Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Akademi Kage (影の学園 – Akademi Bayangan)

Akademi Kage (影の学園 – Akademi Bayangan)

Bayu Dirgantara | Tamat
Jumlah kata
279.8K
Popular
100
Subscribe
23
Novel / Akademi Kage (影の学園 – Akademi Bayangan)
Akademi Kage (影の学園 – Akademi Bayangan)

Akademi Kage (影の学園 – Akademi Bayangan)

Bayu Dirgantara| Tamat
Jumlah Kata
279.8K
Popular
100
Subscribe
23
Sinopsis
PerkotaanSekolahSi GeniusIdentitas Tersembunyi
Akademi Kage: bukan sekolah biasa. Di sinilah para mata-mata, pembunuh, dan ahli strategi masa depan dilatih dalam kerahasiaan. Arjuna, seorang siswa baru yang tampak biasa saja, menyembunyikan potensi mematikan di balik sikapnya yang santai. Ketika serangkaian ujian berbahaya mulai memakan korban, rahasia kelamnya terancam terungkap. Saat kekuatannya terkuak, musuh-musuh pun mulai mendekat. Di dunia tanpa ampun ini, di mana kepercayaan adalah kelemahan, Arjuna harus memutuskan: akankah ia tetap bersembunyi dalam kegelapan, atau bangkit dan mengubah takdirnya?
1. Pelamar Biasa di Malam Hari

“Kau yakin tempat ini yang kau cari, Nak? Papan namanya saja tidak ada,” suara itu serak, dingin, dan nyaris tanpa intonasi. Suara yang hanya bisa lahir dari seseorang yang terbiasa hidup dalam keheningan absolut.

Arjuna menoleh. Angin malam yang membawa hawa lembap dari hutan di belakangnya menerpa wajahnya, tetapi ia tidak bergeming. Di hadapannya berdiri gerbang besi tempa yang berkarat, hitam dan suram, tersembunyi di balik barisan pohon Beringin tua yang seolah menelan cahaya lampu jalan. Di ambang gerbang, berdiri seorang pria paruh baya berseragam abu-abu gelap, posturnya tegak seperti patung perunggu yang ditempa dari ketenangan.

Pria itu, yang kemudian ia tahu bernama Dosen Harsono, tidak menatap Arjuna. Ia menatap ke dalam kegelapan pekat di balik gerbang seolah sedang menghitung bayangan yang melintas. Kehadirannya memancarkan aura gravitasi yang mampu meremukkan niat orang biasa, mengubah udara di sekitarnya menjadi semen basah.

“Saya yakin, Pak,” jawab Arjuna, memastikan suaranya datar, tanpa nada gugup atau terlalu percaya diri. Ia memegang erat tali ransel lusuh yang berisi file aplikasi yang terasa sangat rapuh di tengah lingkungan Akademi Kage yang mencekam ini.

Harsono akhirnya mengalihkan pandangan, dan tatapan itu terasa lebih dingin daripada angin malam. Mata Harsono tajam, mengamati setiap serat pakaian Arjuna, setiap helai rambut, setiap kedutan otot di rahangnya, mencari retakan kecil di permukaan.

Arjuna merasakan desakan internal yang familiar—dorongan naluriah yang kuat untuk membalas tatapan itu dengan intensitas yang sama, untuk menganalisis, membongkar pertahanan, dan menunjukkan dominasi. Itu adalah api yang selalu ia bawa.

Tetapi ia segera menenggelamkan dorongan itu ke dasar perutnya, seperti memadamkan bara panas dengan pasir dingin.

‘Jadilah abu, jangan api,’ bisikan ibunya bergaung dalam benaknya, mantra yang telah ia hafal sejak tragedi itu. Api menarik perhatian, api membakar habis dan meninggalkan bekas yang jelas. Abu, ia hanya menetap, tak terlihat, mudah disapu angin, dan hanya meninggalkan bekas jika disentuh secara langsung.

“Kage Akademi tidak memiliki papan nama untuk alasan yang jelas, Arjuna. Kebanyakan orang yang datang ke sini mencari masalah, atau melarikan diri darinya,” ujar Harsono, lalu ia membuka gerbang itu tanpa suara desing atau derit, seolah gerbang itu adalah bagian dari ilusi yang dipahat dalam keheningan.

