

Bab 1 Titik Nol Obsesi!
Mansion keluarga Arya malam itu tampak seperti istana dalam dongeng.
Namun, bagi Reyhan Arya Nathanael-tempat itu tak lebih dari sebuah penjara yang sangat mewah.
Di usianya yang baru menginjak delapan tahun, Reyhan sudah memiliki tatapan mata yang bisa membuat orang dewasa bergidik.
Dingin, datar, dan tak tersentuh.
Malam ini adalah perayaan ulang tahunnya!
Semua pengusaha kelas atas, pejabat, dan *sosialita diundang untuk memberikan penghormatan pada pewaris tunggal-
-Aurum Rayasa Automotive-
(ARYA GROUP)
Reyhan berdiri di tengah aula, mengenakan setelan jas custom yang membuatnya terlihat sepe miniatur pria dewasa yang sempurna.
Namun, di balik wajah tampannya, ada dinding es yang kokoh.
Sejak insiden peracunan oleh salah satu pelayan beberapa bulan lalu, Reyhan berubah! Mansion keluarga Arya malam itu tampak seperti istana dalam dongeng.
Namun, bagi Reyhan Arya Nathanael-tempat itu tak lebih dari sebuah penjara yang sangat mewah.
Di usianya yang baru menginjak delapan tahun, Reyhan sudah memiliki tatapan mata yang bisa membuat orang dewasa bergidik.
Dingin, datar, dan tak tersentuh.
Malam ini adalah perayaan ulang tahunnya!
Semua pengusaha kelas atas, pejabat, dan *sosialita diundang untuk memberikan penghormatan pada pewaris tunggal-
-Aurum Rayasa Automotive-
(ARYA GROUP)
Reyhan berdiri di tengah aula, mengenakan setelan jas custom yang membuatnya terlihat seperti miniatur pria dewasa yang sempurna.
Namun, di balik wajah tampannya, ada dinding es yang kokoh.
Sejak insiden peracunan oleh salah satu pelayan beberapa bulan lalu, Reyhan berubah!
la menolak menyentuh makanan di pesta, ia menolak bersalaman dengan orang asing, dan ia membenci keramaian.
Baginya setiap senyuman manis dari tamu adalah topeng untuk menyembunyikan senjata.
"Daddy, aku mau keluar," ucap Reyhan datar pada ayahnya, Daddy Bayu.
"Son, the event has just start-"
(Putraku, pestanya bahkan baru saja dimula-)
"I don't like here,"
(Aku tidak suka disini)
Potong Reyhan tanpa emosi, la berbalik dan berjalan menembus kerumunan.
Orang-orang memberikan jalan padanya, bukan hanya karena ia anak sang pemilik mansion, tapi karena aura intimidasi yang ia pancarkan meski masih bocah.
"My son.."
Mommy Sandra yang hendak mengejar putra tunggalnya itu ditahan, bahunya di tahan lembut oleh suaminya.
"let him my wife, he needs air.." Ucap Daddy Bayu maklum.
(Biarkan saja, istriku. Dia butuh ketenangan)
Reyhan berjalan melewati labirin tanaman hias hingga sampai di bagian yang paling sunyi-kebun belakang tempat Daddy bayu menanam bunga-bunga langka yang hanya diketahui oleh beberapa pelayan senior.
Di sana, di bawah pohon beringin tua yang dihiasi lampu-lampu gantung kecil, ia duduk termenung.
la merasa lapar, perutnya perih, tapi rasa takut akan racun jauh lebih besar daripada rasa laparnya.
la menutup mata, berharap kebisingan pesta itu lenyap.
Keheningan itu tidak bertahan lama.
Reyhan mendengar suara tawa riang, langkah "kaki ringan, dan gumaman penuh semangat.
"Butterfly, jangan pergiii!"
Ara-Ayyara Arunika Maheswari, berusia enam tahun, berlari tanpa mempedulikan gaun peach indahnya akan kotor.
