Semua novel yang kamu inginkan ada disini
Download
Penebusan Dosa Sang Pecandu Judol

Penebusan Dosa Sang Pecandu Judol

Keatin9 | Bersambung
Jumlah kata
64.0K
Popular
1.1K
Subscribe
137
Novel / Penebusan Dosa Sang Pecandu Judol
Penebusan Dosa Sang Pecandu Judol

Penebusan Dosa Sang Pecandu Judol

Keatin9| Bersambung
Jumlah Kata
64.0K
Popular
1.1K
Subscribe
137
Sinopsis
18+PerkotaanSlice of lifeHaremTime TravelMiliarder
Mati konyol sebagai pecandu judi di tahun 2046, Farhan terlempar kembali 20 tahun sebelum yang lalu, ke hari sebelum tanah warisan ayahnya dijual murah untuk menutupi hutangnya. Berbekal ingatan masa depan, ia tahu rawa di belakang rumahnya adalah gudang "Emas Hijau". Farhan bersumpah untuk bangkit membangun imperium bisnis dari nol. Ini bukan sekadar tobat, ini adalah penebusan dosa.
Terlempar Ke Masa Lalu

Bau apek dinding bambu lembap dan asap rokok menyengat hidung Farhan. Kepalanya berdenyut nyeri, seolah baru dihantam benda tumpul. Pandangannya kabur.

“Di mana ini?” tanya Farhan dalam hati.

Ingatan terakhirnya adalah dia sedang tergeletak di atas lantai dingin toko tanaman elit "Royal Eden" di tahun 2046.

Saat itu, Farhan yang sedang sekarat sebagai kuli kebun, melihat bosnya menjual satu pot kecil "Keladi Hitam" seharga Lima Ratus Juta.

Jantung Farhan berhenti berdetak karena kaget, bukan cuma karena sakit. Itu tanaman liar di belakang rumahnya dulu.

Selama 20 tahun jadi kuli, dia disuruh memupuk, mengelap, dan merawat tanaman-tanaman "sampah" itu setiap hari.

"Gila..." batinnya menjerit saat nyawanya melayang. "Aku mati kelaparan sebagai kuli, padahal kampung halamanku adalah gudang emas. Andai saja aku nggak kecanduan judi online…”

Lantas, kenapa sekarang dia merasakan sakit kepala? Bukankah mayat tidak bisa merasakan sakit?

"Cepatlah tanda tangan, Pak Tua! Tanganku pegal menunggu. Kau niat bayar utang anakmu tidak?"

Suara itu terdengar keras, cempreng dan sombong.

Farhan memaksa kelopak matanya yang terasa berat untuk terbuka. Cahaya matahari siang bolong menusuk retinanya. Setelah berkedip beberapa kali, buram di matanya memudar, digantikan oleh pemandangan yang membuat jantungnya seakan berhenti berdetak.

Dia tidak berada di kampung kumuh Kota Zenith. Dia berada di ruang tamu rumah masa kecilnya, di Desa Aruna.

Rumah panggung kayu yang reyot, dengan atap seng yang bocor di sana-sini. Di depannya, duduk seorang lelaki tua kurus kering.

“Bapak?” Farhan terkejut karena melihat bapaknya yang masih hidup.

Hasan. Ayahnya Farhan itu tidak mendengarnya atau sengaja mengabaikan. Di tangan pria tua itu terdapat pulpen dan kertas yang sudah bermaterai.

"Jangan banyak drama lah, Pak. Ini demi kebaikan kalian juga. Daripada gubuk ini dibakar sama bos rentenir, mending tanah kebun di belakang itu dijual ke Bapak saya. Lima puluh juta. Cukup buat nutup utang judi anak Bapak yang tidak tahu diri ini,” ucap pemuda di seberang meja.

Anak muda itu adalah Riko. Anak Juragan Darso. Dia duduk santai dengan kemeja sutra norak sambil memamerkan kunci mobil SUV "Raptor" di meja.

Sebuah mobil dengan harga cash 500 Juta dan menjadi simbol kekayaan di desa.

Mata Farhan menyapu sekeliling ruangan dengan liar. Dia melihat kalender dinding dari Toko Bangunan "Jaya Abadi" yang tergantung miring.

13 Februari 2026.

Jantung Farhan serasa berhenti berdetak. Dia kembali. Dia kembali ke hari paling terkutuk dalam hidupnya. Hari di mana tanah warisan seluas dua hektar terpaksa dijual murah hanya untuk menutup hutang judinya.

Rasa jijik merayap di perut Farhan. Dia ingat betapa bangsatnya dirinya di masa muda ini. Dia adalah pecandu slot dari situs Gerbang Emas.

Farhan juga ingat kalau di saat ini, dia sudah kehilangan akal sehat. Dia sampai tega mencuri gelang emas Ibu dan menggadaikan surat tanah ini hanya untuk depo situs judi online.

"Farhan..." Ibu terisak di sudut ruangan, wajahnya pucat pasi. "Bapak harus menjual rumah ini dan tanah di belakang. Soalnya kalau nggak dijual, rumah ini mau dibakar dan juga… membunuhmu.”

Riko tertawa sinis. "Dengar itu, Farhan? Makanya kalau main judi pakai otak. Sudah miskin, gaya-gayaan mau Maxwin. Sekarang lihat akibatnya? Bapakmu harus jual tanah warisan cuma buat menutupi hutangmu. Dasar anak durhaka. Kalau aku jadi kau, aku sudah gantung diri di pohon nangka."

