
Return : Kehidupan di Dunia Lain dari Nol
Darwy-Aj|Bersambung
- Jumlah kata
- 31.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
- Jumlah kata
- 31.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 3
Sinopsis
Berawal dari langkah sederhana keluar dari minimarket dengan kantong plastik berisi mi instan dan soda, Ren mendadak terlempar ke dunia fantasi yang asing. Berbekal imajinasi konyol menjadi pahlawan impian dengan kekuatan super, kenyataan justru menamparnya keras—tidak ada dewi yang menyambut, tidak ada papan status sihir, dan uang kertas dari dunianya sama sekali tidak bernilai sepeser pun. Kepongahan dan kenaifan Ren membawanya ke dalam nasib tragis. Saat mencoba berakting layaknya protagonis di sebuah gang sempit, ia justru dihajar dan ditikam hingga tewas oleh kawanan preman lokal. Namun, kematian bukanlah akhir dari segalanya. Disentak oleh tarikan dingin yang misterius, Ren mendadak terbangun kembali di tengah alun-alun kota—utuh, tanpa luka, dan masih menggenggam kantong plastik yang sama persis beberapa saat sebelum ia terbunuh. Terjebak dalam kemampuannya untuk mengulang waktu setiap kali nyawanya melayang, Ren harus memutar otak dan mengesampingkan keangkuhannya demi bertahan hidup di dunia baru yang sama sekali tidak ramah.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Titik Nol
Rasa kantuk Ren seketika menguap begitu angin hangat beraroma rempah menyengat hidungnya. Detik sebelumnya, ia baru saja melangkah keluar dari pintu kaca minimarket langganannya sebuah ritus malam biasa dengan membawa kantong plastik berisi mi instan, keripik kentang, dan soda. Malam yang sunyi dengan deru kendaraan di kejauhan adalah dunianya.
Namun, saat ia mengucek matanya yang perih, langit malam bertabur bintang itu lenyap.
Cahaya matahari terik menghantam wajahnya. Suara hiruk-pikuk manusia dan entah suara makhluk apa lagi merobek kesunyian. Ren berdiri terpaku di tengah alun-alun batu yang luas. Di sekelilingnya, orang-orang berdandan seperti karakter gim abad pertengahan. Bahkan, ada pria berwajah kadal bersisik hijau yang santai menuntun unggas bertubuh raksasa.
"T-Tunggu sebentar..." Ren bergumam, memegang kepalanya yang mendadak pusing.
Ia menatap pakaiannya: jaket olahraga hijau dan celana kain longgar, sepatu kets aus, serta kantong plastik minimarket yang masih setia menggantung di jarinya. Ia memandang sekeliling, matanya berbinar dengan kepongahan yang tak terbendung.
"Ini dia! Ini benar-benar terjadi!" teriak Ren histeris, membuat beberapa warga berwajah kelinci menatapnya aneh. Ren tidak peduli. Jiwa konyolnya bergelora. "Aku dipanggil ke dunia lain! Pemanggilan pahlawan yang legendaris! Mana dewi cantik yang seharusnya memberikanku kekuatan cheat luar biasa? Tunjukkan dirimu!"
Ren merentangkan kedua tangannya ke langit, mengambil pose dramatis ala pahlawan anime favoritnya. Ia menunggu. Satu detik, dua detik, tiga detik. Tidak ada lingkaran sihir. Tidak ada layar status transparan yang mengambang di udara layaknya gim VR.
"Buka status!" serunya agak keras. Hening.
"Menu Utama! Elemen Sihir Rasial!" gertaknya lagi, jari-jarinya menari di udara kosong. Tetap tidak ada reaksi apa pun.
Sensasi dingin kebingungan merayap di tengkuknya. Ren berdeham, mencoba bersikap keren sembari berjalan mendekati kedai buah-buahan berdinding kayu. Di sana berjejer buah berukuran besar mirip apel berwarna ungu keemasan.
"Hei, Paman! Aku sang pahlawan terpilih dari dunia asing," ucap Ren dengan nada menantang yang dibuat-buat. "Berapa harga buah aneh ini? Dan bisakah aku membayarnya dengan ini?" Ren mengeluarkan selembar uang kertas pecahan puluhan ribu dari dompetnya.
Pedagang berbadan kekar itu menatap Ren dari atas ke bawah, lalu meludah ke tanah. "Uang sampah macam apa itu, Bocah? Jangan mengganggu jika tidak punya keping perak atau tembaga! Dan baju aneh apa yang kau pakai? Pergi sebelum kupanggil penjaga kota!"
Ren tersentak, mundur beberapa langkah sambil tertawa canggung. "A-Aha... bercanda sedikit tidak masalah, kan? Dasar paman tidak punya rasa humor."
Ia berbelok meninggalkan keramaian pasar. Kepercayaan dirinya yang tadi meluap-luap mulai tergerus oleh cemas yang menusuk. Ia merogoh saku, mengeluarkan ponsel pintarnya. Layarnya menyala, menunjukkan sisa baterai delapan puluh persen, namun tulisan 'Tidak Ada Layanan' berdiri kokoh di sudut atas.
"Kenyataan ini agak menyebalkan," gumam Ren seraya mengusap rambutnya. "Tidak ada sihir awal? Tidak ada pedang suci? Bahkan ponselku cuma bisa dipakai jadi senter! Bagaimana aku bertahan di tempat seperti ini tanpa uang sepeser pun?"
Sambil mengomel panjang lebar untuk menutupi kepanikan, Ren melangkah masuk ke gang sempit yang sepi. Ia berpikir, mungkin di gang ini ia akan bertemu gadis bangsawan yang sedang dikejar penjahat, lalu ia bisa menyelamatkannya dan mendapatkan kehidupan mewah. Itu skenario klasik yang selalu ia baca.
