
ZERO TO KING CINDAKU; VS LYCAN & VAMPIRE
Chana Lee|Bersambung
- Jumlah kata
- 10.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
- Jumlah kata
- 10.5K
- Popular
- 100
- Subscribe
- 0
Sinopsis
Jika Barat memiliki Lycan dan Vampire, Indonesia memiliki Cindaku, manusia berdarah harimau yang hidup tersembunyi di antara manusia biasa. Jendra Kusumah, seorang pemuda miskin dari kasta manusia terendah, menikahi wanita Cindaku yang justru merendahkannya. Keluarga sang istri bahkan berencana menjodohkannya dengan bangsawan Lycan dan putra mahkota vampir demi meningkatkan kekuatan dari klan mereka tanpa mengindahkan perasaan Jendra yg sah sebagai suaminya Namun, segalanya berubah ketika Jendra tanpa sengaja membunuh vampir tingkat tinggi, sesuatu yang sesungguhnya hanya mampu dilakukan Cindaku setingkat Raja ! Kini, klan Lycan dan vampir memburunya. Siapa sebenarnya Jendra?pria yang selama ini mereka remehkan?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
KUKU HARIMAU EMAS
"Uuuuuh, ooooh, aaaah, enak. Pelan-pelan, aaa."
Suara desahan itu membuat langkah Jendra terhenti tepat di depan rumah tua yang telah lama terbengkalai.
Rumah tua itu berdiri tepat di bawah pohon bambu di Desa Sribawani. Sebuah desa kecil dgn mayoritas petani jagung dan pengrajin batu bata yang terletak di bagian timur Kota Lampung, Sumatera indolanesia.Warga Desa Sribawani tak ada yang berani melewati rumah itu, apalagi saat malam tiba karena, konon katanya, rumah itu dihuni oleh kawanan vampire dan kawanan Lycan atau manusia serigala. Beberapa tahun ini memang ras vampire dan Lycan mulai bermigrasi dan menetap di negeri Iini, hidup berdampingan dengan manusia biasa dan juga ras Cindaku atau manusia harimau yang selama ini menjadi legenda di negara indolantis ini.
Akan tetapi, Jendra yang merupakan manusia murni ysng dinilai sebagai ras lemah terpaksa melewati rumah itu untuk segera ke rumah istrinya yang memang rutenya harus melewati rumah tua tersebut.
Jendra tergesa karena di rumah istrinya,malam ini akan diadakan rapat triwulan keluarga besar istrinya yang merupakan keluarga terpandang dan cukup kuat di kalangan ras Cindaku atau Manusia Harimau.
Jendra terburu- buru untuk segera ke rumah istrinya. Karena jiks terlambat maka hukuman berat sudah dipastikan akan ia dapatkan dari keluarga istrinya itu namun...
KRIEEET… KRIEEEET…
Suara derit daridalam rumah tua itu terdengar semakin jelas,disusul kembali dengan suara rintihan dan desahan yang semakin keras dan liar.
"Uuuuugh... AAARGH... OOOOH."
"Enak bangeeet!tapi kenapa kamu menggigit leherku,bang"suara wanita terdengar sedikit bergetar dan mendesah.
“ Agar kamu jadi manusia vampire sepertiku. Karena setelah kugigit, maka kamu akan jadi vampire sepertiku sehingga ,kamu akan tahu dan ngerasakan betapa dahsyatnya sex ini!” Jawab seorang lelaki yang belum jendra ketahui sosoknya.
Suara itu sayup-sayup terdengar oleh Jendra hingga membuat Jendra menghentikan langkahnya dan berbelok memasuki rumah tua itu.
Setibanya di pintu rumah, Jendra langsung menodongkan wajah dan matanya ke lubang pintu.
Melalui pintu itu, Jendra melihat Abang David, anak Pak Lurah yang disinyalir merupakan pria tajir dan pria tertampan di desa, sedang mencobloskan tombak kebanggaannya ke selangkangan Neng Ayu.
Neng Ayu adalah gadis si bunga desa yang banyak dikagumi pria karena kecantikannya. Bahkan, Jendra pun menaruh hati sejak dulu, dan kini semakin terpukau kala ia melihat dadanya yang besar dan padat tadi diremas oleh tangan David.
Tapi yang membuat Jendra bergidik adalah karena ia melihat tadi Abang David, sambil mencoblos, ternyata menggigit leher Ayu dengan taring giginya hingga darah mengucur dari leher Ayu yang menggelinjang.
