
- Jumlah kata
- 38.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 7
Sinopsis
Mahesa adalah murid Perguruan Embun Perak yang paling jenius. Ketika semua jurus Perguruan sudah dia kuasai, gurunya mengatakan bahwa untuk menyempurnakan semua ilmunya dia harus memasuki Lembah Sunyi, sedangkan setiap orang yang masuk ke Lembah Sunyi biasanya tidak kembali. Ada yang pernah ke luar dari Lembah tersebut malah menjadi gila. Mahesa ketika di Lembah sunyi ternyata dia memahami semua jurus ada hubungannya dengan alam. Itulah sebabnya ketika keluar dari Lembah Sunyi dia suka ngomong sendiri dengan alam.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1 Orang Yang Bicara Dengan Awan
Di kaki Gunung Kerinci yang puncaknya kerap tersembunyi di balik kabut tebal, Desa Karang Mumus tidur tenang di bawah naungan pohon beringin raksasa yang usianya sudah tak diingat siapa pun. Udara pagi di sini selalu berbau tanah basah, daun jati yang gugur, dan aroma dupa yang menyembul dari gapura keramat di pinggir hutan. Orang-orang desa hidup sederhana: menanam padi, memelihara kerbau, menghormati leluhur, dan takut pada hal-hal yang tidak mereka pahami.
Dan hal yang paling tidak mereka pahami adalah Mahesa.
Mahesa tidur di dahan tertinggi beringin tua itu. Bukan di bawahnya, bukan di gubuk di sampingnya melainkan di dahan yang melengkung seperti punggung naga, tempat yang bahkan kera hutan pun enggan panjat. Ketika matahari terbit, ia tidak turun untuk menyapa, melainkan berbaring menyamping, satu lengan menyangga kepala, sementara mata kirinya menatap langit dan mata kanannya seolah tertutup kabut tipis.
“Hari ini anginnya malas,” katanya pada awan yang melintas pelan, seolah awan itu kawan lama yang terlambat datang berkunjung. “Kau berjalan lambat sekali. Apakah sepatumu rusak?”
Awan tentu tidak menjawab. Tapi bagi Mahesa, keheningan itu bukan kesunyian itu percakapan yang sedang dipikirkan lawan bicaranya.
Warga desa yang lewat menunduk, mempercepat langkah, tidak berani menatap ke atas. Mereka sudah terbiasa. Sejak tujuh tahun lalu, sejak ia pulang dari gunung sendirian, pakaian compang-camping, matanya berbinar aneh, dan mulutnya tak pernah berhenti berbisik pada benda-benda yang tidak bernyawa, Mahesa sudah menjadi kisah yang dituturkan sambil berbisik.
“Dulu dia murid terpintar Perguruan Embun Perak.”
“Katanya dia jatuh ke lembah tak bertuan.”
“Ilmunya mungkin masih utuh, tapi akalnya yang patah.”
Mahesa mendengar bisikan itu. Telinganya tajam sekali, jauh lebih tajam daripada telinga burung elang yang mengintai mangsa dari ketinggian. Ia mendengar setiap kata, setiap helaan napas yang penuh rasa iba atau ketakutan. Tapi ia tidak marah. Ia hanya tersenyum, lalu berkata pada angin, “Mereka bicara pelan sekali. Seolah rahasia mereka ini milik orang lain.”
Siang itu, suasana tenang Desa Karang Mumus pecah.
Langkah kaki berat menggetarkan tanah. Empat orang berpakaian seragam kuning keemasan, lambang naga melingkar di dada, berjalan beriringan. Wajah mereka kaku, mata menatap lurus seolah semua yang hidup di dunia ini hanya ada untuk diperintah. Itu orang-orang dari Perguruan Naga Emas kekuatan yang kini merambah ke seluruh pegunungan, menuntut upeti, menundukkan perguruan-perguruan kecil, menyebarkan ketakutan tanpa perlu mengangkat pedang.
Pemimpin mereka, lelaki berwajah keras bernama Wiranta, berhenti tepat di bawah pohon beringin. Ia mendongak, menatap sosok yang berbaring di dahan tinggi dengan tatapan jijik.
“Kau orang yang disebut Mahesa?” suaranya menggelegar, memaksa burung-burung tidur terbang ketakutan.
Mahesa tidak langsung menjawab. Ia sedang mengamati sehelai daun kering yang melayang turun. “Daun itu jatuh miring hari ini,” ucapnya pelan.
“Aku bertanya padamu!” Wiranta melangkah maju, tangannya mencengkeram gagang keris. “Turunlah, jika kau masih punya sedikit harga diri.”
“Turun…” Mahesa mengulang kata itu perlahan, lalu duduk di dahan, kakinya menjuntai bebas.
“Turun itu mudah. Yang susah adalah tetap berdiri tegak setelah turun.”
Anak buah Wiranta tertawa sinis.
“Gila beneran,” bisik salah seorang.
Wiranta tidak tertawa. “Kami datang atas perintah Kepala Perguruan Naga Emas. Seluruh wilayah di lereng Gunung Kerinci ini wajib menyerahkan persembahan setiap bulan. Padi, emas, atau tenaga. Desa ini belum membayar. Dan kudengar kau satu-satunya yang pernah belajar silat sejati di sini. Mungkin kau bisa menggantikan rakyat jelata ini.”
