
Kembalinya Sang Pewaris Terbuang
Naskah Semesta 🧸|Bersambung
- Jumlah kata
- 47.6K
- Popular
- 426
- Subscribe
- 75
- Jumlah kata
- 47.6K
- Popular
- 426
- Subscribe
- 75
Sinopsis
Pernikahan Akio Zavian Bagaskara (Zavian) dan Amanda Revalina Wijaya (Manda) terjadi berkat perjodohan yang dirancang oleh kakek Manda, Denio Wijaya (Kakek Denio). Dahulu, keluarga Zavian yang sangat kaya pernah berjasa besar kepada Kakek Denio. Setelah orang tua Zavian meninggal dan Zavian tumbuh miskin di panti asuhan, Kakek Denio berhasil menemukannya. Karena tahu identitas asli Zavian sebagai keturunan bangsawan serta ingin membalas budi, Kakek Denio bersikeras menjodohkannya dengan Manda. Meski ditentang keras oleh keluarga besar Wijaya—terutama orang tua Manda—karena Zavian dianggap miskin dan tidak punya masa depan, Manda tetap menerima pernikahan itu demi menghormati wasiat kakeknya. Walau berawal tanpa rasa cinta dan Zavian terus dihina oleh ibu mertuanya, Manda tetap setia dan memperlakukan Zavian dengan baik sebagai suami.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1.
Cahaya lampu gantung nan megah menerangi aula rumah keluarga Wijaya, memperjelas kemewahan acara ulang tahun Ibu Mira Kartika Wijaya—yang akrab disapa Ibu Mira—yang ke-70. Suasana begitu riuh dan hangat. Anak, cucu, hingga para menantu berkumpul menyiramnya dengan berbagai hadiah kelas atas.
"Nenek, aku tahu banget Nenek itu penyuka teh tua. Ini aku cari sampai setengah mati, teh Pu'er legendaris umur seratus tahun. Harganya hampir delapan ratus juta rupiah, khusus buat Nenek," ucap salah satu cucunya dengan nada membanggakan diri.
Cucu yang lain tak mau kalah, langsung menyahut, "Nah, kalau aku bawa ini, Nek. Karena Nenek rajin ibadah dan taat banget, aku persembahkan patung Buddha dari ukiran giok Hetian asli. Harganya satu miliar lebih!"
Ibu Mira tertawa lebar, matanya berbinar-binar menatap tumpukan bingkisan mewah di hadapannya. Gelak tawa dan pujian saling bersahut-sahutan di dalam ruangan.
Namun, suasana hangat itu mendadak buyar saat Akio Zavian Bagaskara—menantu tertua di keluarga itu—tiba-tiba melangkah ke tengah ruangan dan mengutarakan permohonan yang cukup nekat.
"Nenek... kalau boleh, Zavian mau pinjam uang satu setengah miliar. Bu Sandra yang dulu merawat Zavian di panti asuhan kena gagal ginjal parah, Nek. Zavian butuh biaya buat pengobatannya..."
Seketika aula hening. Gemerlap pesta seolah terhenti. Semua mata tertuju ke arah Zavian dengan tatapan tak percaya. Boro-boro membawa kado mewah seperti cucu-cucu yang lain, pria itu datang tanpa membawa apa-apa dan malah berniat meminjam uang fantastis di hari bahagia sang kepala keluarga!
Tiga tahun lalu, almarhum Kakek Denio membawa Zavian yang sebatang kara dan miskin ke rumah ini, lalu memaksanya menikah dengan Amanda Revalina Wijaya, cucu kesayangannya. Setelah Kakek Denio wafat tak lama setelah pernikahan itu, praktis seluruh keluarga Wijaya berusaha menendang Zavian keluar. Namun Zavian memilih bertahan dan tak ambil pusing; ia menerima stigma sebagai 'menantu numpang hidup' dan menjalani harinya dengan tenang.
Tapi hari ini beda cerita. Zavian benar-benar terdesak.
Bu Sandra, sosok yang sudah dianggap seperti ibu kandungnya sendiri, butuh biaya besar untuk cuci darah dan transplantasi ginjal. Zavian terpaksa menebalkan muka dan membuang harga dirinya, berharap ada sedikit belas kasihan dari Ibu Mira di hari ulang tahunnya ini.
Namun, bukannya simpati yang didapat, senyum manis Ibu Mira justru lenyap seketika, berganti raut wajah merah padam karena murka.
Prak!
