
Kekuatan Gelap Sang Dewa Bela Diri
Aksaraya|Tamat
- Jumlah kata
- 274.4K
- Popular
- 24.2K
- Subscribe
- 1.1K
- Jumlah kata
- 274.4K
- Popular
- 24.2K
- Subscribe
- 1.1K
Sinopsis
Owen Adriano, jenius bela diri termuda di Benua Nebula, jatuh dari langit kejayaan ke jurang kehinaan. Setelah meridiannya rusak, dia dicap “sampah” dan menjadi bahan ejekan keluarga. Namun di ambang kematian, dia diselamatkan oleh sosok misterius yang memberinya warisan terlarang, kitab “Sembilan Meridian Bayangan”, kekuatan gelap yang mampu menyaingi para dewa. Dengan meridian negatif yang membangkitkan kekuatan dua kali lipat dari manusia biasa, Owen kembali menapaki jalan bela diri, menantang langit dan bumi. Dari pertempuran keluarga hingga duel mematikan dengan para jenius, ia bersumpah akan merebut kembali segalanya!
Ulasan
17 ulasan
Ranger Merah
9/7/26 16:32
ijin promosi tulisanku ya kak Author🙏 Judulnya: The Writers of Fate Genre: Fantasy, Transmigrasi, Regresi, Reinkarnasi, Imortal, Adventure Di dunia yang dipenuhi sihir, naga, dan reruntuhan peradaban kuno, empat sosok dengan takdir yang berbeda memulai perjalanan yang akan mengubah sejarah. Sang Transmigrator, pengembara dari dunia lain yang membawa pengetahuan yang tak seharusnya ada. Sang Regresor, jiwa yang kembali ke masa lalu demi mencegah masa depan yang penuh kehancuran. Sang Reinkarnator, seseorang yang terlahir kembali dengan kehidupan kedua serta kesempatan untuk menebus penyesalan masa lalunya. Dan Manusia Pertama, sosok misterius yang menjadi titik awal dari seluruh sejarah umat manusia. Mereka berasal dari jalan yang berbeda, mengejar tujuan yang berbeda, dan memikul beban yang berbeda pula. Namun, ketika takdir mempertemukan keempatnya, rahasia terbesar dunia perlahan mulai terungkap. Inilah kisah empat petualang yang akan menantang para dewa, mengguncang kerajaan, dan mengukir legenda yang kelak dikenang sepanjang zaman.
Bab 1
Terik matahari bulan Juni membakar halaman belakang Kediaman Keluarga Adriano. Udara kering berhembus, namun suara pukulan berdentum keras tetap terdengar berulang kali.
Bugh! Bugh! Bugh!
Owen Adriano, pemuda berusia lima belas tahun terlihat tengah menghantam batang pohon besar tanpa mengenakan baju. Kulit kedua tangannya sobek, darah menetes, membasahi tanah kering. Napasnya tersengal, tapi sorot matanya penuh dengan api perlawanan.
“Haah… haah… aku… tidak boleh berhenti… tidak boleh…” gumamnya lirih, hampir seperti bisikan kepada dirinya sendiri.
Di kejauhan, seorang pria paruh baya berdiri dengan wajah muram. Dialah Endru Adriano, kepala keluarga sekaligus ayah Owen. Garis-garis usia di wajahnya semakin dalam saat melihat anaknya menghancurkan diri sendiri.
“Owen, hentikan!” suara Endru berat namun penuh luka. Dia melangkah maju, tangannya terulur. “Kau akan melukai dirimu sendiri lebih parah. Tidak ada gunanya lagi memaksakan tubuhmu seperti ini.”
Namun Owen tidak berhenti. Dia kembali mengayunkan tinjunya, meski darah semakin deras.
Bugh!
Tangannya bergetar, lututnya goyah, tapi dia masih menolak menyerah.
“Tidak, Ayah!” Owen menoleh dengan wajah penuh keringat dan darah. Matanya memerah, bergetar menahan amarah dan keputusasaan. “Katakan padaku… apakah aku benar-benar tidak bisa berlatih lagi? Apakah… aku sudah mati sebelum waktunya?”