“Saya melamar,” kata Arjuna singkat, berjalan melintasi ambang. Saat kakinya menapak di tanah di dalam gerbang, ia merasakan lonjakan energi aneh—bukan listrik, melainkan perasaan bahwa udara di sekitarnya telah menjadi lebih padat, lebih waspada, dan setiap langkahnya diawasi oleh kegelapan.

“Mari. Administrasi adalah langkah pertama. Mungkin, bisa jadi yang terakhir." Harsono membalikkan badan dan berjalan tanpa menoleh, meninggalkan Arjuna untuk mengikutinya dalam koridor luar yang gelap, hanya diterangi oleh lampu minyak kuno yang berkedip-kedip, menciptakan bayangan panjang yang bergerak gelisah.

Mereka tiba di sebuah ruang kecil, terasa seperti pos penjaga yang diubah menjadi ruang wawancara darurat. Di tengah ruangan, terdapat meja baja yang bersih, berkilauan dingin di bawah satu-satunya lampu gantung yang redup. Di atas meja, hanya ada pena, selembar formulir aplikasi Arjuna, dan sebuah gelas air. Harsono duduk, gerakannya presisi dan ekonomis, mengundang Arjuna duduk di hadapannya.

“Formulirmu sudah kubaca. Nama: Arjuna. Usia: 19. Riwayat pendidikan: standar. Alasan bergabung: mencari tantangan baru. Klasik.” Harsono menggeser formulir itu sedikit ke depan, tepat di tepi meja. “Apa yang kau sembunyikan, Arjuna?”

Arjuna mengatupkan bibir, membiarkan keheningan menggantung, membiarkan ketegangan Harsono menguap di udara. Ini adalah tes pertama. Harsono tidak bertanya apa yang ia sembunyikan, tetapi apa yang Arjuna sembunyikan. Jika ia membantah, ia berbohong, dan Harsono akan tahu. Jika ia mengakui, ia mengungkap niatnya.

Ia mengaktifkan persona "Arjuna si Santai"—senjata tersembunyinya. Matanya sedikit menyipit, bahunya sedikit diturunkan, dan ia menghela napas ringan, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan hari yang panjang dan menjemukan.

“Semua orang punya rahasia, Pak Harsono. Termasuk Akademi ini, jika dilihat dari gerbang depannya,” jawab Arjuna, nadanya setengah bercanda, tetapi matanya tetap serius, seolah menyampaikan bahwa ia tidak terintimidasi, hanya lelah.

Harsono tidak bereaksi terhadap lelucon itu. Ia hanya memajukan kepalanya sedikit, seolah membaui kebohongan. “Kecepatan respons verbalmu rata-rata. Detak jantungmu di 68 bpm. Tidak ada tanda-tanda stres. Kau terlatih untuk mengontrol emosi, atau kau memang tidak peduli?”

“Jika saya tidak peduli, saya tidak akan repot-repot datang ke tempat tanpa papan nama ini pada pukul dua dini hari,” balas Arjuna. Ia memperhatikan tangan Harsono yang berada di bawah meja. Sebuah detail kecil yang tidak disadari orang, tetapi dalam lingkungan Kage, setiap detail adalah ancaman potensial yang harus diwaspadai.

“Ambil pena itu,” perintah Harsono, menunjuk ke pena hitam di atas meja. “Tanda tangani formulir persetujuan ini di bagian bawah.”

Arjuna mengulurkan tangan kanannya. Dalam sepersekian detik, saat ujung jarinya hampir menyentuh pena, Harsono tiba-tiba menggeser gelas air di sebelah pena dengan gerakan cepat dan tak terduga, seolah ingin menjatuhkannya ke lantai.

Reflex Test. Arjuna menyadarinya sedetik sebelum Harsono bergerak. Secara alami, kecepatan reaksinya melebihi manusia normal. Otot-ototnya tegang, siap untuk menahan gelas itu agar tidak jatuh, bahkan sebelum gelas itu bergerak lebih dari satu sentimeter. Ini adalah reaksi api.

Akan tetapi, jika ia menahan gelas itu dengan kecepatan sempurna, ia akan menunjukkan kecepatan yang tidak wajar. Arjuna menarik napas dalam, membiarkan refleksnya berjarak satu milidetik lebih lambat. Ia membiarkan gelas itu miring sedikit, sebelum akhirnya, dengan gerakan yang tampak sedikit kikuk namun cepat, ia menahannya agar air tidak tumpah seluruhnya.

