
SISTEM PEMBALIK NASIB
Chana Lee|Bersambung
- Jumlah kata
- 77.5K
- Popular
- 817
- Subscribe
- 141
- Jumlah kata
- 77.5K
- Popular
- 817
- Subscribe
- 141
Sinopsis
Dibuang, dikhianati, dihina, dan dicampakkan kekasih karena miskin. Kendra ambruk, pingsan, dan tak sadarkan diri. Setelah harga diri dan segalanya diinjak-injak tanpa ampun. Saat siuman, Sistem Pembalik Nasib merasuk ke dalam jiwa dan melimpahkan harta tak bertepi. Namun, ketika roda takdir berputar begitu cepat, bagaimana nasib mereka yang dulu meremehkan Kendra?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Bab 1. PENGHIANATAN PALING SADIS
Kendra Sasmita menggenggam sebuah kotak kecil berwarna merah berisi cincin emas yang merupakan hadiah untuk Wilma Fahrani di hari ulang tahun kekasihnya itu.
Awalnya Kendra tampak bahagia. Selama empat tahun hubungan mereka, baru kali inilah ia bisa memberikan hadiah cincin emas untuk Wilma.
Meski cuma setengah gram dan hasil meminjam serta mencicil dari pinjaman online, Kendra cukup bahagia membayangkan kebahagiaan yang akan terpancar di wajah cantik Wilma saat nanti menerima hadiah tersebut.
Tapi, suasana hatinya seketika berubah ketika ia melihat sepasang sepatu pria di depan pintu kosan Wilma.
Uuuuuugh Aaaaaah… oooooh Yeeeeees, noooooo!
Dari teras, sayup terdengar sebuah rintihan penuh gairah yang sangat menggelikan sekaligus menjijikan di telinga Kendra. Tidak hanya itu, suara ranjang yang berdenyit pun ikut terdengar seakan musik pengiring yang menambah kesyahduan di dalam kostan.
"Tidak! Ini tidak mungkin!" desis Kendra dengan jantung yang bergemuruh.
Meski sulit, Kendra tetap berusaha menyingkirkan segala prasangka buruknya. Ia selalu yakin akan cinta dan kesetiaan Wilma terhadapnya.
“Gak mungkin Wilma berselingkuh apalagi bersetubuh dengan pria lain,” pikir Kendra sambil perlahan merogoh gagang pintu kostan untuk membukanya.
CEKLEK!
Perlahan Kendra membuka pintu kamar kost Wilma yang ternyata tidak terkunci.
Langkahnya perlahan. Ia sangat berhati-hati untuk menuju ke dalam kamar berukuran 3x3 meter itu.
Dari kamar itulah suara rintihan dan desahan lembut itu terdengar semakin jelas dan liar.
DEEEEGH!
Kendra tercengang. Ia mematung seiring matanya yang membulat sempurna.
Sebuah pemandangan menjijikan nampak di hadapannya.
Tubuh indah Wilma yang sangat dicintainya itu tengah digagahi oleh seorang lelaki berperawakan tegap yang tak asing bagi Kendra.
Lelaki itu adalah Maxim. Orang yang terkenal cukup kaya dan dikenal juga sebagai lelaki hidung belang.
Wilma yang cantik kala itu sedang menungging di atas kasur busa. Ia merintih manja seraya menutup mata seakan merasakan hujaman demi hujaman dari tombak tajam lelaki di belakangnya dengan penuh kenikmatan.
"Terus, Mas!"
Wilma bagai kuda yang dilecut oleh kusirnya.
Maxim tidak menyadari kehadiran Kendra. Ia semakin bergairah dan memacu gerakan doggy style-nya hingga berkecepatan tinggi.
BRAAAAAK!
Kotak cincin terjatuh dari genggaman tangan Kendra. Kehadiran Kendra akhirnya diketahui oleh Wilma dan juga Maxim yang tengah berada di puncak kenikmatan.
Tubuh Kendra bergetar dengan hebat. Wajahnya memerah dengan tangan yang mengepal kuat.
Tanpa pikir panjang, Kendra langsung mendekat ke arah Maxim dan menghajarnya.
Pukulan demi pukulan dilancarkannya ke wajah Maxim. Kendra dikuasai amarah dan kini sudah seperti seekor binatang buas. Tapi hal itu nampaknya tidak sama sekali membuat nyali Maxim ciut.