“Jadi, Abang David itu vampire?” gumam Jendra dalam hatinya sambil berbalik dan berderap untuk pergi karena bisa jadi masalah besar jika dirinya ketahuan sedang mengintip.
Dag-dig-dug dan sesak dadanya karena takut, hingga...
BBRRRUK!
Tak sengaja, Jendra menendang sebuah botol kaleng minuman.
Di dalam rumah, David dan Ayu terkejut mendengar itu.
Ayu dengan cepat memakai kembali kebayanya, sementara David terlihat mencondongkan telinga dan hidungnya ke arah suara. Sebagai vampire ia memang bisa mengendus dan merasakan gerak dengan sangat baik.bahkan geraknya pun bisa cepat menyaingi kecepatan cahaya.
"Siapa itu?" teriak David sambil menyeringaikan taring vampire-nya yang keluar perlahan seiring matanya yang memerah.
Jendra merasakan jantungnya yang terasa copot. Jantungnya berdebar hebat.
"Kuuuciiiiing, meooooong," jawab Jendra dengan spontan karena panik dan takut.
Sesaat itu juga,Jendra langsung menutup mulutnya sendiri dengan kedua tangannya yang bergetar karena sadar kdirinya sudah melakukan kesalahan, maka ia pun langsung melangkahkan kakinya untuk berlari. Namun, baru saja ia berlari beberapa langkah, sosok David sudah terlanjur melayang menubruk pintu rumah hingga pinru rumah tua itu hancur dan sosoknya sudah berdiri tepat di hadapan Jendra.
“Lancang sekali kau mengintip dan nenggangfuku, Manusis lemah!Akan kuhisap darahmu jika kau membocorkan semua yang sudahkau lihat tadi!” ancam David sambil menatap Jendra dan menyeringaikan taring panjangnya.
Setengah berlari dengan napas memburu dan rasa takut yang masih mencekat di tenggorokan, Jendra akhirnya berhasil meloloskan diri dari amukan David. Kakinya terus melangkah meninggalkan rumah tua angker itu, menuju satu-satunya tempat berlindung yang ia punya,rumah istrinya.
Sesampainya di rumah yang megah, rumah milik Luna, istrinya, yang dikenak merupakan keluarga terhormat dari ras Cindaku atau manusia harimau terkuat di kotaSribawani ini.
Tidak ada seorang pun yang menyambut Jendra. Jendra pun langsung bergegas berlari ke dapur untuk melaksanakan tugas-tugasnya di rumah itu.
"Setahun menikah dengan Luna tapi aku belum pernah berhubungan intim dengannya, apa aku harus meladeni Fenny, kakaknya yang sedikit genit untuk menyalurkan hasratku?" Guman Jendra yang sedikit frustasi atas nasib hidupnya.
"Atau aku coba merayu Vivi saja, adiknya Luna yang agak pendiam tapi menarik dengan kacamata bulatnya?'' lanjut Jendra marih dalam bathinnya.
"Atau sekalian aku rayu ibu mereka saja yang masih cukup segar dan tentu kehausan karena telah ditinggal oleh suaminya?" Jendra madih bergumam di dalam hatinya.
"Aaaarg! Semuanya memang cantik, menarik, menggoda, tapi semua sama-sama sombong, semua selalu merendahkanku sebagai orang biasa bahkan manusia miskin yang tak berguna!'), pungkas Jendra dengan sarkas madih di dalam hatinya dan terkesan frustrasi juga horny, terlebih setelah ia mengingat adegan David sama Ayu tadi di rumah tua itu.
Jendra, pria tampan usia 27 tahun itu masih perjaka meski telah setahun menikah dengan Luna.
Selama setahun ini, Jendra hanya bisa bermimpi saja untuk bisa merasakan sebuah 'keintiman' yang konon katanya terasa bagai surga dunia.
('Aku bisa saja bersabar, tapi aku juga butuh yang hangat-hangat dan yang enak-enak!')
Jendra terus merutuk sambil mengepel lantai di dapur luas milik keluarga Khanaya yang terpandang, baik di kalangan manusia ataupun di kalangan Cindaku, lycan, dan vampire.
Di rumah ini sedang diadakan pertemuan rutin triwulan bagi segenap keluarga besar Khanaya.
Jendra masih di dapur.
Tangannya memutar lap basah di atas lantai keramik sementara pikirannya membayangkan tengah meremas dada Luna yang besar dan empuk seperti cara David tadi saat meremas dada Ayu yang besar dan putih mulus.
Ingatan itu membantu fantasinya semakin liar dan terasa seakan nyata.