Matanya terpaku pada seekor kupu-kupu bercahaya yang baru saja hinggap di kelopak bunga wisteria ungu.
la mengejar keindahan itu dengan tekad yang kuat, sebuah tekad yang jauh lebih kuat daripada ketakutan.
Drap..! Drap..!! Drap...!!
la tidak sadar bahwa ia telah melintasi batas batas taman formal
la tidak sadar bahwa ia telah kehilangan Aldebaran-Papanya.
Yang ia tahu, taman ini adalah surga para kupu kupu yang bercahaya.
"Butterfly.. Tunggu araaa!"
Ara mencoba mengejar dan menggapai-namun tidak sampai.
Setelah kupu-kupu itu terbang lebih tinggi, Ara baru menyadari keterasingannya.
la berhenti, matanya berkaca-kaca.
"Eung.. Ara di mana?" ucapnya mulai panik, tetapi saat ia membalikkan badan, ia melihat siluet seorang anak laki-laki.
Anak itu duduk diam, seperti patung. memancarkan aura kesendirian yang pekat.
Ara adalah magnet kebaikan.
Alih-alih lari mencari ayahnya, ia justru mendekati anak itu.
"Haloo Kakak!" Panggil Ara dengan senyum manis yang memukau.
Reyhan membuka matanya.
la melihat Seorang gadis kecil dengan mata coklat sebesar biji hazel dan pipi gembul yang merona-mendekat ke arahnya.
la sudah melihat banyak anak-anak hari ini, namun gadis ini terlihat berbeda.
Ada cahaya alami di sekelilingnya yang seolah menolak kegelapan Reyhan.
"Kakaak!"
Reyhan yang terkenal cuek dan dingin hanya diam, ia tidak menjawab.
la menatap Ara dengan tatapan yang menyiratkan,
'Go away. Before I destroy you!"
(Sana pergi, sebelum gue hajar!)
"Kakak juga tersesat?" Tanya Ara kecil, suaranya penuh keprihatinan, bukan ketakutan.
Reyhan hanya menggeleng singkat, tatapannya tetap kosong.
"Cihhh, Ga mungkin gue nyasar, orang gue yang punya istana ini!"
Ara yang ceria dan penuh rasa ingin tahu, tanpa diundang, mengambil posisi duduk di samping Reyhan.
la sama sekali tidak terintimidasi oleh kebisuan dan dinginnya tuan rumah kecil itu.
"kakak tau..Ara kepisah sama Papa Al..." Ara memulai ceritanya, suaranya tulus dan jujur.
"Ara nggak tau jalan pulang, Rumah ini gede bangett. Emm..tapi ara yakin, Papa Al pasti lagi cari Ara, ara harus tunggu sebentar lagi. "Lanjutnya sambil menatap Reyhan yang hanya diam dan tidak menanggapi.
Tiba-tiba, keheningan dipecahkan oleh suara yang memalukan.
Kruyukkkkkkk...
Itu suara perut Reyhan. la tidak makan apapun sejak pagi, terlalu takut jika makanan pesta itu disusupi racun lagi.
Ara langsung menoleh, matanya menunjukkan empati.
"Kakak laper?" tanya Ara polos.
Reyhan diam, wajahnya mengeras karena malu dan frustrasi.
Ara, tanpa menunggu persetujuan, segera membuka tas beruang kecilnya. la mengeluarkan bungkusan plastik berisi cookies cokelat buatan Mama Hana.
Cookies itu adalah harta karunnya, yang sengaja ia sisakan untuk dinikmati dalam perjalanan pulang.
"Ini, mam aja-" Ara menyodorkannya, sebuah tawaran polos dari gadis kecil baik hati.
Melihat makanan itu, Reyhan tidak melihat Titik Nol kebaikan. la melihat jarum suntik, racun, dan rasa sakit yang mematikan. Reaksi traumatisnya kambuh dengan brutal.
