

“Apa ini, sayang?” Arga dikejutkan dengan sebuah surat yang disodorkan oleh Ishika, istrinya, secara tiba-tiba. Dia baru saja pulang dari tempat kerjanya. Bukannya disambut hangat oleh sang istri, wajah datar Ishika yang muncul dengan selembar surat.
Ishika tidak menjawab. Tatapannya memberi isyarat agar Arga membaca sendiri isi surat itu. Arga yang paham akan maksud tatapan itu lantas menerima surat itu dan membaca isinya.
Setelah beberapa saat, mata Arga beralih ke arah wanita cantik di depannya. “Surat cerai?” gumam pria berusia 27 tahun itu. “Kamu bercanda ya, sayang?”
“Siapa yang bercanda? Cepat kamu tanda tangani surat cerai itu. Aku mau kita cepat pisah!” balas Ishika dengan nada tinggi. Terlihat wajahnya yang merah padam, menahan emosi.
Arga menatap Ishika sendu. “Sayang, kenapa tiba-tiba? Apa kita tidak bisa membicarakannya dulu? Apa aku ada salah?” ujar Arga berusaha mendapatkan simpati sang istri.
Ishika mengerucutkan bibirnya. Terlihat dia enggan mendengar ocehan suaminya. “Aku sudah muak. Pokoknya aku mau kita cerai!” tegas wanita itu lagi.
Arga menggeleng pelan. Meski tubuhnya terasa lelah setelah seharian bekerja, lelah itu tak menjadi halangan baginya untuk membujuk Ishika agar tetap bersamanya. Arga tidak ingin kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu.
“Sayang, kamu pasti sedang lelah. Ayo kita bicarakan di kamar. Pasti ada jalan, sayang. Kita tidak harus sampai bercerai,” ujar Arga lembut pada istrinya. Berharap Ishika luluh dengan ucapan lembutnya.
Alih-alih memberi kesempatan Arga untuk bicara lebih banyak, wanita itu malah memalingkan muka. Dia seperti enggan melihat wajah suaminya.
“Aku sudah capek hidup pas-pasan begini. Aku mau pisah!” sembur Ishika pada akhirnya. Wanita itu memuntahkan semua emosinya pada sang suami. “Kamu itu tidak bisa membahagiakanku, Arga. Kamu sadar ini!?” tambahnya.
Petir tak kasat mata seperti menyambar Arga. Dia menunduk, menghindari tatapan istrinya yang menusuk. Dia sadar jika dirinya hanya bisa mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Bukan sekali dua kali Ishika mengeluh tidak memiliki uang untuk membeli produk perawatan kulit. Wanita itu sangat ingin memanjakan diri. Melakukan perawatan, pergi ke salon misalnya.
Sayangnya, Arga yang hanya bekerja sebagai karyawan di swalayan tidak bisa memberikan uang lebih pada istrinya. Gajinya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari, makan, listrik, dan air. Tidak lebih. Bahkan untuk menabung saja sangat sulit.
Namun, Arga masih berharap istrinya bersabar. Perlahan, dia mengangkat kepalanya. Tatapannya lembut tertuju pada Ishika.
“Sayang, sabar dulu ya. Nanti aku cari kerja sampingan buat-“
“Halah, sabar sabar sabar. Aku bosan dengan ocehanmu yang selalu sama. Sampai kapan memangnya aku harus sabar? Kamu itu suami yang tidak modal, tahu!” potong Ishika kesal. Dia melipat tangannya di dada.
Arga kembali terdiam. Dia kecewa pada dirinya sendiri. Dia telah gagal membahagiakan Ishika. Padahal, sebelum menikah, Arga telah berjanji pada kedua orang tua Ishika untuk membahagiakan anak mereka. Sayangnya, janjinya tidak bisa dia tepati.
Jari telunjuk Ishika menempel pada surat yang tergeletak di atas meja. “Tanda tangani ini. Lalu kita hidup masing-masing. Jangan pernah hubungi aku lagi!” ucapnya tegas.
“Apa kamu sudah yakin dengan keputusan ini, sayang? Apa kamu bisa memberiku kesempatan?” ujar Arga dengan suara rendah. Dia berharap Ishika memberinya satu kesempatan terakhir.
Ishika membuang muka. “Tanda tangan,” tandasnya dingin.
Arga menghela napas berat. Dia tidak menyangka, pulang dari tempat kerja, dia harus dihadapkan kenyataan pahit. Wanita yang sangat dicintainya sudah tidak ingin bersamanya lagu.
