Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
TERPERANGKAP NAFSU TANTE SAHABATKU

TERPERANGKAP NAFSU TANTE SAHABATKU

A.Rifay Nindar | Bersambung
Jumlah kata
182.0K
Popular
11.6K
Subscribe
1.1K
Novel / TERPERANGKAP NAFSU TANTE SAHABATKU
TERPERANGKAP NAFSU TANTE SAHABATKU

TERPERANGKAP NAFSU TANTE SAHABATKU

A.Rifay Nindar| Bersambung
Jumlah Kata
182.0K
Popular
11.6K
Subscribe
1.1K
Sinopsis
18+PerkotaanSekolahBadboyAnak Yatim Piatu21+
Abdi adalah seorang pemuda tampan bertubuh atletis yang hidup dalam kesederhanaan di pinggiran kota. Sejak kedua orang tuanya meninggal dunia dalam kecelakaan tragis, Abdi memikul tanggung jawab besar sebagai tulang punggung keluarga. Masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas, ia harus membagi waktunya antara belajar dan bekerja sebagai tukang cuci mobil demi menyambung hidup serta memenuhi kebutuhan kedua adik perempuannya—Sekar, yang seumuran dengannya dan sama-sama pelajar, serta Aulya, si bungsu yang masih duduk di bangku sekolah dasar. Kehidupan Abdi berubah perlahan ketika ia menerima undangan sahabatnya, Dina, untuk mengerjakan tugas kelompok di rumah Dina yang cukup mewah. Di sanalah Abdi bertemu dengan Tante Yola, wanita dewasa nan mempesona yang juga merupakan pemilik grup usaha besar bernama YOLA Group. Tante Yola bukan wanita biasa—ia cerdas, mandiri, berpengaruh, namun menyimpan sisi gelap dalam dirinya: kehausan akan perhatian dan cinta yang tak pernah terpenuhi di balik gemerlap kekuasaannya. Pertemuan mereka berulang, dan benih hubungan terlarang mulai tumbuh di antara Yola dan Abdi—hubungan yang pada awalnya hanya bersifat emosional dan perlahan berubah menjadi keterikatan penuh rahasia dan risiko. Di balik cinta yang membara dan perhatian yang tak pernah ia dapatkan sebelumnya, Abdi dihadapkan pada pilihan sulit: antara mempertahankan kesucian hidupnya demi keluarga yang ia lindungi, atau menyerah pada rayuan dunia dewasa yang penuh kenikmatan namun berbahaya. Sementara itu, Sekar mulai curiga akan perubahan sikap kakaknya, dan rahasia besar di rumah mewah Tante Yola memberkan segalanya untuk Abdi pemuda yang mampu membuatnya merasakan kebahagiaan.
Pintu Malapetaka

Jam pelajaran keempat belum juga usai, dan denting waktu terasa lambat menghujam kepala Abdi Ardiansyah. Perutnya mual, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan rasa mulas sudah tak tertahankan. Dengan sopan, pemuda itu mengangkat tangan, meminta izin kepada guru untuk ke toilet.

“Cepat, dan jangan keluyuran!” suara guru yang ketus tak terlalu ia dengar jelas, karena fokusnya hanya satu: segera sampai di kamar kecil.

Langkahnya gontai menyusuri lorong sekolah yang mulai lengang, sebab mayoritas siswa sedang tertahan di kelas masing-masing. Sesekali ia menahan perut dan mengusap keringat. Tapi takdir sedang bermain kasar siang itu. Toilet yang biasa ia gunakan sedang dikunci untuk perbaikan. Dengan rasa putus asa, Abdi menoleh ke arah bangunan lama di sisi barat sekolah — gudang kosong yang tak lagi digunakan dan sering dianggap menyeramkan.

Namun yang tak Abdi ketahui, di balik pintu kayu kusam dan berderit itu, lima siswa sedang berpesta dengan sesuatu yang terlarang—drags. Asap mengepul, tawa rendah dan musik pelan menyatu dalam aroma busuk pelanggaran. Brian dan Roy, dua siswa keras kepala yang sering bikin ulah, langsung waspada saat mendengar langkah kaki mendekat.

“Eh, ada yang datang!” bisik Roy.

Pintu terbuka perlahan, dan di ambang pintu muncul sosok Abdi—berdiri terpaku, bingung, menatap kelima siswa yang kaget melihatnya.

“Lu ngapain ke sini, Di?” bentak Brian dengan suara berat.

Abdi mengangkat tangannya, mundur perlahan, “Gue... gue cuma cari toilet. Nggak tahu ada orang... sumpah gue nggak liat apa-apa.”

