
Hidup Lagi dengan Sistem
Evie Edha|Bersambung
- Jumlah kata
- 49.9K
- Popular
- 251
- Subscribe
- 23
- Jumlah kata
- 49.9K
- Popular
- 251
- Subscribe
- 23
Sinopsis
Setelah mengorbankan segalanya untuk sang kekasih, Rian malah dikhianati Clara dan sepupunya hingga tewas dengan bersimbah darah. Dia terlahir kembali satu bulan sebelum wabah melanda. Beruntungnya, sebuah sistem membantu Rian dalam menyelamatkan orang-orang yang dia sayangi, dan membalas dendam atas kematian di kehidupan lalu.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1. Bangkit Dari Kematian
1. Bangkit Dari Kematian
***
Napas Rian memburu. Dadanya naik-turun seiring dengan kepulan asap hitam dan bau sangit daging terbakar yang memenuhi udara. Di luar benteng perlindungan darurat itu, raungan ribuan mayat hidup saling bersahut-sahutan. Suaranya mencakar telinga, membuat siapa pun yang mendengarnya kehilangan kewarasan.
Selama tiga bulan sejak wabah V-Mutant merebak, Rian adalah perisai. Tangannya yang dulu memegang pena kini penuh kapalan dan bekas luka sabetan. Dia bertarung di garis depan, kelaparan, dan mempertaruhkan nyawa hanya demi dua orang yang paling dia cintai: Clara, kekasih yang dijanji akan dinikahinya, dan Rendy, sahabat kecil sekaligus sepupunya sendiri.
Hari ini, demi mengambil pasokan makanan terakhir di gudang medis yang dikepung puluhan zombi mutasi, Rian melompat ke tengah lautan mayat hidup. Dia bertarung bak kesetanan, menebas kepala demi kepala hingga lengannya kram dan bilah parangnya tumpul. Dia berhasil membuka jalan escape. Dia berhasil menyelamatkan mereka.
Namun, saat Rian berhasil memanjat truk evakuasi dengan sisa tenaga yang hampir habis, tangannya yang terulur justru disambut dingin.
"Rian ... maafkan aku," bisik Clara. Matanya tidak memancarkan rasa terima kasih, melainkan ketakutan yang egois.
Rian mendongak, matanya membelalak. "Clara? Rendy? Tarik tanganku! Truknya harus jalan sekarang!"
Rendy yang berdiri di samping Clara memegang besi pembatas truk. Wajah sepupunya itu terlihat pucat, namun tatapannya mendadak mengeras penuh kebencian dan rasa iri yang selama ini terpendam.
"Truk ini keberatan beban, Rian. Makanan yang kamu bawa banyak, tapi kapasitasnya cuma cukup buat kami berdua," ujar Rendy dengan suara dingin, tidak ada sedikit pun nada ragu.
"Apa ... apa maksudmu, Ren? Aku bertarung buat kalian! Aku yang bawa makanan itu!" Rian berteriak, suaranya parau tercekik debu dan rasa tidak percaya.
"Kalau kamu ikut, zombi mutasi di bawah bakal sempat memanjat truk ini dan kita semua mati!" bentak Rendy. Tanpa peringatan, Rendy mengangkat sepatu bot tebalnya.
Brak!
Tendangan keras mendarat tepat di dada Rian.
"Rendy! Clara!" jerit Rian saat pegangannya terlepas.
Tubuhnya melayang jatuh dari atas truk, menghempas tanah keras tepat di tengah kerumunan mayat hidup yang kelaparan. Suara tulang rusuknya yang patah terdengar menyakitkan. Dari atas truk yang mulai melaju kencang, Rian melihat Clara berpaling tanpa sedikit pun niat menolong, sementara Rendy tersenyum sinis melepas kepergiannya.
"Pengorbananmu tidak akan kami lupakan, Bro!" teriak Rendy bergaung di udara.
Belum sempat Rian berdiri, rasa sakit luar biasa menghantam punggungnya. Sekelompok zombi mutasi menyergapnya. Gigi-gigi kotor yang tajam merobek kulit lehernya, mencabik daging bahunya tanpa ampun. Darah segar menyembur, membasahi tanah yang kering.
Rian menjerit hissed, rasa sakit ekstrim membakar setiap sarafnya. Pandangannya mulai mengabur oleh darah dan air mata murka. Di detik-detik terakhir saat kesadarannya hampir meredup dan jantungnya berhenti berdetak, sebuah sumpah terukir abadi di dalam jiwanya yang hancur.
Jika ada kehidupan selanjutnya ... aku bersumah tidak akan pernah lagi menjadi pahlawan bodoh! Aku tidak akan lagi berkorban demi siapapun... terutama kalian, Clara, Rendy! Aku akan membiarkan kalian membusuk di neraka!
Krik!
Pandangannya gelap gulita. Kegelapan abadi menelannya.
Huuuaaakh!
Rian tersentak bangkit, memuntahkan napas seolah baru saja tenggelam di dasar laut mendalam. Jantungnya berdegup kencang bak dentuman drum perang. Tangannya secara refleks meraba leher dan bahunya—tidak ada bekas gigitan, tidak ada daging yang robek, tidak ada darah.
