
Terdampar di Planet para wanita
Syair Malam|Bersambung
- Jumlah kata
- 36.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 18
- Jumlah kata
- 36.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 18

Syair Malam|Bersambung
Perjalanan Angga, seorang peneliti muda berlatar belakang arkeologi dan kebumian dari Indonesia, berubah menjadi sebuah petualangan tak terbayangkan saat ia menyusuri lereng Gunung Lawu. Berbekal petunjuk dari catatan lontar kuno peninggalan kakek buyutnya, Angga berniat membuktikan keberadaan Siti Retna, sebuah gerbang gaib antar-dimensi yang konon hanya terbuka pada saat konfigurasi bintang tertentu. Di tengah celah batu granit raksasa yang diapit pohon beringin tua, ia menemukan pusaran kabut keperakan berputar simetris yang memancarkan aroma bunga melati dan cendana. Rasa penasaran ilmiah mendorong Angga menyentuh tepi kabut tersebut. Seketika itu pula, dorongan gravitasi dahsyat menyedotnya ke dalam lorong waktu yang melingkupi kilatan cahaya dan nada-nada ghaib. Saat tersadar dari terhempasnya di atas hamparan rumput keemasan, Angga menyadari dirinya tidak lagi berada di Bumi. Langit di atas kepalanya berwarna ungu kemerahan dihiasi dua bulan perak yang mengambang anggun di siang hari. Tanpa disadarinya, ia telah terlempar ke Planet Venus—sebuah alam dimensi lain yang terhubung dengan sejarah purba leluhur Nusantara. Keberadaan Angga langsung terdeteksi oleh pasukan prajurit wanita berzirah perunggu yang memimpin patroli wilayah perbatasan Kerajaan Bidadari. Dipimpin oleh Kapten Nyi Pandan Arum, pasukan tersebut mengepung Angga dengan senjata terkokang. Guncangan emosi melanda para prajurit saat menyadari bahwa sosok asing di hadapan mereka yang berbicara dalam bahasa luhur yang fasih adalah seorang pria murni. Di Planet Venus, seluruh populasi pria telah punah ribuan tahun silam akibat peristiwa perang saudara dan kutukan purba, sehingga kaum wanita mempertahankan keturunan melalui ritual penyucian air suci. Kehadiran seorang pria nyata yang selama ini hanya hidup dalam mitologi kuno langsung menjadi keajaiban besar sekaligus ancaman politik yang sangat berbahaya.
Bau tanah basah akibat hujan deras yang mengguyur sejak semalam masih menyeruak kuat di udara, bercampur dengan aroma khas daun pinus dan humus pegunungan. Angga menyusuri jalan setapak yang licin dan berlumut di lereng timur gunung kawu. Pemuda berusia dua puluh empat tahun itu menarik napas dalam-dalam, menikmati udara dingin khas pegunungan yang menusuk hingga ke celah-celah tulang rusuknya. Langkah kakinya terdengar teratur, beradu dengan ranting-ranting kering yang patah di bawah pijakan sepatu gunungnya. Sebagai seorang peneliti muda di bidang arkeologi dan kebumian yang baru saja menyelesaikan pendidikan sarjananya, Angga selalu memiliki ketertarikan magis terhadap cerita-cerita rakyat dan situs sejarah yang menyelimuti pegunungan di perbatasan Jawa Tengah dan Jawa Timur tersebut.
Namun, kedatangannya di lereng Gunung Lawu kali ini sama sekali bukan untuk berwisata, bernostalgia, atau sekadar melakukan kegiatan pendakian akhir pekan. angga datang membawa sebuah misi pribadi yang didorong oleh rasa penasaran ilmiah yang membara. Ia berniat membuktikan keberadaan sebuah catatan kuno dari daun lontar bertuliskan aksara Jawa Kuno (Hanacaraka) yang ia temukan secara tidak sengaja di dalam peti kayu tua peninggalan kakek buyutnya di museum keluarga. Catatan lontar yang sudah sangat rapuh itu menyebutkan tentang Siti Retna, sebuah gerbang gaib antar-dimensi yang konon hanya akan terbuka pada saat konfigurasi bintang-bintang tertentu berada dalam garis lurus yang sejajar dengan puncak suci gunung tersebut.