Cangkir teh porselen di tangannya dibanting ke lantai hingga hancur berkeping-keping.
"Kurang ajar! Kamu datang ke sini bukannya mendoakan saya supaya umur panjang, malah bikin rusuh dan minta uang?!" bentak Ibu Mira.
Amanda yang panik langsung mendekati neneknya, mencoba meredakan situasi.
"Nenek, maafin Mas Zavian... Dia lagi bingung makanya ngomong sembarangan. Tolong jangan marah, Nek." Amanda lalu buru-buru menarik lengan suaminya ke samping.
Melihat momen itu, Alana Olivia Wijaya, sepupu Amanda, langsung mendecih sinis. "Duh, Manda... lihat tuh kelakuan suamimu! Mas Ryan ini statusnya baru tunanganku, tapi dia tahu tata krama. Mas Ryan tetap bawain Nenek patung Buddha giok yang mahal. Lah, suamimu? Datang tangan kosong, malah nodong uang sekian miliar! Muka ditaruh di mana, sih?"
Ryan Putra Arkalanka, tunangan Alana yang merupakan anak pengusaha terpandang, ikut menyunggingkan senyum remeh. Sejujurnya, Ryan selalu dongkol setiap melihat Zavian. Bagi Ryan, sangat tidak adil rasanya perempuan tercantik di Kota Mawar seperti Amanda harus bersanding dengan pria yang tak punya masa depan seperti Zavian.
"Betul itu," timpal Ryan bernada menyindir. "Kita ini sama-sama menantu di keluarga Wijaya, tapi kelakuanmu betul-betul bikin malu!"
"Udah deh, usir aja si beban ini!"
"Bikin kotor pemandangan aja!"
"Jangan-jangan dia sengaja mau ngerusak acara ulang tahun Nenek!"
Cemoohan beruntun meluncur dari mulut kerabat keluarga Wijaya. Zavian mengepalkan tangannya rapat-rapat, menahan gemuruh amarah di dadanya. Kalau bukan demi nyawa Bu Sandra yang di ujung tanduk, ia pasti sudah melangkah pergi dari tempat penuh kesombongan ini sejak tadi.
Zavian menghela napas panjang, menekan dalam-dalam rasa hinanya. Ia kembali menatap Ibu Mira dan berkata lirih, "Nenek... menyelamatkan satu nyawa itu sama seperti menyelamatkan seluruh dunia. Zavian mohon, Nek, ketuk hati Nenek sedikit saja..."
Bagas Jovan Wijaya, adik Alana, menyela dengan tawa mengejek. "Halah! Nggak usah sok puitis pakai bawa-bawa agama atau kemanusiaan segala, Zav! Kalau mau sok jadi pahlawan, pakai uang sendiri! Kamu pikir kamu siapa berani ngatur-ngatur uang Nenek?"
Amanda yang tidak tega melihat suaminya makin dipojokkan akhirnya angkat bicara. "Nenek... Mas Zavian itu yatim piatu sejak umur delapan tahun. Ibu Sandra yang merawat dan membesarkan dia di panti. Mas Zavian cuma mau balas budi, Nek... Apa Nenek nggak bisa pertimbangkan untuk bantu sedikit aja?"
Ibu Mira memicingkan mata, lalu menyunggingkan senyum dingin. "Mau saya bantu? Boleh. Gampang syaratnya! Kamu ceraikan si Zavian ini sekarang juga, terus kamu nikah sama Pak Aditya! Kalau kamu mau, detik ini juga saya transfer uang satu setengah miliar itu ke rekening suamimu!"
Aditya Dirgantara yang dimaksud Ibu Mira adalah putra dari keluarga pengusaha kaya di Kota Mawar. Meski tahu Amanda sudah bersuami, Pak Aditya kerap mengejar dan mendekati Amanda. Keluarga Wijaya tentu sangat ingin berbesan dengan keluarga Dirgantara yang punya pengaruh jauh lebih besar.
Belum sempat Amanda merespons, seorang pelayan rumah bergegas masuk dengan wajah berseri-seri.
"Permisi, Ibu Mira! Ada titipan kado dari Pak Aditya Dirgantara! Beliau mengirimkan jimat giok ukiran Buddha senilai lima miliar rupiah!"
Seketika aula gempar. Pelayan itu membuka kotak beludru dan memperlihatkan jimat berwarna hijau zamrud yang begitu bening dan sempurna. Pendar mewahnya membuat seluruh tamu terpana. Ryan yang tadi sempat berbangga diri dengan hadiahnya seketika mengatupkan bibir, merasa tersaingi.