Air di dalam gelas hanya beriak hebat. Arjuna kembali fokus pada pena, mengambilnya, dan menahan godaan untuk menyeka air yang mungkin menetes dari gelas.

Harsono tersenyum kecil—senyum yang tidak mencapai matanya, lebih seperti kontraksi wajah yang dingin. “Kau ceroboh, Arjuna. Airnya hampir tumpah.”

“Itu hanya air, Pak." Arjuna menanggapi dengan bahu terangkat santai. Ia menandatangani formulir di bagian yang ditunjuk.

“Aturan pertama di Kage: Jangan pernah membiarkan air tumpah. Air adalah informasi. Dan informasi yang tumpah, tidak bisa diambil kembali.” Harsono berkhotbah pelan. “Tetapi kau berhasil menahannya pada akhirnya. Bukan reaksi tercepat, tapi respons yang memadai.”

Tes berikutnya datang tanpa peringatan. Harsono mengangkat sebuah buku tebal dari bawah meja—sebuah buku bersampul kulit hitam yang terlihat kuno. Ia membantingnya ke meja dengan bunyi ‘BRAK’ yang keras dan tiba-tiba.

Suara itu seharusnya memicu respons kejut (startle response) yang jelas. Arjuna merasakan jantungnya melonjak, tetapi wajahnya tetap tanpa ekspresi. Ia membiarkan matanya sedikit melebar, tetapi ia tidak melompat. Ia mengizinkan dirinya menunjukkan ketegangan, tetapi bukan ketakutan atau refleks superlatif.

“Bising, ya?” tanya Harsono. Ia mengamati mata Arjuna, mencari pupil yang melebar atau kedutan yang tak terkontrol. “Kau tidak suka kejutan.”

“Tidak ada yang suka, Pak,” kata Arjuna, mengembalikan pena itu ke tempatnya dengan hati-hati.

“Beberapa orang di sini justru mencari kejutan. Itu yang membuat mereka hidup." Harsono mencondongkan tubuh ke depan, matanya menjadi lubang hitam yang menghisap cahaya. “Katakan padaku, Arjuna, kau masuk Kage untuk menjadi siapa? Seorang pelindung? Seorang pembunuh? Atau sekadar orang yang pandai bersembunyi?”

Arjuna menatap lurus ke mata Harsono. Ini adalah pertanyaan yang paling penting. Ia harus memberikan jawaban yang jujur secara filosofis, tetapi tidak mengungkapkan kedalaman kekuatannya.

“Saya ingin menjadi seseorang yang tidak bisa ditemukan,” bisiknya. Ia bukan mencari kekuatan; ia mencari anonimitas yang sempurna, tempat di mana abu dapat menetap tanpa terganggu.

Harsono menarik napas dalam, seolah mencerna jawaban itu. Keheningan yang panjang dan berat menyelimuti ruangan. Harsono meraih formulir aplikasi Arjuna yang sudah ditandatangani. Formulir itu adalah satu-satunya bukti kehadirannya, penghubung terakhirnya dengan dunia luar.

Dengan gerakan yang cepat, Harsono merobek formulir aplikasi itu menjadi dua bagian, suaranya memecah keheningan seperti tembakan yang diredam.

Jantung Arjuna menegang. Kegagalan? Ia mengamati kehancuran identitasnya di atas lantai semen, tetapi tidak bergerak, tidak menunjukkan kekecewaan.

“Selamat,” kata Harsono, senyum misterius akhirnya muncul di wajahnya, senyum yang menjanjikan rasa sakit. Ia meraih sesuatu dari saku seragamnya dan meletakkannya di telapak tangan Arjuna yang terbuka. Itu adalah lencana perunggu, bentuknya seperti mata yang tertutup, dingin di sentuhan, namun seolah memancarkan panas yang terpendam.

“Kau diterima. Formulir itu tidak penting lagi. Sekarang, hanya lencana ini yang menentukan siapa dirimu,” desis Harsono. Lencana itu terasa membakar dingin di kulit Arjuna, sebuah beban yang baru saja ia ambil.

Harsono berdiri, menaungi Arjuna yang masih duduk. Mata Harsono kini penuh dengan pemahaman yang gelap. “Selamat datang, Arjuna. Namun, jangan berharap bertahan lama. Kage tidak mencari siswa, kami mencari senjata. Dan kami tahu, jauh di dalam abu itu, ada api yang siap melahapmu.”

Lanjut membaca
Lanjut membaca