Angga membetulkan letak tali ransel hitam tebal di bahunya. Ransel itu berisi berbagai peralatan navigasi modern seperti kompas digital, pemancar sinyal satelit, senter bertenaga surya, kamera dokumentasi, serta beberapa buku catatan penelitian yang sampul kulitnya mulai mengelupas. langkah kakinya yang mantap dan terlatih sebagai pemanjat tebing mendadak terhenti ketika ia sampai di sebuah lorong alami di antara celah batu granit raksasa. Celah batu itu dihimpit oleh dua pohon beringin tua berukuran amat besar yang akarnya menjalar cengkeram seperti jemari raksasa yang mencengkeram bumi.
Di tengah celah batu tersebut, sebuah fenomena aneh langsung menyedot perhatian Angga. Kabut tebal berwarna keperakan bergulung-gulung dengan cara yang sangat tidak masuk akal. Kabut itu tidak tertiup oleh angin dingin pegunungan yang berembus kencang, melainkan berputar secara perlahan di tempatnya, membentuk sebuah lingkaran simetris yang sangat sempurna bagaikan pusaran air keemasan. Bau udara di sekitar pusaran kabut itu pun mendadak berubah, aroma tanah wetan yang basah hilang berganti dengan wewangian bunga melati yang amat semerbak dipadu dengan harum minyak kayu cendana yang menenangkan jiwa.
Angga menarik napas panjang, mencoba menetralkan detak jantungnya yang mulai berdebar lebih cepat. Ia mengeluarkannya kompas digital dari saku depan jaket outdoor-nya untuk memeriksa koordinat lokasi. Namun, saat layar kompas itu menyala, jarum penunjuk arah berputar-putar secara liar tanpa henti. Angka-angka koordinat pada layar LCD berkedip-kedip cepat sebelum akhirnya layar itu redup dan mati total, seolah-olah seluruh energi baterainya tersedot oleh medan magnet raksasa yang tersembunyi di balik kabut tersebut.
"Aneh sekali... medan elektromagnetiknya bergejolak hebat," bisik angga pada dirinya sendiri dengan nada heran. Rasa penasaran ilmiah yang membuncah di dalam dadanya seketika mengalahkan rasa takut yang sempat terbersit di sanubarinya. Tanpa ragu, Angga melangkah lebih dekat ke arah celah batu berpenghuni kabut keperakan itu. Perlahan-lahan, ia mengulurkan tangan kanannya, mengarahkan jemarinya untuk menyentuh tepi pusaran kabut yang berputar gemulai.
Saat jemarinya menyentuh batas luar kabut tebal itu, Angga tidak merasakan sensasi dingin atau basah seperti kabut pada umumnya. Sebaliknya, sebuah hawa hangat yang sangat lembut memancar dari dalam pusaran, mirip dengan usapan sinar matahari pagi di kulit. Namun, sebelum Angga sempat menarik kembali tangannya untuk mencatat fenomena langka tersebut ke dalam buku penelitiannya, sebuah dorongan gravitasi yang sangat dahsyat secara mendadak menyembur dari dalam celah batu.
Dunia di sekitar Angga mendadak berputar balik dengan kecepatan yang menakutkan. Pemandangan dua pohon beringin tua, jalan setapak berlumut, dan langit biru pegunungan lenyap dalam sekejap mata. Posisinya terlempar ke dalam sebuah lorong tak berujung yang dipenuhi oleh kilatan-kilatan cahaya merah keemasan dan ungu yang menyilaukan mata. Angga terlempar melayang di udara, merasa seolah-olah seluruh molekul di dalam tubuhnya ditarik dan dirajut kembali saat melewati ruang dan waktu. Angin kencang bersiul nyaring di telinganya, menyuarakan alunan nada-nada asing yang mirip dengan tembang Jawa kuno, namun dipadukan dengan irama yang jauh lebih ghaib dan menggetarkan dada.
Guncangan dahsyat menghantam tubuh Angga ketika ia akhirnya terhempas dan jatuh terjerembab di atas hamparan rumput tebal berwarna jingga keemasan. Punggungnya terasa nyeri dan pandangan matanya kabur akibat silauan cahaya. Kepalanya terasa pening luar biasa, seolah-olah otaknya baru saja dikocok oleh pusaran angin topan. Angga terbatuk-batuk hebat, berusaha menghirup udara segar untuk menenangkan dadanya yang bergemuruh. Namun, udara yang masuk ke dalam paru-parunya terasa sangat berbeda dari udara pegunungan Lawu—udara di tempat ini terasa begitu kaya akan oksigen, harum seperti wewangian melati murni dan asap dupa kayu cendana, serta memancarkan energi hangat yang menyegarkan seluruh sel tubuhnya.
