nadia.
Pintu depan terbanting, lalu suara hak sepatu Nadia menghilang di halaman.
Hasan berdiri sendirian di dapur dengan mantel dan gaun istrinya di tangan. Setelah menghela napas panjang, dia membawa kedua kain itu ke ruang cuci di belakang rumah.
Setahun terakhir, pernikahan Hasan dan Nadia tidak baik-baik saja. Terutama, semenjak istrinya naik pangkat jadi manajer divisi.
Sebelum-sebelumnya, Nadia selalu bersikap hangat. Tapi entah kenapa, semenjak Nadia cepat naik jabatan dari karyawan biasa, asisten manajer divisi, sampai sekarang jadi manajer divisi, perubahan sikapnya mulai kentara.
Dirinya yang hanya bekerja sebagai model di salah satu agency kecil. Mau tidak mau, ia harus izin terlebih dahulu ke bosnya.
Gaji? Tentu, jauh berbeda.
Tapi masalah gaji harusnya tak dipermasalahkan Nadia, mengingat Hasan sudah mengerjakan semua tugas rumah, sekaligus menyerahkan hampir semua uangnya ke Nadia. Tapi itu tidaklah cukup.
Tepat pukul sembilan, Hasan sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Tiga panggilan sudah ia lakukan, tapi bosnya tak kunjung mengangkat telepon. Dengan pakaian seadanya, ia berangkat menuju kantor, berharap hari ini dirinya diperbolehkan izin oleh bosnya.
Namun, yang terjadi malah tidak sesuai dengan keinginan Hasan.
"Hasan, mulai hari ini kamu nggak usah datang lagi!" Beni menyandarkan perut buncitnya ke kursi, lalu melempar map cokelat ke atas meja. Padahal, Hasan baru saja masuk ke ruangan itu untuk meminta izin setengah hari.
"Pak, saya ke sini cuma mau izin setengah hari," ucap Hasan pelan.
Beni terkekeh tanpa melihat wajahnya. "Izin kamu saya kabulkan, selamanya. Agensi lagi efisiensi, dan nama kamu masuk daftar. Nggak ada pesangon buat kamu."
"Pak, bulan lalu job saya paling banyak di sini. Kenapa harus saya?"
"Jangan banyak tanya, keputusannya dari atas. Sebelum jam sepuluh, barang-barang kamu sudah keluar dari gedung ini," ucap Beni sambil menunjuk pintu dengan dagunya.
Hasan mengusap wajahnya dengan kasar. Tanpa sepatah kata pun, dia mengambil map itu dan keluar.
Setengah jam kemudian, Hasan melewati lobi dengan kardus berisi sepatu, parfum, dan beberapa kemeja pemotretan. Sebuah Alphard hitam terparkir tepat di depan pintu kaca, mesinnya menyala, dan seorang sopir berseragam menunggu di balik kemudi.
Mata Hasan menangkap logo emas kecil di pintu mobil itu sekilas. Kakinya terus melangkah ke parkiran tanpa berhenti.
***
Tiga jam kemudian.
"Mas Hasaaan! Ya ampun, kangen banget!" Teriakan itu memecah keramaian area penjemputan kedatangan internasional Terminal 3 Bandara.
Kikan berlari menembus kerumunan sambil menyeret koper rose-gold, kuncir rambutnya bergoyang, dan rok jin mininya terangkat setiap kali dia melompat kecil.
Hasan baru sempat menegakkan badan dari tiang pembatas ketika tubuh mungil itu menghambur ke pelukannya. Sepasang buah apel di balik kaus v-neck putih ketat Kikan menekan dadanya, kenyal dan hangat, lalu wangi stroberi langsung memenuhi hidungnya.
"Mas Hasan nggak kangen, ya? Kok diem aja?" Kikan mendongak sambil menggoyangkan badannya di dada Hasan.
Hasan memegang kedua bahu adik iparnya dan mendorongnya mundur pelan-pelan. Napasnya dia tahan, berusaha mengabaikan sisa rasa kenyal yang masih tertinggal di kemejanya.
"I-i-iyaa, Mas kangen sama kamu. Hati-hati, kopermu berat, nanti kamu jatuh," ucap Hasan lembut.
"Habisnya sebulan liburan nggak ada yang masakin sarapan seenak buatan Mas. Kikan jadi kurus, tau," rajuk Kikan sambil memanyunkan bibir.
Dia lalu menunduk menatap dadanya sendiri dengan wajah polos. "Tapi yang ini kok malah nambah, ya? Tadi Mas kerasa nggak?"
Hasan tersedak ludahnya sendiri.
"Kamu tuh kebiasaan banget, main tubruk aja. Untung Mas Hasan nggak jatuh," tegur Maya yang baru tiba menyusul dari belakang. Maya adalah kakak Kikan, yang cenderung tegas dan bicaranya tidak semanja adiknya.
Maya melepas kacamata hitamnya dan mengibaskan rambut cokelat ikalnya ke belakang bahu. Tank top hitam bertali tipis yang dia pakai hanya menutupi separuh perut, sedangkan celana jinnya menempel ketat di paha dan pinggul.
Tanpa permisi, Maya menggamit lengan kiri Hasan dan menyandarkan kepala ke bahu kakak iparnya. Buah apel di balik tank top itu menempel di lengan Hasan, dan dari rasanya, Hasan tahu tidak ada kawat bra di sana.
"Aku nggak pakai bra kawat, Mas. Gerah banget di pesawat," bisik Maya santai, dan wangi vanilanya langsung tercium.
Darah Hasan turun ke bawah perut lebih cepat dari yang bisa dia cegah. Koper Kikan dia tarik ke depan tubuhnya sambil berdeham.
"Iya, May. Mas juga kangen sama cerewetnya kalian," balas Hasan dengan senyum yang dipaksakan.
"Udah lama nunggu ya, San? Antrean imigrasinya panjang banget." Suara serak basah itu membuat Hasan menoleh. Tante Sarah melangkah mendekat dengan blus sutra krem tipis yang memperlihatkan bayangan bra renda hitam di baliknya, dipadukan rok pensil hitam yang menonjolkan pinggul sintalnya di setiap langkah.
Rambutnya disanggul rendah dengan beberapa helai jatuh di leher. Di usia 36 tahun, tubuhnya masih kencang dan berisi di tempat-tempat yang tepat.
"Oh, nggak apa, Tante, belum lama kok. Jalan dari rumah juga lancar," jawab Hasan sopan sambil mengambil alih gagang koper besar dari tangan mertuanya.
Daftar bab
84 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








