
SANG KSATRIA YANG DIBERIKAN TAKDIR
Entahlah...|Bersambung
- Jumlah kata
- 7.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
- Jumlah kata
- 7.4K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 1
Sinopsis
Di Kekaisaran Eldravia, Kaisar Valdric diam-diam menguras sumber daya sihir demi membangkitkan Dewa Void, makhluk mengerikan yang ingin ia gunakan untuk menguasai dunia. Sementara rakyat menderita dan para pejabat tinggi sibuk memperkaya diri, seorang ksatria bernama Kazen mengetahui rahasia mengerikan tersebut. Namun, sebelum ia sempat bertindak, sang kaisar mengirimnya ke medan perang untuk menyingkirkannya. Dikhianati oleh rekan-rekannya dan ditinggalkan di ambang kematian, Kazen justru memperoleh kekuatan misterius bernama Konstelasi. Kini, Kazen memulai perjalanan untuk mengumpulkan seluruh kekuatan Konstelasi, membalas dendam kepada para pengkhianat, dan menghancurkan Dewa Void beserta pasukannya. Namun, jalan balas dendamnya akan membawanya menghadapi rahasia kuno dan musuh yang jauh lebih mengerikan daripada yang pernah ia bayangkan. Dari ksatria yang dikhianati, Kazen akan bangkit menjadi sosok yang bahkan para dewa pun takuti—demi menghancurkan tirani dan melindungi rakyatnya.
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1: Rahasia di bawah istana
Hujan turun membasahi ibu kota Kekaisaran Eldravia.
Di sepanjang jalan utama, kereta bangsawan melintas di antara bangunan megah, sementara para pedagang berusaha menyelamatkan barang dagangan mereka dari air hujan. Lampu-lampu sihir yang biasanya menerangi jalan mulai meredup. Beberapa bahkan padam sepenuhnya.
Seorang anak kecil berdiri di depan toko obat sambil menggenggam tangan ibunya.
"Ibu, kapan lampunya menyala lagi?"
Sang ibu menatap lampu yang padam di atas mereka. Ia berusaha tersenyum meskipun wajahnya terlihat lelah.
"Ibu tidak tahu. Kita pulang saja, ya?"
"Tapi rumah kita gelap. Bukankah Ayah bilang kristal sihir bisa bertahan sampai akhir bulan?"
Perempuan itu terdiam.
Kristal sihir yang mereka miliki seharusnya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka selama beberapa minggu. Namun, harganya meningkat tajam sejak pemerintah memperketat distribusi sumber daya sihir.
Banyak keluarga tidak lagi mampu membelinya.
Di ibu kota yang dipenuhi istana megah dan kediaman bangsawan, rakyat kecil mulai kehilangan sesuatu yang selama ini mereka anggap sebagai bagian biasa dari kehidupan.
Energi sihir.
Sumber daya yang berasal dari dalam tanah itu digunakan untuk menyalakan lampu, menjalankan mesin, menghangatkan rumah, dan membantu para penyembuh mengobati orang sakit. Tanpanya, kehidupan di Eldravia akan menjadi jauh lebih sulit.
Namun, jumlah sumber daya sihir yang tersedia seharusnya masih cukup untuk memenuhi kebutuhan seluruh kekaisaran.
Lantas, mengapa persediaannya terus menurun?
Pertanyaan itulah yang membawa seorang ksatria bernama Kazen ke dalam masalah yang seharusnya tidak pernah ia ketahui.
---
Kazen berjalan menyusuri koridor istana dengan mengenakan zirah hitam keperakan.
Usianya masih dua puluh empat tahun. Rambut hitamnya sedikit berantakan, sementara sepasang mata kelabunya memancarkan ketenangan yang sulit digoyahkan.
Di pinggangnya tergantung sebilah pedang panjang yang telah menemaninya dalam berbagai pertempuran.
Selama delapan tahun mengabdi kepada kekaisaran, Kazen dikenal sebagai kesatria yang disiplin dan dapat dipercaya. Ia tidak berasal dari keluarga bangsawan. Ayahnya adalah seorang prajurit biasa yang gugur ketika mempertahankan perbatasan, sedangkan ibunya meninggal karena penyakit ketika Kazen masih muda.