Raut wajah Ibu Mira berubah drastis menjadi sangat cerah. "Aduuh, Pak Aditya itu memang pengertian banget ya! Beda kelas! Coba kalau dia yang jadi cucu menantuku, alangkah bahagianya..."
Ibu Mira lalu menatap Amanda dengan pandangan menuntut. "Gimana, Manda? Kamu dengar sendiri, kan? Masih mau mempertahankan laki-laki nggak berguna ini?"
Amanda menggeleng tegas tanpa ragu. "Enggak, Nek. Sampai kapan pun Manda nggak akan pernah ceraikan Mas Zavian."
Seketika raut wajah Ibu Mira kembali dingin dan membatu. "Dasar anak tak tahu untung! Mau sampai kapan kamu buang-buang waktu sama laki-laki pemalas ini?! Keluar dari rumah saya! Saya nggak mau lihat muka si Zavian ini lagi di acara saya!"
Zavian mengembuskan napas berat. Rasa kecewanya sudah memuncak. Tempat ini memang bukan untuknya. Ia menoleh ke arah Amanda dan berbisik pelan, "Dek, Mas ke rumah sakit dulu ya, mau lihat keadaan Bu Sandra."
"Aku antar ya, Mas?" Amanda memegang lengan suaminya, khawatir.
Melihat itu, suara Ibu Mira kembali menggelegar. "Amanda! Kalau kamu melangkah keluar dari pintu itu sekarang bersama dia, kamu bukan lagi cucuku! Kamu, ibumu, dan ayahmu bisa angkat kaki sekalian dari rumah keluarga Wijaya!"
Amanda terpaku, tidak menyangka neneknya bisa sekejam itu.
Zavian menahan bahu istrinya, memberikan tatapan menenangkan. "Jangan, Dek. Kamu tetap di sini aja. Biar Mas sendiri yang urus."
Tanpa menunggu balasan dari siapa pun, Zavian berbalik dan berjalan mantap keluar dari aula.
Di belakangnya, suara tawa Bagas menggema tajam. "Woi, Zavian! Kalau pergi jangan lupa bawa tempat makan ya, siapa tahu nanti malam kamu kudu mengemis di pinggir jalan! Nih, tak kasih uang dua ribu rupiah buat beli kerupuk, biar nggak kelaparan!"
Uang kertas lusuh itu dilemparkan ke dekat kaki Zavian, disambut gelak tawa riuh dari kerabat lainnya. Zavian menggertakkan giginya rapat-rapat, menahan gejolak di dadanya, lalu terus melangkah tanpa berbalik sedikit pun.
Sesampainya di rumah sakit, Zavian langsung menuju bagian kasir. Niatnya sederhana: ingin menawar dan memohon penangguhan pembayaran biaya perawatan Bu Sandra selama beberapa hari ke depan.
Namun, petugas kasir justru memberikan kabar yang mengejutkan. Bu Sandra rupanya sudah dipindahkan sejak semalam ke Rumah Sakit Kencana, fasilitas medis paling canggih yang berada di Kota Sagara.
"Biayanya berapa, Suster?" tanya Zavian panik. "Tolong beri tahu saya, saya pasti cari jalan keluar buat bayar!"
Suster itu melihat layar komputer sejenak. "Total biaya perawatan dan operasi keseluruhannya sekitar empat setengah miliar rupiah. Satu setengah miliar sudah ada yang melunasi, jadi sisa tiga miliar lagi yang harus diselesaikan dalam kurun waktu seminggu ini."
Zavian mengerutkan kening. "Satu setengah miliar sudah dibayar? Sama siapa, Sus?"
"Wah, kalau itu saya kurang tahu, Mas. Di sistem cuma tertulis sudah terbayar."
Dengan pikiran membumbung penuh tanda tanya, Zavian berbalik hendak keluar. Baru beberapa langkah, seorang pria paruh baya berambut uban dengan setelan jas hitam yang sangat rapi berjalan mendekatinya.
Pria itu menghentikan langkah tepat di hadapan Zavian, lalu membungkukkan badannya dengan sangat hormat.
"Tuan Muda... Akhirnya kami berhasil menemukan Anda. Saya memohon maaf yang sebesar-besarnya atas segala penderitaan yang Tuan Muda alami selama ini..."
Daftar bab
38 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








