
LELUHUR BARBAR DARI SEMBILAN KEHIDUPAN
Lolipop|Bersambung
- Jumlah kata
- 95.2K
- Popular
- 2.9K
- Subscribe
- 137
- Jumlah kata
- 95.2K
- Popular
- 2.9K
- Subscribe
- 137
Sinopsis
Baran Barata, sosok terkuat di antara Tiga Puluh Enam Alam Abadi, memilih menjalani sembilan kehidupan melalui reinkarnasi.Dalam setiap kehidupan, ia selalu mencapai puncak kekuatan dan menjadi legenda di berbagai alam.Namun, di kehidupan kesembilan, ingatannya tersegel. Ia terlahir kembali sebagai pemuda biasa, kehilangan akar spiritual, dituduh mencuri teknik sekte, bahkan ditinggalkan tunangannya demi pria lain.Semua orang menganggapnya telah jatuh dan tak akan bangkit lagi.Namun, ketika segel ingatannya terbuka, sang legenda pun kembali!
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
1
Benua Sembilan Kegelapan.
"Lumpuhkan dia!"
"Buang dia ke dalam lembah!"
"Laporkan kepada sekte bahwa dia telah mencuri teknik kultivasi dan melarikan diri karena takut menerima hukuman!"
...
"Aku adalah Kaisar Abadi, penguasa nomor satu di Tiga Puluh Enam Wilayah Abadi!"
"Aku adalah Kaisar Siluman, siluman terkuat di Sembilan Wilayah Siluman!"
"Aku adalah Kaisar Iblis, iblis nomor satu di Kawasan Terlarang Sepuluh Ribu Iblis!"
"Aku adalah Kaisar Roh, roh terkuat di Wilayah Pegunungan Seribu Roh!"
"Aku adalah Kaisar Hantu, penguasa Wilayah Gua Hantu!"
...
Berbagai ingatan silih berganti di dalam benaknya. Rasa sakit yang hebat membuat Baran Barata berkeringat dingin meskipun tampak sedang tertidur. Wajahnya pucat dan mengerut, seolah-olah sedang mengalami mimpi buruk.
"Baran! Bangunlah!"
Di samping seorang pemuda yang tubuhnya dibalut perban, duduk seorang lelaki tua berambut putih. Kedua matanya berkaca-kaca.
Tepat saat itu, Baran Barata tiba-tiba membuka mata dan terengah-engah.
"Dia sadar! Dia akhirnya sadar!"
Lelaki tua itu sangat gembira.
Namun, seorang pria paruh baya yang berdiri di sampingnya menggelengkan kepala dengan ekspresi tak berdaya.
"Meski sudah sadar, luka-lukanya terlalu parah. Banyak tulangnya yang patah. Aku khawatir, untuk sisa hidupnya nanti..."
Lelaki tua berambut putih itu segera menggenggam tangan pria tersebut dengan cemas.
"Tabib Burhan, kultivasi adalah seluruh hidupnya! Aku mohon, Anda harus menolongnya!"
"Ah, mari kita keluar dahulu. Jangan ganggu dia beristirahat."
Pria yang dipanggil Tabib Burhan itu menopang lelaki tua tersebut. Wajahnya tampak muram.
Sambil berjalan tertatih-tatih, lelaki tua itu terus memohon, "Tabib Burhan, aku mohon kepada Anda. Berapa pun biayanya, Klan Barata akan berusaha membayarnya. Aku harus membuatnya pulih dan bisa berkultivasi kembali!"
"Masalah ini... cukup sulit dijelaskan."
Keduanya perlahan menjauh dari ruangan.
Sementara itu, kilatan aneh melintas di mata Baran Barata.
Setelah seluruh ingatan dari kehidupan-kehidupan sebelumnya menyatu, ia menarik napas panjang.
"Sepertinya... ini benar-benar kehidupan kesembilanku!"
Baran Barata adalah manusia pertama di Benua Sembilan Kegelapan yang berhasil menjadi makhluk abadi. Bahkan, ia pernah menjadi penguasa nomor satu di Tiga Puluh Enam Wilayah Abadi.
Namun, ketika memasuki kawasan terlarang di Wilayah Abadi, ia dijebak oleh seseorang. Tubuh fisiknya hancur dan jiwanya tercerai-berai.
Karena itulah, Baran Barata mengembangkan Kitab Sembilan Kehidupan Reinkarnasi, membagi jiwanya menjadi sembilan bagian agar masing-masing dapat menjalani kultivasi secara terpisah.
