Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
System Archive

System Archive

Nafayr | Bersambung
Jumlah kata
147.7K
Popular
13.5K
Subscribe
628
Novel / System Archive
System Archive

System Archive

Nafayr| Bersambung
Jumlah Kata
147.7K
Popular
13.5K
Subscribe
628
Sinopsis
18+PerkotaanAksiSi GeniusMengubah NasibDunia Masa Depan
Ali Akhsan mati dikhianati oleh orang-orang yang ia lindungi. Di dunia yang membeku, ia kehilangan keluarga, kepercayaan, dan harapan. Saat kematian menjemputnya, sebuah sistem misterius bernama System Archive justru mengarsipkan seluruh hidupnya, lalu mengirimnya kembali sepuluh tahun ke masa lalu, sebelum kiamat es dimulai. Kini Ali terbangun di dunia yang masih hangat, di hadapan ibunya yang masih hidup, adiknya yang masih bisa tertawa, dan masa depan yang belum runtuh. Dengan ingatan sepuluh tahun kehancuran, misi sistem yang tak memberi belas kasihan, dan tekad yang tak lagi naif, Ali bersumpah: kali ini, ia tidak akan menyelamatkan dunia sendirian dan tidak akan membiarkan pengkhianatan terjadi untuk kedua kalinya.
Prolog: Arsip dari Dunia yang Membeku

Tahun 2060.

Jakarta telah tenggelam dalam era pembekuan. Dunia menyebutnya: Frozen Era.

Tidak ada sirene, tidak ada pengumuman terakhir. Kota ini mati dalam diam.

Es menyelimuti segalanya tanpa ampun. Gedung-gedung pencakar langit di sepanjang Thamrin kini berbalut lapisan biru kristal tebal, seolah kota ini dibekukan dalam satu hembusan napas raksasa. Jalanan yang dulu ramai kendaraan kini tertimbun salju setebal dua meter, mobil-mobil membatu menjadi patung-patung bisu. Pohon kelapa di trotoar kaku membeku, daunnya retak seperti kaca pecah. Sungai Ciliwung berubah menjadi pita es padat yang retak-retak samar, menahan arus hidup di bawahnya seperti jantung yang dipaksa berhenti. Angin malam menusuk hingga ke sumsum tulang, membawa aroma logam beku bercampur bau daging busuk yang tak pernah mencair.

Di lorong sempit antara dua gedung apartemen tua di kawasan Tanah Abang, Ali berlari dengan langkah tersendat.

Parang di tangan kanannya berlumur darah hitam yang mengental cepat. Napasnya membentuk kabut putih yang langsung membeku di udara dingin. Luka robek di pinggang kirinya menganga lebar; darah merahnya menetes, mencairkan salju di bawah kaki menjadi genangan kecil yang segera membeku lagi menjadi kristal merah gelap. Setiap langkah mengirimkan sengatan panas yang segera mati, digantikan mati rasa dingin hingga kakinya nyaris tak ia rasakan.

Di belakangnya, geraman rendah bergaung seperti gema dari jurang.

Kawanan mayat hidup dengan kulit biru kehitaman dan urat-urat hitam yang menonjol seperti kabel rusak bergerak lambat, namun tak pernah berhenti. Mata putih kosong mereka tertuju pada satu sumber kehangatan terakhir, darah Ali. Mereka haus, dan dingin justru membuat kelaparan itu tumbuh semakin ganas.

"Arman! Yuki! Sinta!" seru Ali, suaranya serak karena dingin dan darah yang menggenang di tenggorokan. "Cover gue! Mereka mendekat!"

Ia berbalik, mengayunkan parang dengan tenaga terakhir.

Bilah besi memenggal leher zombie terdepan hingga kepalanya berguling ke salju dengan suara lembek yang mengerikan. Tubuhnya ambruk, tapi dua yang lain langsung mengisi kekosongan itu, tangan kurus mereka meraih udara.

Ali mundur hingga punggungnya membentur dinding es yang licin.

"Arman! Lo di mana?! Cepet! Jangan diam aja!"

Arman muncul dari tikungan lorong, diikuti Yuki dan Sinta. Mereka bertiga berhenti.

Tak maju.

Tak mundur.

Hanya menatap, seperti sedang menunggu sesuatu yang pasti.

Ali mengerutkan kening. "Apa-apaan ini? Cepet! Mereka makin banyak!"