Terlebih karena Kendra tidak memiliki pukulan yang kuat, sehingga banyak pukulan yang meleset. Sekalipun kena, pukulan Kendra itu sama sekali tidak bertenaga. Tubuh Maxim bagai benteng kokoh yang terlalu kuat untuknya.
Namun, satu hal yang lebih membuat Kendra terkejut: Wilma malah menendang Kendra! Di luar dugaan, kekasihnya itu berada di pihak Maxim, bukan di pihak Kendra yang merupakan kekasih sahnya.
“Wilma, apa maksudnya ini? Kenapa kamu menendangku?” keluh Kendra, heran dan bingung.
Sementara Wilma tak sedikit pun terlihat malu layaknya orang yang kesalahannya baru terkuak. Yang ada, ia terlihat kesal sebab terpaksa menyudahi kenikmatan sebelum aktivitasnya dengan Maxim tadi mencapai puncak. Itu terlihat jelas di sorot mata dan lengkung bibirnya.
“Dengar, Sayang. Dia itu pria hidung belang. Sudah banyak wanita yang jadi korban dia. Aku gak mau kamu jadi korban selanjutnya!” seru Kendra untuk mengingatkan kekasihnya.
“Aku pikir lebih baik Maxim daripada kamu yang miskin!” balas Wilma dengan dingin.
Wilma lantas menarik selimut yang dipakainya dengan tergesa-gesa, seolah-olah ia tidak ingin menampakkan keindahan tubuhnya di hadapan Kendra yang notabene adalah kekasih hatinya.
Tingkah Wilma ini membuat Kendra kembali naik pitam.
"Kamu keterlaluan, Wilma," desis Kendra dengan suara bergetar menahan amarah dan kekecewaannya.
Akan tetapi…
PLAK!
Sebuah tamparan keras dari Wilma mendarat di pipi Kendra. Saking kerasnya tamparan itu, ujung bibir Kendra sampai terluka.
"Apa? Keterlaluan katamu?! Kamu nggak mikir apa ngomong kayak gitu, hah? Sudah bosan dan malu aku hidup miskin dan menderita sama kamu, Ken!" bentak Wilma sambil memungut pakaiannya yang tergeletak tidak karuan di lantai.
"Kamu pria yang gak berguna! Gak bisa ngebahagiain aku. Jangankan memberikan perhiasan, jajan enak, pakaian bermerek, memberikan kenyamanan pun kamu gak bisa! Kamu ini pria gagal, gak sudi aku hidup denganmu!" cecar Wilma.
Mendengar itu, Maxim menyeringai dan melangkah satu langkah ke hadapan Kendra.
“Dengar tuh, tolol! Dia milih aku!” pekik Maxim seraya menunjuk batang hidungnya sendiri dengan penuh kesombongan.
“Dan kamu ini payah. Katanya empat tahun pacaran sama Wilma, tapi dia masih perawan. Makasih sudah menjaga keperawanannya selama empat tahun,” lanjut Maxim dengan senyum menyeringai.
Saat itu, Kendra merasa dadanya tersayat. Memang, selama empat tahun pacaran dengan Wilma, belum sekalipun Kendra menyetubuhinya. Belakangan Wilma memang begitu menjaga jarak dengannya, tapi ia tak menyangka jika kekasihnya itu akan bertindak sejauh ini. Kata-kata yang keluar dari mulut Wilma itu begitu menyakitkan.
Melihat perubahan di raut muka Kendra, Maxim menyunggingkan senyum sinis. Ia sudah bangkit berdiri dan mulai memakai celana boksernya.
"Si tolol ini pasti gak normal! Apa yang bisa kamu harapin dari pria seperti dia? Bahkan aku bisa mengusir lelaki miskin seperti diari dari kota ini kapan pun juga," imbuh lelaki selingkuhannya itu sambil menatap jaket lusuh yang dikenakan Kendra.
Wilma turut menatap Kendra kemudian berkata,
"Justru aku tertipu dengan ketampanannya. Dan setelah kupikir-pikir, percuma tampan aja kalau kere. Zaman sekarang tampan bukan jaminan! Aku tentu lebih memilihmu, Maxim," tambah Wilma kepada lelaki selingkuhannya.
