

“Bu ... Damar pulang, Bu,” bisiknya lirih begitu turun dari bus malam di terminal kecil Wonosari.
Udara dingin dini hari menampar wajahnya, namun hati Damar hangat oleh bayangan ibunya. Enam tahun ia bekerja sebagai buruh di Malaysia.
Ia menahan rindu dan air mata, demi bisa menabung, dan mengirim uang setiap bulan. Semua demi ibunya, Bu Marni.
Ia bahkan membeli kain batik dan kalung mungil di toko bandara, membayangkan wajah tua ibunya tersenyum malu-malu saat menerimanya.
Namun langkah Damar terhenti di depan rumah. Ada sesuatu yang tidak beres.
Pagar yang dulu berkarat kini dicat hijau muda. Kursi bambu di teras telah berganti menjadi kursi rotan baru. Seekor kucing belang tidur tenang di sana, seolah rumah itu sudah lama menjadi tempatnya.
“Lho ... kok beda, ya?” gumam Damar. Ia mengetuk pintu. Sekali, dua kali. Hening.
Ketika pintu akhirnya terbuka, seorang pria tambun berusia sekitar lima puluhan muncul. Ia mengenakan sarung dan kaos dalam putih, di tangannya ada wadah berisi pakan burung.
“Permisi, Pak. Ini rumahnya Bu Marni, kan?” tanya Damar sopan tetapi ragu.
Pria itu mengernyit, lalu tersenyum tipis. “Oh ... Bu Marni. Iya, saya tahu beliau Tapi rumah ini sekarang milik saya. Saya Pak Wiryanto.”
Damar tertegun. “Milik ... Bapak?”
“Iya. Rumah ini saya beli dari anak-anaknya Bu Marni, kira-kira tiga tahun lalu. Yang tanda tangan Mbak Sinta sama Mbak Lila.”
Damar terpaku di tempatnya. Ia benar-benar sulit percaya bahwa kedua nama kakaknya setega itu. Mereka yang selama ini berkata uang kiriman dari Damar dipakai buat biaya makan dan obat-obatan ibu mereka.
Bahkan, di pesan terakhir, sebelum Damar pulang, mereka menulis doa dan harapan agar Damar tetap kuat di rantau.
“Bapak yakin, mereka benar-benar Mbak Lila dan Mbak Sinta?” suaranya serak.
Pak Wiryanto mengangguk pelan. “Saya yakin, ada akte jual beli dengan tanda tangan dan foto copy KTP mereka. Bahkan saya sempat ketemu Bu Marni waktu itu. Beliau kelihatan bingung, seperti nggak tahu kalau rumahnya dijual."
Pria separuh baya itu berhenti sejenak, lalu melanjutkan, "entah kenapa, beberapa bulan kemudian saya dengar beliau dibawa ke panti jompo di Klaten. Kasihan, beliau sudah sepuh, pasti ingin tinggal bersama anak-anaknya.”
Rasa muak naik ke dada Damar. Ia nyaris tak bisa bernapas. Dunia yang ia tinggalkan enam tahun lalu terasa runtuh di depan matanya.
Rumah tempat ia belajar menulis huruf pertama. Tempat ayahnya mengembuskan napas terakhir. Tempat ibunya selalu menunggu di depan pintu setiap kali hujan turun, kini milik orang lain. Dijual oleh darah dagingnya sendiri.
“Bapak tahu di mana letak pantinya?” tanya Damar dengan suara bergetar.
“Panti Werdha Harmoni, utara Klaten,” jawab Pak Wiryanto. “Kalau Mas ke sana, bilang saja cari Bu Marni. Semua orang kenal beliau.”
Damar hanya mengangguk kaku, lalu pamit dengan wajah kaku. Langkahnya berat. Setiap batu yang ia injak terasa seperti kenangan yang hancur.
*-*
Jalan ke Klaten ditempuh dua jam. Sepanjang perjalanan, Damar menatap kosong keluar jendela. Hatinya bergolak. Setiap detik ia memutar ulang pesan suara terakhir dari kakaknya seminggu yang lalu.
“Dam, tenang aja. Ibu sehat. Rumah mau direnovasi lagi, Ibu minta tambah kamar, jaga-jaga kalau kamu mau nikah. Kiriman uang buat renov jangan telat, ya?”
Kini, setiap kata itu terdengar seperti racun. Tangan Damar mengepal di atas lutut. “Kalian tega,” bisiknya lirih.
*-*
Panti Werdha Harmoni berdiri di antara kebun jati dan sawah yang mulai menguning. Bangunannya sederhana, tetapi bersih. Bau minyak kayu putih dan melati kering menyeruak dari lorong.
