

_Nusantara, Tahun 536 Masehi
Bumi seakan runtuh. Gunung-gunung memuntahkan api, abu menyelimuti langit, dan matahari tak lagi bersinar. Dunia tenggelam dalam musim dingin vulkanik. Kelaparan, penyakit, dan kematian melanda di setiap sudut negeri.
Namun, di tengah penderitaan itu, ada beberapa keluarga yang tetap hidup dengan tenang. Salah satunya—Keluarga Satyaraja.
Mereka bukan bangsawan, bukan rohaniawan, bukan pula raja-raja besar. Hanya keluarga besar biasa… yang diam-diam menyimpan sebuah rahasia.
Mereka memiliki hubungan dengan sebuah entitas purba, sesuatu yang bukan jin, bukan roh, dan jauh melampaui manusia.
Dua puluh tahun setelah bencana, ketika kerajaan-kerajaan masih terhuyung mencari pijakan, Satyaraja membuka lumbung mereka, membagikan makanan, menyalakan kembali harapan. Mereka dielu-elukan sebagai pembawa kemakmuran.
Namun di balik senyum itu, muncul bisikan-bisikan mencurigakan.
“Tidak ada kematian dini dalam keluarga Satyaraja…”
“Mustahil. Wabah penyakit dan Kelaparan benar-benar merusak pondasi setiap keluarga, bagaimana mereka bisa bertahan…”
“Sayangnya, itu benar.”
Kecurigaan berubah menjadi keserakahan. Dari kalangan abdi dalem dan orang-orang yang silau oleh kemakmuran, lahirlah sebuah perkumpulan rahasia: Murwa Manik.
Mereka memproklamirkan diri mereka sebagai pelindung raja. Mereka menolak untuk membiarkan keluarga lain mengantikan raja mereka. Mencegah kudeta dan menjaga stabilitas kerajaan.
Hanya mereka yang tau, organisasi itu dibentuk untuk menyelidiki alasan kemakmuran keluarga Satyaraja.
Organisasi itu kemudian mulai mengintai, menggali, dan akhirnya menemukan kebenaran.
Di balik kemakmuran keluarga Satyaraja, berdiri sebuah entitas yang dapat memberi segalanya. Kematian, kekayaan, kesehatan, segalanya, semudah membalik telapak tangan.
Murwa Manik pun merencanakan penjarahan.
Mereka menginginkan Entitas itu untuk diri mereka sendiri.
Pada dini hari, obor menyala di sudut halaman Satyaraja. Api menjalar cepat, melahap ketentraman.
“SEKARANG!”
Teriakan itu menggema, diikuti dentuman langkah kaki puluhan orang.
Jeritan mengguncang kegelapan.
“Arghhh!”
“Tidaaak!”
“Tolong…!”
Darah memercik, senjata beradu, rumah besar itu terbakar bersama suara tangis dan doa terakhir.
Murwa Manik menghapus Keluarga Satyaraja dari dunia—atau setidaknya, itulah yang semua orang percayai.
Namun satu hal tetap menjadi misteri:
Apa yang sebenarnya mereka peroleh…
Dan apa yang gagal mereka genggam...
**********
_Nusantara, beberapa abad kemudian — Tahun 2019
Sebuah ruang kelas SMP tampak hidup. Guru menjelaskan di papan tulis sambil menulis cepat dengan kapur, sementara sebagian besar murid mencatat… sebagian lagi asyik berbisik, tertawa kecil, atau diam-diam bermain di bawah meja.
Namun, di tengah hiruk-pikuk itu, ada satu pemandangan yang paling mencolok.
Seorang anak lelaki tertidur pulas di bangku tengah. Kepalanya tergeletak di atas lengan, sama sekali tak terganggu oleh suara riuh kelas.
Sang guru menoleh, dan matanya langsung menangkap murid itu. Bibirnya melengkung miring, seolah sudah muak dengan kebiasaan yang sama berulang kali.
Tuk!
Sebuah kapur melayang, melesat tepat mengenai kepala si murid.
“Arlan Suryaraja!” suara guru itu menggema di seluruh ruangan. “Kalau kau mau tidur, pulang saja! Jangan di kelasku!”
Kelas seketika hening. Semua mata menoleh.
Arlan terbangun dengan kaget, menggaruk kepalanya yang gatal terkena kapur. Wajahnya malas dan tatapannya mengantuk.
“Maaf, Pak,” gumamnya singkat.
Guru mendengus. “Apa sih yang kau lakukan semalam? Pergi ke wastafel, cuci muka. Jangan tidur lagi dikelas!”
“Baik,” jawab Arlan.
Ia berdiri, berjalan malas ke luar kelas. Murid-murid lain mengikuti gerakannya dengan tatapan geli. Tapi hanya Arlan sendiri yang tahu, detik sebelum bangun tadi, ia sempat melihat sebuah cahaya biru lembut di dalam mimpinya. Cahaya itu membentuk wajah menyeramkan. Terlalu nyata untuk sekadar bunga tidur.
Air dingin membasuh wajahnya. Ia menatap sekilas air yang menggenang di atas wastafel. Bayangan samar cahaya biru itu masih menempel di benaknya, seolah menunggu untuk diingat.
Namun begitu ia kembali duduk, Arlan memilih menyingkirkan semuanya. Ia menghela napas pelan, memfokuskan dirinya untuk mengikuti kelas.
Dan pelajaran pun berlanjut, seakan tidak ada yang terjadi.