Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
System Archive

System Archive

Nafayr | Bersambung
Jumlah kata
188.8K
Popular
19.1K
Subscribe
775
Novel / System Archive
System Archive

System Archive

Nafayr| Bersambung
Jumlah Kata
188.8K
Popular
19.1K
Subscribe
775
Sinopsis
18+PerkotaanSupernaturalSi GeniusMengubah NasibDunia Masa Depan
[Sistem + Regresi + Kiamat Es] Ali Akhsan dikhianati sahabatnya karena terlalu naif. Sialnya ia dibunuh oleh sahabatnya itu... Saat diambang kematian, Ali mendapati dirinya memiliki sistem hebat yang memberikan kesempatan kedua!
Prolog: Arsip dari Dunia yang Membeku

Jakarta, 2060.

Indonesia, yang pernah menjadi adidaya teknologi dunia, kini hanya puing-puing megah di bawah selimut es abadi.

Rel magnetik kereta levitasi yang dulu meluncur mulus dari Jakarta ke Surabaya telah menghilang di bawah timbunan salju setinggi tiga meter. Ribuan drone pengantar logistik nasional tergeletak membeku di jalanan, baterai quantum mereka mati selamanya. Bus tanpa supir yang pernah mengangkut jutaan warga setiap hari berubah menjadi bangkai es di pinggir jalan, lampu dashboardnya masih menyala redup seperti mata yang sudah tak bernyawa. Bahkan iklan billboard holografik raksasa di Sudirman-Thamrin yang dulu menyala terang dengan promosi produk futuristik kini hanya bayangan samar yang berkedip pelan di tengah badai, seperti hantu peradaban yang menolak mati.

Ali Akhsan tersandar lemah di antara reruntuhan Blok M yang dulu menjadi pusat inovasi. Usianya baru tiga puluh tahun, namun tubuhnya sudah hancur seperti veteran perang dingin. Luka tusuk dalam di punggungnya mengalirkan darah yang segera membeku menjadi kristal merah. Exosuit thermalnya robek parah, pistol plasma di tangannya hanya menyisakan dua charge. Napasnya pendek dan berat, kabut putih yang keluar dari mulutnya langsung mengeras di udara minus empat puluh derajat. Di kejauhan, es-walker mulai mendekat, siluet mereka muncul dari kabut tebal dengan gerakan kaku dan haus panas.

Semua berawal dari pertengkaran tadi malam di stasiun bawah tanah MRT Jakarta.

Ali berteriak pada Yuki, Arman, dan Sinta, "Stok makanan di gudang ini milik semua orang! Kita yang menemukannya bersama!"

Tapi Yuki hanya menatap dingin, Arman tertawa sinis, dan Sinta menggeleng pelan.

"Lo terlalu naif, Ali," kata mereka.

Lalu pisau menusuk dari belakang. Pengkhianatan itu lebih dingin daripada es itu sendiri.

"Kalau aja bisa balik ke masa lalu … gue nggak bakal percaya sama siapa pun sembarangan. Gue bakal pakai semua pengetahuan yang pernah gue punya. Gue pastiin kalian ngerasain dingin yang lebih menusuk!"

Kini, saat es-walker semakin dekat, Ali tertawa kecil di antara rasa sakit yang membara. Tawa itu pahit, getir, hampir seperti tangis yang tertahan.

"Sempet-sempetnya gue berandai-andai di ambang mati," desisnya pelan, rahangnya mengeras.

Dia menyesal karena begitu naif, mudah ditipu, lemah, bahkan tidak bisa melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa: Mira, adik perempuannya yang lenyap di kekacauan evakuasi tujuh tahun lalu. Nama itu masih terasa seperti luka yang tak pernah membeku sepenuhnya.

Ali menarik napas dalam-dalam. Ia akhirnya menerima kematian yang tak terelakkan. Dengan tekad terakhir yang membara, ia mengangkat pistol plasma, bidikannya goyah tapi pasti. Charge pertama dilepaskan, cahaya biru menyilaukan menghantam es-walker terdepan, tubuhnya meledak menjadi serpihan kristal dan daging beku.

Charge kedua menyusul, menghabisi dua lagi. Tiga makhluk itu roboh, tapi lebih banyak lagi yang muncul dari kabut karena keributannya.

Ali tumbang. Lututnya ambruk ke salju, pistol itu jatuh dari genggamannya yang lemas. Air mata mengalir di pipinya yang membeku, bercampur darah yang menetes dari sudut bibirnya.

"Mama, Ayah, Mira …" gumamnya, suaranya tercekat ditelan hembusan angin yang menusuk tulang.

Zombie terdepan melompat. Tangan kurus mayat hidup itu mencengkeram bahu Ali dengan kuat. Gigi tajamnya mendekat, napas busuknya terasa hangat di wajah yang sudah dingin.

Tepat sebelum gigi itu menyentuh kulitnya, sesuatu muncul di depan mata Ali. Cahaya biru samar berpendar, mengambang seperti layar holografik tipis di udara. Dunia di sekelilingnya terasa melambat, detik-detik menegang, salju berputar lebih lambat, dan napas predator seolah tertahan. Ali menatap layar itu, fokusnya terpecah sejenak dari ancaman di depannya.

[DING! System Archive mendeteksi host akan mati. Apakah Anda ingin mengarsipkan ingatan kehidupan saat ini sebelum rollback temporal?]