Setelah selesai mengepel lantai, Jendra lantas mencuci piring di dapur.
Jendra menghapus keringat di keningnya dengan punggung telapak tangannya yang basah oleh sabun.
Tugas-tugas seperti inilah yang selalu dikerjakan oleh Jendra saat di rumah.
Jendra lebih terlihat sebagai seorang pelayan ketimbang sebagai menantu di keluarga Khanaya ini.
Tapi sejauh ini, Jendra masih rela melakukannya karena ia percaya bahwa batu yang keras akan hancur oleh tetesan air yang menghantamnya terus-menerus. Begitu pun dengan cinta Luna, akan luluh pada masanya.
Dua tahun yang lalu Jendra terpaksa hidup sebatang kara setelah bapak dan ibunya dikabarkan meninggal oleh terkaman sekawanan lycan. Karena keadaan itu, Jendra sampai harus berjuang sendirian untuk mencari sesuap nasi.
Jika ia tidak bertemu dengan Tuan Taruma, kakeknya Luna yang menikahkan dirinya dengan Luna, mungkin ia sudah jadi gembel atau bahkan mati kelaparan saat itu.
Itulah alasannya kenapa Jendra menikmati setiap pekerjaannya.
Meski dirinya direndahkan dan diperlakukan layaknya pembantu, tapi setidaknya... bersama keluarga Khanaya ia bisa makan dengan gratis, dan berkumpul dengan wanita-wanita cantik.
Tak ada yang tahu kenapa Tuan Taruma yang merupakan tetua dari ras Cindaku sangat ingin menikahkan Jendra dari ras manusia biasa untuk menikah dengan Luna, cucunya yang bisa dibilang paling cantik di antara cucunya yang lain.
Kecantikan Luna sempat membuat para pengusaha muda berlomba untuk mendapatkannya. Bahkan para bangsawan dari ras lycan dan vampire pun sempat melayangkan lamarannya, tapi semua lamaran itu ditolak dan Tuan Taruma lebih memilih Jendra yang merupakan manusia biasa, yang dinilai paling lemah dari ras Cindaku, lycan, dan vampire.
Tapi entah apa alasannya, Taruma, tetua dari keluarga Khanaya itu, malah menikahkan Luna dengan Jendra, lelaki yang dianggap tak berguna ini. Tuan Taruma hanya berkata mengambang dengan mengatakan, “Aku melihat potensi yang berbeda dari sosok Jendra ini, dan ini keputusan mutlak dariku.”
Begitulah penjelasan Tuan Taruma saat itu yang bersikeras ingin menikahkan cucunya dengan Jendra.
Bahkan saking inginnya pernikahan ini terjadi, Tuan Taruma sampai tega memaksa Luna dengan keras agar cucunya itu mau menikahi Jendra.
Itu juga yang menjadi alasan kenapa Luna tak mau disentuh sedikit pun oleh Jendra.
Namun, alasan yang sebenarnya tentang Tuan Taruma atas pernikahan ini terus terkubur dikarenakan Tuan Taruma meninggal dunia seminggu setelah pernikahan Luna dan Jendra.
Hingga akhirnya, Jendra pun semakin direndahkan dan selalu dijadikan bahan olok-olokan bagi keluarga Suharta tanpa seorang pun yang membelanya.
Mungkin, hanya tinggal menunggu waktu saja Jendra akan ditendang dari keluarga Khanaya ini.
Dan hari ini, pertemuan keluarga besar Khanaya sedang digelar.
Saat Jendra sedang mencuci piring di dapur, di ruang lain, keluarga besar Khanaya sedang berkumpul. Mereka kali ini terlihat pucat, bahkan suasana ruangan kental dengan aura ketegangan.
Alena, bibi Luna, terlihat sedang mengoceh. Janda berbadan gemuk dengan rok hitam ketat itu terlihat menyudutkan Luna.
"Kalau kamu menikahi lelaki lain yang lebih produktif dan lebih kuat, mungkin keluarga Khanaya tak akan seperti ini. Si Jendra suamimu yang tak berguna itu adalah biang sial dari semua kekacauan di keluarga kita," ucap Alena.
"Iya betul. Sejak ada si benalu itu, dan sejak raja Cindaku kita tewas di tangan Victor si taja vampire itu,keluarga kita perlahan ambruk. Cepat usir dia saja!"
"Seandainya kamu menikahi pria dari kalangan bangsawan lycan atau vampire, mungkin keluarga kita tak akan separah ini."
"Betul, kapan kamu mau menyingkirkan si manusia lemah pembawa sial itu?"