Dalam delapan kehidupan sebelumnya, ia pernah pergi ke Alam Siluman dan menjadi Kaisar Siluman, memasuki Alam Roh dan menjadi Kaisar Roh, serta menguasai Alam Iblis sebagai Kaisar Iblis. Ia juga pernah menjadi Kaisar Hantu di Alam Hantu.
Di berbagai alam tersebut, namanya telah meninggalkan legenda.
Dan sekarang, tibalah kehidupan terakhirnya.
Namun, ia tidak menyangka bahwa dalam kehidupan kesembilan ini, dirinya justru kembali ke Benua Sembilan Kegelapan.
Sudah seratus ribu tahun berlalu sejak pertama kali ia menjadi makhluk abadi.
"Huh... Mari kita periksa kondisi tubuh ini terlebih dahulu."
Baran Barata tahu bahwa bakat bawaan tubuh sangat memengaruhi kultivasi. Karena itu, ia harus memastikan kondisi tubuhnya saat ini.
Namun, setelah memeriksanya, ia langsung terkejut.
Banyak tulang di tubuhnya telah patah. Bahkan, tulang akar spiritualnya pun telah dicabut.
Tatapan Baran Barata seketika berubah dingin.
"Generasi muda zaman sekarang benar-benar kejam!"
Yang dimaksudnya dengan generasi muda adalah orang-orang dari salah satu sekte abadi terkenal di daerah tersebut.
Sekte itu bernama Sekte Cahaya Suci.
Adapun tubuh yang sekarang ditempatinya merupakan milik seorang pemuda yang telah bersusah payah mendapatkan kesempatan untuk memasuki sekte tersebut dan berkultivasi.
Sayangnya, karena terlalu rajin dan memiliki bakat luar biasa, ia justru membuat orang lain iri.
Akibatnya, seorang pria berpakaian hitam mencabut tulang akar spiritualnya. Setelah itu, rekan-rekan seperguruannya memfitnahnya telah mencuri teknik kultivasi. Pada akhirnya, ia dilemparkan dari tebing untuk menciptakan kesan bahwa dirinya melarikan diri karena takut menerima hukuman.
Tanpa tulang akar spiritual, seseorang praktis tidak bisa melanjutkan kultivasi. Ditambah lagi dengan luka parah akibat terjatuh dari tebing, fakta bahwa pemuda itu masih hidup sudah merupakan sebuah keajaiban.
Bagi Baran Barata, membunuh para junior tersebut bukanlah perkara sulit.
Namun, teknik kultivasi yang digunakan pria berpakaian hitam itu terasa sangat aneh. Teknik tersebut memiliki kemiripan dengan teknik kelompok yang dahulu menjebaknya di Wilayah Abadi.
"Sepertinya aku harus menggeledah Sekte Cahaya Suci sampai ke akarnya dan menemukan pria berpakaian hitam itu!"
Setelah mengambil keputusan, Baran Barata menenangkan pikirannya.
Namun, ketika hendak bangkit, ia baru menyadari bahwa tubuhnya masih terlalu lemah.
"Hampir saja aku lupa kalau tubuh ini masih terluka parah!"
Tok! Tok!
Terdengar ketukan dari pintu.
Baran Barata segera memasang kewaspadaan.
"Siapa?"
"Tuan Muda, ini aku!"
Suara seorang gadis terdengar dari luar. Baran Barata segera mengenalinya. Dia adalah Yuni Amzil, pelayan di Kediaman Klan Barata.
Setelah mengetahui siapa yang datang, Baran Barata berkata, "Masuklah."
Seorang gadis kecil berusia sekitar lima belas atau enam belas tahun berjalan masuk sambil membawa semangkuk obat.
"Tuan Muda, Tabib Burhan berkata bahwa setelah meminum obat ini, kondisi Anda akan sedikit membaik."
Sambil berbicara, Yuni Amzil meniup obat yang masih agak panas itu.
Baran Barata mencium aromanya dan langsung mengetahui bahwa obat tersebut mengandung banyak bahan berharga.
Namun, obat itu tidak akan memberikan banyak manfaat bagi tubuhnya.
Ia pun menatap Yuni Amzil.
"Yuni, aku ingin meminta bantuanmu."
"Tuan Muda, katakan saja apa yang Anda butuhkan!"
Yuni Amzil segera meletakkan mangkuk obat.
"Carilah beberapa orang untuk membantuku pergi ke bawah pohon tua berusia seribu tahun di halaman."
Baran Barata sempat ragu sebelum mengatakannya.
Yuni Amzil langsung cemas.
"Tetapi, Tuan Muda, luka Anda..."
"Setelah sampai di sana, aku akan pulih."
Baran Barata menjawab dengan tenang.
