
Mahadewa Penguasa Langit
ziss_kadasya|Bersambung
- Jumlah kata
- 91.9K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 27
- Jumlah kata
- 91.9K
- Popular
- 1.3K
- Subscribe
- 27
Sinopsis
Dulu, ia hanyalah putra yang dianggap tidak berguna. Dipukuli hingga tak berdaya, dihina tanpa ampun, bahkan diusir dari keluarganya sendiri oleh ayahnya. Semua orang mengira hidup Zein Cakrawira telah berakhir. Tak seorang pun menyangka bahwa dari penghinaan itulah seorang legenda akan bangkit! Dengan bakat yang menentang langit dan tekad yang tak tergoyahkan, Zein Cakrawira menapaki jalan kultivasi yang belum pernah ditempuh siapa pun. Ia menaklukkan para jenius, mengguncang sekte-sekte kuno, dan menantang keberadaan yang bahkan dianggap sebagai dewa. Permaisuri Alam Dewa? Dia wanitaku! Penguasa Agung Alam Iblis? Dia muridku! Dewa Naga dari Alam Iblis? Dia tungganganku! Dulu mereka menginjak-injaknya karena menganggap Zein Cakrawira tak lebih dari sampah. Kini, seluruh langit harus menundukkan kepala di hadapannya! Siapa pun yang menyinggung Zein Cakrawira, akan membayar dengan nyawa! Siapa pun yang berani menyentuh orang-orang yang ia lindungi, akan menerima hukuman yang bahkan lebih buruk daripada kematian! Dari seorang pemuda yang dibuang keluarganya... Menjadi jenius terkuat dalam sejarah. Dari dasar dunia... Menuju puncak seluruh langit! Dialah Zein Cakrawira. Mahadewa Penguasa Langit!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 : Rasa Sakit yang Menghancurkan Hati!
Di Arcapura, Kota Nawasena.
Di kediaman keluarga adikara, banyak orang telah berkumpul, namun suasana di dalam aula utama terasa sangat serius.
“Anak durhaka Zein Adikara, sebagai putra selir berani berlatih secara diam-diam dan melanggar aturan keluarga. Hari ini, kultivasinya akan dihapus dan dia diusir dari keluarga Adikara. Ibunya, Aluna Cakrawira, karena dianggap gagal mendidik anak, dihukum dikurung di Ruang cuci pakaian dan seumur hidup tidak boleh melangkah keluar dari rumah keluarga Adikara.”
Kepala keluarga Adikara, Yasir Adikara, mengumumkan tanpa sedikit pun belas kasih.
Selesai berbicara, telapak tangannya menghantam perut Zein. Kekuatan spiritual ganas menghancurkan dantian Zein seketika. Tubuh Zein terpental jauh oleh kekuatan dahsyat itu.
“Puf!”
Zein jatuh keras ke tanah, memuntahkan darah segar.
Satu tamparan menghancurkan dantian, enam tahun perjuangan kultivasinya lenyap seketika.
Di halaman utama keluarga Adikara, suasana hening. Banyak orang merasa iba terhadap Zein.
Dalam hati mereka juga muncul rasa heran. Memang ada aturan bahwa putra selir tidak boleh berkultivasi, tetapi aturan itu sudah nyaris seratus tahun tidak pernah disebutkan dan secara tidak langsung sudah dianggap gugur. Bahkan beberapa putra selir keluarga Adikara belakangan ini sudah mulai berkultivasi.
Namun hari ini, Yassir kembali mengungkit aturan itu dan bahkan menghancurkan kultivasi putranya sendiri dengan tangannya.
Di tengah kerumunan, Haris menyaksikan semua ini sambil tersenyum dingin. Hanya dia yang tahu alasannya, karena semua ini adalah hasil rancangannya.
Sejak kecil ia sudah tidak menyukai Zein. Perkara Zein berlatih secara diam-diam juga karena ia yang menghasut. Dialah pula yang melaporkan hal itu kepada ayahnya.
Ia tahu bahwa ayahnya tidak pernah menyukai adiknya itu, sehingga ia sengaja mengungkapkan hal tersebut sambil menambahkan fitnah, membuat Yasir semakin mantap menghancurkan kultivasi Zein.
Sekarang Zein telah hancur dan selamanya tidak mungkin berlatih lagi. Hatinya dipenuhi kepuasan.