"Kalau kamu tidak mampu, biar kami yang mengusirnya!" Teriak salah seorang dari mereka sambil mengacungkan kepalan tangannya.
Ocehan-ocehan dari keluarga besar Khanaya itu membuat Luna menundukkan kepalanya, karena ia pun tak kuasa atas pernikahannya dengan Jendra.
Sekarang tugasnya adalah untuk menyingkirkan Jendra agar ia bisa menikah dengan lelaki dari ras kuat yang diharapkan bisa membantu kesulitan di keluarga Khanaya.
Kekuatan keluarga Khanaya memang tengah dihantam badai.
"Keluarga kita menuju kehancuran. Mau tidak mau kita harus memintabantuan ras terkuatuntuk membuat pamor keluarga kita tetap bertahan," cetus salah satu anggota keluarga Khanaya.
"Bagaimana kalau kita minta bantuan dari Pak Lurah? Mereka keluarga vampire terkuat di wilayah ini. James Sagara adalah vampire kelas Emas nomor satu di negeri ini, dan aku pernah dengar dari kakek bahwa pernah ada kedekatan di antara kita dengan keluarga Sagara," cetus yang lainnya bersamaan dengan kedatangan Jendra ke ruang itu.
"Pak Lurah punya anak laki-laki yang masih lajang, namanya David. Akan sangat menguntungkan bagi kita jika Luna dibikahkan dengannya," lanjutnya dengan penuh keyakinan dan percaya diri.
Belum sempat ide itu disetujui oleh keluarga lainnya, tiba-tiba saja...
Jendra datang ke ruang itu untuk membawakan makanan.
Kedatangannya sontak membuat kemarahan mereka seakan menemukan tempat pelampiasannya.
Sementara, ketika Jendra masuk dan mendengar nama keluarga Pak Lurah dan David,anaknya disebutkan, Jendra sempat mengerjap, namun ia abaikan dan kembali menyiapkan makanan di sebuah meja. Jendra tak boleh terlibat dalam urusan keluarga ini. Keberadaannya di sana hanyalah sebagai pelayan, tak lebih dari itu.
"Aku tidak setuju! Itu namanya kita bermental pengemis. Lebih baik Luna tinggalkan suamimu itu secepatnya, kemudian dekati anak Simon Anggara dari ras Lycan, karena katanya keluarga mereka memiliki ahli waris pria yang masih lajang, kuat, dan tampan juga," teriak Alena kepada Luna sambil menunjuk Jendra layaknya menunjuk sampah.
"Betul itu, aku setuju. Tinggalkan saja si benalu ini. Kamu kan cantik, Luna. manfaatkan kecantikanmu untuk mendapatkan hati dari anaknya Tuan Simon Anggara!"
"Pokoknya setelah kita turun dari kapal ini, kamu usir suamimu yang tak berguna itu!"
"Setuju!"
"Setuju!"
"Setuju!"
Luna hanya tertunduk. Mengusir Jendra mungkin urusan mudah, tapi bagaimana dia bisa mendekati anak dari Tuan Simon Sagara yang sama sekali tidak ia kenali dan tidak ia ketahui wajahnya.
Jika saja benar anak tunggal Simon Anggara masih lajang, maka Luna menduga jika anaknya itu berwajah buruk atau menakutkan.
Karena jika tidak buruk rupa, maka pria sekuat itu tak akan melajang. Itulah logika Luna.
Sementara, Jendra sedikit menelan salivanya. Ia tak bisa menahan mulutnya untuk tidak bersuara dengan topik yang terdengar olehnya.
"Keluarga Pak Lurah tak mungkin memberi bantuan, bahkan anaknya pun hanyalah seorang bajingan tukang mesum," celetuk Jendra yabg sudah tak sabar untuk bersuara sedari tadi, membuat ruangan itu hening seketika.
Semua mata menatapnya dengan tajam dan bengis.
"Heh, bodoh! Tahu apa kau soal keluarga Pak Lurah, hah? Dasar lancang kau!"
"Kamu itu hanya paham caranya nyapu dan cara ngelap lantai, gak akan paham urusan kami!"
"Otakmu itu gak akan sampai!"
"BODOH!"
"BENALU!"
"PEMBAWA SIAL!"
Jendra dihujani oleh hinaan dan hujatan sebelum akhirnya ia diusir keluar dari ruangan itu.
Jendra pun keluar dari ruangan itu, ia berjalan sambil merutuk kesal di dalam hatinya.
Namun, langkahnya langsung terpaku kaku.