Perkataan Wilma tersebut sontak membuat pria selingkuhannya yang bernama Maxim itu semakin jumawa. Senyumnya mengembang seraya memungut satu per satu pakaiannya untuk ia kenakan kembali.
"Kalian nggak tahu malu! Aku sedang berusaha, Wilma! Setelah selesai kuliah aku akan mencari kerja dan melamarmu. Aku hanya memintamu untuk sedikit bersabar!" geram Kendra dengan mata yang memerah dan berkaca-kaca saat melihat tangan Wilma melingkar di pinggang Maxim.
Pemandangan itu sengaja dipertontonkan sebagai pukulan telak untuk Kendra.
"Aku sangat mencintaimu, Wilma!" tambah Kendra sambil melangkah mendekati Wilma.
"Cinta? Hahaha, no money no love! Makan itu pakai nasi, nasi dibeli dengan uang, bukan dengan cinta. PAHAM!" bentak Wilma seraya mendorong tubuh Kendra dengan kasar.
"Beri aku waktu, Wilma! Aku akan berusaha membuatmu bahagia! Aku janji, Wilma!" pinta Kendra yang terlalu mencintai Wilma dan berharap jika semua masih bisa diperbaiki.
Belum sempat Wilma menjawab, Maxim telah lebih dulu melangkah ke hadapan Kendra dan tiba-tiba saja…
"Cuh!" Maxim meludahi Kendra hingga cairan pekat dari mulutnya menempel tepat di dada Kendra.
"Selamat menikmati kemiskinanmu, bodoh!" lanjut Maxim.
Kendra merasakan sakit dan perih yang teramat hebat. Ulu hatinya seakan putus dan hangus di malam hari ulang tahun kekasihnya itu.
"Aku tidak akan memaafkanmu! AKU INGIN KITA PUTUS, Wilma!" desis Kendra sambil menunjuk Wilma dengan telunjuk yang bergetar.
"Hahahaha, aku senang mendengarnya. Bagus! Itu yang aku tunggu selama ini," timpal Wilma sambil bergelayut di tangan Maxim dan pergi meninggalkan Kendra seorang diri di kamar kost yang sudah ternoda tersebut.
Kini, Wilma telah pergi meninggalkan kamar itu. Meninggalkan Kendra sendirian dalam lukanya yang terasa meruntuhkan segala-galanya.
Bahkan, dengan tidak tahu malunya, Wilma menyempatkan diri untuk memungut cincin hadiah yang dibawa oleh Kendra.
Dengan lunglai, Kendra berjalan keluar kamar.
Akan tetapi, baru saja Kendra melangkah beberapa langkah…
Tiba-tiba saja dunia terasa perlahan menghitam. Darah segar keluar dari hidung Kendra, seketika itu juga gelap total dan tubuhnya terkulai. Kendra tak sadarkan diri. Dunianya terasa hancur dalam sekejap.
Malam ini memang panas, kamar kost kekasihnya pun basah, tapi dibasahi oleh lelaki lain. Dan itu rasanya teramat sangat SAKIT!
"Apa hati dan tubuh semua wanita bisa dibeli dengan uang?" rutuk Kendra dalam hatinya yang penuh luka. "Jika iya, maka buatlah aku menjadi kaya, Tuhan!"
Doa teruntai seiring napasnya yang terasa sesak dan lututnya yang melemas.
Di saat itu, di antara sadar dan tidak, tiba-tiba terdengar sebuah suara yang berdengung di telinganya.
[Selamat, Kendra Sasmita, Anda telah terhubung sebagai host pada SISTEM PEMBALIK NASIB]
Kendra mendengarkan suara itu yang terdengar melayang di udara tapi cukup jelas untuk ia cerna.
Saat itu, Kendra mengira jika dirinya tengah bermimpi atau berhalusinasi karena suara itu muncul tanpa wujud.
[Kamu tidak sedang bermimpi, Kendra. Aku adalah Sistem Pembalik Nasib yang akan merubah hidupmu menjadi lebih baik, dan akan membuatmu jadi orang terkaya dan terkuat di dunia.]
Kendra kembali terdiam.
“Apa aku sedang bermimpi?” gumam Kendra di dalam hatinya yang masih tidak percaya dengan apa yang telah ia dengar.
Daftar bab
54 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








