Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Investigasi Letda Adit

Investigasi Letda Adit

Bayu Dirgantara | Bersambung
Jumlah kata
262.0K
Popular
466
Subscribe
93
Novel / Investigasi Letda Adit
Investigasi Letda Adit

Investigasi Letda Adit

Bayu Dirgantara| Bersambung
Jumlah Kata
262.0K
Popular
466
Subscribe
93
Sinopsis
PerkotaanAksiPerang
Di balik gerbang Batalyon Cakra Perkasa yang megah, sebuah tragedi memecah keheningan fajar. Lettu Angga ditemukan tewas dengan luka tembak di jantung, di rumah dinas Komandan Batalyon. Narasi resmi menyimpulkan ini adalah bunuh diri tragis. Namun, bagi Letda Adit, sahabat almarhum, terlalu banyak kejanggalan yang tak bisa diabaikan. Bisikan tentang memar di wajah istri komandan yang cantik dan ketakutan di mata para saksi lain menyeretnya ke dalam penyelidikan personal yang berbahaya. Setiap langkah Adit untuk mencari kebenaran justru membawanya lebih dalam ke pusaran konspirasi, intrik, dan pengkhianatan di mana garis antara kawan dan lawan mengabur. Dihantui oleh bayangan Angga dan diancam oleh kekuasaan yang tak terlihat, Adit harus mempertaruhkan segalanya—karier, kehormatan, bahkan nyawanya—untuk mengungkap misteri di balik seragam, sebelum ia menjadi korban selanjutnya.
Bab 1. Aroma Darah dan Disinfektan

Bab 1: Aroma Darah dan Disinfektan

“Darahnya masih segar, Letnan,” suara Serka Jody serak, memecah keheningan dini hari di ruang tamu yang mewah. “Tapi seseorang sudah mencoba membersihkannya.”

Aditama Nugraha, Letnan Dua yang baru dua tahun menyandang baret hijau, merasakan desiran dingin menelusup ke tulang punggungnya. Bau logam anyir, aroma khas darah, berpadu ganjil dengan semerbak disinfektan dan pengharum ruangan yang terlalu pekat, seolah sedang bersaing memperebutkan dominasi udara di sana. Lampu kristal di tengah ruangan memantulkan kilau yang menyilaukan di ubin marmer, namun gagal mengusir bayangan gelap yang menari di sudut-sudut mata Adit.

Ia melangkah lebih dekat, menjejakkan sepatu lapangan hitamnya hati-hati di area yang sudah dibatasi garis kuning Provost. Di depannya, tergeletak sosok tak bernyawa yang ia kenali dengan baik. Lettu Angga. Rekan satu angkatan, sahabat yang berbagi tawa dan peluh di medan latihan, kini terbaring kaku, darahnya merembes ke karpet Persia berwarna gelap yang kini tampak seperti kanvas abstrak dengan sentuhan merah marun. Sebuah pistol Gloc-17, senjata standar militer, tergenggam longgar di tangan kanannya, meskipun posisi tubuh Angga seolah tak natural untuk bunuh diri.

“Posisi pistolnya… aneh,” bisik Adit, lebih kepada dirinya sendiri. Ia mengamati detailnya. Jemari Angga terlalu terbuka, seolah senjata itu baru saja diselipkan, bukan digenggam erat dalam keputusasaan. Dan darah… darah di bawah tubuh Angga, seolah sudah sedikit mengering, namun di karpet sekitarnya, ada noda basah yang baru ditutupi kain lap.

Letkol Harris, Komandan Batalyon Cakra Perkasa, berdiri tak jauh darinya, di ambang pintu menuju ruang makan. Pakaian dinas lapangannya rapi tanpa cela, rambutnya yang memutih di pelipis tersisir licin. Wajahnya menunjukkan ekspresi sedih, namun mata itu… mata itu memancarkan sesuatu yang lain. Kelelahan? Atau mungkin, kehati-hatian yang berlebihan?