Suara Owen pecah, seperti anak kecil yang berteriak di tengah badai. Endru terdiam, hatinya tersayat. Dia ingin berbohong, ingin memberi harapan, tapi kebenaran pahit tak bisa dia sembunyikan.
“Owen…” Endru menarik napas panjang, suaranya parau. “Meridianmu telah rusak. Itu sama saja dengan vonis mati bagi seorang pejuang. Ayah sudah menghabiskan hampir seluruh harta keluarga untuk mencarikan obat, tapi…”
“Cukup!” Owen membentak, tinjunya menghantam pohon sekali lagi. Air mata bercampur keringat menetes di wajahnya. “Aku tidak peduli! Aku tidak peduli berapa harga yang harus dibayar. Aku… aku hanya butuh waktu untuk mengembalikan kekuatan seperti semula, Ayah. Beri aku satu tahun lagi. Hanya satu tahun! Aku akan menemukan cara.”
Endru terdiam. Suara anaknya penuh tekad, penuh luka, penuh api yang hampir padam tapi memaksa tetap menyala.
“Anakku…” Endru menunduk, bahunya bergetar. “Kau tidak tahu betapa Ayah ingin melihatmu kembali bersinar. Tapi ingatlah, Owen… kau tidak hanya bisa berjaya di dunia bela diri. Kau bisa belajar bisnis, itu juga akan membuatku bangga.”
Namun Owen menggeleng keras, darah muncrat dari tangannya. “Tidak! Aku dilahirkan untuk bertarung, Ayah. Aku tak mau jadi pecundang yang setiap hari mendapat penghinaan.”
Kesunyian menelan halaman belakang itu. Hanya suara burung gagak di kejauhan yang terdengar, seolah mengabarkan duka. Endru memejamkan mata, ingatan masa lalu tiba-tiba berputar di kepalanya.
Dulu, nama Owen Adriano menggetarkan seluruh Provinsi Kamuva. Pada usia dua belas tahun, dia masuk ke Akademi Exalor dengan peringkat pertama, dan dikenal sebagai murid paling berbakat sepanjang sejarah.
Hanya dalam satu tahun, kekuatannya melonjak dari Tingkat Sembilan Alam Bela Diri Dasar ke Tingkat Lima Alam Pejuang Muda, menjadikannya pejuang termuda dari Keluarga Adriano.
Dia adalah harapan keluarga, kebanggaan ayahnya, dan bahkan dijadikan calon pewaris kepala keluarga. Namun takdir berputar kejam.
Setahun lalu, Owen kembali dari akademi dengan tubuh lemah dan meridian kering. Kekuatannya jatuh drastis ke Tingkat Pertama Alam Bela Diri Dasar. Dalam waktu singkat, Sang Jenius berubah menjadi bahan ejekan, seperti bintang yang jatuh ke lumpur.
Keluarga yang dulu memujanya, kini hanya melihatnya sebagai beban. Mereka berbisik di balik punggungnya, menyalahkannya karena harta keluarga habis demi mencari obat yang tak pernah berhasil.
Endru kembali membuka matanya perlahan, menghembuskan napas berat. “Baik, ayah akan memberimu kesempatan sekali lagi. Kalau kamu masih gagal menjadi pejuang dalam satu tahun, maka kamu harus menyerah dan menuruti perkataan ayah.”
“Baik, ayah.” Owen tersenyum kecut, namun ada tekad yang menyala di matanya.
“Ayah, aku ingin sendiri. Aku butuh waktu.” Owen berbalik, suaranya berat dan penuh luka, tanpa menunggu jawaban dari ayahnya, dia melangkah pergi.
“Ayah…” suara Owen hampir tak terdengar, lirih di antara desir angin. “Aku akan membuktikan… meski hanya satu tahun, aku tidak akan menyerah begitu saja.” Kata-katanya tak sampai ke telinga Endru, namun tekad itu terpatri di udara, seakan langit pun menjadi saksi.