Namun, bukannya menemukan gadis cantik, Ren justru dihadang tiga pria berbadan tegap dengan pakaian kulit lusuh dan wajah penuh parut luka. Pria terdepan memegang sebilah pisau belati berkarat.
"Wah, lihat apa yang tersesat di gang kita," kekeh pria berambut merah kusam. "Baju yang sangat halus dan aneh. Serahkan semua barang berharga yang kau punya, Bocah, jika masih ingin bernapas."
Ren menelan ludah. Jantungnya berdegup kencang, menghantam dada seperti genderang perang. Namun, sifatnya yang tidak mau terlihat lemah dan sok berani mendadak mengambil alih tubuhnya. Ia menyeringai tipis, mencoba memasang wajah percaya diri seorang protagonis.
"Kalian bertiga sungguh tidak beruntung," ujar Ren dengan nada sombong, melipat dadanya. "Kalian sedang berhadapan dengan orang yang mungkin saja memegang takdir dunia ini! Jika kalian mundur sekarang, aku mempertimbangkan untuk memaafkan ketidaksopanan kalian!"
Pria berambut merah itu menatap dua temannya, lalu mereka tertawa terbahak-bahak. Sebelum Ren sempat bereaksi atau memperagakan jurus bela diri yang pernah ia tonton, sebuah pukulan mentah mendarat telak di rahang kirinya.
BUAK!
Dunia Ren berputar hebat. Ia tersungkur keras ke tanah yang kotor dan lembap. Plastik belanjaannya terlepas, isi mi instannya berserakan. Rasa sakit yang luar biasa menjalar dari rahangnya, membuat matanya berkaca-kaca.
"Brengsek! Kenapa sakit sekali?!" jerit Ren sambil meringis, memegangi pipinya yang bengkak. Ini bukan simulasi. Ini bukan mimpi. Rasa sakit ini terlalu nyata.
"Banyak bicara kau, Bocah Gila!" bentak preman itu, lalu menendang perut Ren tanpa belas kasihan.
"Ugh-!" Ren terbatuk hebat, napasnya terputus. Rencana mulianya runtuh seketika. Tidak ada kekuatan super yang mendadak bangkit dari dalam dirinya. Ia hanyalah remaja biasa yang tidak pernah bertarung seumur hidupnya. Rasa takut yang murni dan mengerikan kini mencengkeram jiwanya.
"T-Tunggu... maafkan aku! Ambil saja plastiknya! Ambil ponselku!" jerit Ren panik, merangkak mundur dengan wajah pucat pasi. "Tolong jangan bunuh aku!"
Namun, preman dengan pisau itu tidak menunjukkan belas kasihan. Wajahnya mengeras karena jengkel dengan racauan Ren. Dengan satu gerakan cepat dan dingin, ia menghujamkan bilah belati karat itu tepat ke dada sebelah kiri Ren.
JLB!
Sensasi dingin yang janggal menusuk dalam-dalam, disusul oleh rasa terbakar yang tak tertahankan. Ren membelalakkan matanya lebar-lebar. Ia menunduk dan melihat gagang pisau tertancap di dadanya. Darah merah pekat mulai merembes deras, membasahi jaket hijau kesayangannya.
"A... apa...?" bisik Ren. Suaranya tercekat di tenggorokan, tersumbat oleh cairan amis yang mulai merembes keluar dari mulutnya.
Kekuatannya terkuras habis dalam hitungan detik. Lututnya melemas, dan tubuhnya ambruk terlentang menatap langit biru yang membiru tajam di atas gang. Penglihatannya perlahan kabur, berubah menjadi bintik-bintik hitam yang kian membesar. Dingin yang membekukan merayap dari ujung jari-jarinya menuju jantung.
Mati? Aku akan mati di sini? Baru saja tiba di dunia lain... tanpa melakukan apa-apa... secara konyol seperti ini?
Penyesalan, ketakutan, dan keputusasaan yang teramat sangat menyelimuti kesadarannya yang kian meredup. Detik jantungnya melambat... satu... lalu berhenti total. Keseluruhan dunianya runtuh ke dalam kegelapan abadi yang pekat dan hampa.
Namun, kegelapan itu tidak berlangsung lama.
Di tengah kehampaan tanpa suara, sebuah sensasi tarikan yang sangat kuat dan dingin menyentak jiwanya. Seperti ditenggelamkan ke dalam air es lalu ditarik paksa ke permukaan, Ren meledak dalam satu helaan napas yang hebat.
"GASP-!"
Ren membuka matanya lebar-lebar, terengah-engah seolah baru saja tenggelam selama berjam-jam. Tangan kanan refleks mencengkeram dadanya dengan gemetar hebat. Tidak ada darah. Tidak ada luka goresan. Jaket hijaunya utuh sempurna. Rasa sakit yang mematikan tadi lenyap tanpa bekas.
"Bocah! Jika tidak punya uang, jangan menghalangi daganganku!"
Suara teriakan bernada kasar itu menghantam gendang telinganya. Ren menoleh dengan patah-patah. Di depannya, berdiri pedagang kekar berwajah galak yang sedang memegang buah ungu keemasan. Di sekelilingnya, suasana alun-alun kota yang bising, manusia bertelinga kelinci, dan pria berwajah kadal yang menuntun burung raksasa kembali terlihat jelas di bawah terik matahari.
Di tangan kirinya, Ren masih menggenggam erat kantong plastik minimarket yang berisi mi instan dan soda.
Ia berdiri terpaku di tempatnya semula, jantungnya berdegup kencang bak deru mesin, sementara pikirannya terombang-ambing antara kegilaan dan kenyataan ganjil yang baru saja ia lewati.
Daftar bab
24 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








