
- Jumlah kata
- 79.4K
- Popular
- 931
- Subscribe
- 139
Sinopsis
Kobaran api melahap tanah Arkin ketika Phillion masih kecil. Konon katanya tanah tersebut menyimpan energi sihir sehingga dimanfaatkan oleh orang-orang yang haus akan kekuatan dan kekuasaan demi kepentingan pribadi. Sebagai salah satu dari anak-anak Arkin yang diselamatkan, Phillion mengemban tanggung jawab untuk merebut kembali kampung halamannya dan membalas darah yang tumpah di atasnya. Namun, tanah Arkin yang murni telah disalahgunakan. Kegelapan tertancap erat bersama cengkeraman para penguasa. Mampukah Phillion merebut kembali tanah Arkin? Ataukah kobaran api abadi akan menyelimuti tempat tersebut dan sekitarnya?
Ulasan
0 ulasan
Belum ada ulasan
Jadilah yang pertama menulis komentar
Perkemahan Pengungsi
"Ayah! Ibu!"
Teriakan Phillion tenggelam oleh suara derak api bersamaan tiang-tiang bangunan roboh. Kaki kecil berlarian menghindari kilatan cahaya dari berbagai arah. Sesekali tubuhnya tersungkur di atas tumpukan mayat.
"Ayah! Ibu!"
Orang-orang berlarian dengan ekspresi ketakutan dan putus asa. Beberapa orang hanya memiliki satu lengan, beberapa orang memegangi kepala agar tidak terputus, beberapa orang meminum darah mereka sendiri agar bertahan hidup.
Tangan kanan Phillion diarahkan ke depan, pernapasan diatur, daya pikiran dimaksimalkan. Akan tetapi, aliran sihir dalam tubuhnya tidak mau bekerja. Dia hanyalah bocah ingusan yang melambaikan tangan kanan dengan perasaan hampa.
"Minggir!"
"Cepat pergi!"
Tidak ada seorang pun yang menolongnya. Perlahan air mata yang tertahan akibat rasa takut mulai mengalir. Dia tahu desa yang sangat dicintainya telah diserang habis-habisan. Dia tahu orang tuanya ikut melawan pasukan yang entah dikirim oleh siapa. Dia tahu takdir hanya berpihak pada para penguasa dan orang-orang kejam.
Phillion tidak berusaha menahan tangisan ketika berlari melewati kayu-kayu sisa bangunan yang terbakar. Walaupun telapak kaki terasa perih akibat kulit mengelupas, dia terus berlari menuju sumber suara berdengung.
Pernah suatu hari ibunya bercerita jika terjadi sesuatu yang buruk, para penjaga desa akan membuat suara berdengung menggunakan sihir yang hanya akan terdengar oleh penduduk desa. Siapa pun yang mendengarnya harus menuju sumber suara dikarenakan desa tidak bisa diselamatkan.
Phillion kecil tidak menyangka saat yang paling ditakutkan akhirnya tiba. Terpaksa dia menerima kenyataan bahwa ayah dan ibunya sudah meninggal, bahwa desa sudah terbakar habis, bahwa orang-orang hebat di desa telah dikalahkan.
"Anak kecil!" Seorang pria mengangkat tubuh Phillion. "Pegangan yang kuat kalau kamu tidak mau dikejar api."
Pria itu berlari sekuat tenaga hingga Phillion dapat merasakan lidah api menampar wajahnya berkali-kali. Mulutnya dibuka untuk bernapas, kedua lengan memeluk tubuh pria yang menolongnya sambil memejamkan mata. Phillion menggigit bibir bawah agar tidak melolong dalam tangisan.
"Duduk di sini." Pria itu menurunkan Phillion di atas perahu kecil. Tiga anak kecil duduk di depan dan dua lagi duduk di sampingnya.
Tatapan Phillion diarahkan kepada pria berkumis tipis, ingin bertanya mengapa hanya dirinya yang duduk di perahu, tetapi tidak ada suara yang keluar.
Pria itu menggeleng seraya mengusap puncak kepala Phillion. "Kamu harus hidup. Aku tidak bisa ikut. Mungkin masih ada anak-anak yang selamat."
Phillion tidak sempat menjawab. Anak laki-laki yang lebih tinggi mulai mengayuh perahu. Air matanya mengalir semakin deras. Rasa takut, kesedihan, kemarahan, penderitaan, semua bercampur menjadi satu.
"Sebaiknya kalian tidur," ujar anak laki-laki yang mengayuh. "Usiaku memang masih dua belas tahun, tapi aku diberi tanggung jawab membawa perahu ini menuju tempat aman."
"Di mana ibuku?" Seorang anak menangis histeris.
"Semua orang sudah mati!"
"Aku mau ikut mati! Lebih baik aku mati daripada hidup sendirian!"
"Lompat ke laut sekarang kalau mau mati!" bentak anak laki-laki yang mendayung perahu. "Apa kalian tahu? Kita diselamatkan karena orang-orang desa yakin kita punya potensi. Kita bisa tumbuh dewasa dan kuat lalu membalas peristiwa malam ini!"
