

"Ssshh... ehhmmm... hisaph... lebih ku..at maash!" seorang wanita mendesis kenikmatan mengenyam gelora yang membakar sekujur tubuhnya.
Seorang pria bertubuh kekar berlutut menjepitkan kepalanya di antara paha berlemak yang tampak basah oleh keringat tipis wanita itu.
"Ahhhhn... kamu memang paling pandai membuatku basah," lenguhan manja lolos dari bibir merah ranumnya, diiringi remasan gemas tangan pada rambut ikal pria bertubuh kekar itu.
"Sekarang tunjukkan padaku punyamu yang besar ituuhh!!!" erang wanita pemilik tubuh bak gitar Spanyol itu tak tahan lagi.
Pria kekar yang sudah kehilangan kesabarannya setelah menikmati daging ranum berair seperti orang kelaparan, berdiri menunjukkan senjata kebesarannya.
"Buka kakimu lebar-lebar sayang, aku akan membuatmu berteriak malam ini!"
Yuda meloloskan celananya, membasahi jemarinya dengan saliva dan segera meraih miliknya.
"Hihihi!!"
Begitu semangat Yuda berada di puncak, sebuah iklan tiba-tiba menutupi adegan panas di layar ponselnya yang diletakkan melintang di atas meja.
"Iklan siaaaaaaallll!!!" seru Yuda, pria itu segera menyambar ponselnya. "Kenapa pula kau muncul di saat-saat paling genting!"
Suara iklan yang cukup meriah memenuhi kamar apartemen tipe studio berukuran 3x4 meter itu. Suasananya tak ubahnya kapal pecah, pakaian menumpuk di pojok kasur tanpa seprai, gelas mi dan botol kopi berserakan di atas meja, tepat di samping ponsel Yuda yang berisik itu.
"Ahhh..., inilah mengapa berlangganan itu penting," desau Yuda mengambil ponselnya.
Bagi Yuda, ponsel berukuran 6 inci itu adalah satu-satunya gerbang pelarian dari realita hidupnya yang mencekik.
Baru kemarin manajernya memotong 30% gaji akibat kinerja Yuda yang dinilai kurang memuaskan bagi perusahaan, motor bebek butut yang menjadi modal Yuda berangkat kerja—sudah dua minggu masuk bengkel, vonisnya cukup kejam—turun mesin.
Di atas meja, selembar surat peringatan dari pengelola apartemen sudah tergeletak selama tiga hari. Karena sudah menunggak selama dua bulan, pemilik mengancam akan segera mengganti gembok pintu—jika tidak ada sepeser pun transferan masuk.
Memikirkan angka-angka yang jumlahnya seolah beranak pinak membuat kepala Yuda sesak, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa.
Karena itulah, dia berusaha membunuh stress-nya lewat menonton film dewasa berdurasi 28 menit 39 detik itu dan melakukan onani, hiburan gratis nan instan yang mampu melepaskan endorfin di kepalanya.
Namun kini, bahkan pelariannya direnggut oleh iklan berdurasi 30 detik yang bahkan tidak bisa dilewati begitu saja.
"Percuma saja menampilkan iklan pada orang yang tidak tertarik, beberapa perusahaan harusnya tahu cara menghemat uang mereka," tatap Yuda ke arah setitik tombol (x) di pojok layar.
Dia menunggu waktu tunggunya habis sampai tombol (x) itu dapat dipencet, napasnya memburu menahan dongkol. "Cepatlah sialan, aku sudah tidak tahan lagi."
"Apakah anda menginginkan sebuah upgrade?"
Kalimat tebal berwarna emas itu berkedip-kedip di layar, menantang sisa kesabaran Yuda yang sudah setipis tisu.
"Mau memerasku dengan kalimat itu? Tidak akan mudah!"
Yuda mengarahkan ujung jarinya yang agak basah ke tombol mikro di sudut layar, plak!! Bukannya tertutup, tombol kecil itu malah melompat ke sudut lain.
"Haaa?!" ucap Yuda agak gusar, alisnya terlihat bertaut satu sama lain.
Ia menekan lagi tombol kecil itu, Plakk!! Sekarang malah berpindah ke tengah layar. "Sialan!! Malah main petak umpet!" makinya.