BRATTS-!!!
la menepis tangan Ara dengan kasar, membuat bungkusan cookies itu terlempar dan jatuh di rumput.
"JAUHIN MAKANAN ITU DARI GUE!!!" Teriaknya emosi, suaranya tajam dan dipenuhi ketakutan yang tersembunyi. Matanya menyala, penuh kecurigaan.
Ara terkejut. Ekspresinya berubah dari ceria menjadi ketakutan yang mendalam, air matanya langsung menggenang.
"ΚΑΚ.. ΚΕΝΑΡΑA KAKAK LEMPAR MAKANAN ITU!
Hikss.. Padahal itu cookies buatan Mama hana... Ara sengaja sisain buat mam nanti.." Ucap Ara, hatinya hancur. Bukan karena ia lapar, tetapi karena hasil kerja keras ibunya diperlakukan dengan kasar.
Reyhan hanya diam, nafasnya naik turun.
Melihat itu ara langsung menangis kencang.
"HUWAAAA!!! Kakak jahat! Hiksss... Cookies Mama udah rusak...!!!"
Melihat tangisan Ara yang tersedu sedu, membuat Reyhan seketika tersentak.
Amarahnya mereda-digantikan oleh rasa kasihan dan bersalah yang menusuk. la adalah seorang Arya, seorang pewaris yang selalu mengendalikan. namun kini ia merasa bersalah pada gadis kecil yang tak berdaya.
"Hikss... Hikss... Cookies mama udah rusak.."
"Gue-" Reyhan tidak bisa merangkai kata.
la segera mengambil bungkusan yang terjatuh itu. Berjongkok di depan gadis kecil yang menangis, Reyhan yang kaku berusaha memperbaiki kesalahannya.
"Hiks... Hiksss...."
Reyhan mengusap dan membersihkan bungkus cookies itu dengan jas mahalnya.
"Nih, belum kotor kok. Masih bisa dimakan," ucap Reyhan canggung.
Ara mengucek matanya, menatap Reyhan dengan tatapan yang kini bercampur antara kepolosan dan rasa penasaran. "Hnn... Emang iya?"
Reyhan mengangguk singkat,
"Iya."
Ara menerima bungkus cookies itu pelan, isakannya mereda.
"Yaudah, kita bagi dua ya kak. Mam bareng ya," Ucap Ara, kini suaranya sudah kembali tegar.
Ara membuka bungkus cookies, namun Reyhan menolak keras, la mundur sedikit, tubuhnya mulai tegang.
"Nggak. Gue nggak makan racun. Gue nggak percaya makanan." Ucapnya sarkas.
Ara menatap Reyhan, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan kekecewaan yang mendalam terhadap sifat negatif bocah itu.
"Astagaaa, Kakak ini negatif banget pikirannya! kata mama, enggak boleh tau punya pikiran kayak gitu..!" Omel Ara.
"Ini Mama Hana buat dengan penuh kasih sayang buat Ara! Jadi, nggak mungkin kalau Mama kasih racun sama cookies kesukaan ara!" Ucapnya penuh semangat, menegaskan keyakinan tulus dari cinta ibunya.
"Yaudah, kalau Kakak enggak mau, ini buat Ara aja semuanya!" Ancam Ara, bersiap melahap semua cookies.
Reyhan hanya bisa terdiam, ngenes melihat ketegasan gadis itu.
Keinginannya untuk makan melawan fobianya, dan Ara tahu cara memanfaatkan kelemahan itu.
"Nyammmmm...!!"
"Eh-" Reyhan terpaku.
Ara menggigit cookies itu, mengunyahnya dengan ekspresi kenikmatan. "Mmmm... enaakk bangett... Mama emang juaranyaaa!"
Ara Melirik pada Reyhan yang sedang menatap cookies yang ia pegang, ara inisiatif menyuapi Reyhan.