“Hahaha! Zein, kalau mau menyalahkan, salahkan dirimu sendiri. Bahkan Ayah tidak menyukaimu!” Haris menatap Zein yang tergeletak seperti anjing sekarat, merasa sangat puas.
Zein terbaring diam tanpa ekspresi. Matanya kosong.
Dia benar-benar tega…!
Hingga sekarang ia masih tidak percaya bahwa ayah kandungnya sendiri benar-benar menghancurkan kultivasinya tanpa ampun.
Apakah di dalam hatinya tidak ada sedikit pun penyesalan?
Apakah tidak ada sedikit pun kasih terhadap darah dagingnya sendiri?
Dia adalah anak kandungnya!
Bagaimana bisa ia tega melakukan itu?
Hati Zein serasa disayat pisau.
Selama enam belas tahun ia memanggilnya ayah, tetapi hari ini orang itu justru menjadi algojo yang menghancurkan hidupnya. Ini sulit diterima.
“Hahaha! Salah! Semua salah!”
Zein bangkit sambil tertawa keras. Suaranya bergema di seluruh halaman.
“Apakah dia sudah gila?”
Semua orang memandangnya penuh keraguan, mengira ia telah mengalami guncangan mental.
“Anak durhaka, apa yang kamu tertawakan?” tanya Yasir dingin.
“Apa yang aku tertawakan?” Zein tertawa getir, suaranya penuh kepedihan.
“Aku menertawakan diriku karena terlalu bodoh. Sejak kecil kamu selalu bersikap dingin padaku. Aku mengira kamu hanya tegas. Setiap kali melihatmu bercanda dengan Tomy dan Harris, aku pikir aku belum cukup baik. Aku terus berlatih mati-matian hanya untuk mendapatkan satu kata pujianmu. Tapi semua itu hanya khayalan, Kamu membenciku sejak awal.”
Zein berteriak histeris, menatap ayahnya dengan kedua mata yang memerah, ingin melihat seberapa keras hati pria yang ia panggil ayah selama ini.
Angin musim gugur berhembus dingin, membuat tubuhnya menggigil, namun hatinya jauh lebih dingin.
“Hmph!”
Yasir mendengus, sama sekali tidak terpengaruh.
Pemandangan itu membuat hati Zein seakan diselimuti es.
Enam belas tahun hubungan ayah dan anak ternyata hanya ilusi, dirinyalah yang menciptakan.
“Persetan dengan aturan! Persetan dengan larangan putra selir berlatih kuktivasi! Semua itu hanya alasan! Kamu hanya malu karena Ibuku lahir sebagai pelayan rendahan dan membuatmu kehilangan muka sebagai kepala keluarga!”
Zein berteriak bagaikan orang putus asa.
“Diam!” Yasir membentak, wajahnya memerah oleh amarah.
“Apa? Tersinggung? Karena aku benar, bukan?” Zein mengejek.
“Anak durhaka! Kau mencari mati!” Yasir menerjang dan menamparnya sekali lagi hingga Zein terpental jauh.
Dalam kondisi penuh darah, Zein menatap ayahnya yang marah besar. Ia hanya merasa jijik dan menertawakan dirinya sendiri.
“Mulai hari ini, aku tidak akan memakai marga Adikara Lagi. Aku akan memakai marga Cakrawira. Mulai sekarang aku adalah Zein Cakrawira. Tidak ada lagi hubungan denganku dan dirimu, Yasir Adikara!”
Tatapannya menjadi sedingin es.
Sejak pukulan yang menghancurkan dantiannya, hubungan ayah dan anak mereka telah berakhir.
“Berani sekali tidak menghormati ayah!” Haris ikut berteriak.
Zein yang hendak pergi melihat ke arah Haris, tersenyum dingin.
“Hampir saja aku melupakan kamu, Kakak Kedua. Semua yang terjadi hari ini adalah ulahmu. Kelak, suatu hari nanti, aku pasti akan membalasnya.”
Dulu Haris-lah yang memberikan teknik kultivasi pada Zein. Ia mengira itu niat baik.
Ternyata itu jebakan, membiarkannya berlatih, lalu menghancurkannya dengan aturan klan.
Betapa kejamnya.
Ia memanggil orang seperti itu sebagai kakak selama enam belas tahun. Betapa bodohnya dirinya.