Ucapan tersebut membangkitkan sesuatu dalam diri Phillion. Punggung tangan kiri menghapus air mata, tangan kanan mengepal. Kini dia mengetahui alasan ibunya mengurung Phillion di ruang bawah tanah tepat setelah lonceng desa dibunyikan. Ibunya ingin dia hidup, belajar bertahan di atas roda kehidupan yang kejam.
"Kepalamu berdarah," bisik anak laki-laki di sebelah kanan.
Phillion memegangi pelipis kanan yang terasa perih sebelum ambruk di atas perahu.
Mimpi-mimpi samar seolah berebut menghantui anak laki-laki yang sedang tertidur. Mimpi tentang wanita cantik yang membacakan kisah kepahlawanan sebelum tidur. Mimpi tentang pria gagah yang membawakan banyak daging setelah berperang. Juga mimpi tentang sekelompok anak yang berlarian sambil membawa ranting pohon, berpura-pura memburu pasukan jahat dan monster.
Terik matahari membangunkan Phillion dari tidur panjang. Selama beberapa saat matanya menyesuaikan pencahayaan. Sayup-sayup terdengar suara orang berbicara. Aroma rumput menyegarkan segera memenuhi rongga dada.
Ketika Phillion benar-benar membuka mata, pemandangan yang pertama kali dilihat adalah anak perempuan berambut merah yang berbalik menatapnya. Phillion terheran-heran bagaimana bisa seseorang punya rambut merah.
"Aethon!" seru anak perempuan itu. "Dia sudah sadar!"
Tidak lama kemudian, anak laki-laki berjalan mendekat lalu duduk di samping Phillion dengan ekspresi ceria. Phillion menghela napas lega, anak laki-laki itu punya rambut hitam seperti dirinya, menunjukkan dia masih berada di dunia nyata.
"Kamu bisa duduk?"
Phillion duduk selagi pandangan diarahkan ke sekitar. Dia berada di dalam tenda tipis hingga sinar matahari dapat masuk dengan bebas. Tangan kanan meraba kepala yang berdenyut nyeri, agak terkejut ternyata kepalanya diperban.
"Namaku Aethon," kata anak laki-laki itu. "Dia Thanea. Sekarang kita di perkemahan pengungsian. Kamu datang semalam, kami juga datang semalam. Ini minum dulu."
Phillion mengambil gelas berisi air putih yang diberikan Aethon lantas meneguknya sampai habis.
"Siapa namamu?" tanya Aethon.
"Phillion. Aku berasal dari Arkin Utara. Kita di mana?" Suara Phillion agak serak akibat terlalu banyak berteriak semalam.
"Kami dari Arkin Selatan," balas Thanea. "Sepertinya seluruh Arkin diserang. Tadi pagi aku bertemu anak dari Arkin Timur dan Arkin Tengah. Tempat ini katanya Arkin Barat."
Phillion membutuhkan waktu untuk mencerna ucapan Thanea. Rambut merah sepundak yang berantakan diterpa angin milik anak perempuan itu cukup mengganggunya.
"Nah Phillion, sebaiknya kamu sarapan." Aethon membantu Phillion berdiri. "Kita tidak punya waktu berduka. Kudengar besok kita berangkat."
"Berangkat ke mana?"
Pertanyaan Phillion terbang begitu saja dibawa gelombang angin. Di luar tenda, dia melihat banyak anak kecil berkumpul bersama beberapa orang dewasa. Tenda-tenda berjejer rapi seolah membentuk pertahanan.
Aethon mengajak Phillion dan Thanea duduk mengelilingi wanita paruh baya yang sedang mengaduk makanan di kuali. Tiga mangkuk diisi olahan daging dan sayur oleh wanita itu.
"Kalian anak-anak hebat. Makanlah yang banyak."
Phillion dan Thanea tidak butuh waktu lama untuk melahap sarapan. Di bawah sinar matahari, rambut Thanea terlihat seperti api yang menyala.
"Nyonya," panggil Aethon kepada wanita yang memasak sarapan. "Besok kita pergi ke mana?"
Wanita itu menatap ketiga anak korban perang yang sedang sarapan. "Tempat ini tidak aman. Kalian akan dibawa ke tempat yang lebih baik untuk dilatih."
Phillion menatap sekeliling, berharap melihat anak-anak yang menaiki perahu bersamanya semalam.
"Kalian sudah belajar menggunakan sihir?" tanya wanita itu.
"Sudah," jawab Aethon dan Phillion bersamaan, sementara Thanea mengulurkan mangkuk yang telah kosong untuk diisi kembali.
"Sihir yang kalian miliki terikat dengan tanah Arkin." Wanita itu mengisi ketiga mangkuk dengan makanan hangat. "Seperti yang kalian tahu, tanah Arkin telah direbut. Makanya kalian akan belajar agar tidak mengandalkan sihir dari tanah Arkin."
"Apa suatu saat kami bisa merebut tanah ini dan membalas darah yang tumpah di atasnya?"
Pertanyaan Phillion membuat wanita itu tertawa seraya menepuk-nepuk pundak mungil Phillion.
Aethon sangat terkejut hingga tersedak.
Thanea sudah menghilang dari pandangan.
Daftar bab
75 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat








