

BAB 1
DENDAM BERDARAH
Darah segar menetes dari sudut bibir Satria Madangkara.
Pemuda berusia delapan belas tahun itu tersungkur di pojok kelas, dadanya naik turun dengan susah payah. Lebam ungu memenuhi hampir seluruh wajahnya, sementara darah terus mengalir dari hidung yang patah.
"Sampah Taksaka!"
Narendra, pemuda berambut hitam dengan mata penuh kebencian, menginjak kepala Satria ke lantai. "Kenapa bajingan sepertimu masih bernafas di negara kami?!"
Hantaman keras mengenai perut Satria. Satu. Dua. Tiga kali.
Muntahan darah menyembur dari mulut Satria. Tubuhnya kejang, telinga kirinya mulai mengeluarkan cairan merah kental.
"Narendra, berhenti! Kau akan membunuhnya!"
"Justru itu tujuanku!" balas Narendra garang. "Atau kau lupa apa yang orang-orang kerajaannya lakukan pada keluarga kita?!"
"Benar! Biarkan anjing ini mati!"
"Meta Human brengsek! Harusnya kalian semua dimusnahkan!"
Suara-suara penuh benci itu menggema di ruangan. Satria hampir kehilangan kesadaran, tapi setiap kata kutukan itu masih menembus telinganya dengan jelas.
Kebencian. Dendam. Amarah.
Itulah yang selalu dia terima sejak menapaki tanah Maung Lodaya.
Sepuluh tahun lalu, perang brutal antara Kerajaan Naga Taksaka dan Maung Lodaya menelan ratusan ribu nyawa. Meta Human, manusia hasil rekayasa genetika dari Taksaka, memusnahkan desa demi desa dengan kejam. Mata-mata yang tertanam di jajaran pemerintahan Maung Lodaya membuat kekalahan semakin telak.
Pembantaian massal. Genosida. Neraka dunia.
Dan Satria, sebagai warga Taksaka, harus menanggung semua dendam itu.
"H-hentikan..." lirihnya nyaris tak terdengar.
Narendra tertawa keras, lalu mencengkeram rambut Satria dan membantingkan kepalanya ke tembok.
BRAK!
"Berhenti?" bisik Narendra dingin tepat di telinga Satria. "Aku bahkan belum mulai, sampah. Aku akan membuatmu berharap mati setiap detik hidupmu!"
Tendangan keras menghantam wajah Satria, membuatnya terpental ke sudut ruangan. Punggungnya membentur keras, tulang rusuknya retak.
Pandangan Satria mulai mengabur. Kesadarannya hampir lenyap.
Tapi di tengah kegelapan itu, sebuah memori muncul.
Ibunya. Berlutut di hadapan Kaisar Maung Lodaya, memohon dengan air mata berdarah.
"Tolong ... selamatkan anakku. Aku akan memberikan apapun. Nyawaku. Informasi rahasia kerajaan. Apapun!"
Satria masih ingat tatapan mata ibunya saat terakhir kali mereka bertemu. Penuh harapan. Percaya bahwa putranya akan hidup.
Tiga hari kemudian, kedua orang tuanya dieksekusi tanpa pengadilan. Tubuh mereka digantung di alun-alun sebagai pengingat pada semua warga Taksaka.
Satria selamat. Tapi hidup yang dia dapatkan lebih menyakitkan dari kematian.
Dia diberi satu tahun untuk menjalani pendidikan militer sebagai tentara siap mati. Jika gagal, eksekusi menanti. Jika berhasil, dia akan menjadi budak perang seumur hidup.
Perjuangan ibunya membuatnya hidup, dan dia tidak boleh menyia-nyiakan itu.
"Aku ... akan menghajarmu!"
Dengan kekuatan terakhir, Satria bangkit. Matanya menyala dengan api yang berbeda, api dendam yang membara lebih panas dari neraka.
Kakinya bergerak cepat, menjegal Narendra hingga pria itu jatuh telentang.
Sebelum Narendra sempat bereaksi, pintu kelas meledak terbuka.
"Cukup!"
Semua orang terdiam. Hawa dingin memenuhi ruangan.
Bratasena melangkah masuk dengan langkah berat. Mata kanannya yang tertutup penutup kulit hitam memberikan kesan mengerikan, sementara mata kirinya menatap tajam seperti elang memburu mangsa.