Mahesa menggeleng pelan. “Emas tidak punya rasa. Padi punya rasa lelahnya orang yang menanamnya.”
“Jangan berputar-putar!” Wiranta menendang batu di kakinya, batu itu melesat cepat menuju dahan tempat Mahesa duduk.
Mahesa tidak menghindar secara kasar. Ia memiringkan tubuh sedikit, ringan seolah tidak punya berat Jurus Daun Pundung, begitu ia menyebutnya. Tubuhnya melayang lembut, batu itu lewat begitu saja, seolah menabrak tempat kosong.
“Cepat sekali,” puji Mahesa tulus. “Tapi terlalu tergesa-gesa.”
Wiranta melompat ke atas, gerakannya cepat dan tajam. “Kalau kau tidak mau bicara baik-baik, aku akan memaksa mulutmu terbuka!”
Tangan kanannya menyambar ke arah bahu Mahesa cengkeraman yang biasa mematahkan tulang punggung sapi.
Mahesa bergeser lagi,Jurus Daun Pundung sekali lagi tubuhnya melayang ke samping tanpa usaha, serangan itu hanya mengibaskan ujung bajunya.
Turun ke tanah, Wiranta menghentakkan kakinya. Tanah di sekitarnya retak. Ia melompat lagi, kini disertai serangan beruntun pukulan, tendangan, siku semuanya deras dan mematikan. Mahesa bergerak mengelak, kadang mundur, kadang menyamping, sesekali mengayunkan tangan pelan.
“Jurus Angin Ngambek,” gumamnya pelan. Tangan kirinya menyapu lembut ke arah lengan lawan bukan memukul, tapi mendorong dengan halus, seperti angin yang mendesak daun. Tenaga serangan Wiranta tiba-tiba tersendat, terpelanting ke samping, seolah ditolak oleh udara sendiri. Wiranta terhuyung, tak mengerti apa yang terjadi.
“Berhenti main-main!” Wiranta meraung, matanya menyala. Ia kini mengerahkan seluruh tenaga dalamnya, cahayanya memancar terang, udara di sekitarnya menjadi panas. Ia bukan lagi sekadar pendekar biasa ia telah membuka gerbang tenaga terdalamnya. “Aku akan meremukkanmu!”
Serangan kali ini berbeda. Setiap pukulan membawa angin yang memotong dedaunan, setiap langkah menggetarkan tanah. Ini bukan lagi ujian ini pembunuhan.
Mahesa berhenti mengelak. Ia mundur perlahan, wajahnya berubah serius. Selama tujuh tahun di sini, ia tak pernah membiarkan dirinya melepaskan kekuatan yang sesungguhnya. Ia tahu bahayanya. Ia takut jika ia membiarkannya lepas, tak akan ada yang bisa menghentikannya termasuk dirinya sendiri.
“Kau memaksa air naik ke bukit,” suaranya rendah, sedih. “Nanti turunnya tidak akan memaafkan siapa pun.”
Wiranta tak mendengar. Ia meluncur ke depan seperti anak panah, kedua tangannya siap menghancurkan apa pun yang ada di hadapannya.
Mahesa menarik napas panjang, napas yang memadukan seluruh udara di sekelilingnya. Ia tahu tidak ada jalan lain. Musuh di depannya sudah tidak waras, dan jika ia menahan diri lebih lama lagi, orang-orang desa di belakangnya akan yang terluka.
Ia melangkah satu langkah ke depan.
“Kalau begitu… lihatlah apa yang terjadi ketika sungai meluap dan tak tahu lagi arah kembali.”
Banjir Bandang Meradang.
Bukan gelombang yang lembut. Bukan aliran yang tenang. Itu adalah luapan amarah alam yang tak terkendali dahsyat, menghancurkan segala yang menghalanginya, tanpa pandang bulu. Tenaga itu memancar dari kedua telapak tangannya, begitu besar hingga tanah di sekitarnya retak dalam, udara berdesir keras, dan pohon-pohon di sekelilingnya bergoyang hebat seolah diterjang badai.
Wiranta terhenti di udara, matanya membelalak ngeri. Ia mencoba menahan, mengerahkan seluruh tenaganya — tapi seperti orang yang mencoba menahan banjir dengan tangan kosong. Tubuhnya terangkat, terlempar mundur dengan kekuatan yang tak sanggup ia lawan, menghantam tanah keras, lalu meluncur jauh, hingga akhirnya terguling berhenti di pinggir hutan, napasnya terengah-engah, mulutnya berdarah, seluruh tenaganya hancur seketika. Ia hidup itu saja tapi tak ada lagi kekuatan yang tersisa di tubuhnya untuk berdiri.
Mahesa berdiri diam, napasnya berat. Tangan yang tadi mengeluarkan kekuatan itu kini gemetar pelan. Ia menunduk, menatap telapak tangannya sendiri dengan rasa bersalah.
“Sudah kubilang…” suaranya hampir tak terdengar. “Itu menyakitkan bagi kita berdua.”
Daftar bab
31 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