Dengan bersusah payah, Angga mencoba bangkit dari posisinya, bertumpu pada kedua tangan dan lututnya. Ketika pandangan matanya berhasil menyesuaikan diri dengan intensitas pencahayaan di tempat asing tersebut, Angga seketika terpana hingga mulutnya sedikit ternganga. Langit di atas kepalanya sama sekali tidak berwarna biru, melainkan berwarna ungu kemerahan yang dihiasi oleh nuansa keemasan yang sangat menawan. di kejauhan langit, tampak dua buah bulan berukuran kecil berwarna perak mengambang bersisian secara anggun di siang hari.
Namun, yang paling mengejutkan bagi jiwa arkeolognya adalah pemandangan megah yang terhampar tepat di depannya. Sebuah benteng batu hitam raksasa berukir relief rumit khas candi-candi Jawa kuno berdiri dengan sangat kokoh di kaki bukit. Benteng itu dikelilingi oleh pepohonan rimbun berdaun kuning emas yang berkilauan indah ditimpa cahaya langit ungu.
Angga dengan cepat memeriksa kondisi tubuh dan pakaiannya. Jaket tebal dan celana panjang jalannya masih utuh, meski kini tercemar debu halus berwarna keemasan dari tanah yang ia tempati. Saat ia mengulurkan tangan untuk meraih ransel hitamnya yang terlempar beberapa meter di sampingnya, suara langkah kaki yang sangat halus namun terstruktur rapi mendadak terdengar dari balik semak-semak berdaun merah di sekelilingnya.
Angga serta-merta menegang dan memasang posisi siaga. Dari balik pepohonan keemasan, muncul puluhan sosok prajurit yang mengenakan kemben kain jarik berukir motif batik emas dan armor dada dari logam perunggu yang mengkilap dipoles sempurna.
Angga menahan napasnya dalam-dalam. Semua prajurit yang kini mengepung dirinya yang semua adalah wanita. Mereka memiliki paras yang sangat jelita dengan kulit kuning langsat, rambut hitam panjang yang sebagian terurai dan sebagian disanggul rapi dengan mahkota kecil, serta tatapan mata yang tajam bagaikan mata burung elang yang siap menyambar mangsa. Mereka memegang tombak panjang berujung runcing dan panah tradisional bertatahkan ukiran emas yang sudah terkokang mantap ke arah dadanya.
Angga sama sekali belum menyadari bahwa dirinya baru saja menginjakkan kaki di Planet asing sebuah dunia rahasia di dimensi lain yang terhubung melalui gerbang gaib, sebuah kerajaan megah yang seluruh penghuninya adalah kaum wanita, tempat di mana kehadiran seorang pria murni adalah sebuah keajaiban besar sekaligus awal dari perebutan kekuasaan yang sengit.
Desir angin berembus perlahan, mengibarkan selendang-selendang sutra warna-warni yang melilit rapi di pinggang para prajurit wanita tersebut. Angga berusaha menegakkan dadanya dan berdiri perlahan, meskipun rasa bingung dan terkejut masih mencengkeram erat benaknya. Ia memandang sekeliling, mencoba menilai kekuatan lawan dan mencari celah untuk melarikan diri jika situasi mendadak memburuk. Namun, barisan prajurit wanita itu terlalu teratur, rapi, dan rapat. Setiap gerak-gerik kecil yang dilakukan Angga diawasi secara intensif oleh puluhan pasang mata indah yang memancarkan aura ketegasan militer sekaligus keheranan yang tak terhingga. Tidak ada bisikan, tidak ada gerak tambahan yang sia-sia; suasana di pelataran rumput keemasan itu mendadak hening dan tegang bagaikan di dalam lubang kubur.
Hingga akhirnya, seorang wanita bertubuh jangkung dengan mahkota kecil berukir naga emas melangkah maju dari tengah barisan prajurit. Langkah kakinya yang anggun dan berwibawa tidak mengurangi sedikit pun kesan mengancam dari pedang bersarung kayu jati ukir yang bergantung di pinggang kirinya. matanya yang berwarna cokelat terang menatap langsung ke dalam manik mata Angga, seolah ingin menembus hingga ke dasar jiwa pemuda tersebut. Kehadiran Angga di tanah suci mereka jelas telah merobek ketenangan dan kedamaian yang terjaga rapat selama ribuan tahun
32 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
Lanjutkan membaca di aplikasi
Buka aplikasi untuk membaca bab terkunci.