"Maung Lodaya tidak membutuhkan sampah yang tidak bisa mengontrol diri," ucapnya dingin, setiap kata seperti cambukan. "Kalian pikir ini tempat bermain? Ini akademi militer, bukan taman kanak-kanak!"
Semua orang langsung menunduk, tidak ada yang berani menatap Bratasena.
"Pertarungan bodoh seperti tadi," lanjutnya sambil melirik sinis ke Narendra, "apa yang kalian dapatkan? Kepuasan? Ego kalian terpuaskan dengan menghajar orang yang sekarat?"
Bratasena menekan lengan kanannya, hologram besar muncul di tengah ruangan. Semua mata tertuju pada pengumuman yang tertera.
[KOMPETISI PERTARUNGAN ANTAR KELAS]
[Hadiah: 5000 Poin Kontribusi untuk Juara Pertama]
Ruangan sontak ricuh.
"Lima ribu poin?!"
"Dengan itu aku bisa membeli armor kelas B!"
"Bahkan bisa membeli skill gulungan langka!"
Poin kontribusi adalah segalanya di akademi ini. Selain mempengaruhi kelulusan, poin itu bisa ditukar dengan armor, obat-obatan, kartu skill, bahkan gulungan teknik rahasia.
Bagi mereka yang tidak punya keluarga kaya, poin adalah satu-satunya jalan untuk menjadi kuat.
Bagi Satria, ini adalah kesempatan emas.
Jika dia menang, dia bisa lulus. Dia bisa bebas. Dia bisa memulai perjalanan balas dendamnya.
"Persiapkan diri kalian," perintah Bratasena sebelum berbalik pergi. "Tunjukkan bahwa kalian layak bernafas di negara ini!"
Setelah semua orang meninggalkan kelas, Satria berjalan tertatih menuju pintu. Setiap langkah terasa seperti siksaan, tapi dia tetap berjalan.
Di dalam dadanya, sebuah sumpah terukir dengan darah.
"Kalian semua akan mati. Seluruh keluarga kalian akan kubuat merasakan penderitaan yang sama. Aku bersumpah ... atas nama keluarga Madangkara yang musnah ... kalian semua akan kubawa ke neraka."
***
Pagi berikutnya, Satria sudah berada di ruang medis. Serum regenerasi disuntikkan ke tubuhnya, mempercepat penyembuhan tulang dan jaringan yang rusak.
Tapi dia tidak menunggu sampai pulih sepenuhnya.
Begitu bisa berjalan, dia langsung menuju Life Forest, hutan latihan di bagian utara akademi.
Tubuhnya masih sakit, tapi dia tidak peduli. Rasa sakit hanya pengingat bahwa dia masih hidup.
Dan selama masih hidup, dia harus menjadi lebih kuat.
Di dunia ini, kekuatan adalah segalanya. Yang lemah akan selalu diinjak. Akan selalu menjadi budak. Akan selalu menderita.
Dia memukulkan tinjunya ke batang pohon besar. Satu. Dua. Puluhan kali sampai buku-buku jarinya berdarah.
"Lebih kuat ... aku harus lebih kuat..."
Tapi Satria tidak tahu, dari balik bayangan pepohonan, beberapa pasang mata mengawasinya dengan tatapan predator.
Lima sosok berbaju ninja hitam muncul tanpa suara. Armor cyborg mereka menyatu dengan kegelapan, membuat mereka nyaris tak terlihat.
Salah satu dari mereka menarik empat kunai dari jam tangan penyimpanan dimensi, mengapit benda tajam itu di sela-sela jari.
"Target dikonfirmasi. Satria Madangkara, pemilik jantung Naga Taksaka," bisiknya melalui komunikasi neural. "Perintah dari Klan Barata, ambil jantungnya hidup-hidup."
"Kenapa tidak langsung dibunuh?"
"Bodoh. Jantung keluarga Madangkara punya kekuatan luar biasa. Jika diambil saat masih berdetak, kekuatannya bisa diserap sempurna. Tapi jika sudah mati, kekuatannya akan lenyap."
"Siap, Kapten."
Keempat pembunuh lainnya juga menarik kunai mereka. Total dua puluh kunai runcing berkilat di bawah sinar matahari yang menembus celah daun.
"Serbu!"
Dalam sekejap, puluhan kunai melesat ke arah Satria dari lima arah berbeda.
Satria bahkan tidak sempat menoleh.
Tubuhnya langsung tertusuk belasan kunai. Darah menyembur dari berbagai titik tubuhnya.
"Aargh!"
