
- Jumlah kata
- 169.6K
- Popular
- 1.1K
- Subscribe
- 93
Sinopsis
Alan tiba-tiba dihukum mati. Dia masuk ke dunia novel yang sedang dibacanya.
Ulasan
2 ulasan
Chitato Keripik
3/9/25 12:51
Kalo aku jadi Alan, aku lebih pilih dunia fiktif wkwkwk tanpa harus mati dulu buat pindah alam hahay
Joel Usagi
3/9/25 01:39
Mantap keren author ceritanya lanjutkan seru 👍 Izin promosi author novel saya"Journey of Heiden" Ceritanya berkisah seorang anak yang bermimpi ke sebuah pulau. memadukan kisah mistis, sihir, legenda, petualangan dan elemen lainnya. Penasaran yuk bisa langsung baca novel ku. 😁
Bab 1 - Eksekusi Mati Tokoh Utama
Alan menghela napas panjang, menatap layar ponselnya yang mulai meredup. Novel yang baru saja ia baca—*The Fallen Prince*—berakhir di bab yang menegangkan. Pangeran Adrian, salah satu tokoh yang paling dibenci di kerajaan, akan dieksekusi atas tuduhan pengkhianatan.
"Kenapa karakter utamanya bukan dia sih?" gumam Alan, mengingat bahwa novel ini berfokus pada perjalanan seorang ksatria bernama Leon. Pangeran Adrian hanyalah karakter pendukung yang akan mati di awal cerita.
Alan merebahkan diri di kasur sempitnya. Hari ini benar-benar buruk—ia baru saja dipecat dari pekerjaannya, rekeningnya hampir kosong, dan apartemennya semakin terasa sumpek. Satu-satunya pelarian yang ia miliki adalah membaca novel fantasi, membayangkan dirinya berada di dunia lain yang penuh petualangan.
Namun, dalam sekejap, semuanya berubah.
Saat matanya hampir terpejam, tubuhnya terasa ringan. Seolah-olah gravitasi menghilang, dan ia jatuh ke dalam kehampaan. Sensasi itu begitu nyata hingga Alan membuka mata… hanya untuk menemukan dirinya tidak lagi berada di kamarnya.
Dunia baru menyambutnya.
***
"Duduk bersimpuh, Pangeran Adrian!"
Suara keras menggema di ruangan batu yang luas. Alan terkejut melihat dirinya kini berada di dalam sebuah aula megah, diapit oleh prajurit berbaju zirah. Di hadapannya, seorang pria tua berjubah ungu duduk di atas singgasana emas—tatapannya penuh kebencian.
Alan ingin berbicara, tapi tenggorokannya kering. Saat menunduk, ia melihat dirinya mengenakan pakaian mahal berwarna merah darah, tapi penuh robekan dan noda. Tangannya diikat dengan rantai besi, dan lututnya terasa sakit seolah-olah ia telah dipaksa berlutut dalam waktu lama.
Ini… bukan mimpi.
Alan ingin meyakinkan dirinya bahwa ini hanyalah ilusi akibat kelelahan, tetapi setiap detail terasa terlalu nyata. Bau debu dari lantai batu, hawa dingin yang menusuk kulit, dan sorotan mata penuh kebencian dari orang-orang di sekitarnya…
Ia benar-benar masuk ke dalam novel The Fallen Prince.
Dan lebih buruk lagi—ia telah menjadi Pangeran Adrian, karakter yang akan segera dieksekusi!
"Adrian von Edevane, atas tuduhan pengkhianatan terhadap kerajaan dan bekerja sama dengan musuh, kau akan dieksekusi saat fajar!"
Alan tersentak. Dalam novel, Pangeran Adrian memang diceritakan sebagai tokoh arogan dan sombong yang akhirnya dikhianati oleh saudara-saudaranya sendiri. Tapi Alan tahu kebenaran sebenarnya—Adrian hanyalah kambing hitam. Pengkhianat sejati masih bebas berkeliaran.
Pikirannya berpacu. Ia tidak bisa mati begitu saja. Jika ia benar-benar berada di dunia ini, maka ada peluang untuk mengubah takdirnya.
"Paduka Raja, izinkan aku berbicara!" Alan memberanikan diri.
Ruangan menjadi hening. Raja—ayah Adrian—menyipitkan mata, seolah tak percaya bahwa putranya yang malang masih berani bersuara.
"Kau ingin membela diri?" suara raja dingin.
"Aku tidak meminta pengampunan," Alan berbicara cepat, menyusun strategi seiring ia berbicara. "Tapi aku ingin mengajukan tawaran."
Sorakan dan gumaman memenuhi aula. Seorang pria dengan jubah hitam—Perdana Menteri, orang yang sangat membenci Adrian dalam novel—mendengus.
"Apa yang bisa ditawarkan oleh seorang pengkhianat?"
Alan menarik napas dalam. "Berikan aku waktu tiga bulan. Aku akan merebut kembali wilayah Edevane yang telah dikuasai musuh. Jika aku gagal, hukum mati aku sesuai keinginan kalian."
Aula kembali hening. Alan tahu bahwa Edevane adalah kampung halaman istri Adrian—wilayah subur yang telah jatuh ke tangan negara tetangga.
