

Mentari senja merayapi punggung Bukit Gandul, mewarnai langit dengan gradasi jingga dan lembayung. Di bawah kaki bukit itu, terhampar Desa Sukamaju, sebuah perkampungan kecil yang tenteram namun menyimpan denyut kehidupan yang keras. Di salah satu sudut desa, di sebuah gubuk reyot berdinding anyaman bambu yang mulai lapuk, hiduplah Yanto dan Sumi.
Yanto, dengan kulit legam terbakar matahari dan otot-otot yang terbentuk dari kerasnya pekerjaan, baru saja kembali dari ladang. Peluh membasahi kausnya yang lusuh, dan debu menempel di wajahnya yang tampak letih. Di usianya yang menginjak kepala tiga, Yanto masih berjuang untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Pekerjaannya sebagai buruh kasar membuatnya harus memeras keringat setiap hari, namun hasilnya tak seberapa.
"Assalamualaikum, Sumi," sapanya lirih, seraya memasuki gubuknya.
Sumi, istrinya yang tengah mengandung anak pertama mereka, menyambutnya dengan senyum lembut. Perutnya yang semakin membesar membuat gerakannya sedikit terbatas, namun pancaran kebahagiaan tetap terpancar dari wajahnya.
"Waalaikumsalam, Mas," jawab Sumi, suaranya lembut menenangkan. "Sudah pulang? Pasti capek sekali."
Yanto mengangguk, lalu duduk di dipan bambu yang menjadi tempat peristirahatan mereka. Sumi segera menyodorkan segelas air putih untuk menghilangkan dahaga suaminya.
"Bagaimana keadaanmu hari ini, Sumi?" tanya Yanto, seraya mengusap perut istrinya dengan sayang.
"Alhamdulillah, Mas. Bayi kita sehat-sehat saja," jawab Sumi, matanya berbinar. "Dia sering menendang-nendang, Mas. Mungkin sudah tidak sabar ingin bertemu dengan ayahnya."
Yanto tersenyum mendengar ucapan istrinya. Kehadiran sang buah hati seolah menjadi penyemangat dalam hidupnya. Namun, di balik senyum itu, tersimpan kekhawatiran yang mendalam. Ia sadar, dengan penghasilannya yang pas-pasan, akan sulit baginya untuk memenuhi kebutuhan anak dan istrinya kelak.
"Masih memikirkan soal biaya persalinan, Mas?" tanya Sumi, seolah dapat membaca pikiran suaminya.
Yanto menghela napas. "Iya, Sumi. Aku bingung harus mencari uang ke mana lagi. Upah sebagai buruh tidak cukup untuk biaya persalinan dan kebutuhan sehari-hari."
Sumi menggenggam tangan suaminya, mencoba memberikan kekuatan. "Jangan terlalu dipikirkan, Mas. Rezeki sudah ada yang mengatur. Yang penting, kita terus berusaha dan berdoa."
Namun, kata-kata Sumi tak sepenuhnya mampu menghilangkan kekhawatiran di hati Yanto. Ia tahu, hidup di desa ini keras. Tanpa uang, segalanya akan terasa sulit. Apalagi, ia sering menjadi bahan hinaan teman-teman sesama kuli karena kemiskinannya.
senja itu yanto keluar rumah dia berhenti di
sebuah warung sekedar buat ngopi di pjok warung terlihat teman temanya yang asik bercanda sambil minum kopi, tapi salah satu dari mereka berbisik pada temanya bisikan itu terdengar oleh yanto yang asik minum kopi.
"Lihatlah si Yanto, sudah miskin, sebentar lagi punya anak. Mau dikasih makan apa anaknya?" ejek salah seorang temannya.
Ejekan itu bagai duri yang menusuk hatinya. Yanto hanya bisa terdiam, menahan amarah dan rasa malu. Ia bertekad, suatu saat nanti ia akan membuktikan kepada mereka bahwa ia bisa sukses dan mengangkat derajat keluarganya.
yanto buru buru menghabiskan kopinya dan membayarnya temanya yang melihat malah mengejeknya,," eh yan mau keman lo pusing denger gue bisik bisk haha..
yanto hanya dia lalu dia meninggalkan warung itu, di perjalan pulang yanto melewati pos ronda tapi dia tak sengaja mendengar.
perbincangan antara beberapa warga desa yang bertugas ngeroda Mereka membicarakan tentang pesugihan Dewi Lara Sati, sebuah legenda yang melegenda di Desa Sukamaju. Konon, siapa saja yang berani melakukan perjanjian dengan Dewi Lara Sati, akan mendapatkan kekayaan melimpah dalam waktu singkat. Namun, tumbalnya adalah nyawa orang yang dicintai.
Yanto terkejut mendengar cerita itu. Awalnya, ia tak percaya dengan hal-hal mistis seperti itu. Namun, desakan ekonomi dan hinaan dari teman-temannya membuatnya mulai berpikir untuk mencari jalan pintas. Ia mulai mencari tahu lebih banyak tentang pesugihan Dewi Lara Sati. yanto mendekati pos ronda dan menghampiri salah seorang yang cukup tua.
maaf mbah saya tadi sempat mendengar pembicaraan mbah dan teman mbah.
"Apa benar ada pesugihan seperti itu, Mbah?" tanya Yanto kepada seorang petugas ronda yang dikenal bijak.
Mbah Darmo menghela napas panjang. "Dulu, memang ada cerita seperti itu. Tapi, itu hanya legenda. Jangan mudah percaya dengan hal-hal seperti itu, Yanto. Lebih baik kita bekerja keras dan berdoa kepada Tuhan."
Namun, nasihat Mbah Darmo tak mampu menghentikan niat Yanto. Ia sudah terlanjur gelap mata. Ia ingin kaya, ingin membuktikan kepada semua orang bahwa ia bisa sukses. Tanpa sepengetahuan Sumi, Yanto mulai mencari petunjuk untuk melakukan pesugihan Dewi Lara Sati.
Senja semakin larut, dan suara jangkrik mulai bersahutan. Yanto dan Sumi duduk berdampingan di depan gubuk mereka, menikmati keindahan malam yang tenang. Namun, di balik ketenangan itu, Yanto menyimpan sebuah rahasia besar yang bisa menghancurkan kebahagiaan mereka.