“Bunuh diri tragis,” ujar Letkol Harris, suaranya berat, seolah baru saja menelan kerikil. “Angga… ia memang sedang ada masalah pribadi. Utang, seingat saya.”

Adit mendongak, menatap komandannya. Angga? Utang? Rasanya tidak mungkin. Dua hari yang lalu, ia sempat makan siang bersama Angga di kantin. Angga terlihat gelisah, ya, tapi ia juga sangat antusias menceritakan rencananya mengambil cuti untuk mengunjungi orang tuanya. Tidak ada tanda-tanda depresi yang serius.

"Panggilan itu… Komandan, apakah benar saya orang pertama yang dihubungi setelah Komandan?" Adit bertanya, teringat kembali momen beberapa jam sebelumnya.

*

Malam itu, dinginnya udara pegunungan Jawa Barat terasa menusuk kulit, bahkan menembus seragam lapangan tebal Adit. Ia sedang menyelesaikan laporan jaga malam di markas Batalyon Infanteri Cakra Perkasa yang terpencil, secangkir kopi hitam mengepul di meja piketnya. Jam menunjukkan pukul 02:15. Keheningan malam di markas kadang menipu, tapi kali ini, itu adalah keheningan yang damai.

Derringg!

Ponsel dinasnya bergetar di atas meja. Nama "Komandan Batalyon" terpampang di layar. Adit langsung mengangkat.

“Letda Adit, siap!”

“Adit… cepat datang ke rumah dinas saya. Sekarang!” Suara Letkol Harris terdengar panik, napasnya tersengal. Ada nada ketakutan yang tak biasa dalam intonasi tegas sang komandan. “Cepat, Dit. Angga…”

“Ada apa, Komandan?” Adit merasakan jantungnya berdebar. Angga? Mengapa Angga?

“Ia… ia menembak dirinya sendiri! Astaga!” Suara komandan pecah di akhir kalimat, disusul suara benda jatuh.

Adit membeku. Bunuh diri? Angga? Ini mustahil. Ia langsung menyambar kunci motor dinasnya, pikiran berpacu lebih cepat dari denyut nadinya. Dalam lima menit, ia sudah memacu sepeda motornya melewati gerbang utama, menembus kabut tipis yang menyelimuti jalanan menanjak menuju kompleks rumah dinas perwira. Bau tanah basah dan pinus menyeruak, namun Adit tak merasakannya. Hanya firasat buruk yang merayap. Firasat itu memburuk saat ia melihat beberapa lampu rumah di kompleks perwira sudah menyala, dan bayangan-bayangan bergerak panik di balik jendela.

*

“Ya, saya menghubungi kamu duluan, Adit,” jawab Letkol Harris, menyentakkan Adit kembali ke masa kini. Nada suaranya kini lebih terkontrol. “Kamu kan perwira jaga. Saya panik. Istri saya histeris. Saya melihatmu cekatan saat latihan simulasi. Saya butuh orang yang tenang dan bisa saya percaya di saat seperti ini.”

Adit mengernyit. "Panik" sampai tidak menghubungi Provost dulu? Atau tim medis? Adit bukan paramedis, apalagi penyidik. Mengapa ia yang pertama dipanggil?

“Dan setelah itu Komandan menghubungi Provost?” Adit menoleh ke arah Serka Jody, bintara Intelijen yang sudah berdiri di sampingnya. Jody mengangguk pelan, matanya yang lelah memancarkan pesan yang tak terucapkan: Sesuatu tidak beres, Letnan.

“Tentu saja,” jawab Letkol Harris, nadanya sedikit menegang. “Setelah Angga… setelah itu, barulah saya bisa berpikir jernih. Saya menghubungi Provost. Dan kamu, Adit, kamu sudah datang lebih dulu.” Komandan menoleh ke arah Jody. “Jody, pastikan tim Provost bekerja cepat. Jangan sampai ada… desas-desus yang tidak-tidak. Ini adalah duka bagi batalyon kita.”