Dalam novel, kerajaan kesulitan merebut kembali wilayah itu. Jika Alan bisa menyelesaikan masalah ini, mungkin ia bisa bertahan hidup lebih lama.
Raja terdiam. Perdana Menteri jelas tidak senang, tetapi ia juga tidak bisa langsung menolak tawaran ini.
"Dan apa jaminannya bahwa kau tidak akan lari?" suara raja tetap tajam.
"Aku tidak punya pasukan. Aku tidak punya sekutu. Aku bahkan tidak punya hak untuk kembali ke istana." Alan tersenyum tipis. "Jika aku kabur, aku tidak akan bertahan lebih dari seminggu."
Perdana Menteri Edmond menyipitkan mata. "Dan jika kau justru bersekongkol dengan musuh?"
"Maka kalian bisa memenggal kepalaku sendiri."
Suara Alan menggema di aula, membuat beberapa orang terkejut.
Raja menatapnya lama, sebelum akhirnya berbicara. "Baik. Aku akan memberimu waktu tiga bulan. Jika kau gagal… tidak ada pengampunan."
Alan menghela napas lega. Untuk sementara, eksekusi ditunda.
Namun, ini baru permulaan.
***
Beberapa jam kemudian…
Alan duduk di dalam kereta tahanan, diapit oleh dua prajurit. Tangannya masih dibelenggu, tetapi setidaknya ia masih hidup.
"Sial," gumamnya. Ia masih belum percaya bahwa ia benar-benar berada di dalam novel yang ia baca.
Salah satu prajurit yang mengawalnya mendecak. "Tiga bulan? Kau benar-benar nekat, Pangeran Adrian."
Alan menoleh. Di hadapannya, duduk seorang pria berpakaian sederhana dengan pedang di pinggang. Matanya tajam, penuh kewaspadaan.
Alan mengenali pria itu.
Gareth Sinclair.
"Kau yakin ingin berbicara dengan seorang 'pengkhianat'?" heran Alan
Prajurit itu menyeringai. "Aku hanya penasaran. Kau terlihat lebih cerdas dari biasanya."
Alan mendengus. "Biasanya?"
"Biasanya, kau akan berteriak dan marah-marah, mengatakan ini adalah konspirasi dan ayahanda tidak mempercayaimu."
Alan terdiam. Jadi itulah bagaimana Adrian yang asli bereaksi? Tidak heran jika semua orang membencinya.
"Bagaimanapun, kau bukan lagi seorang pangeran," kata Gareth akhirnya. "Begitu kita tiba di perbatasan, kau hanya seorang pria tanpa pasukan, tanpa harta, tanpa dukungan istana."
Alan mendengus. "Lalu kenapa kau ada di sini?"
Gareth bersandar, menatapnya dengan ekspresi tak terbaca.
"Aku diperintahkan untuk memastikan kau benar-benar berangkat ke Edevane. Itu saja."
Alan tersenyum kecil. "Jadi kau tidak akan membantuku?"
Gareth tidak langsung menjawab. Setelah beberapa saat, ia berkata, "Aku akan melihat dulu apakah kau benar-benar punya rencana atau hanya mencari mati."
Alan kemudian menatap keluar jendela, melihat bayangan istana semakin menjauh. Aku benar-benar masuk ke neraka.
Pikirannya mulai mengingat detail cerita. Jika ia adalah Adrian, maka ia memiliki seorang istri dari perjodohan—seorang bangsawan yang bahkan dalam novel tidak pernah benar-benar diceritakan secara mendalam.
"Di mana istriku?" Alan akhirnya bertanya.
Prajurit itu mengangkat alis. "Oh? Jadi kau masih ingat dia?"
Alan berusaha tetap tenang. "Tentu saja. Aku hanya ingin tahu apa dia baik-baik saja."
Prajurit itu tertawa kecil. "Kau benar-benar berubah. Biasanya kau bahkan tidak peduli pada Lady Seraphina."
Seraphina. Nama istrinya.
Alan mengingat bahwa dalam novel, istri Adrian adalah seorang bangsawan dari keluarga tua yang dihormati. Pernikahan mereka hanya perjodohan politik.
"Dia tidak datang menemuimu di istana tadi," prajurit itu melanjutkan. "Tapi dia pasti sudah mendengar berita ini."
Alan menyandarkan kepalanya ke dinding kereta.
Istrinya tidak datang. Apakah dia juga membencinya?
Ia mendesah. Tidak penting sekarang. Yang lebih penting adalah misinya.
Merebut kembali Edevane.
Masalahnya, wilayah itu bukan hanya dikuasai musuh, tapi penduduknya juga lebih berpihak pada mereka. Alan akan menghadapi banyak perlawanan, bukan hanya dari musuh, tapi juga dari orang-orang yang seharusnya ia lindungi.
Dan lebih buruk lagi…
Pengkhianat sejati masih bebas berkeliaran.
Alan mengepalkan tangan.
Jika ia ingin bertahan hidup, maka ia tidak hanya harus memenangkan perang, tetapi juga menemukan siapa yang telah menjebaknya.
Ia menatap langit malam di luar jendela, lalu berbisik pada dirinya sendiri.
"Jika ini dunia novel, maka aku akan menulis ulang takdirku sendiri."
***
Daftar bab
142 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
142 bab