Arman tak menjawab, menatap Ali dengan ekspresi datar. Yuki menunduk, tangannya gemetar memegang pipa besi. Sinta hanya tersenyum tipis, matanya berbinar tenang, seperti seseorang yang akhirnya mendapatkan sesuatu yang memang ia tunggu.

Geraman zombie semakin dekat, semakin keras, seperti paduan suara kematian yang tak terelakkan.

Ali mengayunkan parang sekali lagi, memotong lengan salah satu mayat hidup itu hingga putus. Darah hitam menyiprat, membeku di udara sebelum menyentuh salju.

"Yuki! Lo kenapa? Bantu gue!"

Yuki mengangkat wajah. Matanya basah, air mata membeku di pipi sebelum jatuh. "Ali—"

"Cukup," potong Arman dengan suara datar.

Satu gerakan cepat.

Udara terasa berhenti.

Arman sudah berada di belakang Ali. Pisau panjang di tangannya menusuk tepat di bawah tulang rusuk, masuk dalam hingga gagangnya tersembunyi. Rasa dingin logam bercampur panas darah yang mengalir deras.

Ali tersentak. Napasnya terhenti sejenak. Parang jatuh dari tangannya, tertancap di salju.

"Bajingan!" serunya pecah, bercampur darah yang menyembur dari bibirnya.

Arman menarik pisau perlahan, sengaja memperpanjang rasa sakit. Darah merah membanjiri jaket Ali, mencairkan salju di bawahnya menjadi danau kecil berwarna merah tua.

"Lo terlalu lemah untuk dunia ini, Ali," bisik Arman tepat di telinga kanannya, suara rendah dan tanpa penyesalan. "Gudang persediaan itu milik kami sekarang. Lo hanya menghambat."

Ali jatuh berlutut. Tangan kirinya menekan luka, tapi darah terus merembes di antara jari-jarinya. Pandangannya mulai kabur, dunia berputar pelan dalam dingin yang semakin pekat.

Sinta mendekat dengan langkah ringan, hampir menari. Ia berjongkok di depan Ali, jari-jarinya merogoh kantong jaket pemuda itu dan mengambil kunci gudang persediaan, kunci yang selama ini menjadi harapan terakhir kelompok kecil mereka.

"Akhirnya …" Sinta tertawa kecil. Matanya berbinar penuh kegembiraan gila.

Ali memaksa menoleh ke Yuki. "… kenapa lo ikut mereka?"

Yuki maju setengah langkah, tangannya meraih lengan Arman. "Jangan, Arman. Cukup … kita bisa cari jalan lain—"

Arman menarik tangan Yuki dengan kasar hingga gadis itu tersandung. "Lo mau mati bersama dia? Atau hidup bersama kami?!"

Yuki menatap Ali. Air matanya jatuh lagi, membeku di udara sebelum menyentuh salju. Bibirnya bergetar hebat.

"Maaf, Ali … aku … aku tak bisa melawan mereka …"

Kata-kata itu menusuk lebih dalam daripada pisau yang menikamnya barusan, sebuah luka yang tak kasat mata tapi menghancurkan jiwa.

Mereka bertiga lalu berbalik kabur tanpa menoleh lagi. Membiarkan Ali tergeletak di tengah gerombolan para makhluk itu yang mulai mendekat, seperti serigala yang mencium darah.

Ali tersenyum getir, darah menetes dari sudut bibirnya. "Mama … Ayah … Mira …"

Zombie terdepan melompat. Tangan kurus mayat hidup itu mencengkeram bahu Ali. Gigi tajamnya mendekat hendak memangsanya.

Namun tepat sebelum itu terjadi—

[DING!]

Cahaya biru samar muncul di depan mata Ali, mengambang seperti layar tipis di udara beku.

[System Archive mendeteksi host akan mati. Apakah Anda ingin mengarsipkan ingatan kehidupan sebelum rollback temporal?]

[Yes]          [No]

Ali menatap panel itu dengan mata setengah tertutup, darah mengalir dari sudut bibirnya, seolah ini adalah ilusi terakhir dari pikirannya yang sekarat.

"… apa ini halusinasi, atau beginikah rasanya mati?"

Tapi jarinya tetap bergerak. Ia memilih [Yes]

[DING! Rollback temporal dimulai menuju sepuluh tahun ke masa lalu.]

Segala suara lenyap seketika. Dunia memudar. Cahaya biru menyapu semuanya, seperti gelombang laut yang menghapus jejak kaki terakhir di pantai. Kegelapan menelan dunia itu untuk terakhir kalinya.