Kata-kata itu tajam, mengiris harga diri. Dulu, Farhan pasti akan mengamuk. Tapi sekarang, mentalnya adalah pria 44 tahun yang sudah kenyang makan sampah kehidupan.

Hinaan itu memang benar. Dia memang sampah. Tapi sampah ini punya kesempatan kedua.

Bapak menghela napas panjang, getaran di tangannya semakin hebat saat ujung pulpen mulai menyentuh kertas meterai itu.

"Maafkan Bapak, Han. Bapak tidak bisa mendidikmu dengan benar..." bisik Bapak.

Tidak.

Dengan sisa tenaga, Farhan melompat dari kursi bambu.

Sreeet!

Farhan tidak akan membiarkan Bapak mati dalam penyesalan dan kemiskinan seperti di kehidupan sebelumnya. Dia tidak akan membiarkan tanah emas itu jatuh ke tangan lintah darat ini.

Farhan menyambar kertas perjanjian itu dan merobeknya menjadi dua, lalu meremasnya hingga lumat.

Suasana ruangan itu membeku seketika. Suara jangkrik di luar pun seolah berhenti berderik.

Mata Riko melotot nyaris keluar. Mulutnya ternganga. Dua algojo berbadan tegap yang berdiri di belakang Riko langsung pasang kuda-kuda, siap menghajar.

"Apa yang kau lakukan, Bajingan?!" Riko menggebrak meja hingga berguncang. "Kau cari mati?!”

Farhan berdiri tegak, menaruh tangan di bahu Bapak yang ringkih. Dia menatap Riko. Tatapannya bukan tatapan pemuda pecandu yang teler, melainkan tatapan dingin dan tajam, penuh perhitungan. Tatapan seorang yang pernah melihat neraka.

"Tanah ini nggak dijual!" ucap Farhan datar.

Riko terdiam sesaat, lalu berdiri menunjuk wajah Farhan. "Heh, Sampah! Kau pikir kau siapa? Utangmu dua puluh juta, tambah bunga jadi dua puluh lima juta! Sekarang kau sobek kertas itu, memangnya kau punya uang buat bayar utang?"

Riko meludah ke lantai, tepat di dekat kaki Farhan. "Atau jangan-jangan... kau sobek kertas itu karena mau minta bagian? Mau minta uangnya buat deposit lagi? Hah?! Masih berharap Dewa Judi memberimu kemenangan? Sadarlah, Bodoh! Kau itu cuma parasit yang menghisap darah orang tuamu sendiri!"

Dua algojo di belakang Riko tertawa mengejek.

“Dasar budak judi. Sudah bikin susah orang tua, masih banyak tingkah.”

Farhan mengepalkan tangannya erat-erat hingga kukunya memutih. Amarah bergejolak di dadanya, tapi dia menahannya kuat-kuat. Dia tidak boleh main fisik sekarang. Dia tidak punya uang dan tidak punya kekuasaan. Kalau dia memukul Riko sekarang, dia akan berakhir di penjara, dan keluarganya akan hancur.

"Aku tahu aku salah," jawab Farhan pelan. Dia menoleh ke arah Bapak dan Ibu, lalu perlahan menjatuhkan dirinya, berlutut mencium kaki Bapak.

"Pak... Bu... Farhan minta ampun. Farhan bersumpah, ini terakhir kalinya. Farhan sudah berhenti. Tidak akan ada lagi judi, tidak akan ada lagi utang baru. Percaya sama Farhan sekali ini saja."

Perlahan, Farhan berlutut dan mencium kaki Hasan.

"Pak... Bu... Farhan minta maaf. Farhan bersumpah, kalau sudah berhenti judi. Tolong percaya sama Farhan sekali ini saja."

Bapak menangis tanpa suara, mengusap kepala anaknya.

Farhan bangkit, menghapus air mata, lalu kembali menatap Riko.

"Sampaikan pada Bapakmu. Beri aku waktu tiga hari."

"Tiga hari?" Riko mendengus jijik. "Kau mau merampok Bank Sentral? Atau jual ginjal? Dalam tiga hari bunganya naik lagi, Bro!"

"Tiga hari," ulang Farhan tegas. "Tiga hari lagi aku datang ke rumahmu. Aku lunasi dua puluh lima juta tunai. Tanpa kurang sepeser pun."

Riko tertawa terbahak-bahak, menganggap Farhan sudah gila karena stres kalah judi. Dia menyambar kunci mobilnya.

"Oke. Tiga hari," Riko menyeringai licik, mendekatkan wajahnya ke Farhan. "Tapi ingat. Kalau kau tidak bawa uangnya... bukan cuma tanah ini yang kami ambil."

Riko melirik foto adik perempuan Farhan di dinding.

"Si Amel... dia lumayan manis. Rumah Hiburan Bapakku lagi butuh pemandu lagu muda. Lumayan buat nutupin utang abangnya yang nggak berguna."

Darah Farhan mendidih. Bayangan adiknya diseret ke tempat hiburan malam membuatnya ingin membunuh Riko saat itu juga. Tapi dia menahannya.

Sabar. Tunggu tanggal mainnya.

"Keluar!" desis Farhan. "Keluar dari rumahku."

Riko tersenyum puas, merasa menang telak. "Ingat, tiga hari! Siapkan sertifikat tanah dan juga siapkan adikmu!"

Lanjut membaca
Lanjut membaca