Endru sendiri hanya berdiri mematung, menatap punggung putranya yang perlahan menjauh, melewati jalan setapak berbatu menuju kaki Gunung Kamaraga. Siluet Owen semakin mengecil, hingga akhirnya ditelan kabut tipis yang turun dari puncak gunung.
Di dada Endru, rasa sakit itu membuncah. Dia menggenggam tangannya kuat-kuat, menahan air mata yang hampir jatuh. “Anakku… kau menanggung semua ini seorang diri. Mengapa kau tidak bisa berbagi luka itu dengan Ayah?” gumamnya lirih, suaranya tercekat oleh emosi.
Sementara itu, Owen terus berjalan tanpa menoleh ke belakang. Angin gunung menyambutnya dengan dingin, menusuk luka-luka di tangannya, namun dia tidak peduli.
Langkah Owen terhenti saat melihat sebuah pohon besar yang rindang. Dia kemudian duduk bersandar di bawahnya. Sambil memejamkan mata, sekelebat bayangan masa lalu terlintas di benaknya.
Sebenarnya Owen bukan kehilangan meridiannya karena kecelakaan. Dia sendiri yang mengorbankannya.
Hari itu di Gunung Xandar, teman kelasnya Felinia Andrao hampir mati saat meridian apinya hancur akibat serangan binatang mistis.
Tak ada cara untuk menyelamatkannya, kecuali satu—memindahkan meridian dari orang hidup ke tubuhnya.
Setiap pejuang memiliki atribut seperti logam, kayu, air, api, tanah. Memiliki meridian tertentu mempercepat latihan teknik terkait hingga sepuluh kali lebih cepat daripada orang biasa. Mengganti meridian ibarat mengganti darah, dan harus cocok secara genetik.
Di Benua Nebula, setiap orang memiliki sembilan meridian dengan tingkat berbeda: Alam Bela Diri Dasar, Meridian Bintang Muda, Meridian Hitam Purba, Meridian Gelap Abadi, Meridian Liar, Meridian Hantu, Meridian Naga, Meridian Surya, dan Meridian Kaisar.
Owen rela memindahkan Meridian kosong yang dikenal sebagai Meridian Surgawi, dapat menyesuaikan dengan atribut apapun miliknya kepada Felinia.
Sejak itu, Owen hidup sebagai “sampah.” di mata orang lain. Tapi meski dunia mencemooh, dia tidak pernah menyesal.
“Setidaknya… aku sudah melakukan yang menurutku benar…” Owen berbisik pada dirinya sendiri saat tersadar dari lamunan.
Pandangannya menerawang jauh ke cakrawala, menatap mentari sore yang perlahan tenggelam di balik pegunungan. Owen berdiri diam, menarik napas panjang, lalu melemaskan otot-ototnya yang kaku setelah lama duduk.
Namun ketika dia hendak berbalik untuk turun gunung, telinganya menangkap sesuatu. Suara lirih, samar bercampur dengan desir angin. Semakin lama, suara itu semakin jelas—suara mesra seorang pria, bercampur dengan desahan lembut seorang wanita.
“Ah… sayang pelan-pelan. Iya… begitu saja… enak…”
Owen mengikuti suara tersebut dengan rasa penasaran. Dia berjalan sangat pelan, tidak ingin menimbulkan suara yang akan membuat mereka sadar akan kehadirannya.
Setelah beberapa menit, langkah Owen terhenti dan mengintip dari balik sebuah pohon. Dahinya berkerut, hatinya berdegup lebih cepat. Dia memejamkan mata sejenak, mencoba memastikan.
Suara itu… dia mengenalnya.
“Tidak mungkin…” gumam Owen, tubuhnya menegang seketika. Napasnya terasa berat, dan tatapan matanya berubah tajam.
“Itu… suara dari keluarga Adriano.”
Daftar bab
257 bab
Pilih urutan untuk menemukan bab lebih cepat
257 bab