Hingga cahaya putih membelah kegelapan seperti ledakan. Ali terbangun dengan tarikan napas brutal.

"Hah … hah … haaah!"

Tubuhnya basah keringat oleh dingin. Napasnya tersengal, seperti baru ditarik dari jurang maut yang dalam.

Ia meraba perutnya dengan tangan gemetar. Jari-jarinya menyusuri kain kaus tipis yang lembap oleh keringat. Namun tak ada robekan, tak ada darah yang mengering, tak ada nyeri menusuk yang seharusnya masih membara. Yang tersisa hanya kulit hangat, napas tersengal, dan detak jantung yang berdegup terlalu kencang, menyerupai genderang perang di dadanya.

Ali menarik napas dalam, mencium aroma campuran yang seharusnya sudah terkubur di bawah salju sepuluh tahun ke depan.

Pandangannya menyapu kamar pelan, seolah setiap sudut bisa lenyap jika dilihat terlalu tergesa.

Lemari kayu jati di sudut masih berdiri tegak, pintunya sedikit melengkung karena umur.

Cahaya pagi Jakarta menyusup lewat gorden tipis berwarna abu-abu muda, membentuk garis-garis emas lembut di lantai keramik motif kayu yang sudah agak pudar. Udara masih sejuk, belum terbakar panas matahari tropis yang biasa menyengat jam sepuluh pagi.

Ali menoleh ke kalender dinding digital-hybrid yang tergantung di atas meja.

Layar e-ink-nya menguning samar karena pemakaian lama, tapi angka-angka merah tebal itu masih jelas:

2050

Tanggal hari ini ditandai dengan ikon kecil berbentuk joystick, mungkin untuk pengingat event in-game atau janji main bersama teman di VR. Di bawahnya, widget cuaca menunjukkan "Cerah, 32°C" dengan ikon matahari cerah. Tak ada salju. Tak ada es. Hanya panas Jakarta yang biasa.

Tenggorokannya terasa kering, seperti retakan es yang melebar pelan di permukaan Sungai Ciliwung yang membeku. Ia menelan ludah, tapi rasa itu tak hilang.

"Regresi …" gumamnya pada dirinya sendiri, suara itu hampir tak terdengar, seolah mengucapkannya terlalu keras akan membuyarkan mimpi ini.

Di benaknya, kilasan demi kilasan datang tanpa ampun.

Dingin logam pisau Arman yang menusuk. Darah hangat yang bercampur salju putih. Tawa kecil Sinta yang genit dan terganggu, mata berbinar seperti melihat pesta berdarah. Air mata Yuki yang membeku di pipi sebelum jatuh, bibirnya bergetar mengucap maaf yang tak pernah selesai.

Semuanya terpatri tajam, seperti bilah parang yang ia ayunkan ribuan kali di dunia yang sudah mati. Tapi kini, di kamar ini, semuanya terasa jauh seperti mimpi buruk yang baru saja ia tinggalkan.

Ketika Ali masih menahan nafas, suara langkah ringan terdengar dari luar. Aroma nasi goreng masuk bersama desir angin. Pintu berderit pelan.

"Ali … bangun nak, mama bikin nasi goreng, ayo makan dulu."

Suara itu. Suara yang selama sepuluh tahun hanya bergema di mimpi buruknya.

Ratna berdiri di ambang pintu, mengenakan daster sederhana, rambut diikat seadanya, tersenyum hangat seperti sinar matahari yang lama hilang.

Ali menatap ibunya lama. Air matanya mengalir tanpa suara. Untuk pertama kalinya sejak dunia runtuh, ia membiarkan dirinya lemah.

Ia bangkit, melangkah cepat, lalu memeluk Ratna erat-erat hingga tubuhnya bergetar.

"Mama …"

Ratna terkejut sejenak, tapi segera membalas pelukan itu dengan lembut. "Kenapa, Nak? Mimpi buruk?"

Ali menggeleng pelan di bahu ibunya. Suaranya parau, hampir tak terdengar.

"Kali ini … aku tak akan gagal lagi."

Di benaknya, bayangan Arman yang menusuk, tawa gila Sinta, dan air mata Yuki masih terpatri jelas.

Ia mengepalkan tangan di punggung ibunya. Kali ini, takdir akan ia ubah sendiri.

Lanjut membaca
Lanjut membaca