Kazen bergabung dengan pasukan kekaisaran bukan untuk mendapatkan gelar atau kekayaan.
Ia hanya ingin memastikan tidak ada keluarga lain yang mengalami nasib seperti keluarganya.
Karena itulah, ia selalu menjalankan perintah dengan sungguh-sungguh.
Setidaknya, sampai ia mulai melihat sesuatu yang salah.
"Kazen!"
Seorang pria bertubuh besar memanggilnya dari ujung koridor.
Pria itu mengenakan seragam komandan dengan lambang elang emas di bagian dada. Namanya Garrick, salah satu perwira yang bertanggung jawab atas pengamanan istana.
"Aku mencarimu sejak tadi," kata Garrick.
"Ada sesuatu yang harus saya periksa, Komandan."
"Kalau begitu, periksalah setelah kau menyampaikan laporan patroli."
Garrick menyerahkan sebuah dokumen.
Kazen menerimanya dan membaca isinya sekilas.
Dokumen itu berisi laporan mengenai pengiriman kristal sihir dari tambang utara. Jumlah yang tercatat mencapai sepuluh ribu kristal, tetapi hanya empat ribu yang dilaporkan tiba di gudang kerajaan.
Enam ribu kristal lainnya dinyatakan hilang selama perjalanan.
Kazen mengerutkan kening.
"Apakah penyelidikan sudah dilakukan?"
Garrick mendengus.
"Sudah. Menurut laporan resmi, pengiriman itu diserang monster."
"Enam ribu kristal?"
"Begitulah yang tertulis."
Kazen memandang dokumen itu lebih lama.
Ia pernah bertugas di wilayah utara. Monster memang terkadang menyerang kereta pengangkut, tetapi kristal sihir biasanya disimpan dalam peti bersegel yang dilindungi pasukan bersenjata.
Kehilangan enam ribu kristal dalam satu pengiriman bukan sesuatu yang bisa dianggap sepele.
"Apakah ada korban?" tanyanya.
"Tiga prajurit terluka. Tidak ada yang tewas."
Kazen mengangkat pandangannya.
"Jadi, enam ribu kristal hilang, tetapi tidak ada satu pun prajurit yang tewas?"
Garrick menatapnya tajam.
"Apa maksudmu?"
"Saya hanya merasa laporannya aneh."
"Berhati-hatilah dengan perkataanmu, Kazen. Ada banyak hal di istana yang tidak perlu kau pertanyakan."
Setelah mengatakan itu, Garrick mengambil kembali sebagian dokumen dan meninggalkan koridor.
Kazen berdiri diam.
Ia memahami maksud peringatan tersebut.
Ada sesuatu yang sedang disembunyikan.
Dan seseorang di dalam istana tidak ingin rahasia itu terbongkar.
---
Malam harinya, Kazen meninggalkan barak untuk kembali ke kediamannya.
Namun, ketika melewati halaman belakang istana, ia melihat beberapa kereta pengangkut memasuki gerbang bawah tanah.
Kereta-kereta itu tidak membawa lambang pedagang maupun lambang pasukan kekaisaran. Seluruh muatannya ditutupi kain hitam, sementara para penjaga yang mengawalnya mengenakan zirah tanpa tanda pengenal.
Kazen berhenti di balik pilar batu.
Ia memperhatikan salah satu peti yang diturunkan dari kereta.
Peti itu terbuat dari logam hitam dengan beberapa lapisan segel sihir. Meski tertutup rapat, cahaya biru terlihat merembes dari celah-celahnya.
Kristal sihir.
Jumlahnya sangat banyak.
Seorang pria berjubah berjalan mendekati para penjaga. Wajahnya tersembunyi di balik tudung, tetapi lambang cincin emas di tangannya menarik perhatian Kazen.
Lambang itu milik keluarga bangsawan yang bertanggung jawab atas pengelolaan tambang kerajaan.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya pria berjubah.