Namun kalimatnya tak selesai. Brian menghampiri dengan cepat, mendorong Abdi ke dalam gudang.

“Jangan pura-pura bego! Lu mau ngadu, ya?” Roy menyusul, mendorong bahunya dengan kasar.

“Apa? Nggak! Gue nggak peduli, sumpah...”

Namun, dunia gelap sudah menunggunya. Tinju pertama Brian menghantam pipinya, diikuti tendangan Roy ke perut. Abdi mencoba melindungi wajah, tapi tenaganya tak sebanding dengan dua pemuda bertubuh lebih besar dan sudah kehilangan kontrol.

Darah menetes dari bibirnya. Dunia mulai berputar. Suara tawa dan hinaan makin jauh.

Tak ada yang menolong. Tak ada yang tahu. Dan Abdi tak mampu berteriak. Tubuhnya diseret dan dilempar ke sudut gudang. Kepala belakangnya membentur karung tua, dan pandangannya gelap seketika.

Mentari terus bergulir. Bel pulang sekolah berbunyi. Siswa bersorak dan berhamburan dari kelas masing-masing. Tapi tak seorang pun menyadari bahwa di balik dinding kusam gudang tua itu, seorang pemuda bernama Abdi Ardiansyah sedang terbaring tak sadarkan diri — berdarah, remuk, dan sendirian.

Langit sore mulai menyisakan semburat jingga di ujung horizon. Satu per satu siswa meninggalkan sekolah, tawa dan obrolan ringan menjadi iringan menuju gerbang. Suara langkah kaki, klakson jemputan, dan derit sepeda mulai mereda, berganti sepi yang menggantung di udara.

Dina masih berdiri di bawah pohon flamboyan yang tak jauh dari gerbang. Seragam putih abu-abu yang dikenakannya sudah sedikit lecek, dan rambut panjangnya diikat asal. Jemputan mobil dari ayahnya sudah datang sejak lima belas menit lalu, tapi Dina tak kunjung naik.

Matanya terus menatap halaman sekolah. Ia mencari satu wajah yang belum muncul sejak pelajaran terakhir usai — Abdi Ardiansyah.

“Kenapa dia belum keluar juga, ya...” gumamnya lirih, lebih kepada diri sendiri.

Dina tak pernah benar-benar mengatakan bahwa ia menyukai Abdi. Tapi perhatian yang ia berikan selama ini bukan sekadar simpati. Ia tahu Abdi berbeda — bukan hanya karena ketampanannya yang sederhana atau tubuh atletisnya yang sering membuat teman-teman perempuan lain saling berbisik. Tapi karena ada luka dalam mata Abdi yang tak bisa disembunyikan. Luka yang membuat Dina ingin menjaga, meski dari kejauhan.

“De, ayo... nanti Papa nunggu lama,” suara sopir memanggil dari balik jendela mobil.

Dina menoleh, lalu menggeleng pelan. “Tunggu sebentar lagi, Om... Abdi belum keluar.”

“Teman kamu itu?” tanya sang sopir dengan nada sedikit penasaran.

Dina mengangguk, lalu memutuskan kembali melangkah ke dalam lingkungan sekolah yang kini hampir kosong. Gedung-gedung kelas tampak sunyi, jendela-jendela sudah tertutup setengah, dan hanya suara daun jatuh yang terdengar samar. Dina menaiki tangga menuju kelas, membuka pintu perlahan, berharap ia menemukan Abdi sedang tertidur atau tertinggal mengerjakan sesuatu.

Namun harapan itu luruh seketika.

Kelas sudah kosong. Hening. Meja dan kursi tampak tak berubah. Tapi di bangku pojok dekat jendela, Dina melihat sesuatu yang menghentikan langkahnya.

Tas Abdi.

Buku-buku masih tertata rapi. Pulpen tergeletak. Bahkan kotak makannya belum tersentuh. Dina menghela napas panjang, dadanya mulai sesak oleh rasa khawatir yang tak bisa dia jelaskan. Tangannya gemetar saat menyentuh tas itu, seakan bisa merasakan kehadiran Abdi yang tertinggal di sana.

“Abdi... kamu di mana?” bisiknya, nyaris seperti doa yang menari di udara senja.

Perasaan Dina tak enak. Hatinya berdebar keras, firasat buruk menghantam seperti ombak ke batu karang.

Ia berlari keluar kelas, menyusuri lorong-lorong kosong. Ruang UKS? Tidak ada. Mushola? Juga tidak. Ia mulai panik, menelusuri lorong belakang sekolah, berakhir di depan gudang tua yang seolah menatapnya dengan mata gelap penuh rahasia.

Tangannya gemetar saat memegang gagang pintu. Ia mencoba mendorong — terkunci.