Yuni Amzil tidak tahu apakah perkataannya benar atau tidak. Namun, ia tetap segera mencari beberapa pelayan untuk membantu membawa Baran Barata ke bawah pohon tua di halaman.
Pohon itu memiliki dedaunan yang sangat rimbun dan tampak luar biasa.
Setelah bersandar di bawah pohon tersebut, Baran Barata berkata kepada semua orang, "Kalian boleh pergi, kecuali Yuni."
Para pelayan segera mundur, tetapi mereka masih berbisik-bisik.
"Apa yang hendak dilakukan Tuan Muda?"
"Setelah mengalami pukulan sebesar itu, mungkin..."
"Ah, sungguh malang Klan Barata!"
"Benar. Satu-satunya penerus keluarga mereka kini malah menjadi seperti ini."
...
Baran Barata tidak memedulikan pembicaraan mereka. Ia memejamkan mata dan mulai menjalankan Kitab Sembilan Kehidupan Reinkarnasi.
Pada detik berikutnya, ia berhasil melihat kondisi bagian dalam tubuhnya.
Di dalamnya terdapat sembilan kelompok energi. Delapan di antaranya memancarkan cahaya terang, sedangkan kelompok kesembilan tampak redup.
"Mari kita lihat apa yang terjadi jika kehidupan kesembilan ini diaktifkan!"
Baran Barata menarik napas panjang, lalu mengarahkan kesadarannya ke kelompok energi kesembilan yang redup.
Sekejap kemudian, kekuatan aneh mulai mengalir keluar dari kelompok energi tersebut.
Pada saat yang sama, pohon berusia seribu tahun itu perlahan mulai layu.
Yuni Amzil terkejut hingga wajahnya pucat.
"Tuan Muda, pohon di belakang Anda...!"
Baran Barata tetap memejamkan mata dan menjawab dengan tenang, "Aku membutuhkan esensi kayu. Kebetulan pohon berusia seribu tahun ini memilikinya, jadi aku meminjamnya untuk sementara. Nanti akan kuganti."
Esensi kayu?
Yuni Amzil sama sekali tidak memahami apa yang dimaksud Baran Barata.
Tak lama kemudian, pohon berusia seribu tahun itu benar-benar mengering.
Namun, pada saat yang sama, seluruh luka di tubuh Baran Barata telah pulih.
Kelompok energi kesembilan yang sebelumnya redup di area dantiannya kini mulai menunjukkan sedikit fluktuasi energi spiritual.
Meski begitu, untuk benar-benar membukanya dan menyatukan kelompok energi tersebut dengan tubuhnya saat ini, ia masih membutuhkan sejumlah bahan obat serta energi spiritual dalam jumlah besar.
Karena itu, Baran Barata membuka mata dan memutuskan untuk pergi ke pasar guna mencari bahan-bahan yang dibutuhkannya.
Namun, Yuni Amzil masih terpaku dalam keterkejutan.
Baran Barata telah berdiri!
Bahkan, ia langsung melepaskan seluruh perban yang membalut tubuhnya.
"Aku akan keluar sebentar."
Setelah mengatakan itu, Baran Barata berjalan meninggalkan Kediaman Klan Barata.
Para pelayan Klan Barata yang melihatnya sontak terbelalak.
...
Setelah keluar dari Kediaman Klan Barata, Baran Barata tiba di Kota Phoenix.
Namun, sepanjang perjalanan, banyak orang menunjuk ke arahnya sambil berbisik.
"Lihat, itu Baran Barata!"
"Yang mencuri teknik kultivasi Sekte Cahaya Suci?"
"Benar, pasti dia!"
"Dia tidak melarikan diri? Berani sekali dia masih muncul di sini!"
"Katanya, orang-orang dari Sekte Sembilan Kegelapan akan melindunginya."
"Sekte Sembilan Kegelapan? Bukankah itu sekte yang sudah merosot?"
"Meski kurus, unta tetap lebih besar daripada kuda."
...
Baran Barata masih mengingat Sekte Sembilan Kegelapan. Seratus ribu tahun yang lalu, sekte tersebut merupakan sekte terbesar nomor satu.
Namun, sekarang mereka bahkan telah merosot menjadi sekte kelas tiga yang tidak diperhitungkan.
"Kalau Chandra Ankara tahu tentang keadaan sektenya sekarang, dia pasti akan kembali dan membunuh semua orang, bukan?"
Baran Barata menggelengkan kepala sambil tersenyum getir.
Tepat saat itu, sekelompok orang menghalangi jalan di depannya.
Daftar bab
71 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