"Sebagian besar sudah dipindahkan, Tuan. Kami hanya menunggu perintah berikutnya."
"Bagus. Pastikan tidak ada yang mengetahui jumlah sebenarnya."
"Bagaimana dengan para pekerja tambang?"
Pria berjubah itu terdiam sejenak.
"Bayar mereka lebih banyak jika mereka mau tutup mulut. Jika ada yang menolak, pindahkan mereka ke tambang terdalam."
Kazen mengepalkan tangannya.
Perintah itu bukan sekadar tindakan korupsi biasa. Mereka sengaja menyembunyikan sumber daya sihir, bahkan bersedia mengorbankan para pekerja demi menjaga rahasia mereka.
Ia hampir melangkah keluar dari tempat persembunyiannya ketika terdengar suara lain.
"Bagaimana perkembangan penggalian?"
Kali ini, suara tersebut membuat seluruh tubuh Kazen menegang.
Ia mengenali suara itu.
Suara Kaisar Valdric.
Penguasa tertinggi Kekaisaran Eldravia muncul dari pintu bawah tanah dengan jubah kerajaan berwarna hitam dan emas. Di belakangnya berjalan beberapa pejabat tinggi yang selama ini dikenal sebagai orang-orang kepercayaannya.
Kazen segera menahan napas.
Ia tidak pernah menyangka sang kaisar akan datang langsung ke tempat itu.
"Yang Mulia," ujar pria berjubah sambil berlutut. "Penggalian berjalan sesuai rencana. Kami telah menemukan lapisan sumber daya sihir yang jauh lebih besar di bawah tambang timur."
"Berapa banyak yang dapat kita ambil?"
"Jika seluruh lapisan itu digali, persediaan yang kita miliki akan meningkat berkali-kali lipat."
Kaisar Valdric tersenyum tipis.
"Bagus. Teruskan penggalian."
Salah seorang pejabat memberanikan diri berbicara.
"Yang Mulia, jika penggalian diteruskan dengan kecepatan seperti ini, cadangan sihir yang digunakan oleh kota-kota di sekitar tambang akan segera habis. Beberapa desa bahkan sudah melaporkan penurunan energi pada sumber air mereka."
"Biarkan saja."
Pejabat itu menundukkan kepala.
"Tetapi, Yang Mulia, rakyat—"
"Aku tidak meminta pendapatmu."
Suasana seketika membeku.
Valdric berjalan mendekati peta besar yang terbentang di atas meja batu. Peta itu menggambarkan jaringan terowongan di bawah kekaisaran. Di bagian terdalam, terdapat sebuah lingkaran hitam yang dikelilingi simbol-simbol kuno.
Kazen tidak mengenali simbol tersebut.
Namun, ia merasakan sesuatu yang aneh ketika melihatnya.
Udara di sekitarnya seolah menjadi lebih berat, meskipun ia berada cukup jauh dari meja itu.
Sang kaisar meletakkan telapak tangannya di atas lingkaran hitam.
"Setelah seluruh sumber daya terkumpul, kita akan membuka gerbangnya."
Pria berjubah menundukkan kepala lebih dalam.
"Dan setelah gerbang terbuka, Dewa Void akan menjawab panggilan Yang Mulia."
Jantung Kazen seakan berhenti berdetak sesaat.
Dewa Void.
Ia pernah mendengar nama itu dalam catatan kuno yang disimpan di perpustakaan militer. Makhluk tersebut digambarkan sebagai keberadaan yang berasal dari kehampaan di luar dunia.
Tidak ada catatan yang dapat memastikan bentuk aslinya.
Namun, seluruh catatan memiliki satu kesamaan.
Dewa Void bukan makhluk yang seharusnya dipanggil ke dunia.
Menurut legenda, kehadirannya dapat merusak hukum alam, mengubah tanah menjadi wilayah mati, dan membuat makhluk hidup kehilangan kendali atas tubuh mereka sendiri.
Bahkan para penyihir kuno yang mencatat keberadaannya tidak berani menuliskan seluruh kisah tentangnya.
Lalu, mengapa Kaisar Valdric ingin memanggil makhluk seperti itu?