Namun saat menempelkan telinga pada pintu kayu itu, Dina mendengar sesuatu… samar… suara rintihan pelan.

“Abdi?” panggilnya, nyaris tak terdengar.

Tak menunggu lama, Dina berlari mencari penjaga sekolah. Panik. Tak peduli lagi dengan jemputan yang menunggu. Ia harus membuka pintu itu. Ia harus menemukan sahabatnya.

Ia harus menyelamatkan Abdi... sebelum semuanya terlambat. Langkah kaki Dina menggema di lorong sekolah yang makin senyap, seperti suara hati yang dipenuhi kecemasan. Napasnya memburu, matanya liar menatap ke setiap sudut—ke ruang guru, ke kantor tata usaha, ke pos satpam. Tapi...

“Pak Arman...! Pak Satpam...! Halo!? Ada orang!?”

Sunyi.

Tak ada satu pun suara menjawab. Sekolah telah ditelan keheningan.

Dina menggigit bibir, air mata mulai menggenang di pelupuk mata. Ia tak tahu apa yang terjadi, tapi firasat buruk terus mencengkeram hatinya. Nafasnya sesak. Langkahnya terhuyung saat kembali berlari menuju gerbang.

Begitu melihat mobil hitam masih menunggu di depan, Dina segera menghampiri.

“Mang Tasrif!” teriaknya, mengguncang pintu sopir.

Lelaki paruh baya yang duduk di balik kemudi segera memutar kepala. “Ya Allah, Dina! Kenapa, Neng? Mukanya pucat gitu?”

“Abdi... Abdi, Mang... dia... dia di gudang... aku dengar suaranya, tapi pintunya terkunci! Aku takut ada yang—” suara Dina tercekat.

Mang Tasrif tak banyak tanya. Ia segera membuka pintu dan turun. “Ayo tunjukkan, Neng!”

Dina berlari lebih dulu, tanpa peduli pada debu yang beterbangan di sepatu hitam mengilapnya. Langkah Mang Tasrif menyusul dari belakang. Sesampainya di depan gudang, Dina menunjuk pintu kusam itu.

“Di dalam situ, Mang... aku yakin dia ada di dalam... aku dengar suaranya, lirih banget...”

Mang Tasrif mencoba memutar gagang pintu, namun terkunci rapat. Wajahnya menegang. “Nggak bisa. Kita dobrak aja, ya?”

Dina mengangguk. “Cepat, Mang... tolong...”

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu kayu itu akhirnya terlepas dari engselnya setelah dua hentakan keras. Debu menyeruak. Cahaya dari lorong menyorot ke dalam gudang gelap itu, memperlihatkan sesuatu yang membuat Dina menutup mulut menahan jeritan.

"Abdi !!"

Tergeletak di lantai dingin. Seragamnya kotor dan sobek. Ada darah kering di sudut bibir. Nafasnya pelan, nyaris tak terdengar.

“Ya Allah... YA ALLAH!” jerit Dina, lalu berlutut, menyentuh pipi Abdi. “Abdi! Bangun... bangun, please...”

Mang Tasrif langsung mengangkat tubuh Abdi. “Cepat ke mobil! Kita bawa ke rumah sakit sekarang!”

Beberapa Jam Kemudian... Semua terasa putih. Terlalu putih.

Abdi membuka matanya perlahan. Langit-langit ruangan menyilaukan. Aroma antiseptik menyengat. Ia mencoba menggerakkan tangan, tapi terasa berat. Saat ia menunduk, ia melihat selang infus menancap di pergelangan tangannya.

Matanya berkedip lambat. Napas berat. Lalu — ingatan itu kembali.

Gudang. Dipukul. Roy. Brian. Rasa sakit yang menyayat.

“Di... mana... aku...” gumamnya lirih.

Pintu ruangan terbuka. Seorang perawat masuk, menyadari matanya terbuka.

“Syukurlah... kamu sudah sadar. Tunggu sebentar ya, Nak. Temanmu menunggu di luar. Dia hampir pingsan saking paniknya.”

Abdi berusaha menjawab, tapi hanya bisa memejam dan menahan sakit di dadanya. Tak lama, Dina masuk — matanya sembab, rambutnya acak-acakan, tapi senyumnya langsung merekah melihat Abdi sadar.

“Abdi... Astaga... akhirnya... kamu sadar...” suaranya gemetar, lalu ia duduk di sisi ranjang. “Kamu tahu seberapa takutnya aku?”