Arga mengambil pulpen di laci meja. Tangannya gemetar ketika hendak menandatangani surat cerai itu. Tatapannya beralih dari surat di depannya lalu ke wajah cantik istrinya.
‘Mungkin memang ini jalan terbaiknya,’ batin Arga yang menyesal karena telah gagal. Tangannya bergerak menandatangani surat cerai di hadapannya. Selesai. Dia mendorong surat itu ke Ishika.
Ishika melirik surat yang sudah selesai itu. Kemudian tatapannya tertuju pada Arga. “Besok, aku bakal pergi dari sini.”
“Kamu akan tinggal di mana, sayang?” tanya Arga khawatir. Ke mana Ishika akan pergi? Orang tuanya sudah tidak ada. Mereka berdua kecelakaan pesawat tahun lalu.
Ishika mengangkat bahu dengan cuek. “Bukan urusanmu.” Dia kemudian pergi membawa surat itu bersamanya.
***
Esok harinya, Arga meratapi suasana sepi di rumahnya. Ishika telah pergi tadi pagi. Rumah ini sekarang seperti kehilangan separuh nyawanya. Tidak ada lagi suara Ishika yang selalu menjadi melodi merdu di telinga Arga.
Arga masih larut dalam kesedihan. Terkadang, bayang-bayang sosok Ishika masih muncul di hadapannya. Ketika dia berkedip, bayangan wanita cantik itu raib.
“Aku kesepian tanpa dirimu, Ishika,” gumam Arga yang menatap foto mereka berdua. Di foto itu, terlihat wajah bahagia Arga dan Ishika. “Maafkan aku yang telah gagal membahagiakanmu.”
Dok! Dok! Dok!
Lamunan Arga buyar akibat suara gedoran pintu yang amat nyaring. Dia bertanya-tanya, siapa yang datang? Kenapa menggedor pintu dengan keras seperti itu?
“Woi, ada orang!?” seru suara seseorang di luar pintu.
Arga lantas membuka pintu. Alangkah terkejutnya dirinya, mendapati tiga orang pria berotot di depan rumahnya. Dia tidak mengenal siapa pria-pria ini, dan apa urusan mereka ke sini.
“Maaf? Ini ada apa?” tanya Arga berusaha tetap tenang. Meski sebenarnya ada rasa takut yang merayap di dalam dirinya.
“Lu yang namanya Arga Farel Wijaya?” ucap salah satu dari mereka, yang berdiri di tengah, paling dekat dengan posisi Arga. Matanya menatap tajam ke arahnya.
Arga menangguk. “Benar, saya sendiri.”
Si preman kedua menimpali. “Bayar hutang lu! Kalau tidak, barang-barang berhargamu kami ambil!”
Arga tersentak kaget. “Hutang?” sahutnya. “Hutang apa? Saya tidak punya hutang dengan siapapun.”
“Alaaah, jangan bohong lu!” balas pria pertama. Pria terakhir maju, tangannya dikepalkan, siap melayangkan pukulan ke arah Arga.
Arga menggeleng pelan. “Sumpah, saya tidak punya hutang.”
“Katanya si cewek itu, lu yang berhutang ke kami,” ucap si preman pertama dengan galak. “Sekarang bayar hutangnya!”
Arga bertanya-tanya. Siapa yang menggunakan dirinya sebagai kambing hitam di sini? Ada yang berhutang, namun melempar hutang itu pada dirinya yang tidak tahu apa-apa.
“Tunggu tunggu.” Arga mencoba memahami situasinya. “Siapa yang kalian maksud?”
“Ishika Nathania, lu familiar dengan nama itu?” sahut si pria berotot.
Arga makin terkejut lagi. Tidak menyangka jika Ishika tega melakukan ini. Ishika melemparkan hutang yang sama sekali tidak pernah dia lakukan ke dirinya.
“Berapa hutang yang harus kubayar?” tanya Arga berusaha tenang. Padahal, keringat dingin bercucuran di pelipis dan keningnya. Jantungnya berdegup kencang.
“Lima ratus juta!” sahut si pria berotot. “Mana duitnya? Buruan!”
Seperti ada batu besar yang menimpa pundaknya, Arga merasa tubuhnya berat seketika. Lima ratus juta? Dari mana dia akan mendapatkan uang sebanyak itu?
“Ya Tuhan, cobaan apalagi ini,” bisik Arga putus asa.