"Nihh, Ara tau Kakak laper!!!"
"ayoo buka mulutnya! Aaaaa," Ara membuka mulutnya, mendesak dengan kepolosan yang tak bisa ditolak.
Reyhan membeku.
Ada kehangatan, keyakinan, dan kasih sayang yang terpancar dari mata Ara.
Gadis ini, dengan kekuatan keyakinan ibunya, telah mematahkan perisai ketakutan Reyhan.
Reyhan perlahan membuka mulut dan-NYAMM!!!
Matanya membola, ia mematung!
Rasa manis cookies itu melumer di lidahnya!
Ini bukan hanya makanan; ini adalah rasa aman!
Untuk pertama kalinya dalam enam bulan, Reyhan merasakan kebebasan dari rasa takutnya.
Reyhan menelan, dan itu terasa benar.
*Gimanaa? Enak kan?" Tanya Ara antusias.
"Abisin aja sama Kakak. Ara masih kenyang.." Ara memberikan semua cookies yang tersisa kepada Nol Obsesil
Reyhan.
Tanpa ara sadari, la telah melakukan lebih dari sekadar memberi makan; ia telah menyembuhkan trauma Reyhan.
"Kakak harus makan ya, jangan sampai kelaperan lagi!" ucap ara sambil tersenyum manis.
Reyhan mengambil cookies itu, menggenggamnya erat, seolah itu adalah jimat keselamatan.
"Siapa nama lo?" Tanya Reyhan, suaranya berubah, sedikit lembut-ada nada penasaran dan kepemilikan.
"ARAAA!!"
Teriakan seseorang terdengar dari kejauhan. Ara menoleh. "Itu kayaknya suara Papa," gumamnya senang.
"ARAAAAA!!"
"PAPAA!" Teriak Ara, lalu bangkit dan berlari menghampiri Papanya yang sedang bersama seorang pengawal Arya Group.
"Tuan Muda, kenapa Anda berada di sini? Semua orang sedang mencari Anda," Ucap pengawal itu pada Reyhan.
"Ayo kita pulang Ara. Sudah malam," Papa Al langsung menggendong Ara. ia membungkuk hormat pada tuan muda itu sebelum membawa ara pergi.
"Um, Papaa.. Ara udah kangen Mama!" Ara antusias, mengeratkan pelukannya pada papanya.
Reyhan menatap punggung Ara yang menjauh.
la menggigit cookies di tangannya, merasakan sisa rasa manis itu di lidahnya, rasa manis yang kini ia kaitkan sepenuhnya dengan gadis itu.
la tersenyum smirk. Senyum yang dingin, namun kini ia memiliki target.
"Ara, nama lo manis kayak cookies yang lo bawa." Reyhan.
Tanpa ara sadari, la telah melakukan lebih dari sekadar memberi makan; ia telah menyembuhkan trauma Reyhan.
"Kakak harus makan ya, jangan sampai kelaperan lagi!" ucap ara sambil tersenyum manis.
Reyhan mengambil cookies itu, menggenggamnya erat, seolah itu adalah jimat keselamatan.
"Siapa nama lo?" Tanya Reyhan, suaranya berubah, sedikit lembut-ada nada penasaran dan kepemilikan.
"ARAAA!!"
Teriakan seseorang terdengar dari kejauhan. Ara menoleh. "Itu kayaknya suara Papa," gumamnya senang.
"ARAAAAA!!"
"PAPAA!" Teriak Ara, lalu bangkit dan berlari menghampiri Papanya yang sedang bersama seorang pengawal Arya Group.
"Tuan Muda, kenapa Anda berada di sini? Semua orang sedang mencari Anda," Ucap pengawal itu pada Reyhan.
"Ayo kita pulang Ara. Sudah malam," Papa Al langsung menggendong Ara. ia membungkuk hormat pada tuan muda itu sebelum membawa ara pergi.