

*** @ ***
"Siapa yang bertanggung jawab di bagian ini?" Supervisor wanita berteriak marah pada bagian cutting pabrik tekstil.
Semuanya mendelik diam tidak berani menjawabnya. Sang leader segera mengecek nomer kode pada bagian bahan yang ada di tangan Supervisor.
"Aryl." Sang leader menyebut satu nama. Kode pada kain ini adalah pekerjaan Aryl.
"Mana Aryl. Mana orangnya kenapa dia tidak ada disini?" Leader marah dan segera mencari sosok Aryl.
"Aryl baru saja ke kamar mandi, Bu." Salah satu karyawan memberitahu. Tak lama, Aryl datang dengan wajah bingung. Dia langsung menerima tatapan tajam dari leader dan supervisor.
Beberapa lembar kain di lempar keras ke wajahnya. Pria berusia dua puluh tiga tahun itu terkejut bukan main. Kedua tangannya terangkat untuk mencoba menangkap kain yang di lempar di wajahnya.
"Bodoh. Kau ini punya mata atau tidak? Jangan asal gunting-gunting semaumu. Buka lebar matamu, gunting di bagian garis, bukan diluar garis, tolol. Bahkan seekor kerbau lebih pintar dari kau ini. Bagaimana bisa personalia menerima karyawan tolol macam kamu." Supervisor itu berteriak marah. Suaranya melengking menggema di seluruh gedung D.
"Kain-kain ini sudah tidak berguna lagi karena ketololanmu." Supervisor menunjuk tiga box besar berisi kain-kain yang telah di potong. "Pabrik nggak mau rugi ya. Kau harus bertanggung jawab atas ketololanmu ini. Lembur tiga bulan tanpa gaji tambahan."
Aryl hanya bisa mematung di tempatnya. Lembur tanpa di gaji? Melawan dan protes, tidak semudah itu, karyawan kontrak seperti dirinya tidak akan bisa protes apapun. Hanya bisa menerima dengan pasrah.
***
Aryl menaiki bis arah kontrakannya. Pukul 00.10. Suasana bis sangat sepi. Hanya ada dia dan seorang wanita duduk paling depan. Wanita yang sepertinya sedang tertidur. Aryl tidak tahu jelas. Dia hanya meliriknya sekilas.
Aryl memilih tempat duduk paling belakang dan duduk paling pojok. Dia ngedumel memarahi dan membuat sumpah serapah untuk supervisor, leader dan kebijakan pabrik.
"Tiga bulan harus kerja dua sift dan nggak dihitung lembut. Anj sekali."
Aryl menonjok bangku depannya.
"Gaji lembur sebulan kayaknya cukup buat bayar kerugian salah potong bahan. Tapi di suruh gantinya tiga bulan. Nyari untung banget."
Aryl menatap stiker yang menempel di dinding kaca bus lalu membacanya. Stiker dengan gambar wanita seksi dengan tulisan,
"Hidupmu suram? Jomblo, miskin, nggak laku? Tenang, aku solusinya. Sentuh aku, hidupmu auto sultan."
Aryl tertawa sembari menggelengkan kepala. Sentuh? Bagaian mana yang harus ia sentuh.
Aryl iseng-iseng mengulurkan tangan dan menyentuh stiker pada bagian gambar dada wanita seksi itu.
Tiba-tiba, suara asing yang nyaring menggema di kepalanya.
"Selamat, Aryl! Hidupmu yang suram kini resmi jadi tanggung jawabku. Jangan bikin aku menyesal, ya!"
Aryl tersentak keras sampai hampir jatuh dari tempat duduknya. Matanya membelalak, menoleh ke kanan dan kiri, memastikan tidak ada orang di sampingnya.
“Siapa?! Siapa yang ngomong?!” katanya panik, napas tersengal-sengal. Tadi adalah suara seorang wanita, mungkin saja kuntilanak, pikirnya.
Dia bangkit berdiri, melangkah ke bangku lain bagian tengah dan duduk di sana.
"Apa iya aku naik bis hantu?" Aryl menggumam.
Suara itu muncul lagi, terdengar santai, bahkan terdengar seperti menahan tawa.
"Santai, Aryl. Aku bukan hantu. Aku ini Sistem. Sistem Jalan Takdir, yang bakal bantu hidupmu jadi nggak ngebosenin lagi."
Aryl menelan ludah, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya. "Sistem? Sistem apa? Aku nggak pernah langganan aplikasi aneh-aneh!"
"Yah, meski kamu nggak langganan, aku dipasang otomatis. Hidup kamu kayak mangkok gagal produksi, Aryl. Hambar. Jadi aku dikirim buat memperbaikinya."
Aryl melongo, lalu menatap jalanan dari tempat duduknya. "Hambar? Hei, aku bahkan baru dimarahi supervisor sialan itu. Dia berteriak memaki, suaranya kencang kayak pake toa masjid. Itu seru meskipun anj." protesnya sambil menceritakan kejadian tadi siang. Seperti hendak menunjukkan pada seseorang—walau dia tidak tahu siapa.
"Lihat? Kamu marah-marah ke supervisor aja. Fix hidupmu butuh aku banget."
Aryl mengerutkan alis. "Ini hantu jenis apa dah. Kok pede banget."