“Selamat siang, Mas. Ada yang bisa saya bantu?” sapa seorang suster muda.
“Saya cari ibu saya, Bu Marni,” kata Damar pelan.
Suster itu menatapnya sebentar lalu tersenyum. “Oh, Bu Marni! Beliau di taman belakang. Lagi menyiram bunga. Ayo, saya antar!”
Lorong itu sempit, tetapi setiap langkah membuat dada Damar sesak. Ia mendengar suara batuk-batuk dari kamar sebelah, juga lagu lawas yang diputar pelan dari radio tua.
Semua terasa suram, seperti tempat orang dibuang oleh waktu dan keluarga. Saat mereka tiba di taman, Damar berhenti. Di antara deretan pot kecil, seorang wanita tua dengan kerudung lusuh sedang menyiram bunga melati.
Rambutnya memutih seluruhnya, tangannya kurus dan bergetar. Namun senyumnya lembut, penuh kesabaran. Demi melihat senyum itu, hati Damar semakin tercabik-cabik.
“Bu ...!” panggil Damar dengan air mata menggantung di pelupuk.
Wanita itu menoleh perlahan. Matanya membesar, tubuhnya gemetar. “Da-Damar?”
Dalam sekejap, Damar sudah berlutut di hadapan ibunya, memeluk kaki rentanya seolah takut tak bertemu lagi. “Bu, ini aku ... Damar, anakmu. Aku pulang.”
“Ya Allah, Damar!” isak Bu Marni pecah. “Ibu kira kamu udah nggak balik-balik, Nak. Kata Lila dan Sinta kamu diculik mafia. Sedang diusut yayasan dan polisi."
Tangis mereka bercampur.
Damar menggenggam tangan ibunya, mencium punggungnya yang penuh urat.
“Aku nggak diculik. Masih kirim uang tiap bulan dan tukar kabar dengan mereka. Seminggu yang lalu masih telepon-teleponan. Kenapa Ibu di sini? Mereka bilang rumah direnovasi, tapi kok ...,”
“Sinta sama Lila bilang, kamu sudah lama gak kirim uang. Rumah digadai sementara untuk urus penculikan kamu, Nak,” jawab Bu Marni lirih. “Katanya, mereka akan cicil angsuran tiap bulan. Tapi udah dua tahun, mereka nggak pernah datang.”
Suara itu lirih, tetapi menusuk dalam ke relung hati Damar.
Pria itu menunduk, rahangnya mengeras. Dadanya terasa terbakar.
“Ibu makan cukup di sini?” tanyanya pelan.
“Iya, Nak ... makan cukup. Tapi ibu kangen rumah. Kangen suara adzan dari surau depan, kangen bau tanah halaman. Tapi ya, Ibu bersyukur, masih ada tempat berteduh.”
Wanita tua itu tersenyum tipis, dan meski samar, terlintas di matanya ada luka yang dalam. Damar tak sanggup berkata-kata. Ia hanya bisa menatap ibunya lama, menahan emosi yang hampir meledak.
*-*
Sore itu, Damar duduk di depan kamar Bu Marni sambil menatap langit Klaten yang memerah. Ia mendengar tawa kecil ibunya dari dalam kamar, berbincang dengan penghuni lain. Namun dalam kepalanya, suara Sinta dan Lila terus berputar-putar.
“Kalian jual rumah itu? Kalian kirim Ibu ke sini seolah beliau beban?” keluhnya lirih.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka daftar kontak. Dua nama itu terpampang jelas di layar.
Ia mengetik pesan, Aku pulang. Aku sudah tahu semuanya.
Namun sebelum menekan kirim, ia terdiam. Akhirnya pesan itu tak jadi dikirim. Amarah dan sedih bercampur menjadi satu. Ia ingin meneriakkan semuanya, tetapi sebagian hatinya masih tak percaya bahwa dua saudara kandungnya bisa berkhianat seperti itu.
*-*
Malam tiba. Damar berjanji pada suster bahwa ia akan menjemput ibunya besok pagi. Ia ingin menyewa rumah, sekecil apa pun, asal ibunya bisa tidur di bawah atap yang layak, bukan di tempat yang menunggu ajal seperti sekarang.
Sebelum pamit, Bu Marni memegang tangannya. “Nak, jangan marah sama mbak-mbak kamu. Mungkin mereka punya alasan.”
Damar menatap wajah ibunya, matanya memerah. “Kalau alasan itu membuat Ibu sendirian di tempat ini, aku nggak bisa maafin, Bu.”