Yuda tidak menyerah, dia melakukannya berulang kali sampai iklan itu tertutup. "Ahaaa!! Hilang juga kau bajingan kecil!"
Klingg!! Tombol (x) nya kembali muncul tak lama setelah seruan penuh kemenangan itu.
"Setaannnn!!!!"
Karena rasa frustasi yang telah membubung hingga ke ubun-ubun, hasrat seksual yang tadinya menggebu-gebu jadi menguap—diganti amarah yang membakar dada.
"Benar-benar iklan konyol, tombol skipnya tidak bisa ditekan, bahkan opsi menolak juga tidak diberikan. Aku sungguh ingin menampar desainernya."
Karena telanjur jengkel dan tak peduli lagi, Yuda menghantamkan jarinya dengan kasar tepat di atas tombol besar berwarna hijau bertuliskan "YA".
Zzzt... BZZZT!!
Layar ponsel Yuda mendadak bergaris-garis putih, lalu pet!! Mati total. Layar hitam legam itu kini memantulkan wajah Yuda yang melongo dengan celana yang masih melorot di pergelangan kaki.
"Tidakkkk!!! Jangan sekarang, ku mohon jangan sekarang!!" jerit Yuda frustrasi. Ponsel itu adalah satu-satunya alat komunikasi untuk kerja, satu-satunya hiburan, dan satu-satunya miliknya yang masih berharga.
Kemalangan ini terasa seperti rentetan pukulan bertubi-tubi yang sengaja dikirim takdir untuk menghancurkannya hidup-hidup.
Dengan tangan gemetar, Yuda menekan tombol power berkali-kali. Ponselnya tetap bergeming. Merasa ada yang tidak beres, ia refleks mencabut kabel pengisi daya yang masih menempel di stopkontak dinding.
SPARK!
Sebuah letupan biru memercik dari ujung kabel. Arus listrik bertegangan tinggi menyengat telapak tangan Yuda dengan kekuatan luar biasa. Tubuhnya kaku seketika, seluruh ototnya kejang, dan pandangannya langsung gelap gulita.
"Uhukk! Uhukk! Apakah aku sedang respawn di akhirat?"
Ketika kesadarannya perlahan kembali, Yuda terbatuk-batuk. Dadanya terasa sesak dan telapak tangannya menyengat perih. Ia bangkit dengan bertumpu pada siku, kepalanya berputar hebat.
"Sepertinya hanya pingsan."
Saat Yuda mulai melihat sekeliling ruangan, rasa pusing itu mendadak sirna. Digantikan oleh kengerian yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Yuda mengerjapkan mata, mengira ia sedang berhalusinasi akibat tersetrum. Namun, pemandangan di depannya tidak berubah. Di atas setiap benda yang ditangkap oleh kornea matanya, muncul baris-baris teks bercahaya semi-transparan, melayang-layang persis seperti antarmuka sebuah sistem komputer.
[Kasur Busa Rebonded – Bekas]
Merek: Inoac (Tiruan/KW)
Harga Beli Realistis: Rp450.000 (3 tahun lalu)
Nilai Jual Saat Ini: Rp50.000 (Kondisi kotor, kempes 40%)
Yuda terperangah. Ia mengalihkan pandangannya ke arah meja kerja kecilnya yang berantakan.
[Laptop Kerja Low-End]
Merek: ASUS Vivobook 14 (Rilisan 2019)
Kondisi: Engsel kiri retak, baterai drop, performa melambat 65%
Harga Pasar (Normal): Rp2.100.000
Harga Jual Cepat (Kondisi Ini): Rp950.000
Jantung Yuda berdegup kencang. Ia menatap telapak tangannya sendiri, lalu beralih ke ponselnya yang tergeletak mengenaskan di lantai.
"Ini..."
[Ponsel Pintar – Rusak Total/Mati Total]
Merek: Xiaomi Redmi Note 10
Kerusakan: IC Power terbakar akibat lonjakan arus balik.
Nilai Jual (Kanibalan Komponen): Rp120.000
Otak Yuda menolak percaya, tetapi data-data itu terus mengalir masuk ke dalam kesadarannya dengan sangat akurat—tak ubahnya sebuah mesin pemindai barang antik.
Iklan aneh yang menjanjikan upgrade itu ternyata bukan sekadar malware biasa, Yuda... dia bisa melihat ke mana arah kemajuan hidupnya sekarang.