Sistem terkekeh. "Percaya deh, aku ini bukan hantu tapi sistem. Mulai hari ini, takdirmu bakal berubah, Aryl. Siap-siap jalani hidup penuh misi. Dan hei, bonusnya, kamu bisa ketemu jodoh!"
Aryl tersentak lagi. "Jodoh? Maksud kamu... aku bakal nikah?!"
"Kalau kamu nggak gagal terus, iya."
Aryl terdiam, lalu memandang sekeliling. Sepi. Hanya ada supir, wanita yang tidur di bangku paling depan dan dia.
"Hah, ini pasti mimpi gara-gara semalam aku makan mie instan dua bungkus. Sistem-sistem, jodoh-jodoh... Halah, nggak masuk akal!"
"Percaya atau nggak, tunggu aja. Sekarang balik ke tempat kamu semula, sebelum aku hukum kamu."
"APA? Ada hukuman? Apaan dah. Nggak jelas banget."
Aryl tetap duduk di tempatnya. Lima menit kemudian.
"Pak, pertigaan depan, kiri, hikk." Aryl cegukan.
Tak lama, bis berhenti dan ia melangkah ke depan. Menoleh sebentar untuk menatap wanita yang menunduk dan masih tidur.
"Dia ini orang apa hantu. Ikk." Aryl cegukan lagi. Selanjutnya dia berbicara dalam hati. "Kalau dia manusia, bahaya sekali. Seorang perempuan duduk sendirian dan tidur di dalam bis. Bagaimana jika terjadi pelecehan. Ikkk."
Ngomong dalem hati pun bisa cegukan.
Dia segera membayar pada sopir karena bis ini tidak punya kernet.
"Makasih, Pak. Hiikk."
Aryl turun dari bis dan segera melangkah ke arah kontraknya. Kontrakan petak yang ia sewa perbulannya. Kontrak yang hanya memiliki satu ruangan.
Aryl melempar tasnya lalu tanpa mengganti baju serangam, dia segera memejamkan matanya. Tidur. Lelah sekali rasanya.
Pukul enam pagi ia terbangun gara-gara alarm yang nyaring membangunkannya.
"Sial baru juga merem udah pagi aja. Matahari salah jam kayaknya. Hikk."
"Kenapa masih cegukan aja, hiik."
Tiba-tiba terdengar tawa renyah seorang wanita. "Itu karena kau tidak menjalankan misi, Aryl. Aku sudah bilang padamu jika kau bakal di hukum."
Aryl sudah bersembunyi di dalam selimut. Dia mengira jika itu adalah suara kuntilanak dari bis semalam.
"Maaf Aryl apa aku menakutimu? Santailah Aryl. Buruan berangkat kerja."
Mendengar kata kerja. Seketika ketakutan Aryl pada kuntilanak hilang tiba-tiba. Supervisor di bagiannya lebih menyeramkan dari Kuntilanak.
"Heh kuntilanak, aku nggak ada urusan sama kamu. Hikk."
"Aku sudah bilang jika aku bukan setan."
"Bodo amat, hikk."
Aryl minum segelas air, mengambil handuk lalu keluar kontrakan untuk mandi. Yaelah jam segini kamar mandi antri banget.
"Bang, aku duluan dong, dah telat nih, hik."
***
Selesai mandi, Aryl pergi membeli sarapan deket kontrakan.
"Sebungkus, hik. Mbak, hik. Pake sambel, hik." Semakin menjadi-jadi cegukannya.
Penjual nasi menatap Aryl. "Minum dulu, Bang. Itu ada teh anget, gratis."
Aryl menuangkan teh dalam gelas lalu menyesapnya sedikit. Dia tahu jika teh gratis ini adalah teh tawar yang nggak ada manis-manisnya.
Dulu pertama kali merantau ke kota ini, dia sempat salah paham dengan teh hangat gratis ini. Dipikir manis ternyata pahit. Kayak hidup orang dewasa saja.
"Berapa, Hik. mbak, hik." Sialan cegukan ini masih saja. Selain mengganggu, ini juga membuatnya malu.
Aryl kembali ke kontrakan dan langsung makan.
"Hp di mana, hik, ya, hik." Seketika Aryl berteriak kesal. "Anj, hik."
"Heh kuntilanak, hik. Apa kau masih disini, hik."
"Aku sudah bilang jika aku bukan setan."
Aryl tidak mau tau.
"Katakan aku harus apa biar nggak cegukan lagi, hik."
"Kamu boleh merayuku."
"Dih kuntilanak ganjen, hik."
"Aku bukan setan, Aryl."
Daripada kelamaan Aryl segera merayu sistem ganjen ini.
"Beli semangka naik sepeda.
Kamu ketawa bikin lupa dunia."
"Asekk. Baiklah sistem memaafkanmu."
Heh. Aryl segera berbicara lagi dan yah benar, dia tidak cegukan lagi. Apakah si kuntilanak tadi mengutuknya. Kuntilanak kurang kerjaan.
"Baiklah sekarang aku mau berangkat kerja. Jangan mengikutiku. Diam saja di rumah oke."
Si Aryl sudah seperti menyimpan istri siri saja.
*** @ ***