
Pendekar Silat Gigolo
vibekata|Bersambung
- Jumlah kata
- 34.8K
- Popular
- 301
- Subscribe
- 96
- Jumlah kata
- 34.8K
- Popular
- 301
- Subscribe
- 96
Sinopsis
Dulu pendekar. Sekarang dijual per jam. Padepokan disita Bank, Guru kabur di kejar Debt. Collector dan Slamet terjerat utang ke Tante Rita, rentenir pemilik rumah bordir. Wajah lugunya terlalu laku, jadilah ia gigolo. Slamet memang kaku dan polos, tapi tenaganya luar biasa hasil bertahun-tahun gembleng fisik dan mental di perguruan. Para klien dibuat lemas, luluh, dan ketagihan. Tiap ranjang membawa masalah baru. Tiap masalah harus diselesaikan dengan polos dan jurus silat yang keluar di saat paling salah. Komedi panas, 21+.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1
BAB 1: Utang Pertama
Aroma minyak melati yang menyengat langsung menyambut Slamet begitu pintu kamar paling atas rumah bordir milik Tante Rita terbuka. Kamar itu remang-remang, didominasi warna merah menyala dengan tempat tidur berkanopi besar di tengah ruangan yang megah. Suasana di dalam ruangan terasa begitu berat dan penuh misteri bagi seorang pemuda yang baru pertama kali melangkahkan kaki ke tempat seperti itu.
Tante Rita duduk santai di balik meja kerjanya yang terbuat dari kayu jati tua. Matanya menatap Slamet dengan pandangan tajam penuh perhitungan. Ia sengaja memanggil pemuda itu ke kamar pribadi untuk mempertanyakan tagihan utang Slamet sendiri yang sudah menumpuk tinggi dan melampaui batas waktu pembayaran.
"Jadi bagaimana, Slamet? Utangmu yang makin hari makin membengkak itu mau kamu bayar kapan?" tanya Tante Rita dengan suara berat dan dingin.
Slamet berdiri mematung di dekat pintu kayu yang tertutup rapat. Ia memeluk tas kain lusuhnya amat erat di depan dada. Rasa takut yang luar biasa merayapi seluruh pembuluh darahnya karena ia tahu pasti bahwa kantong celananya sama sekali tidak berisi uang sepeser pun untuk melunasi cicilan biaya hidupnya selama bertiga bulan terakhir. Wajahnya pucat pasi bagai kehilangan darah, sementara jemarinya yang kasar gemetar hebat di balik kain tas murah yang sudah menipis.
Tante Rita perlahan berdiri dari kursi kebesarannya. Ia melangkah pelan memutarinya, mengitari tubuh Slamet dengan gerakan seperti pemangsa yang sedang mengamati mangsa empuk. Di usianya yang sudah memasuki paruh baya, Tante Rita masih memiliki daya tarik yang sangat luar biasa. Ia mengenakan gaun sutra merah yang membungkus ketat tubuhnya.
Pada bagian dada, gaun itu tercetak amat rendah dan terbuka. Bagian dada Tante Rita menyembul sangat padat, bulat, dan meletup, menampakkan sepasang melon berukuran besar yang tampak begitu ranum serta matang. Sepasang melon itu seolah-olah siap meluncur keluar dari balik kain tipis yang membungkusnya setiap kali Tante Rita menarik napas.
Slamet yang sedang diliputi kepanikan tingkat tinggi tidak bisa menahan rasa berdebar kencang di dadanya saat melihat lekukan tubuh wanita paruh baya itu melintas begitu dekat di depan matanya. Bau aroma parfum menyengat bercampur minyak melati makin membuat otaknya makin berputar cemas.
Di sisi lain, pandangan mata Tante Rita tidak pernah lepas dari setiap detail fisik Slamet. Pemuda desa di depannya ini memiliki postur tubuh yang sangat langka. Slamet berdiri tinggi menjulang, berbadan kokoh, dan penuh dengan lekukan otot padat hasil dari latihan fisik serta olah tubuh bertahun-tahun di padepokan. Postur tubuh yang begitu jantan, kekar, dan memancarkan keperkasaan alami itu seketika membuat gairah serta nafsu Tante Rita memuncak hingga ke ubun-ubun.
Tante Rita menghentikan langkah tepat di hadapan Slamet. Tanpa aba-aba, jemari lentiknya melesat maju dan mencengkeram kerah baju pemuda itu dengan amat kuat.
"Kalau kamu tidak bisa bayar utang pakai uang tunai hari ini, kamu harus membayarnya dengan cara lain!" ancam Tante Rita dengan bisikan nada yang tajam dan mengintimidasi.
Bulu kuduk Slamet langsung berdiri tegak seketika. Rasa gemetar di seluruh tubuhnya makin menjadi-jadi saat telapak tangan Tante Rita yang hangat mulai merayap naik ke atas dadanya. Secara kasar dan bertenaga, Tante Rita menarik kain baju tipis yang dikenakan Slamet hingga terdengar suara robekan yang keras. Kain itu terbelah lebar, menampakkan dada bidang yang luas serta perut Slamet yang tersusun atas otot-otot keras menyerupai deretan batu kali yang tertata rapi.
Tante Rita sempat terperangah sejenak, matanya membelalak kagum menyaksikan keindahan bentuk fisik pemuda desa itu dari jarak yang sangat dekat. Tangan Tante Rita bergerak makin jauh, makin nakal, dan kian berani. Tanpa ragu-ragu sedikit pun, ia menurunkan celana Slamet hingga meluncur jatuh ke lantai.
Jemari Tante Rita yang lentik langsung merayap masuk dan mencengkeram erat kejantanan Slamet yang besar, keras, dan berotot. Gerakan tangan Tante Rita yang mencengkeram serta memainkannya naik turun secara intens membuat seluruh tubuh Slamet terasa disengat aliran listrik panas dingin. Rasa asing yang belum pernah ia rasakan sebelumnya bercampur dengan kepanikan luar biasa langsung menjalar dari pangkal paha hingga ke ujung jari kakinya.
Dalam puncak ketakutan dan kepanikan otaknya yang mendadak terkunci, Slamet secara refleks mengayunkan tangannya untuk menepis pegangan Tante Rita. Ia melepaskan cengkeraman itu, lalu secepat kilat menjatuhkan dirinya ke atas lantai kayu. Slamet bersimpuh rapat, memasrahkan diri dalam posisi memohon ampun dengan wajah hampir menyentuh lantai.
"Ampun, Ibu Guru! Maafkan hamba! Hamba tidak sanggup, Ibu Guru! Takut terbawa suasana!" teriak Slamet dengan suara melengking panik. Kata-kata itu keluar begitu saja dari mulutnya sebagai bentuk ceplosan spontan akibat otak dan pikirannya yang mendadak mengalami korsleting total.
Tante Rita terkekeh pelan melihat reaksi absurd dan bertingkah konyol dari pemuda perkasa di depannya. "Justru itu yang sangat Tante harapkan dari kamu."
Tanpa membuang waktu lebih lama, Tante Rita melucuti seluruh pakaian sutranya hingga bertelanjang bulat di tengah remang-remang kamar merah tersebut. Ia meraih kedua lengan Slamet yang masih bersimpuh ketakutan, memaksanya untuk berdiri, lalu dengan dorongan bertenaga menghempaskan tubuh besar Slamet hingga terlentang di atas tempat tidur berkanopi yang empuk.
Tante Rita langsung melompat dan menindih tubuh Slamet dari atas. Ia melucuti sisa kain yang masih menempel pada tubuh Slamet, memainkan kembali kejantanan pemuda itu sejenak dengan kepiawaiannya, lalu mengkulumnya singkat untuk memberikan rangsangan maksimal.
Tidak menunggu lama, Tante Rita langsung menaikinya dalam posisi women on top. Ia melakukan penetrasi secara langsung dari atas, lalu dengan cepat menyambar kedua tangan Slamet yang perkasa dan memaksanya untuk menggenggam erat sepasang melon miliknya yang begitu matang, empuk, dan kenyal.
Posisinya terus bergerak naik turun secara cepat, liar, dan sangat intens di atas tubuh Slamet yang hanya bisa pasrah. Desahan Tante Rita makin nyaring dan memburu hebat, memecahkan seluruh keheningan kamar dengan suara yang makin tidak terkontrol.
"Aaahh... Slamett... Punya kamu keras banget... Aarrgghh!" desah Tante Rita tertahan di udara sambil menggeliat hebat, hingga akhirnya hempasan hawa hangat menggelombang cepat dan menandakan dirinya telah meledak penuh dalam puncak kenikmatan.
Setelah adegan itu selesai dan Tante Rita ambruk bergeser ke samping dengan napas tersengal-sengal, Slamet masih terbaring kaku bagai korban selamat dari guncangan bencana alam. Matanya menatap kosong ke langit-langit kanopi. Tiba-tiba air matanya menetes deras, dan pemuda berbadan kekar itu mulai menangis tersedu-sedu di atas kasur.
"Huuu... hhu... hu... Tante telah menodaiku... huhuhu... Laki-laki itu harusnya dijaga kesuciannya, bukan malah dirusak seperti ini, Tante... huhuhu..." ratap Slamet sambil menutupi wajah polosnya yang merah padam dengan kedua telapak tangan.
Tante Rita berdiri dari kasur, merapikan rambutnya yang berantakan, lalu menatap Slamet dengan tatapan jengkel bercampur puas.
"Diam kamu! Jangan banyak protes! Kamu itu perkasa sekali kok!" bentak Tante Rita sambil tersenyum tipis. "Mulai hari ini kamu wajib kerja ikut Tante, jadi gigolo di rumah ini! Kamu itu kuat, tahan lama, apalagi wajahmu polos lugu begitu, pasti pelanggan Tante bakal antre dan laris manis! Dengan begini kamu bisa menyicil seluruh utangmu sampai lunas."
Slamet hanya bisa menyungkurkan wajahnya ke dalam bantal busa yang harum, meratapi nasib hidupnya yang mendadak berubah drastis dalam sekejap mata.
Slamet sebenarnya adalah seorang anak yatim piatu yang malang. Sejak ia masih balita, kedua orang tuanya telah meninggal dunia, meninggalkannya sebatang kara tanpa memiliki sanak saudara satu pun. Ia kemudian ditampung dan dibesarkan di sebuah padepokan silat tradisional yang terisolasi di pelosok desa. Di tempat itulah seluruh masa mudanya dihabiskan untuk menempa fisik dengan keras, berlatih teknik pernapasan perut, serta mendalami jurus-jurus silat kuno di bawah bimbingan langsung sang guru.
Namun, beberapa bulan yang lalu, padepokan tempatnya berteduh secara resmi dibubarkan karena kekurangan murid. Slamet yang tidak punya tempat tinggal terpaksa merantau keluar menuju riuk pikuk kota besar. Tanpa memiliki keahlian formal, ijazah sekolah, maupun pengalaman kerja, Slamet kesulitan setengah mati untuk mendapatkan pekerjaan yang layak. Ia tidak memiliki penghasilan sama sekali hanya untuk sekadar membeli makan dan bertahan hidup dari hari ke hari. Demi menyambung nyawa di kota yang keras, ia terpaksa melangkahkan kaki berutang uang kepada lintah darat kejam seperti Tante Rita, hingga akhirnya jeratan utang itu membawanya pada nasib tak terduga dan sangat konyol seperti hari ini.
Daftar bab
32 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