Dia menatap sekeliling dengan napas tersengal.
Kamar tidur yang rapi. Sinar matahari pagi menembus jendela kaca. Bau harum kopi hangat dari arah dapur. Ini bukan benteng pertahanan yang hancur, bukan pula lautan zombi yang mengerikan. Ini adalah apartemen pribadinya lima tahun lalu.
Rian meraih ponsel di atas meja nakas dengan tangan gemetar. Layarnya menyala.
Senin, 14 September 2026. 08.00 WIB.
"Satu bulan ...." suara Rian bergetar, lalu berubah menjadi tawa dingin yang menyakitkan. "Satu bulan sebelum kiamat terjadi!"
Dia kembali dari kematian. Tuhan memberinya kesempatan kedua, atau mungkin neraka menolaknya karena dendamnya terlalu pekat.
Belum sempat Rian mencerna keadaan sepenuhnya, ponsel di tangannya bergetar kencang. Nama Clara terpampang di layar.
Rian menatap nama itu dengan mata memerah penuh kebencian. Dia menggeser tombol hijau, menempelkan ponsel itu ke telinganya tanpa bersuara.
"Rian! Kamu dari mana saja sih?! Pesanku dari tadi malam tidak dibalas!" suara Clara menyalak dari seberang telepon, bernada penuh penuntut seperti biasanya. "Rendy bilang kamu janji mau membelikan aku tas edisi terbatas hari ini. Cepat transfer uangnya ke rekening Rendy, dia sudah di butik!"
Dulu, Rian akan langsung meminta maaf dan menuruti semua kemauan perempuan itu. Dia bahkan rela bekerja lembur demi memenuhi gaya hidup Clara dan menyokong gaya hidup mewah Rendy yang pengangguran.
Tapi sekarang?
Rian tersenyum dingin. "Transfer uang?"
"Iya! Cepatlah, jangan bikin malu di depan Rendy!" bentak Clara egois.
"Pergi ke neraka," ucap Rian datar.
"Apa?! Kamu bilang apa tadi—"
Tut.
Rian mematikan sambungan telepon itu secara sepihak dan langsung memblokir nomor Clara serta Rendy. Dia melemparkan ponselnya ke atas kasur. Tidak ada lagi Rian yang bodoh. Tidak ada lagi Rian yang rela dimanfaatkan. Di kiamat nanti, dia hanya akan fokus pada kelangsungan hidupnya sendiri.
Rian berdiri dan berjalan ke arah jendela, menatap kota yang masih sibuk dan damai. Dalam seminggu, tempat ini akan berubah menjadi neraka penuh jeritan dan pertumpahan darah. Dia harus bersiap. Dia membutuhkan makanan, air, senjata, dan tempat berlindung yang tidak bisa ditembus.
"Uang tabunganku ... aset rumah, mobil ...." Rian bergumam, otaknya berputar cepat merencanakan strategi. "Aku harus mencairkan semuanya hari ini juga dan mengubahnya jadi pasokan logistik."
Namun, di tengah-tengah rencananya untuk bertahan hidup, sebuah pusaran cahaya keemasan mendadak muncul di udara, persis di hadapannya.
Udara di dalam kamar terasa berat dan bertekanan tinggi. Rian mundur refleks, mengambil posisi siaga. Pengalamannya bertarung di masa depan membuat refleks bertahannya terasah tajam.
Cahaya itu mengental, membentuk sebuah layar hologram semi-transparan yang melayang di udara, berkilau dengan kode-kode rumit yang belum pernah dia lihat sebelumnya.
sebuah suara mekanis yang dingin namun bergema merasuk langsung ke dalam kesadarannya:
[BINGGO! KESADARAN JIWA DARI MASA DEPAN TERDETEKSI.] [MEMPROSES INISIALISASI DENDAM DAN KEEGOISAN MURNI...] [INTEGRASI BERHASIL.]
Rian membelalakkan mata. Layar hologram di depannya berganti menampilkan tulisan tebal berwarna merah menyala:
[SISTEM RUANG DIMENSI DAN DILATASI WAKTU TELAH AKTIF.] [Pengguna: Rian] [Kapasitas Ruang Penyimpanan: Tak Terbatas] [Fungsi Utama: Menyimpan Logistik Tanpa Batas Kadaluarsa & Menghentikan Waktu Barang Tersebut] [Hadiah Pemula: 1x Tiket Ekstraksi Material Otomatis]
Rian menatap layar di depannya dengan napas tertahan. Keajaiban yang tak masuk akal ini kini berdiri tepat di depan matanya. Sebuah ruang dimensi pribadi tak terbatas. Dengan ini, dia tidak hanya bisa bertahan hidup, tetapi bisa menguasai seluruh sumber daya kiamat sendirian—tanpa perlu membaginya sedikit pun kepada para pengkhianat itu.
Sudut bibir Rian terangkat, membentuk senyuman dingin yang mengerikan.
"Game dimulai," bisiknya.
Daftar bab
43 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