Jawabannya datang langsung dari sang kaisar.
"Dengan kekuatan Dewa Void, tidak akan ada kerajaan yang mampu menentangku. Semua penguasa akan berlutut. Seluruh dunia akan menjadi milikku."
Valdric tertawa kecil.
"Selama ribuan tahun, manusia berperang demi wilayah, emas, dan sumber daya. Aku akan mengakhiri semua itu dengan menjadikan diriku penguasa tunggal dunia."
Salah seorang pejabat mengangkat wajahnya.
"Namun, apakah Dewa Void benar-benar dapat dikendalikan?"
Senyum Valdric menghilang.
"Kita tidak perlu mengendalikannya selamanya. Kita hanya perlu memastikan bahwa ketika ia tiba, ia menghancurkan semua musuh kita terlebih dahulu."
Jawaban itu membuat Kazen merasakan hawa dingin menjalar di punggungnya.
Sang kaisar tidak memiliki rencana untuk menyelamatkan rakyatnya.
Ia bahkan tidak peduli jika seluruh kekaisaran ikut hancur selama ambisinya tercapai.
Sumber daya sihir yang seharusnya digunakan untuk kehidupan rakyat telah dijadikan bahan bagi ritual terlarang. Penggalian yang mereka lakukan mungkin akan menghancurkan desa-desa, merusak tanah, dan membuat jutaan penduduk kehilangan sumber energi yang mereka butuhkan.
Semua itu dilakukan hanya demi ambisi seorang pria yang telah memiliki segalanya.
Kazen ingin segera melaporkan apa yang didengarnya.
Namun, ia tahu bahwa tanpa bukti yang cukup, perkataannya hanya akan dianggap sebagai tuduhan terhadap kaisar. Bahkan, ia mungkin akan langsung dihukum mati sebelum sempat menjelaskan apa pun.
Ia juga tidak tahu siapa saja pejabat yang terlibat.
Jika ia bertindak gegabah, seluruh informasi yang telah ia peroleh bisa menghilang dalam semalam.
Karena itu, Kazen memilih mundur perlahan.
Ia akan berpura-pura tidak mengetahui apa pun.
Untuk sementara waktu.
---
Keesokan paginya, Kazen kembali menjalankan tugasnya seperti biasa.
Ia berlatih bersama para prajurit, memeriksa perlengkapan, dan mengawasi pergantian penjaga. Tidak ada seorang pun yang menyadari perubahan dalam dirinya.
Namun, di balik wajah tenangnya, pikirannya terus tertuju pada kejadian malam sebelumnya.
Ia harus mencari bukti.
Ia harus mengetahui seberapa jauh ritual itu telah berjalan.
Dan yang terpenting, ia harus menemukan cara untuk menghentikannya sebelum semuanya terlambat.
Ketika matahari mulai terbenam, seorang pelayan istana datang membawa surat bersegel kerajaan.
"Kazen, Yang Mulia memanggilmu."
Kazen menerima surat itu.
Segel emas di bagian depan menunjukkan bahwa perintah tersebut berasal langsung dari kaisar.
"Apakah ada yang disampaikan oleh Yang Mulia?" tanyanya.
"Tidak. Saya hanya diperintahkan untuk menyerahkan surat ini."
Pelayan itu membungkuk sebelum pergi.
Kazen membuka surat tersebut.
Isinya singkat.
Ia diperintahkan menghadap Kaisar Valdric di ruang takhta pada malam itu juga.
Tidak ada penjelasan mengenai alasan pemanggilannya.
Kazen membaca surat itu sekali lagi sebelum melipatnya.
Sebuah firasat buruk muncul di benaknya.
Apakah sang kaisar telah mengetahui keberadaannya di dekat pintu bawah tanah?
Atau apakah pemanggilan itu hanya kebetulan?
Ia tidak memiliki jawaban.
Namun, Kazen tidak mungkin menolak perintah langsung dari penguasa kekaisaran.
Ia mengenakan kembali jubah hitam di atas zirahnya, lalu berjalan menuju ruang takhta.