Abdi menatap Dina perlahan. “Aku... nggak tahu apa-apa, Din... mereka... tiba-tiba—”

“Sst... nggak usah dipikir dulu... yang penting kamu selamat,” ucap Dina pelan sambil menggenggam tangan Abdi yang lemah. “Tapi... kamu harus cerita nanti. Kita harus lapor. Aku nggak akan tinggal diam. Mereka... mereka hampir membunuh kamu.”

Mata Abdi kembali memejam. Tapi kali ini bukan karena lelah. Tapi karena air mata yang turun perlahan dari sudut matanya. Bukan karena sakit di tubuhnya. Tapi karena untuk pertama kali dalam waktu lama... ada yang benar-benar peduli.

Jam dinding yang menggantung di ruang tamu berdenting sekali — pelan, tapi cukup untuk menyadarkan siapa pun bahwa malam sudah dalam. Pukul 21:00.

Rumah kecil di pinggiran kota itu remang, hanya diterangi lampu 10 watt yang tergantung di langit-langit ruang utama.

Udara malam merayap dari celah jendela, menambah dingin di hati yang sudah gelisah.

Sekar, gadis remaja berparas ayu dengan rambut diikat asal, mondar-mandir di ruang tamu. Ponselnya terus dia genggam. Sesekali ia melihat layar, lalu menghela napas panjang.

“Gila, Abdi ke mana sih...” gumamnya, tak sabar. “Katanya tadi sore cuma ke sekolah sebentar... ini udah malam belum balik juga!”

Dari dalam kamar terdengar isak tangis kecil.

Aulia, si bungsu, meringkuk di ujung ranjang dengan boneka lusuh di pelukannya. Matanya sembab, pipinya basah, dan suara tangisnya seakan tak bisa dihentikan.

“Kak Sekar... Abang mana...? Aku lapar...” rintihnya pelan.

Sekar memutar mata. “Ya ampun, Aulia... aku juga nggak tahu. Tadi udah makan ‘kan? Udah, tidur aja sana, jangan bikin ribet!”

Tapi Aulia justru keluar dari kamar, berdiri di ambang pintu, menatap kakaknya dengan mata polos yang dibasahi air mata.

“Aku nunggu Abang... Abang janji pulang sore ini...”

Sekar menatap adiknya sejenak. Ada rasa bersalah di sudut hatinya, tapi itu kalah oleh rasa jengkel.

“Aulia, denger ya...” katanya dengan nada tinggi. “Abang Abdi tuh mungkin lagi sibuk, atau mungkin... ya entah lah! Aku juga punya hidup! Aku udah janji mau ketemu teman. Jangan nyusahin!”

“Tapi aku takut sendiri...” suara Aulia nyaris tak terdengar.

Sekar memegang kepalanya, frustasi. Lalu mengambil tas kecil dan jaket.

“Udah, sana tidur. Aku nggak lama. Lagian tetangga sebelah kan bisa kamu panggil kalau kenapa-kenapa.”

CETTAK.

Pintu rumah ditutup keras.

Aulia berdiri terpaku di ambang pintu, tubuh kecilnya gemetar, menatap kosong ke arah pintu yang baru saja ditinggalkan kakaknya.

Dan malam itu... sunyi. Tak ada suara selain detik jam dinding, dan sesekali isakan kecil Aulia yang akhirnya tertidur di lantai dengan boneka di pelukannya.

Perutnya masih kosong.

Tubuhnya masih dingin.

Dan sosok yang paling ia rindukan, Abdi, belum juga pulang.

Sementara itu... Di rumah sakit, Abdi masih terbaring. Perban melingkar di dahinya. Tubuhnya nyaris tak bergerak.

Dina duduk di samping ranjang, kini tertidur di kursi plastik. Tangannya masih menggenggam tangan Abdi.

Sementara itu, seorang dokter berdiri di balik kaca ruangan, berbicara pelan pada perawat:

“Untung anak itu cepat ditemukan... Kalau lebih lama, bisa lebih parah akibat pendarahan dalam. Tapi kondisi emosionalnya juga harus diperhatikan. Dia terlihat... menanggung banyak beban.”

“Kasihan...” bisik sang perawat. “Masih muda, tampan, tanggung jawab... tapi sendirian. Katanya yatim piatu dan mengurus dua adik.”

“Hidup yang terlalu berat untuk anak seusianya...” balas dokter itu pelan.

Kembali ke rumah... Hujan mulai turun rintik-rintik.

Air merembes dari atap yang bocor, menetes perlahan ke lantai dekat tubuh kecil Aulia yang tidur tanpa alas.

Bibirnya bergerak-gerak, mengigau kecil...

“Abang... jangan pergi...”

Malam itu terlalu panjang.

Dan doa seorang anak kecil...

beradu dengan gemuruh langit yang tak pernah bisa menjawab.

Lanjut membaca
Lanjut membaca