Hatinya dipenuhi kebencian.
Kebencian terhadap Haris.
Kebencian terhadap Yasir.
Kebencian terhadap dirinya yang bodoh.
Dan kebencian terhadap kelemahannya hingga menyeret ibunya dalam masalah.
Namun kini ia tidak bisa berbuat apa-apa. Satu-satunya yang bisa ia lakukan adalah tetap hidup, demi menyelamatkan ibunya.
Zein berbalik, berjalan perlahan menuju pintu halaman keluarga Adikara. Ia tahu, jika ia tidak pergi sekarang, ia mungkin tidak akan bisa keluar hidup-hidup.
“Hmph! Mau pergi? Kau pikir bisa lolos?” Haris mendengus.
Ia melangkah cepat dan muncul di depan Zein. Tinju kerasnya menghantam dada Zein tanpa ampun.
“Puff!”
Zein memuntahkan banyak darah. Beberapa tulang rusuknya patah. Tubuhnya terlempar kembali ke halaman.
Kini kultivasinya telah hancur, sementara Haris adalah seorang di Alam Dasar tingkat sembilan. Tinju itu bisa menghancurkan batu, bagaimana mungkin tubuh Zein mampu menahan?
Tidak puas, Harris menginjak kedua kaki Zein dengan kekuatan penuh.
“Arrrrgh!”
Jeritan Zein memecah udara. Kedua kakinya patah seketika.
“Hahaha! Berani kau bersikap sombong? Bukankah kau tadi mau balas dendam? Bangunlah! Pukul aku! Dasar sampah!” Haris terus menginjak tulang kakinya sambil tertawa kejam.
Yasir hanya melihat tanpa berkata apa-apa.
Semua anggota keluarga Adikara pun hanya menonton tanpa peduli. Hanya sedikit yang menunjukkan rasa iba, namun tidak satu pun berani bertindak.
Betapa kejamnya keluarga ini.
Hati Zein sedingin es kuno.
Rasa sakit di tubuhnya sudah di luar batas, tetapi ia tetap menggigit bibir, menahan diri untuk tidak pingsan.
Ia hanya punya satu tekad: hidup.
Ibunya menunggunya.
Dendamnya harus dibalas.
“Cukup!”
Tiba-tiba, suara tua terdengar dari bagian terdalam kediaman keluarga Adikara.
“L-leluhur!”
Semua orang terkejut dan segera memberi hormat.
Haris pun segera berhenti.
Jika leluhur bicara, ia tidak berani menentang.
“Bagaimanapun juga, dia pernah menjadi anggota keluarga Adikara. Hukumannya sudah cukup. Usir saja dia. Tidak perlu membunuhnya.”
Suara tua itu terdengar tegas dan tak bisa dibantah.
“Baik!” jawab Yasir cepat.
Ia memerintahkan para pelayan, “Bawa anak itu dan lemparkan ke luar. Biarkan ia hidup atau mati sendiri.”
Zein yang setengah sadar merasakan tubuhnya diangkat, lalu dibuang ke sebuah kuil rusak di bagian timur Kota Nawasena.
Tempat itu adalah kawasan kumuh tempat para pengemis tinggal.
Namun Zein tahu, setidaknya nyawanya masih terselamatkan.
Begitu tekanan di hatinya hilang, ia pun pingsan.
Malam perlahan tiba, bintang-bintang mulai bermunculan.
Di jalan kecil dekat kuil rusak itu, seorang pria paruh baya berjalan mendekat.
Anehnya, meski langkahnya perlahan, tubuhnya bergerak seperti bayangan, hanya satu langkah namun jaraknya puluhan meter. Dalam sekejap pria itu masuk ke dalam kuil.
Ia memandang sekeliling sebelum akhirnya menatap Zein.
Saat melihat tubuh Zein yang babak belur, wajah pria itu justru menunjukkan kegembiraan.
“Betapa pekat darah Dewa Dan Iblisnya… Tak kusangka, setelah ratusan tahun mencari di dunia manusia, aku akhirnya menemukan pewaris yang cocok. Mulai hari ini, kaulah murid Arka Wiranata!” Pria itu tertawa dengan keras.
Ia memanggul Zein ke punggungnya dan menghilang ke dalam gelapnya malam.
Daftar bab
84 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