Satria jatuh berlutut. Kunai-kunai itu bukan kunai biasa. Racun saraf mematikan langsung mengalir ke seluruh tubuhnya, melumpuhkan sistem motoriknya dalam hitungan detik.
Urat sarafnya putus satu per satu. Tulangnya retak dan hancur dari dalam. Bahkan meridian tempat aliran chakra-nya berada ikut robek.
"Cepat ambil jantungnya sebelum racun sampai ke sana!" perintah sang kapten.
Seorang pembunuh berjalan perlahan sambil memutar kunai di tangannya. Seringai sadis terpasang di wajahnya.
"Anak manis," bisiknya sambil berlutut di samping Satria yang sekarat. "Jantungmu akan sangat lezat."
Kunai itu ditusukkan ke dada Satria, tepat di jantungnya.
"Aaargh! Bedebah kalian semua! Bedebah!"
Teriakan Satria menggema di hutan. Tapi tidak ada yang datang. Tidak ada yang peduli.
Sang pembunuh mulai menyayat dada Satria perlahan, menikmati setiap jeritan kesakitannya seperti seorang psikopat.
"Berteriaklah lebih keras, anak manis. Suara penderitaanmu adalah musik terindah."
Satria mencoba melawan, tapi tubuhnya tidak merespon. Dia hanya bisa merasakan sakit yang luar biasa saat dagingnya dirobek, tulang rusuknya dipatahkan satu per satu.
Air matanya mengalir. Bukan karena sakit, tapi karena kemarahan.
"Ibu ... maafkan aku ... aku bahkan tidak bisa bertahan ...."
Saat kunai hampir mencapai jantungnya, sebuah sosok tiba-tiba muncul dari udara.
Tendangan brutal menghantam kepala sang pembunuh, membuat kepalanya meledak seperti semangka.
Sosok pria tua berjubah putih mendarat dengan anggun di hadapan Satria. Janggut panjangnya berkibar tertiup angin.
"Dasar otak udang!" geraman keras keluar dari mulutnya. "Berani menyentuh anak didikku!"
Kakinya menginjak tanah.
"Eight Trigrams Vacuum Kick!"
Ledakan dahsyat menggoyang seluruh hutan. Empat pembunuh yang tersisa langsung meledak menjadi kabut darah meski mereka berada puluhan meter jauhnya.
Hanya dalam satu serangan, lima pembunuh profesional musnah tanpa bekas.
"Si-siapa ... anda …?" Satria terbata, darahnya terus mengucur dari luka terbuka di dadanya.
Pria tua itu tidak menjawab. Dia mengeluarkan sebuah pistol injeksi dari jam tangan dimensinya. Di dalamnya terdapat serum berwarna ungu pekat yang bercahaya.
Serum itu disuntikkan langsung ke perut Satria.
Reaksinya instan.
Luka terbuka di dadanya menutup dengan kecepatan mata. Tulang-tulang yang patah menyambung kembali. Urat saraf yang putus beregenerasi. Bahkan racun mematikan yang hampir mencapai jantungnya lenyap seketika.
Tapi kesadaran Satria sudah hilang. Tubuhnya ambruk lemas.
Pria tua itu menatap Satria dengan tatapan yang sulit dibaca. Ada campuran kasihan, kemarahan, dan ... sesuatu yang lain.
"Anak muda," gumamnya pelan, "kau tidak tahu siapa dirimu sebenarnya, bukan?"
Dia mengangkat tubuh Satria dengan mudah, lalu melompat tinggi hingga menghilang di balik kanopi hutan.
Yang tersisa hanyalah genangan darah dan potongan-potongan tubuh pembunuh yang tersebar di mana-mana.
Di kejauhan, dari balik bayangan, sepasang mata merah menyala menatap ke arah tempat Satria menghilang.
"Jadi dia masih hidup," bisik sosok bertopeng itu. "Pewaris terakhir Klan Madangkara ... anak dari Sang Raja Naga Hitam yang konon sudah punah."
Sosok itu mengeluarkan kristal komunikasi dari sakunya.
"Laporkan pada Tuan. Satria Madangkara dikonfirmasi masih hidup. Dan yang lebih mengejutkan ... sepertinya Sang Eremit Putih telah memilihnya sebagai murid."
Kristal itu berkilat sekali sebelum padam.
Sosok bertopeng itu menghilang seperti asap, meninggalkan hanya satu kalimat yang bergema di angin.
"Perang yang sesungguhnya ... baru saja dimulai."