Di ujung koridor, dua penjaga membuka pintu besar yang dihiasi ukiran naga emas.
Kazen melangkah masuk.
Kaisar Valdric duduk di atas takhtanya, dengan beberapa pejabat berdiri di kedua sisinya.
Sang kaisar tersenyum ketika melihat kedatangannya.
"Kazen. Mendekatlah."
Kazen berlutut dengan satu kaki.
"Yang Mulia. Saya telah memenuhi panggilan Anda."
Valdric menatapnya selama beberapa saat.
"Aku mendengar bahwa kau adalah salah satu ksatria paling setia di kekaisaran."
"Saya hanya menjalankan tugas, Yang Mulia."
"Jawaban yang bagus."
Sang kaisar bangkit dari takhtanya dan berjalan menuruni anak tangga.
"Aku memiliki tugas penting untukmu."
Kazen mengangkat wajah.
"Perintahkan saya, Yang Mulia."
Valdric berhenti tepat di hadapannya.
"Kerajaan Varellia telah mengumpulkan pasukan di perbatasan barat. Aku ingin kau memimpin satu pasukan untuk menghadapi mereka."
Kazen terdiam.
Varellia merupakan kerajaan tetangga yang selama beberapa tahun terakhir menjaga hubungan damai dengan Eldravia. Memang ada perselisihan mengenai wilayah perbatasan, tetapi belum ada laporan yang menyatakan bahwa mereka sedang mempersiapkan invasi besar.
"Apakah sudah ada bukti bahwa Varellia berniat menyerang?" tanya Kazen dengan hati-hati.
Senyum Valdric menipis.
"Kau mempertanyakan perintahku?"
"Tidak, Yang Mulia. Saya hanya ingin memahami keadaan sebelum memimpin pasukan."
"Kalau begitu, kau akan mendapatkan jawabannya di medan perang."
Kazen menundukkan kepala.
"Baik, Yang Mulia."
"Berangkatlah tiga hari lagi. Bawa pasukan yang telah ditentukan dan Jangan mengecewakanku."
"Saya mengerti."
Kazen bangkit dan mundur dengan sikap hormat.
Ia tidak melihat tatapan yang dipertukarkan oleh sang kaisar dan para pejabat setelah dirinya meninggalkan ruang takhta.
Salah seorang pejabat mendekati Valdric.
"Apakah kita benar-benar akan mengirimnya ke Varellia?"
Valdric kembali duduk di takhtanya.
"Tentu saja."
"Bagaimana jika dia mengetahui sesuatu?"
Sang kaisar mengangkat gelas di tangannya.
"Kalau begitu, pastikan dia tidak pernah kembali."
Ia menyesap minumannya dengan tenang.
"Seorang ksatria yang terlalu banyak bertanya tidak pantas hidup di bawah takhtaku."
Di luar ruang takhta, Kazen terus berjalan tanpa mengetahui bahwa nasibnya telah ditentukan.
Ia mengira tugas ke Varellia akan memberinya kesempatan untuk mencari jawaban dari kejauhan.
Ia tidak mengetahui bahwa perintah tersebut merupakan awal dari rencana untuk melenyapkannya.
Dan jauh di bawah istana, di balik lapisan batu yang telah digali selama bertahun-tahun, sebuah lingkaran hitam mulai berdenyut.
Sekali.
Dua kali.
Lalu terdengar suara yang tidak berasal dari dunia mana pun.
Suara itu begitu dalam hingga bebatuan di sekitarnya bergetar.
Salah seorang penyihir yang menjaga ruang ritual langsung jatuh berlutut. Wajahnya pucat ketika melihat simbol-simbol kuno mulai menyala.
"Yang Mulia..."
Ia menatap lingkaran hitam tersebut dengan tubuh gemetar.
"Sepertinya... sesuatu di balik gerbang itu telah menyadari keberadaan kita."
Di tengah kegelapan, sepasang mata berwarna ungu perlahan terbuka.
Dan untuk pertama kalinya setelah ribuan tahun, Dewa Void mulai memperhatikan dunia manusia.
Daftar bab
3 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