Tepat di halaman depan, jalan keluar telah terblokade. James Dirga, sang Lurah yang juga ayah dari David, sudah berdiri tegak menghadang jalannya.
James Dirga bukanlah vampir sembarangan. Ia adalah vampire kalangan atas berstatus tetus, sosok tetua yang memiliki kekuatan sihir dan fisik tingkat tinggi, serta disegani di seluruh wilayah.
Seketika, darah Jendra terasa berhenti mengalir. Ketakutan yang luar biasa langsung melanda jiwanya. Bukan hanya karena ia berhadapan dengan monster sekuat James Dirga, tetapi juga karena bayangan bahwa dirinya baru saja memergoki anak sang Lurah sedang berbuat mesum dan mengisap darah tadi siang.
Jendra takut jika David sudah mengadukan dirinya kepada ayahnya ini dan kedatangannya James Dirga ini untuk membunuhnya.
Suasana malam mendadak mencekam. James Dirga menatap Jendra dengan mata merah menyala penuh amarah, sementara auranya menekan kuat hingga membuat Jendra sulit bernapas.
"Jadi... kau tikus kecil yang berani mengusik anakku di rumah tua itu?" suara James Dirga menggema berat, dingin, dan mematikan.
James melangkah maju perlahan mendekati Jendrs yang bergetar hebat dengan keringat dingin yang mulai merembes dari pelipisnya.
James Dirga mengangkat tangannya bersiap mencabut nyawa Jendra. "Karena kau sudah tahu rahasia kami, dan berani mengganggu David... malam ini adalah hari kematianmu!"sentak James samvil menyeringaikan yaribgnya seraya mengayunkan tabgannya yang mengeluarkan kuku hitam yang panjang.
Ketakutan Jendra mencapai puncaknya. Di tengah kepanikan ekstrem saat maut berada di depan mata, insting pertahanan tubuhnya bereaksi di luar kesadaran. Dari jari- jaru tangan Jendra perlahan munxul kuku emas panjang dan tanpa sengaja, tangan Jendra tersentak ke depan untuk menangkis pukulan James.
SREEEET!
Suara robekan udara yang tajam bergemeretak. Tanpa disadari oleh Jendra maupun orang-orang yang melihat, dari ujung jemari tangannya tiba-tiba melesat keluar kuku harimau berwarna emas berkilau, sangat panjang dan memancarkan energi aneh yang menyilaukan.
“ Kuku emas harimau?” Pekik salH seorang dari keluarga Khanaya.
“ Mustahil, kuku harimau emas hanya dimiliki oleh raja cibdaku. Tak mungkin manusia lemah bisa memiliki kuku itu,” timpal Bena, paman dari Luna.
JLEB!
Dalam sepersekian detik, kuku emas itu menembus dada James Dirga dengan begitu mudahnya.
Seluruh halaman mendadak sunyi senyap. Angin malam seolah berhenti berembus.
James Dirga, sang vampire kelas tetus emas yang terkenal kebal dan mustahil bisa dibunuh oleh ras lycan ataupun Cindaku biasa, apalagi oleh manusia lemah seperti Jendra.
Tapi,kini semua mata melotot tak percaya menatap dada James yang telah tembus oleh kuku harimau berwarna emas dari tangan Jendra.
Detik berikutnya, keajaiban yang lebih mengerikan terjadi. Tubuh James Dirga mendadak tersulut oleh nyala api keemasan dari dalam luka tersebut.
FUSSSHHH!
Dalam sekejap, tubuh yang digadang-gadang sebagai sang penguasa vampire tingkat tinggi itu langsung terbakar habis, menyisakan butiran abu yang berjatuhan ditiup angin malam. James Dirga tewas seketika tanpa sempat melawan.
"M-mustahil..." decak salah seorang keluarga istrinya yang tadi sempat menghina Jendra, terdengar terduduk lemas dengan mata terbelalak ngeri. "Bagaimana mungkin manusia biasa seperti Jendra bisa membunuh vampire kelas atas semudah itu?! Siapa... sebenarnya dia?!"
Sementara itu, Jendra sendiri berdiri termangu. Ia menatap kedua tangannya yang kini kembali normal, napasnya tersengal-sengal, sama sekali tidak percaya atas apa yang baru saja terjadi pada tubuh dan takdirnya malam ini.
“ A- apa yang terjadi padaku?” Gumam Jendra sambil menatap kuku-kuku di tangannya sendiri yang perlahan menghilang kembali.
Daftar bab
7 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