[Yes]   [No]

Ali menatap panel itu dengan mata setengah tertutup. Darah masih mengalir dari sudut bibirnya.

"Halusinasi terakhir … atau beginikah rasanya mati?" gumamnya ragu. Tapi jarinya bergerak. Perlahan, pasti, ia menyentuh opsi yes.

[DING! Rollback temporal dimulai. Target: 10 tahun ke belakang]

Segala suara lenyap seketika. Dunia memudar. Cahaya biru menyapu semuanya, seperti gelombang laut yang menghapus jejak kaki terakhir di pantai.

Kegelapan menelan dunia itu untuk terakhir kalinya.

Hingga cahaya putih membelah kegelapan seperti ledakan. Ali terbangun, dirinya bergetar hebat. Keringat dingin membasahi sekujur tubuh, napasnya tersengal-sengal, kasar seperti tersedak oleh kengerian yang baru saja di alaminya.

Ia meraba perutnya dengan tangan gemetar, menyusuri kain kaus tipis yang lembap oleh keringat. Namun tak ada robekan, tak ada darah yang mengering, tak ada rasa nyeri menusuk yang seharusnya masih membara. Yang tersisa hanya kulit hangat, dan detak jantung yang berdegup terlalu kencang, menyerupai genderang perang di dadanya.

Ali menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan detak jantung yang masih menggila. Perlahan ia duduk di atas kasur. Pandangannya menyapu ruangan dengan lambat. Tampak meja belajar di sudut dengan monitor 49 inci, keyboard mechanical, headset VR generasi terbaru yang lensa-lensanya masih dilapisi plastik pelindung. Di dinding, poster-poster game lama dan band indie yang ia tempel dengan selotip transparan masih utuh, warnanya belum pudar. AC di dinding berdengung pelan, meniupkan udara sejuk yang terasa mewah setelah sepuluh tahun hanya mengenal hembusan angin es yang membakar paru-paru.

Jendela besar di samping tempat tidur membiaskan sinar matahari pagi yang kuning keemasan. Di luar sana, samar-samar terdengar suara deru kendaraan yang melaju di jalan raya.

Ia bangkit perlahan, kaki terasa lemas. Langkahnya tertatih menuju meja. Jarinya menyentuh tepi monitor yang dingin, lalu matanya tertarik ke sudut kanan bawah layar: widget kalender digital yang selalu ia setel agar muncul otomatis setiap komputer menyala.

Tanggalnya jelas terpampang di sana.

1 Januari 2050

Ali terdiam. Napasnya terhenti sejenak. Ia lalu mengulurkan tangannya, menyentuh layar dengan ujung jari gemetar, seolah ingin memastikan angka-angka itu nyata.

Tiba-tiba terdengar derit pelan dari pintu kamar. Ali menoleh cepat, tubuhnya masih tegang seperti orang yang baru saja lolos dari medan perang.

"Ali? Sudah bangun, Nak?"

Ratna, ibunya, berdiri di ambang pintu dengan celemek dapur yang sedikit berlumur tepung. Rambutnya diikat sederhana, senyumnya masih sama seperti dulu: tipis tapi tulus, mata yang selalu melihat anaknya sebagai anak kecil meski usianya sudah dua puluh dua tahun.

"Mama …"

Ratna mengerutkan kening. "Kenapa, Nak? Muka kamu pucat sekali. Mimpi buruk lagi?"

Ali tidak menjawab. Dia hanya melangkah maju, langkahnya masih goyah seperti orang yang baru belajar berjalan. Lalu, tanpa berkata apapun, ia memeluk ibunya erat-erat. Sangat erat. Seolah takut Ratna akan lenyap lagi jika ia melepaskan.

Tubuh Ratna menegang sejenak karena terkejut. Lalu ia membalas pelukan itu dengan pelan, tangannya mengusap punggung anaknya seperti dulu saat Ali kecil.

"Ya ampun, kenapa sih hari ini? Mimpi buruk ya?"

Ali menggigit bibir bawahnya. Air mata yang tadi sempat tertahan di dunia es kini mengalir tanpa suara, membasahi bahu ibunya itu.

Ratna hanya diam memeluknya lebih erat. Ia tidak bertanya banyak. Bagi seorang ibu, kadang cukup melihat anaknya menangis untuk tahu bahwa ada luka yang tak perlu diucapkan.

"Udah, udah. Mama di sini. Tidak apa-apa," bisiknya sambil mengusap rambut Ali pelan. "Ayo turun, sarapan dulu. Mama masak nasi goreng kesukaan kamu. Nanti kalau sudah kenyang, cerita kalau mau."

Ali mengangguk pelan di pelukan itu, tapi matanya tetap tertutup rapat. Di dalam kepalanya, ingatan dunia beku masih berputar.

Tapi sekarang, di pelukan ibunya yang hangat, Ali merasakan sesuatu yang sudah lama ia dambakan.

Kesempatan.

Ia melepaskan pelukannya perlahan, menyeka air mata dengan punggung tangan. Wajahnya masih basah, tapi matanya kini berbeda. Tidak lagi mata anak muda yang naif. Mata itu dingin, tajam, penuh perhitungan.

"Iya, Ma. Ayo kita turun."

Ratna tersenyum lega, mengelus pipi anaknya sekali lagi sebelum berbalik menuju tangga.

Lanjut membaca
Lanjut membaca