“Siap, Komandan,” Jody menjawab datar, namun pandangannya tak lepas dari noda darah yang samar di dekat ambang pintu yang baru saja ia tunjukkan pada Adit. Noda yang terlalu kecil untuk diperhatikan sepintas, terlalu bersih, namun cukup untuk mengindikasikan bahwa ada upaya untuk menghilangkannya.

Adit menunduk lagi, mengamati tubuh Angga. Ia mencoba mengingat setiap detail postur tubuh Angga, kebiasaannya. Angga adalah seorang yang berantakan, ia selalu begitu. Tapi mengapa ia harus mengakhiri hidupnya di rumah Komandan Batalyon? Tidak ada catatan, tidak ada pesan. Dan mengapa pistolnya di tangan kanan? Angga kidal.

Sebuah ganjalan besar.

Adit mengalihkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Kemewahan yang berlebihan. Vas bunga kristal yang hancur berkeping-keping di sudut ruangan, pecahan-pecahan berserakan di dekat rak buku jati yang tinggi. Seolah ada perkelahian, atau setidaknya, sebuah kekacauan yang disengaja. Namun Letkol Harris tidak menyebutkan adanya perkelahian.

“Komandan, vas itu…?” Adit menunjuk pecahan kristal.

Letkol Harris menatapnya, ekspresinya berubah. Ada kilatan yang nyaris tak terlihat di matanya. “Oh, itu, istri saya menjatuhkannya saat ia histeris melihat Angga. Ia syok berat. Saya sudah menyuruhnya istirahat di kamar.”

“Bagaimana dengan istri Komandan?” Adit bertanya, teringat kembali kilatan aneh di mata Letkol Harris. “Apakah ia, baik-baik saja?”

Tiba-tiba, dari arah kamar tidur utama, terdengar suara isakan tertahan. Sebuah sosok wanita muncul, terhuyung-huyung keluar. Riana, istri Letkol Harris. Wajahnya pucat pasi, rambutnya acak-acakan, dan matanya sembab karena menangis. Ia mengenakan gaun tidur sutra yang tipis, memperlihatkan bahunya yang sedikit terbuka.

Adit melihatnya. Di pipi kanan Riana, samar-samar, terlihat noda kebiruan. Sebuah memar yang berusaha ditutupi dengan bedak, namun tidak sepenuhnya berhasil. Memar yang terlihat baru.

Pandangan Adit langsung bertemu dengan mata Riana. Ketakutan yang amat sangat memancar dari pupil mata wanita itu. Sebuah ketakutan yang membuat Adit merinding. Seolah-olah tatapan itu, meskipun tanpa suara, sedang berteriak meminta tolong.

Letkol Harris segera menghampiri istrinya, merangkulnya posesif. “Sayang, sudah saya bilang istirahat. Jangan keluar dulu,” ujarnya dengan nada yang terdengar seperti perintah.

Riana tidak mengatakan apa-apa. Ia hanya menunduk, menghindari tatapan mata Adit. Jemarinya yang ramping meremas gaun tidurnya.

"Maaf, Letnan Adit," ujar Letkol Harris, menarik Riana mundur. "Istri saya sedang tidak enak badan. Ia sangat terpukul."

Adit tidak mengalihkan pandangannya dari punggung Riana yang menjauh. Memar itu. Kejanggalan di posisi mayat. Pistol di tangan yang salah. Bau disinfektan. Sebuah vas pecah. Semua ini… semua ini berteriak bahwa ini bukanlah sekadar bunuh diri. Ada sesuatu yang jauh lebih gelap.

Instingnya, insting tajam yang membuatnya lulus terbaik di akademi, berteriak kencang di benaknya. Ini bukan bunuh diri.

“Jody,” bisik Adit, tanpa menoleh. “Aku ingin kau—"

Lanjut membaca
Lanjut membaca