
Rahasia Sang Pendekar Pencuri Wewangian Para Dewi Tercantik
RyanJo|Bersambung
- Jumlah kata
- 79.4K
- Popular
- 142
- Subscribe
- 45
- Jumlah kata
- 79.4K
- Popular
- 142
- Subscribe
- 45
Sinopsis
[PERINGATAN 21+: KHUSUS DEWASA | Mengandung adegan intim membara, intrik manipulasi ranjang, dan racun asmara yang memabukkan, harap bijak dan jangan baca di tempat umum!] Terlempar ke raga seorang pendekar lumpuh yang dikhianati dan dihina, Galang Surya, mantan konglomerat modern berdarah dingin, menolak pasrah pada takdir rimba persilatan. Berbekal otak kalkulatif dan penguasaan wewangian pemikat, ia membalikkan keadaan tanpa setitik pun tenaga dalam demi menundukkan para dewi sakti paling angkuh ke dalam dekapannya. Di saat para ksatria bertaruh nyawa memperebutkan takhta pusaka, sang pencuri wewangian justru merengkuh kehormatan para bidadari dan mengendalikan takdir dunia dari balik selimut peraduan.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Babak Baru Galang Surya
BAB 1: BABAK BARU GALANG SURYA
Rasa sakit yang luar biasa menusuk hingga ke sumsum tulang. Galang Surya perlahan tersadar dari kegelapan pekat, mendapati seluruh kerangka tubuhnya bagai dihancurkan menjadi serpihan debu.
Bahkan untuk sekadar menggerakkan ujung jemari pun ia sama sekali tidak berdaya. Ingatan terakhirnya sebelum kehilangan kesadaran adalah kilatan lampu sorot dan moncong truk tronton bermuatan penuh yang menghantamnya telak di tengah jalan raya.
"Apakah aku berhasil lolos dari maut, tetapi harus menghabiskan sisa hidup lumpuh di atas ranjang?" batin Galang dengan kepedihan yang menyesakkan dada.
Galang berusaha membuka kelopak matanya yang terasa seberat timah, lalu perlahan mengamati keadaan di sekelilingnya. Tirai kain hijau tipis di sekitarnya bergoyang pelan meski ruangan itu tidak dialiri hembusan angin malam.
Di tengah ruangan beralas kayu jati tersebut, sebatang lilin putih menyala temaram di atas meja bundar. Seorang perempuan dengan lekuk tubuh yang amat anggun tampak duduk membelakanginya, menopang dagu dengan satu tangan sembari termenung hampa.
Cahaya lilin yang remang menerpa busana hijau lumut polos yang dikenakannya, menciptakan siluet yang begitu dingin sekaligus mencekam. Galang sempat mengira dirinya berada di rumah sakit aneh yang sedang mengalami pemadaman listrik total, atau perawat di sana sengaja berdandan menyerupai sosok penunggu kubur.
Perempuan berbusana hijau itu tampaknya begitu larut dalam pergulatan batinnya sendiri, hingga tidak menyadari pria di atas ranjang telah siuman. Selang beberapa saat, seorang biarawati berjubah kelabu mengetuk pintu lalu melangkah masuk dengan langkah tertahan.
"Ketua, Pemimpin Sekte Fajar Bercahaya, Raden Arya Daniswara, datang memohon izin untuk menghadap," lapor biarawati itu dengan kepala tertunduk takzim.
Punggung perempuan berbusana hijau itu tampak tersentak sesaat, tetapi ketenangannya kembali dengan cepat. "Laki-laki dan perempuan memiliki batas kesusilaan, terlebih di larut malam yang dingin ini, mintalah dia untuk segera berbalik pulang," jawabnya dingin.
Kendati nada bicaranya sedingin embun pegunungan, getaran suaranya yang begitu bening dan merdu tetap tidak mampu menyembunyikan pesona yang luar biasa memikat. Dari luar bilik, sebuah suara bariton yang berat, jernih, dan berwibawa seketika menembus dinding kayu.
"Hamba memiliki sedikit pemahaman tentang ilmu pengobatan batin, dan tulus berniat merawat luka parah Saudara Galang Surya, tanpa ada pamrih lain," tutur pria di luar sana.
Galang yang sejak kehidupan sebelumnya sangat hafal dengan kisah-kisah persilatan klasik langsung merasakan hawa dingin merambat dari telapak kaki hingga ke ubun-ubunnya. Munculnya nama perkumpulan Sekte Fajar Bercahaya, nama Arya Daniswara, serta situasi ruangan ini membuatnya menarik sebuah kesimpulan yang mencengangkan.
Apakah jiwa kasarnya telah terlempar ke dalam raga seorang pecundang paling tragis di dunia persilatan, Galang Surya sang pendekar bernasib malang? Keterkejutan luar biasa itu seketika melenyapkan rasa pening yang tersisa, membuka kembali lembaran masa lalu yang menyisakan kepedihan mendalam.
Sejak kecil, Galang adalah anak yatim piatu yang harus bergulat keras menghadapi kejamnya aspal jalanan ibu kota. Berkat kerja keras, kecerdikan, dan ketangguhan mental tanpa henti, ia berhasil membangun kerajaan bisnis sendiri bernilai puluhan miliar rupiah di usia muda.
Ia mengira dirinya telah berhasil menembus lingkaran kaum elit terpandang, hingga suatu hari ia bertemu dengan perempuan jelita itu. Perempuan bangsawan yang memesona dengan tutur kata anggun, dikelilingi oleh barisan pemuda kaya raya yang tak pernah Galang anggap sebagai saingan sepadan.
Segalanya berantakan ketika pria dari keluarga darah biru penguasa negeri itu melangkah masuk ke dalam hidup mereka. Pria itu memiliki garis keturunan ningrat yang tak tersentuh hukum, paras yang rupawan, dan yang terpenting, mereka berdua tumbuh bersama di lingkungan perumahan elit sejak masa kanak-kanak.
Ketika perempuan itu bimbang di antara dua pilihan, Galang mengerahkan segenap usaha, siasat bisnis, dan kejutan romantis demi meluluhkan hatinya. Kemenangan sempat terasa berada di depan mata bagi Galang yang haus akan pengakuan dunia.
Namun sang bangsawan hanya berdiri tenang di kejauhan, mengamati setiap gerak-gerik Galang bagai elang menatap tikus tanah. Pada pesta perayaan akbar, di hadapan para pembesar kota, pria ningrat itu dengan sengaja membongkar seluruh skenario pendekatan yang dirancang Galang.
Perempuan jelita itu seketika memandang Galang bagai melihat seonggok sampah yang menjijikkan, lalu berbalik pergi tanpa ragu sedikit pun. Kalimat terakhir yang dilontarkannya masih terngiang jelas di telinga Galang: "Sebanyak apa pun pengorbanan yang kau lakukan, nilainya tetap tak ada artinya dibanding seorang pria sejati yang tak perlu berbuat apa-apa."
Pria ningrat itu tetap memasang senyum santun di hadapan sang puan, namun di balik layar, ia melepaskan cengkeraman taring serigala yang mematikan. Perusahaan rintisan Galang yang tengah berekspansi agresif sengaja dipancing dengan puluhan kontrak bernilai puluhan miliar oleh konglomerat boneka sang ningrat.
Galang yang berani mengambil risiko besar segera mencairkan pinjaman bernilai raksasa dari konsorsium perbankan terkemuka demi mengejar target produksi. Namun begitu jerat dana terpasang kencang, rentetan sabotase misterius menghantam seluruh pabrik milik Galang tanpa henti.
Media massa serentak memberitakan skandal keselamatan kerja tersebut hingga memicu kepanikan massal di kalangan pasar modal. Para mitra bisnis membatalkan kontrak sepihak, bank menarik kembali pinjaman secara paksa, dan dalam hitungan hari pengadilan niaga mengetuk palu kepailitan.
Hanya dalam satu malam yang kelam, Galang terlempar dari status pengusaha sukses berharta puluhan miliar menjadi gelandangan dengan utang menggunung. Harta bendanya disita, rumah megahnya disegel aparat, dan ia terpaksa berjalan terhuyung-huyung di trotoar malam sembari menenggak arak murah.
"Kalian yang terlahir di atas takhta emas tentu bisa bersikap suci karena tak pernah tahu rasanya kelaparan," gumam Galang mencibir nasibnya sendiri. "Aku merangkak dari comberan hingga ke puncak menara dengan keringat dan darah, wajar bila aku mengandalkan perhitungan dan siasat tajam."
Dalam keputusasaannya malam itu, benak Galang mendadak teringat pada kisah Pangeran Jayengrana yang malang dan Raden Danu yang selalu dinaungi keberuntungan langit. Raden Danu tak perlu bersusah payah berlatih olah kanuragan, ia cukup berjalan-jalan santai lalu menyerap tenaga sakti orang lain secara cuma-cuma.
Sebaliknya, Pangeran Jayengrana harus memikul beban pemulihan trah leluhurnya, berlatih keras setiap fajar, mengorbankan asmara, namun berakhir sebagai sosok yang dihinakan sejarah. Galang merasa nasibnya persis seperti Jayengrana, sementara pria ningrat yang menghancurkannya adalah perwujudan dari sang putra mahkota yang dimanjakan takdir.
Tepat saat lamunan pahit itu merayapi benaknya, deru mesin truk besar meraung dari arah tikungan gelap. Galang menoleh, namun hantaman besi seberat puluhan ton langsung melontarkan tubuhnya ke udara seperti dedaunan kering.
Sebelum kepalanya membentur aspal dingin, sayup-sayup ia mendengar suara sopir berbicara melalui telepon genggam: "Tugas sudah beres, target telah binasa." Kesadarannya pun terseret ke dalam jurang kegelapan abadi tanpa batas.
Polisi lalu lintas setempat kemudian menutup kasus tersebut sebagai kecelakaan tunggal akibat korban yang mabuk berat menabrakkan diri. Sang sopir truk hanya dijatuhi hukuman kurungan lima belas hari karena dianggap lalai memacu kecepatan kendaraan.
Galang menghela napas panjang di dalam hatinya, menepis seluruh dendam masa lalu yang sudah tidak bisa diubah lagi. Kehilangan kekayaan puluhan miliar di dunia lama tak pernah meruntuhkan mentalitas bajanya, sebab ia yakin tangan dinginnya mampu mengumpulkan kembali pundi-pundi emas bila diberi kesempatan.
Pembeda utama antara manusia sejati dan binatang adalah kesadaran bahwa kejatuhan fisik tidak serta merta membuat jiwa seseorang terkalahkan. Sekarang, setelah memastikan dirinya benar-benar telah mati di dunia asal, Galang harus menghadapi kenyataan baru bahwa raganya telah mendiami sosok Galang Surya di jagat persilatan tanah air.
Daftar bab
56 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








